Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 40

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 40

"Nona, sedemikian besarkah rasa cintamu kepada suhengmu itu hingga kini kau marah-marah kepadaku? Apakah kehebatan Kim-mou-eng itu? Apakah dia benar-benar sudah pilih tanding?"

"Kau menantang?" Salima melompat bangun.

"Kau berani mengejek suhengku dan ingin mengadu kepandaian? Nah, mari dengan aku dulu, orang bertopeng. Coba lihat, dapatkah kau mengalahkan aku atau tidak!" Orang ini terkejut.

"Aku tak berani memusuhimu, aku tak akan bertempur melawanmu...."

"Kalau begitu jangan menghina suhengku. Kalau kau tak memusuhi aku, seharusnya kau juga tak memusuhi suhengku!" Orang ini tertegun. Pandang matanya berkilat, mencorong, tapi sudah kembali redup. Dan ketika Salima duduk lagi dan masih belum hilang marahnya, tiba-tiba orang ini menitikkan dua butir air mata yang membuat Salima mengerutkan kening.

"Kau ini orang apa? Dapatkah sekarang kau menceritakan kepadaku tentang dirimu?"

"Baiklah," suara orang ini bergetar. "Aku memang akan menceritakannya kepadamu, Nona. Sekarang dengarkan ceritaku kenapa aku melakukan semuanya ini," dan menarik napas, membetulkan letak kakinya, orang ini mulai bercerita, "Aku ingin mengobati kekecewaan hatiku, aku merana sepanjang tahun sejak aku merasa jatuh cinta. Dan karena cinta itu bertepuk sebelah tangan, karena gadis yang kucinta mencinta orang lain, maka aku ingin melampiaskan kekecewaanku ini dengan cara lain. Aku ingin menguasai dunia, aku ingin menunjukkan pada gadis yang kucinta itu bahwa aku dapat melakukan apa saja, termasuk kelak membunuh kekasih gadis itu agar dia tahu rasanya orang merana!"

"Kau kejam!" Salima bergidik. "Kenapa mesti melakukan hal sepicik itu? Dunia tidak selebar daun kelor, kau dapat mencari gadis lain sebagai penawar dukamu!"

"Heh-heh," laki-laki ini tertawa serak, "Gadis yang kupilih adalah gadis terhebat, Nona. Sukar mencari gantinya karena langka mencari gadis seperti itu!"

"Kau yakin?"

"Tentu saja. Aku mengenal baik sepak terjang dan kepandaiannya!"

"Siapa dia? Gadis mana?" Salima penasaran, terseret dan ingin tahu karena mendadak dia menjadi panas. Seingatnya, di dunia kang-ouw ini tak ada wanita yang hebat selain dia. Dia adalah murid Bu-beng Sian-su, nama itu saja cukup menjadi jaminan sebagai tokoh yang paling disegani di dunia. Belum pernah dia berjumpa wanita kang-ouw yang menonjol, kecuali mendiang Tok-gan Sin-ni dulu, si iblis betina yang telah tewas. Apakah orang ini mencintai seorang wanita sesat macam Tok-gan Sin-ni yang sudah mendiang itu? Atau..... Ah, tidak. Tok-gan Sin-ni bukan gadis, tokoh ini seorang berusia lanjut, dan seingatnya tak ada tokoh wanita yang masih gadis dan menonjol di dunia kang-ouw. Atau mungkin dia yang belum tahu tokoh yang dimaksud laki-laki ini, barangkali ada tokoh yang tidak menonjol namun memiliki kepandaian tinggi.

Tiba-tiba Salima tertarik dan ingin tahu. Kalau dia tahu, mungkin dia akan mencoba kepandaian tokoh yang menghancurkan cinta laki-laki aneh ini, bertanding dan ingin melihat benarkah gadis yang dicinta laki-laki itu terhebat di dunia. Kesombongan Salima tiba-tiba muncul, maklum, merasa sebagai murid Bu-beng Sian-su. Dan ketika dia bersinar-sinar memandang laki-laki itu dan laki-laki ini meredup memandangnya, maka Salima melihat sorot yang aneh yang keluar dari pandang mata laki-laki itu.

"Kenapa kau? Siapa gadis yang kaumaksudkan itu?" Orang ini menggumam.

"Aku enggan menyebut namanya, Nona. Tapi dia adalah seorang gadis asing. Gagah dan hebat!"

"Kau memuji-muji tak ada habisnya. Memang gadis itu lihai dan berkepandaian tinggi!" "Salah-salah dia menjadi sombong kalau tahu kau selalu menyanjung-nyanjungnya begini!" Salima kesal, membanting kakinya dan melotot.

Orang ini menyeringai dan tertawa, sikapnya berahasia. Tapi ketika dia menunduk dan mengangkat mukanya lagi, maka orang ini lembut memandang Salima, "Nona, gadis itu seperti dirimu. Galak tapi menarik. Karena itulah aku terpikat padanya dan tergila-gila." Salima tergetar. Pandang mata yang begitu lembut dan mesra memandangnya membuat dia terkesiap, jantung berdebar, dan orang ini tiba-tiba sudah memegang lengannya, begitu saja, tanpa sungkan-sungkan dan rikuh lagi.

Kurang ajar!

Dan Salima yang kaget dan meronta melepaskan diri, tiba-tiba melompat bangun dan membentak marah, panas-dingin tubuhnya karena tangan orang yang terasa hangat, "Jangan kurang ajar, aku bukan wanita murahan yang gampang dipegang-pegang!"

"Maaf," laki-laki ini sadar, matanya gugup. "Aku terhanyut perasaanku, Nona. Aku lupa diri, aku tak sengaja, maaf...." Salima masih tak puas.

"Kau jangan pegang-pegang diriku tanpa seizinku," dia masih mengomel. "Kalau kau kurang ajar dan coba-coba, tentu aku akan menyerangmu!"

"Aku mengerti, aku tak sengaja, Nona. Mari duduk kembali dan dengarkan ceritaku...."

"Aku sekarang sebal. Lebih baik bicara tentang Sam-kong-kiam itu saja dan tak usah bicara tentang rahasia pribadimu. Aku ingin tahu kenapa kau mengenakan kedok dan bermirip-mirip seperti suhengku hingga suhengku kena getah!" Laki-laki ini mengerutkan kening, diam.

"Kau tak menjawab?"

"Hmm," kening itu sekarang terangkat. "Aku bermirip-mirip seperti suhengmu karena memang ada alasannya, Nona. Dan alasan itu hanya satu, benci!"

"Benci?" Salima terkejut. "Memangnya ada permusuhan apa di antara suhengku dan dirimu?"

"Aku benci karena dialah yang merebut kekasihku itu!"

"Gila! Ngawur....!" Salima kaget sekali, melompat bangun dan merah memandang laki-laki ini. "Kau bicara apa dengan semuanya ini, orang bertopeng? Kau hendak memfitnah suhengku untuk kedua kali?" Orang ini tertawa getir, bangkit berdiri pula.

"Aku bicara bukan berdasar fitnah, Nona, melainkan itulah kenyataannya hingga aku membenci suhengmu itu. Kalau dia ada di sini dan berani menyangkal, tentu sudah kubunuh dia. Dialah laki-laki yang merebut orang yang kucinta itu, dan itulah sebabnya aku membenci suhengmu!" Salima terbelalak, menggigil.

"Orang bertopeng, kau membingungkan hatiku. Selama ini tak pernah suhengku kudengar berdekatan dengan wanita lain selain diriku. Aku tak pernah melihatnya menjalin hubungan dengan wanita lain. Kau hendak mengada-ada dan rupanya melempar berita bohong, tak bertanggung jawab?"

"Pastikah dirimu dengan omonganmu ini? Benarkah suhengmu tak pernah menjalin hubungan dengan wanita lain?"

"Aku pasti!" Salima mengangguk tegas. "Dan aku yakin suhengku tak mungkin merebut kekasih orang lain untuk kesenangan dirinya sendiri!"

"Heh-heh," orang bertopeng ini mendadak tertawa. "Kau jangan terlalu gegabah, Nona. Coba ingat baik-baik, benarkah suhengmu itu tak pernah berhubungan dengan wanita lain? Coba renungkan sejenak, ingat baik-baik apakah benar suhengmu itu hanya berdekatan denganmu seorang!" Salima pucat. Dia mengingat-ingat dan melotot memandang laki-laki misterius itu, siap membentak dan memaki ketika mendadak teringat Cao Cun. Itulah wanita kedua yang diketahuinya mempunyai hubungan baik dengan suhengnya. Benar. Cao Cun inilah wanita lain yang didekati suhengnya. Salima terbelalak dan tiba-tiba mengeluh. Dan ketika dia terhuyung dan menggigil memandang bayangan itu, maka orang ini tertawa aneh bertanya padanya, "Bagaimana, benarkah suhengmu tidak berdekatan dengan wanita lain selain dirimu, Nona? Benarkah hanya kau seorang gadis yang dekat di hatinya itu?"

"Kau hendak maksudkan Cao Cun?" suara Salima serak, marah dan pucat serta gelisah. "Kau hendak maksudkan bahwa Cao Cun inilah gadis yang kaucinta dan direbut suhengku? Kau hendak mengartikan...."

"Sabar, hal itu tak perlu kuberitahukan, Nona. Pokoknya kau sekarang telah mendapat jawaban bahwa suhengmu pernah mendekati seorang wanita. Ini yang penting. Dan karena suhengmu menyakiti hatiku, maka wajar kalau aku membenci dan ingin membunuhnya! Sekarang kau tak perlu penasaran, sekarang kau mengerti kenapa aku melakukan semuanya ini dan mencuri Sam-kong-kiam, bukan lain karena aku ingin membalas dan menghukum suhengmu itu!"

"Keparat!" desis Salima sekarang tak jelas ditujukan kepada siapa. "Kau rupanya benar, orang bertopeng. Tapi sebutkan siapa dirimu dan beranikah kau mempertanggungjawabkan semua omonganmu di depan suhengku!"

"Ha-ha, tentu berani, Nona. Kenapa tidak? Bahkan tanpa kauminta sekalipun, aku memang ingin mencari suhengmu itu dan membunuhnya. Sakit karena asmara ini tak ada obatnya, aku telah merana dan tersiksa sepanjang tahun!"

"Dan siapa dirimu?"

"Perlukah kau ketahui?"

"Tentu, kalau kau bukan pengecut!"

"Hmm," orang ini menyeringai, terpukul perasaannya. "Aku Bu-hiong, Nona. Kau boleh kenal diriku sebagai Bu-hiong. Terserah mau kau artikan apa namaku itu, pokoknya aku telah menyebut namaku." Salima tertegun. Nama ini aneh, bisa berarti Tanpa Keberanian. Tapi karena orang telah menyebut namanya dan betapapun ganjil nama itu didengar telinga, orang bertopeng ini telah mengenalkan diri maka Salima mundur selangkah memandang Sam-kong-kiam, bersinar-sinar dan bergidik teringat keampuhan pedang ini. Begitu tajamnya, juga memiliki sinar warna-warni yang seumur hidup belum pernah dia lihat.

Maka, tertarik memandang pedang ini dan marah pada suhengnya yang merebut kekasih orang, tiba-tiba Salima menjadi dingin untuk merampas pedang demi membantu suhengnya. Kini ia ingin membiarkan saja pedang itu di tangan Bu-hiong, biar suhengnya kapok. Biar tetap dianggap suhengnya itulah sang pencuri pedang!

Dan Salima yang bersinar memandang pedang segera bertanya, "Bu-hiong, sekarang apa yang mau kaulakukan dengan pedang itu? Kau ingin menguasai dunia dengan pedang seampuh itu?"

"Nona mau membantu?"

"Membantu bagaimana? Membantumu malang-melintang di dunia kang-ouw?"

"Benar, aku amat gembira kalau kau membantuku, Nona. Dan untuk itu aku siap memberimu apa saja yang kauminta!"

"Kalau begitu coba kulihat Sam-kong-kiam itu. Aku ingin mengetahuinya!" Salima tiba-tiba mengejek, bermaksud menguji kata-kata orang dan justru minta pedang keramat itu, orang bertopeng ini terkejut. Tapi tertawa dan mencabut Sam-kong-kiam, tiba-tiba dia memberikan pedang itu kepada Salima, tanpa ragu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment