Chapter 35
"Wuut...!" Golok mengaung, dielak, dan Beng San serta Beng Kwi menyusul kakaknya. Tiga golok berkelebatan cepat bagai sinar pelangi, berubah menjadi garis-garis lurus ketika silang-menyilang memburu Salima.
Gadis ini berlompatan sementara mata mulai berapi, sinar maut membayang di muka Salima.
Dan ketika Hwi Ling melengking dan juga menubruk ke depan, Salima sudah dikeroyok empat lawan yang sama-sama bersenjata tajam.
"Sing-sing-plak!" Salima mulai menangkis, dengan tangan telanjang mengejutkan empat lawannya karena golok atau pedang yang mereka pegang tergetar.
Gadis itu berputaran cepat mengikuti keliauan senjata, bagai walet beterbangan saja Salima menyambar-nyambar di antara hujan bacokan atau tusukan.
Memang hebat gadis ini.
Dan ketika Beng Kwan terbelalak dan dua adiknya mengeluh merasakan tangkisan yang kian kuat, Salima sudah berseru mengerahkan Tiat-lui-kang-nya.
Tenaga Petir.
"Sinto Sam-Enghiong, kalian yang memulai lebih dulu. Jangan salahkan aku kalau jalan kekerasan terpaksa kutempuh." Salima yang mulai menampar dan mengebutkan tangannya ke segala penjuru tiba-tiba menolak dan menghalau tiga bilah golok dan sebilah pedang, membuat lawan terpekik karena telapak tangan seketika melepuh. Tangkisan Salima seolah membeset mereka.
Sinto Sam-Enghiong terhuyung sementara Hwi Ling pun terpelanting, gadis ini memang paling lemah di antara empat orang itu.
Dan ketika Salima membentak dan meloncat tinggi melakukan tamparan maut, tiba-tiba tubuh gadis ini berkelebat lenyap membagi-bagi pukulannya ke arah pelipis lawan.
"Jangan...!" Sin Kok kaget, berseru keras dan maju menubruk Salima.
Pemuda itu pucat karena tamparan Salima merupakan tamparan maut, angin tamparannya saja sudah meniup kencang dan panas.
Karena ia mengkhawatirkan empat temannya dibunuh, dan gelisah mencegah ke depan, Sin Kok sudah menubruk Salima dan mencoba menghentikan tamparan Salima terhadap teman-temannya, membuat Salima terkejut dan otomatis terganggu. Tenaganya berkurang sejenak, tapi pukulan atau tamparan itu tetap meluncur ke depan.
Serangan ini tidak dapat dihalangi.
Dan karena Sin Kok malah maju menubruk dan mencoba mencegah, pemuda itu pun terserempet pukulan dan roboh terbanting.
"Des-des-des!" Lima orang itu bergulingan mengeluh.
Salima telah mengurangi tenaganya sedikit, akibat gangguan Sin Kok tadi.
Tapi karena Tiat-lui-kang merupakan tamparan ampuh dan Beng Kwan maupun kawan-kawannya tidak dapat menahan, mereka terpelanting dan roboh bergulingan.
Orang tertua Sinto Sam-Enghiong ini hangus bajunya.
Dua saudaranya sedikit terbakar, sementara Hwi Ling sendiri sudah roboh pingsan.
Hanya Sin Kok yang selamat dengan pundak bajunya sedikit terobek, pemuda ini terpental dan terlempar lima tombak.
Dan ketika Sin Kok melompat bangun, serta Beng Kwan dan adik-adiknya pucat mengeluh terhuyung, Sin Kok menghampiri adiknya dengan kaki yang menggigil.
"Lihiap, apakah kau membunuh adikku?" Sin Kok berlutut, memeriksa adiknya, tapi lega adiknya tidak tewas, hanya pingsan saja.
Dan ketika pemuda itu bangkit lagi dan menghadapi Salima, Salima menegur lawannya yang sudah kehilangan senjata karena golok dan pedang mencelat entah ke mana.
"Sinto Sam-Enghiong, kalian sedikit tertolong oleh cegahan pemuda ini. Kalau Sin Kok tidak menghalangi, tentu kalian semua binasa. Sekarang harap tahu diri, kalau masih bersikeras dan ingin menyerang, tentu aku tidak akan segan-segan lagi dan membunuh kalian!" Sinto Sam-Enghiong menggigil.
Mereka harus mengakui kelihaian lawan, Salima nyaris membunuh mereka kalau Sin Kok tadi tidak berteriak.
Hebat gadis ini.
Tapi Beng San yang termasuk berangasan dan mendelik marah tiba-tiba membentak, "Tiat-ciang Sian-li, lebih baik kau bunuh kami daripada menelan hinaan. Aku tidak takut, kalau mau mati biarlah mati...!" Laki-laki ini menubruk, kakak dan adiknya kaget karena Beng San dianggap nekat.
Salima mendengus melihat serangan itu.
Dan karena dia sudah memperingatkan dan orang nomor dua dari Sinto Sam-Enghiong ini dinilai tidak tahu diri, tiba-tiba Salima menggerakkan tangannya dan menampar dari jauh.
"Kau mampuslah!" Sinar kemerahan meluncur cepat.
Tiat-lui-kang lagi-lagi menyambar.
Beng Kwan dan Beng Kwi pucat.
Tapi karena mereka menyayangi saudara mereka itu dan menyadari kekuatan Pukulan Petir, tiba-tiba dua kakak beradik ini hampir bersamaan membentak, lalu menubruk saudara kedua mereka itu.
"Awas...!" Beng San terbelalak.
Dia memang nekat, menerjang Salima dan kini disambut pukulan panas Tiat-lui-kang. Dia mencoba mengelak tapi kalah cepat.
Tapi ketika dia mengeluh dan hampir tewas oleh tamparan Salima, tiba-tiba dua saudaranya menubruk dan membantingnya bergulingan ke kanan. Beng San berteriak karena kaget oleh tubrukan saudaranya.
Mereka bertiga menyelamatkan diri dari tamparan maut itu.
Namun karena angin pukulan masih menyerempet dan Beng San terkena lehernya, tiba-tiba orang nomor dua dari Sinto Sam-Enghiong ini menjerit dan roboh pingsan.
"Plak!" Beng Kwi dan kakaknya melompat bangun.
Mereka sendiri merasakan angin pukulan panas itu. Dada terasa nyeri dan batuk-batuk, mereka segera memandang adik mereka yang terkapar.
Melihat leher Beng San gosong, tapi saudara mereka itu selamat, pingsan dan tidak tewas.
Mereka lega, meskipun marah.
Dan ketika mereka tertegun namun girang saudara mereka berhasil diselamatkan, Salima yang mendengus dan tertawa dingin tiba-tiba berkelebat lenyap, tidak mau berdiri lagi di situ.
"Beng Kwan, adikmu tidak dapat menoleh selama tiga bulan. Kalau dia berulah dan kalian mau bertingkah, kalian boleh mencariku kembali di lain waktu!"
Beng Kwan terpaku. Beng Kwi sudah menolong Beng San yang terbanting di sana, mereka pucat dan gentar sekali.
Dua kali mereka nyaris terbunuh.
Beng Kwi sudah menotok saudaranya dan Beng San sadar, membuka mata, namun ternyata tidak dapat menoleh ke kiri atau ke kanan.
Laki-laki itu berteriak mengaduh kalau dipaksa menggerakkan kepalanya, lehernya ternyata sakit.
Benar kata Salima, orang nomor dua dari Sinto Sam-Enghiong itu hanya mampu melotot lurus saja ke depan, tidak dapat menoleh ke samping apalagi ke belakang.
Dan ketika Beng Kwan menghampiri adiknya dan Beng San bangkit terhuyung, Beng Kwi berkata pada saudaranya, "Twa-ko, kita tidak punya muka untuk bertemu gadis itu lagi. Sebaiknya kita menyingkir dan memperdalam ilmu silat kita di tempat sunyi."
"Benar," Beng Kwan termangu.
"Menghadapi dia saja kita tidak mampu, sam-te (saudara ketiga). Apalagi berani melawan Kim-mou-eng. Aih, kita harus tahu diri, kepandaian kita benar-benar tidak berarti dan sebaiknya kita mengasingkan diri."
Beng Kwi mengangguk.
Mereka bertiga tampak kecewa, Beng San mengumpat, namun tidak dapat berbuat apa-apa.
Dan ketika kakak-beradik itu meninggalkan tempat itu dan Sin Kok ditinggal seorang diri, pemuda ini ganti termangu-mangu menghadapi adiknya yang baru saja siuman.
"Kami tidak punya muka. Kau uruslah adikmu sendiri," hanya itu pesan Sinto Sam-Enghiong kepada Sin Kok. Mereka sudah meninggalkan pemuda itu dengan langkah terhuyung-huyung.
Sin Kok tertegun, namun mengangguk lemah.
Dan ketika Hwi Ling bangkit berdiri dan memandang kepergian tiga laki-laki pendek itu, gadis ini pun terisak dengan perasaan masygul.
"Kita sungguh bukan tandingan Kim-mou-eng. Menghadapi sumoinya saja kita kalah, apalagi menghadapi Pendekar Rambut Emas itu!"
"Ya, dan kita pulang saja, Ling moi. Atau mengembara seadanya saja mencari pengalaman yang ringan-ringan."
"Kau tidak mencari gadis itu lagi?"
"Untuk apa? Aku bukan apa-apa di hadapannya, aku merasa kecil..."
"Tapi kau jatuh hati, koko. Kau amat mencinta Tiat-ciang Sian-li Salima itu!"
"Ya, dan kau pun jatuh hati terhadap Kim-mou-eng. Namun kita gagal!"
"Ah...!" Dan Hwi Ling yang menangis penuh kecewa tiba-tiba berkelebat ke utara.
"Koko, kita tidak usah membicarakan itu lagi. Aku benci!" Sin Kok mengangkat pundak.
Dia tahu kekecewaan adiknya itu, juga tentu saja tahu akan kekecewaannya sendiri.
Dan ketika adiknya berkelebat dan terisak menangis, Sin Kok menyusul dan menggandeng adiknya itu.
Mereka sama-sama bertepuk sebelah tangan, kekaguman yang menjadi rasa kecintaan itu gagal.
Memang mereka sudah tahu, namun mencoba memaksa diri. Cinta memang terlanjur bersemayam di hati, susah membuangnya.
Dan ketika dua muda-mudi itu bergandengan ke utara, sementara Sinto Sam-Enghiong juga pergi mengasingkan diri, di lain pihak Salima sendiri meneruskan perjalanannya mencari sang suheng.
Kota demi kota dilalui gadis ini.
Salima naik turun gunung pula untuk mencari Kim-mou-eng, bahkan keluar masuk hutan berkali-kali untuk mencari jejak suhengnya.
Mulai mendengar pengeroyokan orang-orang kangouw terhadap suhengnya, rasa gelisah dan waswas mengusik hatinya.
Kemarahan semakin berkobar-kobar di dadanya.
Dan ketika berita terakhir suhengnya didengar tidak jauh dari lapangan berumput di mana suhengnya jatuh ke jurang, secara kebetulan gadis ini bertemu dengan Hek-bong Siang-lo-mo yang sedang merawat luka-lukanya ketika melarikan diri bertemu Bu-beng Sian-si yang disangka setan itu.
"Lo-mo, berhenti. Kalian telah mengeroyok suhengku secara curang!"
Lo-mo kakak-beradik terkejut.
Mereka berjalan terhuyung-huyung ketika Salima berkelebat di depan hidung. Dua iblis ini kaget, tapi akhirnya tertawa menyeringai, melirik kiri-kanan apakah Salima ditemani seseorang ataukah tidak.
Dan ketika melihat gadis itu seorang diri dan kini berkacak pinggang membentak mereka, tiba-tiba Ji-lo-mo terbahak mencabut sabitnya.
"Tiat-ciang Sian-li, mau apa kau menghadang kami? Ingin menyusul arwah suhengmu?"
"Mana suheng?" Salima pucat.
"Kalian mencelakainya di mana?"
"Ha-ha, suhengmu mampus, Sian-li. Sekarang kau pun boleh menyusulnya kalau ingin menyusul, ataukah bersenang-senang saja dengan kami berdua...?"
"Wut!" Sabit di tangan Ji-lo-mo bergerak, iblis ini terkekeh dan maju menubruk dengan kecepatan kilat.
Salima menjadi marah dan mengelak.