Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 37

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 37

"Cess!" asap mengepul, desisan hawa dingin bertemu hawa panas membuat orang Bhutan itu bergoyang. Matanya terbelalak lebar, tetapi tangan kirinya tiba-tiba menampar miring. Salima terkejut karena lawan mengarah ke pinggang.

Pukulan samping ini memecah perhatiannya.

Karena ia baru beradu tenaga dengan Ma Tung, Bong Kak mengambil kesempatan dalam posisinya yang belum tegak. Maka Salima melompat tinggi, membiarkan pukulan itu lewat dengan bentakan nyaring.

"Licik!" Pukulan itu menghantam belakangnya, mengenai pohon. Suara berdebum mengguncang tempat itu ketika pohon ini roboh.

Salima sudah berjungkir balik dan tegak kembali dengan mata berapi-api, memaki lawan yang tidak memberinya kesempatan untuk beristirahat.

Benar-benar teman Siauw-bin-kwi ini adalah orang-orang jahat yang tidak tahu malu.

Tapi sementara Salima marah-marah memaki tokoh-tokoh Bhutan itu, Bong Kak sendiri sudah tertawa serak memandang temannya.

"Ma Tung, gadis ini memang hebat. Sebaiknya kuuji ilmu silatnya setelah tenaganya kita ketahui."

"Ah, aku yang ingin lebih dulu, Beng Kak. Kau mundurlah dan biar aku yang menguji."

"Tidak, aku terlanjur gatal. Kau menonton saja dan biar aku yang merobohkan!" Dan menghentikan tawanya yang tidak enak didengar, tiba-tiba orang ini sudah melejit ke depan mencengkeram tengkuk Salima. Jari-jarinya berkerotok dan Salima melihat warna hitam di situ. Cepat ia mengelak dan melompat ke kiri.

Ketika lawan mengejar dan jari atau lengan itu mulur seperti karet, tiba-tiba Salima terpekik menangkis kuat.

"Plak!" Bong Kak tertawa aneh. Ia sudah mengejar bertubi-tubi Salima yang melompat ke sana kemari, lengannya terus mulur dan mulur.

Kini hampir satu setengah meter dan mirip lengan gorilla yang panjang. Salima terbelalak, ngeri dan meremang ia.

Tapi karena Salima bukan gadis penakut dan kejaran lengan yang membuatnya marah ini selalu bergerak ke sana-sini mencegat jalannya, akhirnya Salima melengking dan memainkan Tiat-lui-kang-nya dengan kepretan atau tamparan, menangkis dan membalas. Membuat Bong Kak melotot, lengannya terpental dan jari-jarinya terasa panas.

Siauw-bin-kwi segera memberi tahu bahwa itulah Tiat-lui-kang, tamparan petir.

Ketika Salima berkelebatan pula dan gadis ini berhasil lolos dari lengan lawan yang mirip gorilla itu, akhirnya Bong Kak kagum memuji penasaran.

"Bagus, memang lihai...!" Orang Bhutan ini ganti menangkis tamparan-tamparan Salima.

Berseru keras dan jari-jarinya yang hitam kian berkerotok.

Hawa amis mulai tercium di situ. Salima terbelalak karena lawan memiliki jari-jari beracun. Ia bertindak hati-hati dan sudah menelan obat penawar. Memang begitu biasanya orang-orang sesat.

Ketika Bong Kak merunduk dan mengelak ke sana ke mari tendangan maupun kepretan Salima, akhirnya dua orang ini bertanding dengan gaya masing-masing.

Desak-mendesak dan pukul-memukul.

Kedudukan mereka masih berimbang karena tokoh Bhutan ini ternyata tahan menerima Tiat-lui-kang. Berkali-kali Salima terkejut karena lawan hanya terhuyung saja. Paling-paling bajunya yang hangus terbakar, itupun tak melukai kulit si Bhutan ini.

Tokoh itu malah tertawa gembira.

Ketika Salima mempercepat gerakannya dan mulai memilih bagian-bagian berbahaya dari tubuh lawannya seperti mata dan bawah pusar, maka Bong Kak membentak keras mengimbangi kecepatan Salima pula. Hingga dua orang ini saling keliling-keliling bagai dua jago bertarung.

"Bagus, hebat... Menarik sekali, Bong Kak. Keluarkan Hek-in ciangmu (Pukulan Awan Hitam) itu dan desak Tiat-lui-kang!" Siauw-bin-kwi tertawa-tawa, merasa gembira dan bertepuk tangan dengan muka berseri-seri.

Pertandingan itu memang menarik ditonton karena masing-masing masih berimbang.

Tokoh Bhutan ini penasaran karena lengan karetnya belum mampu menangkap Salima, selalu terpental dan jari-jarinya tak ada kesempatan untuk menggaet atau mencengkeram.

Tapi ketika Siauw-bin-kwi berteriak dan ia merasa marah, tiba-tiba segulung angin dingin menyambar dan mulai menerpa Salima, menolak dan menghalau Tiat-lui-kang yang berkali-kali membuat tangannya pedas, meskipun tak terluka.

Ketika tokoh ini mulai menggeram dan menubruk serta menangkis, maka pukulan dingin yang berbau amis itu mulai kuat menghadapi Tiat-lui-kang.

"Plak-plak-dess!" Untuk kesekian kalinya pukulan dan tangkisan bertemu. Salima terdorong karena tak tahan mencium bau amis itu, mual perutnya.

Dikira lemah dan lawan tertawa mendesak lagi. Salima mulai mendapat pukulan dan terhuyung-huyung.

Bong Kak mengira gadis ini akan dapat segera dirobohkan tak lama kemudian, tertawa sombong dan gembira merangsek lagi.

Tapi ketika pukulan demi pukulan ternyata membuat Salima terhuyung saja dan tetap tidak roboh, maka tokoh ini terbelalak melototkan matanya.

"Kau masih dapat bertahan. Kau tidak roboh?"

"Hmm!" Salima mendengus. "Aku hanya mual melihat pukulanmu yang amis, Bong Kak. Tapi sekarang aku sudah mulai biasa."

Benar saja. Salima sudah tidak terhuyung-huyung lagi. Setiap pukulan yang mendarat di tubuhnya selalu dibalas dengan pukulan juga. Bau amis mulai biasa di hidungnya dan obat penawar racun ternyata tak membuat gadis ini terpengaruh oleh Hek-in-ciang. Hanya tadi sedikit terganggu karena bau amis itu membuat perutnya mual, selebihnya ia tidak apa-apa.

Ketika sekarang bau amis tidak mengganggunya lagi karena sudah biasa, maka Hek-in-ciang maupun pukulan-pukulan lain dari tokoh Bhutan ini tidak mempan lagi menghadapi Salima. Hal ini membuat Bong Kak gusar, namun Tiat-lui-kang yang dilancarkan Salima juga tidak berpengaruh banyak bagi tokoh Bhutan ini.

Hal ini terjadi karena masing-masing memiliki kekuatan berimbang. Sinkang mereka mampu menahan pukulan-pukulan lawan dan tubuh paling-paling hanya terdorong atau terhuyung saja.

Itulah hasil pertandingan ini. Seri alias berimbang.

Dan ketika pertempuran menjadi menjengkelkan karena tak ada yang kalah atau menang, tiba-tiba Ma Tung, yang dongkol oleh kejadian itu, mencelat maju.

"Bong Kak, gadis ini harus dirobohkan. Biar kubantu kau!"

Salima terkejut. Hek-in-ciang baru saja ditangkis, ia dan lawan sama-sama terdorong. Kini melihat Ma Tung maju membantu dan tokoh tinggi besar itu melepas pukulan dingin, tiba-tiba Salima memaki dan melompat berjungkir balik.

"Curang.... dess!" Pukulan itu membuat lubang besar di tanah. Bong Kak tertawa dan Ma Tung menggeram.

Salima yang turun berjungkir balik sudah disambutnya lagi dengan pukulan kedua. Salima sibuk menangkis dan terpental lagi.

Dua tokoh Bhutan itu susul-menyusul menghujani serangan. Dan karena Salima seorang diri padahal satu di antara mereka saja berimbang dengannya, maka Salima kewalahan dan segera terdesak hebat, tak mampu menghadapi keroyokan itu dan mencaci lawan habis-habisan.

Bong Kak dan Ma Tung tertawa tak peduli. Ternyata mereka pun tak malu-malu berbuat curang.

Cepat tetapi pasti Salima kian terdesak.

Dan ketika keadaan sudah memuncak dan Salima marah bukan main, tiba-tiba gadis ini mencabut benderanya membentak keras, "Ma Tung, kalian bandot-bandot tua yang tak kenal malu. Sungguh busuk!" Dan Salima yang menggerakkan bendera menangkis sana-sini dengan penuh kemarahan coba menghalau dan mempertahankan diri sekuat tenaga. Sedetik berhasil, tapi Bin-kwi tiba-tiba melompat maju.

Kakek iblis ini tertawa dan rupanya tak sabar melihat perlawanan Salima. Gadis itu keras hati dan keras kepala. Dari ketika tongkat penyangga tubuh di tangan kanan kakek ini menyambar pinggang Salima, sementara saat itu gadis ini menghadapi serangan Bong Kak dan Ma Tung, maka Salima mengeluh ketika terlambat mengelak. Baju di pinggangnya itu robek dan gadis ini memaki Siauw-bin-kwi.

Lawan yang dimaki terkekeh saja dan kembali menggerakkan tongkat satunya. Kali ini Salima menangkis, tapi kain benderanya robek. Salima dibuat gugup.

Ketika Bong Kak dan Ma Tung juga menyerang dari samping kiri dan kanan, akhirnya Salima tak dapat menahan ketika pukulan dingin dua tokoh Bhutan itu menghantam dirinya, terpental dan roboh bergulingan.

Gadis ini pucat namun tetap tidak kenal menyerah, memutar senjata di tangan sementara tangan kiri juga mengerahkan Tiat-lui-kang.

Namun karena tiga musuh mengejarnya dari segala penjuru dan Salima sia-sia bertahan, tiba-tiba gadis ini menjerit ketika pukulan dingin Bong Kak mengenai lehernya.

"Jangan bunuh dia, ingat Sam-kong-kiam!" Seruan Bin-kwi menyadarkan tokoh Bhutan ini. Bong Kak mengurangi tenaganya dan Salima tak tahu lagi apa yang terjadi sesudah itu.

Ia pingsan dari roboh tak bergerak. Bertubi-tubi menerima serangan lawan memang berat. Lehernya disentuh pukulan dingin dan setelah itu ia tidak ingat apa-apa lagi. Bong Kak nyaris membunuhnya kalau Bin-kwi tidak berteriak tentang Sam-kong-kiam.

Ketika tokoh Bhutan ini menghapus peluh dan kagum akan perlawanan Salima, maka dengan sedikit tidak puas ia menegur si Setan Ketawa itu, "Bin-kwi, kenapa kau mencegahku membunuh gadis ini? Bukankah dia adalah musuh?"

"Ah, kau kurang perhitungan, Bong Kak. Gadis ini adalah sumoi Kim-mou-eng, sedang Kim-mou-eng membawa Pedang Tiga Sinar itu. Bukankah baik kalau dia kita tangkap dan dapat dipergunakan memaksa si Rambut Emas itu? Karena itu jangan dibunuh gadis ini, Bong Kak. Dirinya berharga sekali untuk ditukar dengan Sam-kong-kiam!"

Bong Kak tertegun.

"Jadi kau hendak memaksa Kim-mou-eng menyerahkan pedang itu dengan diri sumoinya?"

"Betul sekali, karena itu jangan dibunuh!" Dan Bong Kak yang mengangguk-angguk mengerti dan tertawa mengumpat kebodohan sendiri, akhirnya meringkus Salima dan melumpuhkan gadis itu.

Peristiwa Sam-kong-kiam memang telah mereka dengar dan karena itulah dua tokoh Bhutan ini muncul. Siauw-bin-kwi adalah sahabat mereka dan si Setan Ketawa itulah yang memperkenalkan Sam-kong-kiam. Sebagai tokoh-tokoh persilatan, tentu saja dua orang ini tertarik. Bin-kwi memang cerdik.

Ketika Salima ditangkap dan tiga orang ini "mengawal" Salima, maka Bin-kwi mengajak mereka melanjutkan perjalanan mencari Kim-mou-eng.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment