Chapter 39
"Kejar...!" Bong Kak tersadar, lalu melesat dan membentak bayangan itu.
Ma Tung dan Bin-kwi turut melompat sembari berseru marah.
Bong Kak telah mengeluarkan gelang-gelang berodanya dan melepaskannya dari belakang. Gelang-gelang itu menyambar punggung lawan dengan sangat cepat dan mengerikan karena mampu mengejar bayangan tersebut. Bayangan itu terkejut dan menangkisnya.
Ketika gelang itu jatuh namun telapak tangannya terasa panas dan bergetar, Ma Tung segera mengeluarkan senjata rahasianya berupa *seng-piauw* (senjata bintang) yang bermata setajam pisau. Disusul oleh Bin-kwi yang melemparkan granat tangan. Meski meledak, semua serangan itu gagal menghentikan sang bayangan.
Saat mereka terus mengejar dengan amarah, Bong Kak menggeram gusar. "Kim-mou-eng, kau akan kami kejar sampai ke ujung dunia sekalipun. Berhentilah, atau kami akan membunuhmu!"
Salima merasa ngeri. Ia berada di posisi paling belakang dan akan menjadi orang pertama yang terkena jika senjata rahasia ketiga kakek itu mengenai sasaran. Jantungnya selalu berdebar setiap kali mendengar desingan senjata gelap tersebut. Namun, setelah melihat bayangan itu mampu mematahkan semua serangan dan kini berbelok ke arah timur, Salima merasa bahwa sosok tersebut bukanlah suhengnya karena ia tidak melihat jurus Tiat-lui-kang atau ilmu silat lain yang biasa dimiliki suhengnya.
Ia berkata, "Sobat, sebaiknya bebaskan totokanku dan lepaskan aku. Tubuhku hanya menjadi beban. Lebih baik kita hadapi mereka daripada melarikan diri!"
"Hm!" bayangan itu bergumam. "Aku tidak ingin kita berhenti, Nona. Biarlah mereka mengejar, aku akan berputar-putar!"
"Tapi kau akan kelelahan, berat tubuhku akan mengurangi kelincahanmu!"
"Tidak apa-apa, aku mempunyai tempat persembunyian yang baik dan mereka tidak akan bisa menemukanku lagi. Sekarang kita hampir sampai, tundukkan kepalamu karena kita akan memasuki hutan bambu."
Sesaat setelah mengucapkan kata-kata itu, Salima mendengar suara gemerisik saat mereka memasuki hutan bambu yang lebat. Bong Kak dan dua temannya di belakang terus berteriak dan gigih mengejar sambil melepaskan senjata rahasia. Sesekali bayangan itu mengeluh, tetapi ia tetap baik-baik saja. Ketika bayangan ini memutar dan melompat dengan langkah-langkah yang aneh, tiba-tiba ia tertawa dan tiba di sebuah gundukan besar menyerupai kuburan kuno.
"Kita sudah sampai, sekarang kita aman!" kata orang itu. Salima merasa dirinya terperosok memasuki sebuah lubang dan tiba-tiba tidak dapat melihat apa-apa lagi karena keadaan di sekelilingnya yang gelap gulita.
"Kita di mana? Tempat apa ini?" Salima merasa kedinginan. Suara Bong Kak dan teman-temannya tidak terdengar lagi di belakang.
Bayangan atau penolong tak dikenal itu tertawa aneh. Ia tidak menjawab dan terus melangkah maju. Meski gelap, ia dapat berjalan dengan baik di sana. Jelas sekali bayangan ini mengenal tempat tersebut sebagai markasnya sendiri karena ia beberapa kali membelok dan menuruni jalan.
Seperempat jam kemudian, mereka tiba di tempat yang agak terang dengan sinar remang-remang. Bayangan itu segera membebaskan totokan Salima. Salima segera melompat turun dengan wajah memerah.
"Kita di mana? Tempat apa ini?"
"Heh-heh, ini tempatku, Nona. Bekas tempat guruku. Kita berada di tempat yang aman dan tidak ada seorang pun yang tahu!"
Salima memandang tajam ke arah bayangan itu. "Siapa kau?"
"Duduklah, jangan ganggu aku dulu. Aku harus mencabut *seng-piauw* yang menancap di tubuhku ini..."
Salima terkejut. Sekarang ia menyadari bahwa penolongnya itu terkena beberapa senjata rahasia; dua *seng-piauw* menancap di lengannya, sementara sebuah gelang beroda menancap di kaki kirinya. Benda-benda itu tampak menghitam karena beracun.
Salima tertegun lalu melompat menghampiri bermaksud mencabut senjata-senjata itu. Namun, orang aneh itu tertawa dan mencabutnya sendiri lalu membuang ketiga senjata gelap tersebut. Ia memperingatkan bahwa Salima bisa keracunan jika memegangnya. Ia meminta gadis itu duduk beristirahat sementara ia segera bersila untuk bersamadi.
Salima kembali tertegun. Saat orang itu menyendiri di sudut dan memejamkan mata untuk mengusir sisa racun, tiba-tiba Salima menahan napas karena teringat masalah Sam-kong-kiam.
"Inilah pencurinya!" batinnya. Inilah orang yang telah membuat suhengnya dikejar-kejar dan dituduh oleh kaisar. Entah di mana suhengnya sekarang, sementara orang inilah penyebab kekacauan tersebut.
Salima mendadak marah namun juga bingung karena teringat bantuan orang ini yang telah menyelamatkannya dari tangan Bin-kwi dan kawan-kawannya. Saat ia terpaku memandang orang itu, Salima meneliti seluruh wajahnya dari atas ke bawah.
Salima gemetar. Jika dilihat sepintas, orang akan menyangka bahwa ini adalah suhengnya. Bentuk tubuhnya yang tinggi besar memang sangat mirip, bahkan rambut emasnya pun serupa. Namun, ketika Salima meneliti lebih jauh, ia menemukan dua hal mencurigakan yang membuat kemarahannya bangkit.
Ada dua hal yang tidak dapat menipu matanya. Pertama, orang ini mengenakan kedok. Setelah ia mengamati dengan saksama, ternyata orang itu menyembunyikan wajahnya di balik kedok karet yang tipis. Jika tidak diperhatikan dari jarak dekat, memang sulit untuk menyadarinya. Hal kedua, ternyata rambut yang dikenakan bayangan itu palsu!
"Keparat!" desis Salima. "Apa maksud orang ini? Apakah ia memang berniat mencelakakan suhengku?"
Salima yang menatap tajam ke arah rambut itu segera menyadari bahwa rambut tersebut telah dicat. Warnanya kuning keemasan, sangat mirip dengan rambut suhengnya. Jika mata tidak jeli, orang pasti akan terkecoh.
Salima mengepalkan tinju dan hampir saja menyerang. Namun, karena orang itu sedang bersamadi, ia sabar menunggu. Akhirnya, setengah jam kemudian, orang aneh itu membuka mata dan menarik napas panjang.
"Selamat, sekarang tidak ada apa-apa lagi!"
Salima segera melompat maju. Begitu melihat orang itu membuka mata, ia bergerak cepat untuk melakukan interogasi. Saat laki-laki itu menarik napas, tiba-tiba Salima menyentuhkan dua jarinya pada jalan darah *mo-cheng-hiat*, titik kematian di bawah telinga.
"Manusia busuk, sekarang katakan padaku siapa sebenarnya dirimu! Mengapa kau memalsukan identitas suhengku dan mencuri Sam-kong-kiam?"
Orang itu terkejut. "Kau mengancamku?"
"Tidak perlu pura-pura. Kau telah mencemarkan nama suhengku, dasar orang tidak tahu malu! Sekarang jelaskan siapa dirimu dan kenapa kau mencuri Sam-kong-kiam!"
"Bagaimana jika aku tidak mau bercerita?"
"Kau akan kubunuh!"
Orang itu tertawa aneh. "Nona, percuma kau menggertak atau mengancamku. Sebaiknya kau duduk tenang dan lepaskan jarimu."
"Kau tidak perlu mencari alasan. Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau bicara!"
"Kalau begitu aku tidak akan bicara. Kau boleh memaksa atau membunuhku jika bisa!"
Salima terbelalak. "Kau ingin mati?"
"Heh-heh, jalan darahku sudah jungkir balik tidak keruan, Nona. Ke mana pun jarimu menotok, pasti akan sia-sia."
"Aku tidak percaya!" Salima yang gusar merasa tertantang dan naik pitam. Dengan cepat kedua jarinya bekerja. Namun, saat titik yang ditotok tidak memberikan reaksi dan jarinya justru terpental karena kulit yang licin, Salima terkejut. Terbukti bahwa orang ini seolah-olah tidak memiliki jalan darah.
"Iblis!" maki Salima. Ia terkesiap, sementara bayangan aneh itu kembali tertawa.
Salima semakin marah dan mencoba menotok bagian lain. Bertubi-tubi ia melancarkan serangan, tetapi semuanya gagal. Orang ini seolah-olah bukan manusia. Saat wajah Salima pucat dan ia mundur selangkah, orang itu berdiri dan menatap tajam ke arahnya. Matanya bersinar mencorong hingga membuat Salima ngeri.
"Bagaimana, kau bisa membunuhku, Nona? Kau ingin membuktikannya lagi?"
"Kau bukan manusia..." Salima akhirnya menggigil. "Kau laki-laki yang jalan darahnya kacau. Kau melatih ilmu sesat yang membuat semua jalan darahmu terbalik tidak keruan!"
"Benar, itulah aku, Nona. Karena itu, jangan buat diriku semakin menderita dengan semua ini. Aku sudah cukup menderita dan merana sepanjang tahun..."
Salima tertegun memandang laki-laki itu, lalu tiba-tiba ia melihat laki-laki tersebut menangis.
"Eh, siapa sebenarnya kau ini? Apakah kau orang gila?" Salima mulai terpengaruh dan merasa luluh. Melihat tangisan yang begitu menyedihkan serta guratan wajah yang menunjukkan kedukaan berat, gadis itu merasa iba.
Namun, saat orang itu menarik napas dan menghapus air matanya, dalam waktu singkat ia kembali tertawa dan menyeringai seperti orang tidak waras.
"Nona, semua ini kulakukan demi seseorang. Aku mencintai seseorang, namun aku merasa gagal dan tersiksa karenanya. Maukah kau duduk tenang dan mendengarkan ceritaku?"
Salima merasa trenyuh sekaligus heran. Ia mengangguk, lalu duduk dengan tetap waspada sambil memandang laki-laki itu.
"Kau aneh dan penuh rahasia. Jika kau ingin bicara baik-baik, tentu aku tidak menolak. Namun, setelah itu ceritakan mengapa kau memfitnah suhengku!"
"Ah, aku tidak memfitnah suhengmu, Nona. Aku tidak melakukan apa-apa pada orang lain."
"Tapi suhengku dituduh mencuri Sam-kong-kiam, padahal pedang itu ada di tanganmu. Kau mau menyangkal apa lagi?"
"Benar, memang aku yang mencuri pedang ini, Nona. Tetapi orang lainlah yang mengatakan suhengmu pencurinya, aku tidak pernah mengaku sebagai suhengmu!"
"Sama saja! Kau mengecat rambutmu dan mengenakan kedok. Jika tidak bermaksud menyerupai suhengmu, tidak mungkin orang akan menuduhnya!"
Orang itu tiba-tiba tertawa dengan sorot mata yang beringas.