Chapter 36
Dan ketika sabit membalik dan Ji-lo-mo berseru keras, maka sang kakak, Twa-lo-mo, membentak pula dan menerjang Salima.
"Ji-te (adik nomor dua), jangan bunuh dia, robohkan saja. Belenjeti pakaiannya dan kita bersenang-senang!"
"Benar, aku juga begitu, Twa-ko (kakak). Aku berkeinginan sama seperti dirimu. Sudah sebulan kita tak menyentuh wanita. Ha-ha, ayo tangkap, kita permainkan dia dan bersenang-senang!"
Salima gusar. Dua iblis cebol yang mengeluarkan kata-kata kotor ini membuat dia naik pitam. Salima memekik dan menangkis mereka. *Tiat-lui-kang* dikerahkan, kepretan serta tamparan meledak berkali-kali. Serangan sabit itu bagai hujan gencar yang bertubi-tubi menyerang Salima. Gadis ini berkelebatan dan mulai bertahan.
Tapi ketika lawan terlalu kuat dan dengan *Tiat-lui-kang* saja dia merasa kalah, tiba-tiba Salima melengking dan mencabut bendera Tartarnya itu.
"Hek-bong Siang-lo-mo, kalian iblis-iblis busuk yang selamanya berbuat curang. Sekarang rasakan pembalasanku... tar!"
Bendera meledak, menangkis sabit di tangan Ji-lo-mo, sementara pukulan Twa-lo-mo ditolak Salima dengan tangan kiri. Kini mereka bertanding dengan sama-sama bersenjata. Ji-lo-mo terkejut karena dia terdorong; nyata Salima bagai harimau tumbuh sayap setelah mencabut benderanya. Dan ketika gadis itu berkelebatan pula dengan bendera meledak-ledak sementara *Tiat-lui-kang* juga menangkis dengan tidak kalah ampuh, maka desakan dua iblis cebol ini tertahan dan Twa-lo-mo memaki.
"Keparat, arwah Kim-mou-eng itu benar-benar membuat kita tertimpa sial. Tenagaku masih belum pulih!"
"Benar, aku juga begitu, Twa-ko. Agaknya kita masih terlalu lelah dan tak dapat mengerahkan segenap tenaga!"
Salima tak mengerti apa yang dimaksudkan dua iblis ini. Ia tak tahu bahwa Twa-lo-mo dan Ji-lo-mo masih lelah; mereka baru saja memeras keringat dan mengalami guncangan batin sejak peristiwa di jurang itu. Pertempuran yang panjang mengeroyok Kim-mou-eng betapa pun menyurutkan tenaga mereka, sebenarnya mereka harus beristirahat untuk memulihkan tenaga.
Belum beristirahat total, Salima sudah datang. Mereka agak terkejut karena mungkin cukup berat menghadapi gadis yang masih segar ini. Betul juga, begitu Salima mencabut senjatanya, segera mereka merasakan getaran dalam setiap tangkisan. Tahulah mereka bahwa mereka belum pulih seluruh tenaganya, apalagi ketakutan menghadapi "arwah" Kim-mou-eng yang membuat mereka terbirit-birit itu menimbulkan kelelahan batin.
Maka, ketika sabit sering terpental sementara Salima sendiri tampak beringas dan ganas menghadapi mereka, tiba-tiba kain bendera mengebut menutupi pandangan Ji-lo-mo yang saat itu terhuyung mundur, baru saja tertolak ketika Salima menangkis serangannya.
"Awas...!" Iblis ini gelagapan. Kakaknya memperingatkan dan iblis ini membanting tubuh bergulingan; itulah satu-satunya jalan kalau dia tidak ingin roboh.
Dan ketika Salima mengejar tapi Twa-lo-mo membentak di belakang, terpaksa gadis itu membalik dan gagang bendera menangkis sabit.
"Trak!" Twa-lo-mo ganti terhuyung. Salima mengelebatkan benderanya dan melengking menggerakkan tangan kiri. Bendera menutupi pandangan mata sementara *Tiat-lui-kang* menyambar dari bawah. Twa-lo-mo terkejut dan ganti gelagapan, menangkis dengan tangan kirinya dan membentak keras. Tapi karena iblis ini sudah berkurang tenaganya dan Salima masih segar, maka Twa-lo-mo mencelat dan terbanting setombak.
"Des!" Iblis ini pun cepat menggulingkan tubuh menjauh. Salima mengejar dan karena itu dia harus menyelamatkan diri, mengumpat dan mencaci maki karena biasanya merekalah yang di atas angin kalau menghadapi gadis ini jika mereka sama-sama segar.
Karena Salima merangsek dan Twa-lo-mo bergulingan menjauh, maka Ji-lo-mo yang sudah melompat bangun dan membentak Salima tiba-tiba menyerang gadis itu untuk menyelamatkan kakaknya. Terpaksa dilayani dan Salima membalik, mendongkol dan marah karena setiap mau merobohkan yang satu, tentu yang lain mengganggu.
Salima melengking dan menangkis pukulan Ji-lo-mo. Dan ketika dua iblis itu berganti-ganti merasakan kelihaian Salima dan mau tidak mau mengakui kelemahan sendiri karena merosotnya tenaga yang membuat lelah, tiba-tiba Ji-lo-mo mengajak kakaknya melarikan diri, melempar beberapa pelor dan paku beracun. Dua iblis cebol ini melepas senjata rahasia.
Salima menangkis dan memaki mereka, mengebutkan bendera. Dan ketika pelor dan paku runtuh di tanah dan dua iblis itu tertawa, maka Hek-bong Siang-lo-mo lenyap berkelebat melarikan diri.
"Tiat-ciang Sian-li, biar lain kali kita bertemu lagi. Kami sedang lelah."
Salima gusar. Tentu saja dia mengejar, membentak dan menyuruh mereka berhenti. Tapi Hek-bong Siang-lo-mo yang selalu melepaskan senjata rahasia dan masuk ke dalam hutan, akhirnya hilang dan tidak diketemukan jejaknya. Salima membanting kaki, menyimpan benderanya dan coba mencari lagi. Gagal, ia merasa kecewa dan menyesal karena dua iblis itulah yang tahu banyak tentang suhengnya.
Tapi karena Salima tidak putus asa dan mencari serta mencari lagi, maka beberapa hari kemudian dia menemukan iblis yang lain yang tidak diduga-duga.
"Siauw-bin-kwi (Si Setan Ketawa)...?"
Salima tertegun, menghentikan langkahnya dan terbelalak memandang iblis yang satu itu, tidak mengira bahwa Siauw-bin-kwi masih hidup. Iblis yang berkulit putih itu hancur kedua kakinya, menopang tubuh dengan sepasang tongkat bambu sementara di sampingnya Salima melihat dua orang lain tidak dikenal, dua kakek berhidung merah dengan mata yang besar. Mereka jelas orang asing, mungkin orang Nepal atau Bhutan. Salima mendelong.
Tapi begitu dia melompat maju dan Siauw-bin-kwi tertawa, tiba-tiba iblis yang dikira Salima sudah mati ini menoleh pada dua temannya.
"Ma Tung, dia inilah sumoi Kim-mou-eng. Kepandaiannya hebat dan lihai sekali. Apakah kalian mau coba-coba berkenalan?"
"Heh-heeh," laki-laki tinggi besar di sebelah kiri Siauw-bin-kwi mengeluarkan tawa yang aneh, mirip sengau atau tawa kuda. "Jadi inikah orangnya yang mencelakakan dirimu, Bin-kwi? Dan di mana itu Pendekar Rambut Emas?"
"Agaknya tak bersama dia, Ma Tung, tapi bukan dia yang mencelakai aku, melainkan suhengnya. Tapi sama saja. Gadis ini pun musuhku dan kebetulan kita bertemu di sini!" Menghadapi Salima dengan tubuh menggantung di sepasang tongkat, Siauw-bin-kwi menyeringai.
"Tiat-ciang Sian-li, mana suhengmu Gurba yang sombong itu? Benarkah dia telah mampus?"
"Hmm!" Salima menekan kekagetannya, bentrok dan terkesiap beradu pandang dengan dua laki-laki di samping Siauw-bin-kwi. "Twa-heng memang telah meninggal, Bin-kwi. Tapi ini pun gara-gara dirimu dan teman-temanmu. Kalian jahat, selalu mengacau dan membuat onar. Bagaimana kau masih hidup dan belum mampus?"
"Ha-ha, Raja Maut masih enggan mencabut nyawaku, Tiat-ciang Sian-li. Giam Lo Ong (Raja Akhirat) menyuruhku hidup untuk membalas kepadamu!"
"Dengan kaki buntung begini?" Salima mengejek. "Apa yang dapat kau lakukan, Bin-kwi? Salah-salah terbanting roboh sebelum menyerang!"
"Jangan pongah," Siauw-bin-kwi tertawa. "Aku mempunyai sahabat yang akan membantuku, bocah sombong. Dan perkenalkan, mereka inilah Ma Tung dan Bong Kak dari Bhutan. Mereka ingin mengenalmu lebih baik."
Dua kakek tinggi besar itu melotot. Mata mereka memang sudah besar, kini diangkat terbelalak memandang Salima sehingga mirip jengkol dalam dua lubang yang lebar. Salima bergidik merasakan getaran iblis dari mata sepasang kakek ini, tajam dan mencorong bagai mata harimau ganas. Kilauan cahaya menyeramkan muncul dari sepasang mata itu.
Dan ketika Salima tertegun dan bersiap-siap, maka kakek di sebelah kiri yang bernama Ma Tung itu melangkah lebar merangkapkan kedua tangannya membentuk tinju, tertawa aneh.
"Nona, perkenalkan aku. Aku Ma Tung!"
Salima merasa kesiur angin dahsyat. Dia maklum bahwa lawan menyerangnya; pukulan jarak jauh menyambarnya dari depan. Inilah cara "perkenalan" orang-orang dunia *kang-ouw*. Tapi Salima yang sudah bersiap dan tidak gentar menghadapi lawan tiba-tiba merangkapkan kedua tangannya pula dan balas mendorong, mengejek berseru, "Ma Tung, orang Bhutan tak biasa kelayapan sampai di sini. Kalau kau dan temanmu datang tentu kalian ada maksud... des!"
Salima bergoyang, menghentikan kata-katanya dan terkejut karena hampir dia terpental. Cepat ia menambah tenaganya dan seketika dorongan itu ditahan. Ma Tung berseru aneh dan menambah kekuatannya pula; muka si tinggi besar ini merah. Dia ngotot dan penasaran. Tapi karena di sana Salima mengimbangi kekuatannya pula dan masing-masing tertolak, akhirnya si tinggi besar ini dan Salima terdorong tak dapat mempertahankan diri.
"Hebat, gadis ini benar-benar hebat...!" Ma Tung kagum, mengusap keringatnya yang tiba-tiba sudah membasahi muka. Adu tenaga sejenak tadi cukup menyimpulkan padanya bahwa Salima memang hebat. Gadis ini tak mau kalah dan memiliki kekerasan hati yang luar biasa.
Dan ketika Ma Tung terdorong setindak sementara di sana Salima juga terdorong mundur, maka Bong Kak, temannya yang satu lagi, tersenyum menyeringai mengebutkan lengannya.
"Tiat-ciang Sian-li, aku pun ingin berkenalan denganmu!"
Salima terkesiap. Sebenarnya dia kaget dengan kekuatan orang pertama Bhutan tadi; Ma Tung memiliki *sinkang* dahsyat yang berhawa dingin. Bukti bahwa dia dan lawannya sama-sama terdorong setindak menunjukkan bahwa mereka seimbang. Lawan yang berat. Kini melihat Bong Kak maju ke depan sementara dia baru terhuyung, tiba-tiba Salima menjadi marah dan menyambut pula kebutan lengan yang lagi-lagi berhawa dingin ini.
"Tua bangka, kalian rupanya mau mengeroyokku. Boleh, majulah...!"
Salima gusar, cepat menegakkan tubuh dan untuk kedua kali dia diuji *sinkang*. Tokoh-tokoh Bhutan ini rupanya mau mengeroyoknya dan licik, geram dia. Dan ketika hawa pukulan menyambar tiba dan Salima mengerahkan *Tiat-lui-kang*-nya, maka sinar merah menyambar ke depan menyambut kebutan si Bhutan itu.