Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 38

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 38

Sekarang kemenangan sudah ada di tangan kita.

Kim-mou-eng tentu rela menyerahkan pedang itu karena dia amat mencintai sumoinya ini.

"Ayo berangkat!" Tiga tokoh itu berkelebat, Salima dipanggul dan kini dijadikan sandera.

Lagi-lagi Kim-mou-eng dituduh mencuri Sam-kong-kiam.

Dan begitu ketiganya berkelebat meninggalkan tempat itu, Salima memaki-maki sepanjang jalan setelah sadar, mencium bau apek di pundak Bong Kak. Tokoh Bhutan inilah yang memanggulnya.

Tapi karena lawan tidak memedulikannya dan Bong Kak tertawa saja, akhirnya Salima kehabisan suara dan menangis.

Malam itu Salima tak tahu berada di mana.

Sudah seminggu ia menjadi tawanan, diam-diam gelisah dan mengumpat-caci tiga iblis tua ini.

Bin-kwi dan dua kawannya tertawa melihat keadaan Salima.

Dewi Bertangan Besi ini menjadi bahan olokan sepanjang jalan, bukan main panas hati Salima.

Dan ketika malam itu mereka berada di sebuah gua dan Salima dilempar ke sudut, Bio-kwi terkekeh menjaga.

"Sian-li, seminggu lagi kami harus mendapatkan suhengmu itu. Kalau tidak, terpaksa dua temanku akan membunuhmu karena tak sabar. Kau mempunyai pesan apa untuk disampaikan pada suhengmu itu?"

"Tak perlu banyak bacot. Kalian boleh membunuhku sekarang, Bin-kwi. Tak usah menunggu sehari atau seminggu lagi. Aku menjadi tawanan kalian, mau bunuh silakan bunuh, mau siksa silakan siksa!" Salima mendamprat.

"Heh-heh, kau semakin cantik kalau marah-marah begini. Aduh, sayang. Aku tak berdaya lagi sebagai laki-laki normal. Kalau dulu kakiku tidak buntung dan aku dapat melepaskan hasrat hatiku, tentu kau sudah kujadikan kekasih. Eh, Tiat-ciang Sian-li, maukah kau kucarikan pemuda tampan untuk menemanimu sebelum ajal?" "Kau ingin apa sebelum dibunuh?" Salima gusar.

"Bin-kwi, tak perlu mengancamku dengan macam-macam omongan kosong. Aku muak pada kalian, enyahlah dan pergi dari sini!"

"Kau tak ingin ditemani seseorang?"

"Hanya suheng yang boleh menemuiku, lainnya persetan!" Bin-kwi tertawa geli.

Tiba-tiba saja dia ingin menggoda gadis ini, menakut-nakutinya. Maka ketika Salima melotot padanya dan iblis ini menyambar tongkat, mendadak dia melesat keluar berkata pada temannya, "Bong Kak, jaga sejenak gadis itu. Aku ingin mencari seorang pemuda untuk menemaninya!"" Salima pucat.

Tiba-tiba dia merasa takut oleh omongan kakek iblis itu, bahkan ngeri. Tahu bahwa Bin-kwi tak sekadar menakut-nakutinya tapi betul-betul dapat membuatnya mengkeret dengan perbuatan-perbuatan keji. Kini kakek itu melesat dan berkata akan mencari seorang pemuda untuk menemani Salima. Gadis ini pun tahu apa yang diinginkan kakek itu. Dia akan dipaksa untuk bercinta dengan seseorang. Bulu kuduknya meremang dan Salima gelisah bukan main. Ini berarti perkosaan!

Dan ketika dia terbelalak memandang kepergian kakek iblis itu dan Bong Kak yang menjaganya di pintu gua tertawa menyeringai, tiba-tiba saja Salima ingin berontak.

"Bin-kwi, jahanam kau. Keparat kau!" Bin-kwi tertawa di kejauhan sana. Rupanya dia mendengar kemarahan gadis ini. Ma Tung mendengus di sudut.

Dua tokoh Bhutan ini bersila melepas lelah, setengah memejamkan mata, dan mereka bicara bahasa Bhutan satu sama lain. Mata yang ganas dari dua tokoh itu tampak sekilas di celah-celah dua garis yang menyipit, entah apa yang dibicarakan.

Tapi ketika Salima berteriak-teriak dan Bin-kwi menghilang di luar sana, mendadak terdengar jeritan iblis itu yang nyaring memecah kesunyian malam.

"Hei, Kim-mou-eng...!" Salima dan dua tokoh Bhutan terkejut.

Bong Kak dan temannya tiba-tiba melompat bangun, mata yang tadi setengah mengantuk itu mendadak terbuka lebar. Di luar terdengar suara pertempuran dan Bin-kwi berkali-kali berseru kaget. Pertempuran itu agak jauh, tapi jelas terdengar dari tempat mereka; kesunyian malam membantu semuanya ini.

Dan ketika terdengar suara "crak" dua kali dan Bin-kwi rupanya membanting tubuh bergulingan hingga mengeluarkan suara berdebuk, tiba-tiba iblis buntung itu berseru ketakutan, "Bong Kak, tolong! Bantu dan keluarlah kalian!"" Dua tokoh Bhutan ini berkelebat.

Mereka sudah mendengar suara-suara yang tidak menguntungkan teman mereka itu. Rupanya Bin-kwi terdesak hebat. Kim-mou-eng memang dikabarkan lihai, amat lihai. Iblis buntung itu berterus terang bahwa seorang diri dia masih bukan tandingan Kim-mou-eng. Kini Pendekar Rambut Emas itu datang dan kedua tangan mereka sudah gatal bukan main.

Sebentar kemudian mereka tiba di asal suara, melihat sinar berkelebat dari tiga warna pelangi yang menarik dipandang mata—hijau, kuning, dan merah—menyambar-nyambar bagai petir yang membuat mereka tertegun. Bin-kwi kalang kabut menghadapi tiga sinar yang menyilaukan ini, berteriak-teriak dan menjerit tak keruan.

Bong Kak dan Ma Tung terkesima karena tiba-tiba mereka merasakan getaran hebat yang memancar dari pelangi tiga warna itu, melihat sosok bayangan berambut keemasan menyerang teman mereka ini. Bin-kwi bergulingan dan memekik setiap cahaya pelangi itu menyambar, kiranya iblis ini sudah terluka-luka. Tujuh guratan panjang menghias tubuh si kakek buntung.

Tapi begitu mereka sadar dan Bin-kwi menjerit meminta tolong, mendadak dua tokoh Bhutan ini membentak melepas pukulan jarak jauh.

"Kim-mou-eng, tahan...!" Bayangan keemasan itu membalik. Dia telah merasakan kesiur dingin dari pukulan dahsyat di kiri-kanan tubuhnya. Sinar pelangi bergerak dua kali membacok dari atas, cepat bukan main.

Dan ketika pukulan dua tokoh Bhutan itu ditangkis bayangan ini, mendadak Bong Kak dan temannya berseru kaget.

"Bret-brett!" Dua ujung baju kakek tinggi besar ini terbabat, nyaris buntung mengenai tangan mereka sendiri. Bong Kak dan temannya membanting tubuh bergulingan. Hawa yang tajamnya luar biasa telah menyambut pukulan mereka tadi, padahal di antara mereka tak ada yang saling sentuh, jarak di antara mereka masih dua tombak!

Dan Bong Kak serta Ma Tung yang kaget bergulingan dengan seruan keras, tiba-tiba melompat bangun dan pucat berseru tertahan.

"Pedang luar biasa, pedang yang ampuh...!" Namun bayangan berambut keemasan itu mengeluarkan suara mengejek. Dengusan pendek terdengar dari hidungnya, sinar warna-warni tadi lenyap. Pedang ternyata telah memasuki sarungnya dengan cara luar biasa pula. Keadaan kembali gelap-gulita.

Dan ketika Bong Kak dan temannya terkejut dan Bin-kwi merintih di sana, tiba-tiba bayangan itu berkelebat dan lenyap dari depan mereka.

"Wuit!" Dua tokoh Bhutan ini siaga. Mereka melihat samar-samar sesosok bayangan yang melejit. Perubahan terang menjadi gelap ini membuat mata kabur, mereka waspada.

Tapi ketika bayangan itu menghilang dan Bin-kwi segera meminta tolong, dua kakek tinggi besar itu melompat sambil menghapus keringat dingin mereka.

"Itukah Kim-mou-eng, Bin-kwi?"

"Ya, dan aku nyaris binasa. Tidak kalian lihatkah bahwa ia amat lihai? Dan Kim-mou-eng sekarang ganas bukan main, aduh... kaki bambuku buntung. Sam-kong-kiam membabat putus kakiku ini dan tolong kalian carikan yang baru. Atau, eh... jangan, kita harus kembali ke gua. Kim-mou-eng tentu menolong sumoinya!" Bong Kak serta Ma Tung yang lagi-lagi terkejut dan sadar oleh seruan ini, tiba-tiba melompat dan menyangga Bin-kwi di kedua bahu mereka. Secepat kilat mereka kembali ke gua dan teringat pada Salima.

Gadis itu masih ada di sana, tentu Kim-mou-eng akan menolongnya dan menyelamatkan gadis itu.

Dan ketika benar saja mereka melihat kerangkeng sudah kosong dan bayangan keemasan itu melompat keluar gua sambil memanggul Salima, tiba-tiba dua tokoh Bhutan ini melepas Bin-kwi berseru marah.

"Kim-mou-eng, lepaskan sumoinya...!" Dua pukulan dahsyat kembali menerjang.

Kim-mou-eng, atau orang yang disangka Kim-mou-eng ini, terbelalak. Sam-kong-kiam di belakang punggung tak sempat diambil. Terpaksa ia mengelak, namun pukulan di sebelah kanan menghadang. Bayangan ini menangkis dan langit-langit gua di atas mereka roboh.

Getaran dahsyat dari dua pukulan kuat itu bertemu, baik bayangan ini maupun lawannya terpental.

Dan ketika Bong Kak menerjang masuk dan Bin-kwi berjungkir balik berseru periang, tiba-tiba Ma Tung yang terpental dan sudah mematahkan daya dorong tadi dengan lompatan tinggi, tahu-tahu melesat membantu dua temannya menyerang bayangan ini yang sudah terpental ke dalam gua.

"Kim-mou-eng, serahkan Sam-kong-kiam...!" Bayangan berambut emas itu menggereng. Dia terpental masuk ke dalam gua. Tiga lawan kini menyerangnya bertubi-tubi tanpa ampun. Salima yang dipondong sebelah lengannya membuat dia repot.

Tapi berseru keras, menggerakkan lengan ke belakang, tahu-tahu pedang di punggungnya itu dicabut dan tiga sinar pelangi berkelebat menyambar serangan Bong Kak dan kawan-kawannya ini.

"Awas...!" Untuk kedua kali Bong Kak terkejut. Hawa yang amat dingin dan tajam itu menyambar dirinya. Lagi-lagi tokoh Bhutan ini merasa pukulannya diiris, tentu saja dia cepat menarik pukulannya dan melempar tubuh ke kiri. Kakek ini merasa ngeri dan pucat.

Dan ketika dua temannya yang lain juga melakukan hal yang sama dan mereka sama-sama membanting tubuh bergulingan, sinar pedang berkelebat di samping mereka bagai petir menyambar.

"Sing!" Sebagian rambut Bong Kak putus. Hawa pedang yang luar biasa tajam kiranya telah mampu memotong rambut kakek tinggi besar ini. Bin-kwi dan Ma Tung juga mencelos karena baju mereka terbabat robek, baru oleh hawa pedang itu saja, bukan main.

Dan ketika mereka sibuk menyelamatkan diri dan bergulingan di dalam gua, bayangan itu tertawa mengejek melompat keluar.

"Wutt!" Bayangan itu telah berada di luar gua. Sekarang dia selamat, tidak mengeluarkan kata-kata dan terbang meluncur ke utara. Gin-kang-nya yang tinggi membuat bayangan ini bergerak seperti iblis. Sam-kong-kiam sudah disarungkan kembali dan Salima tertegun melihat semuanya itu.

Dan ketika Ma Tung dan kawan-kawannya bengong, bayangan ini terbang jauh meninggalkan gua.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment