Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 41

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 41

"Srat!" Pedang berkeredep membuat ruangan terang benderang.

"Kau lihatlah, Nona. Ambil kalau kau pun merasa suka." Salima tertegun. Dia sebenarnya setengah mengejek untuk menertawakan lawan. Tak disangka, pedang itu dengan begini gampang disodorkan kepadanya. Hawa dingin serta tiga warna pelangi itu membuat perasaannya menjadi seram.

Dinding gua bergetar dan ada suara seperti iblis mengaum di sela-sela gua. Tempat yang begitu terang membuat Salima melihat laki-laki ini dengan jelas; gagah dan tampan dengan bahu yang tegap, hanya sorot matanya yang terasa ganjil, kadang melebar dan kadang menyipit. Kini dengan penuh kegembiraan, laki-laki ini menyerahkan Sam-kong-kiam kepadanya, seolah seorang bawahan memberikan benda berharga pada junjungannya. Mau tidak mau, Salima terperangah juga.

Tetapi ketika pedang sudah sampai di tangannya dan Bu Hiong mundur dengan mata berkejap-kejap, Salima mendengar suaranya yang gembira serta melihat pandangannya yang lembut mesra, "Nona, kau bagai harimau tumbuh sayap bila memakai pedang ini. Lihatlah, betapa gagah dan anggunnya dirimu memegang Sam-kong-kiam. Sungguh cantik dan luar biasa!"

Wajah Salima memerah. "Kau memuji?"

"Ah, kenyataannya, Nona. Kau cantik dan gagah sekali. Kita berdua tentu dapat menguasai dunia dengan pedang ini. Ha-ha, Kim-mou-eng tentu dapat kita bunuh dan kita hidup bagai raja dan ratu!"

Salima tiba-tiba terkejut. Membayangkan dia harus membunuh suheng yang dicintainya dengan pedang mengerikan ini mendadak membuatnya pucat. Apalagi tawa Bu Hiong itu terdengar tidak wajar. Bola matanya bergerak-gerak seperti orang gila! Ketika laki-laki itu terkekeh dan memegang lengannya, untuk kedua kalinya Salima melihat sorot ganjil yang membuatnya tersentak dan cepat melepaskan diri.

"Kau mau apa?" Bentakan itu menyadarkan Bu Hiong. Laki-laki itu surut selangkah, menghela napas, dan tiba-tiba menyeringai meminta maaf.

Ketika Salima memandangnya tajam, dia berkata, "Nona, kau suka Sam-kong-kiam, bukan? Kau ingin memiliki pedang ini?"

Salima ragu.

"Kau boleh memilikinya, Nona. Asal kau mau tinggal di sini dan menemaniku sebagai sahabat."

Salima melotot. "Kau mau mengadakan jual beli dengan kebebasanku sebagai taruhannya? Memangnya aku di sini sebagai tawanan?"

"Ah, tidak. Jangan salah paham, Nona. Aku tidak mengartikannya begitu. Aku rela memberikan pedang itu, tapi kuminta belas kasihanmu pula agar menemaniku di sini. Aku hidup tiada sanak saudara lagi. Aku sebatang kara, tiada teman ataupun sahabat yang kupunyai di dunia ini. Kalau kau suka dan kasihan padaku, kuminta jadilah sahabat dan tinggallah di sini bersamaku."

Salima tertegun. Laki-laki ini menangis. Suaranya serak dan kian lirih, lalu tiba-tiba menutupi mukanya. Salima menjadi terharu. Agaknya kedukaan besar melanda laki-laki ini; kesepian yang teramat sangat. Dia dapat membayangkan betapa parahnya seseorang yang sedang patah hati, sendirian, dan tiada kawan menemani. Hal itu memang berat.

Namun Salima, yang tentu saja tidak mau tinggal di situ meskipun diberi segudang harta, tiba-tiba mengembalikan Sam-kong-kiam pada pemiliknya.

"Bu Hiong, aku tidak tertarik untuk tinggal di sini. Kalau mau menjadi sahabatku tentu saja aku tidak keberatan, tapi tunjukkan sikap baikmu padaku. Aku ingin keluar sekarang. Kita berpisah dan tunjukkan jalannya."

Bu Hiong terbelalak dan mengangkat mukanya. "Kau akan pergi?"

Jantung Salima berdetak. Dia menangkap suara pilu di sana, tiba-tiba perasaannya berdesir dan dia cepat membuang muka. Pandangan Bu Hiong ini menusuk perasaannya; dia tidak tahan. Tetapi Salima yang sudah mengembalikan pedang segera menekan perasaannya sendiri, lalu mengangguk dan berkata dengan tegas, "Benar, aku mau pergi. Aku akan mencari suhengku dan bicara padanya. Kalau tinggal di sini, mana bisa aku mencarinya? Aku ingin keluar. Bu Hiong, tunjukkan jalannya dan kau akan kuanggap sebagai sahabat kalau kau bersikap baik kepadaku."

Bu Hiong termangu. Kilatan aneh memancar di matanya yang bersinar. Salima mendengar keluhan pendek.

"Baiklah, aku akan mengantarmu. Tapi aku juga berkepentingan dengan suhengmu itu. Bolehkah aku ikut?"

Salima terkejut. "Ikut? Tidak, aku ingin sendiri, Bu Hiong. Tidak perlu kau ikut dan biarkan persoalan ini kuselesaikan sendiri. Aku akan membawa suhengku padamu di sini kalau kau tidak ke mana-mana!"

"Baiklah, kalau begitu aku menurut saja. Kau berjanji menganggapku sebagai sahabat, bukan? Kau tidak akan memusuhiku?"

"Di antara kita tidak ada persoalan pribadi, Bu Hiong. Paling-paling masalah pencurian Sam-kong-kiam di mana suhengku menerima getahnya. Tetapi karena suhengku tidak beres dan rupanya urusan kekasihmu itu harus kuketahui, maka selama bicaramu benar, aku akan menganggapmu sebagai sahabat. Aku berjanji."

"Dan tidak akan menunjukkan tempat ini pula pada orang lain?"

"Tentu!"

"Baiklah, aku percaya padamu, Nona. Tapi perkenankan aku mencium telapak kakimu!"

Sebelum Salima sadar, tiba-tiba Bu Hiong sudah menjatuhkan diri, berlutut, dan mencium telapak kakinya sungguh-sungguh. Hal itu membuat Salima terkejut dan seketika menarik kakinya. Dia merasakan usapan mesra yang membuat tengkuknya merinding. Hih!

Ketika dia terbelalak dan Bu Hiong berdiri, Salima terheran-heran melihat laki-laki itu tersenyum. Senyum bahagia!

"Nona, terima kasih. Kau telah memberikan sesuatu yang hangat di hatiku!"

Salima mundur. "Kau aneh. Kenapa harus begitu, Bu Hiong? Kenapa kau merendahkan dirimu sendiri?"

"Biarlah, kau seperti orang yang kucinta itu, Nona. Kalau aku dapat menyentuhmu sedikit, berarti rasa cintaku terobati."

"Sudahlah, antarkan aku keluar." Wajah Salima memerah. "Dan terima kasih atas bantuanmu menyelamatkan aku dari tangan Siauw-bin-kwi dan kawan-kawannya itu."

"Baiklah, mari, Nona. Kuantar kau."

Bu Hiong yang tersenyum memutar tubuh, lalu mengajak Salima keluar dari tempat itu. Kembali Salima menemukan jalan yang berliku-liku serta gelap. Beberapa kali terpaksa dia memegang ujung baju laki-laki ini. Pada suatu ketika, bahkan Bu Hiong menangkap lengannya untuk menuntun ke atas undak-undakan karena Salima belum terbiasa di situ.

Setelah mereka naik-turun tak menentu dan membelok di beberapa tikungan, akhirnya mulut gua atau mulut terowongan bawah tanah itu tampak. Bu Hiong melompat mendahului, disusul oleh Salima kemudian.

"Nah, kita sudah sampai, Nona. Silakan pergi dan selamat jalan."

Salima termangu. "Aku dapat menerobos hutan bambu ini?" Dia melihat rapatnya hutan bambu itu.

"Tentu, lakukan hitungan tujuh langkah ke kiri dan ke kanan, Nona. Kemudian lurus ke depan dan kau akan tiba di luar."

"Baiklah, terima kasih, Bu Hiong. Selamat tinggal!" Salima berkelebat.

Bu Hiong mengangguk. Gadis itu sudah melakukan apa yang dikatakan laki-laki itu; menghitung langkah-langkah ganjil untuk keluar dari hutan bambu yang lebat. Ketika Salima tiba di luar, ternyata benar saja, hutan bambu itu menutup pandangannya ke dalam. Akhirnya gadis ini selamat dan menarik napas lega. Kemudian, begitu dia melompat dan mengerahkan ginkang-nya, gadis itu berlari cepat menuju ke utara.

Pikiran Salima masih dipenuhi dengan bayangan laki-laki aneh itu. Bu Hiong terasa ganjil dan kadang-kadang menimbulkan kengerian yang aneh. Sungguh luar biasa bahwa dia dapat keluar dari tempat tinggal laki-laki misterius ini, bahkan sempat mendapatkan Sam-kong-kiam yang dicari-cari banyak orang. Begitu mudah jika dia mau.

Membayangkan bahwa dia telah menyerahkan kembali pedang itu kepada Bu Hiong, tiba-tiba Salima tersenyum kecut membayangkan orang lain akan mencak-mencak melihat perbuatannya. Suhengnya misalnya, tentu akan terbelalak dan memakinya bodoh karena pedang sekeramat itu, yang sudah ada di tangan, diberikan lagi kepada si pencuri. Bodoh!

Namun karena Salima tidak berniat memiliki pedang tersebut dan hatinya sedang panas mengetahui suhengnya merebut kekasih orang, tiba-tiba gadis ini tersenyum mengejek dan mendengus.

"Biarlah, pedang itu memang bukan milikku. Kenapa harus serakah dan menghendaki barang orang lain? Kalau Bu Hiong ingin memilikinya, biarlah pedang itu dimilikinya. Ini ternyata gara-gara suheng!"

Demikianlah, dengan jalan pikiran seperti ini Salima melepaskan penyesalannya. Dia telah terpengaruh omongan si aneh itu, bahwa "penyelewengan" suhengnya memang harus dibereskan. Tiba-tiba dia mengerutkan kening dan mengepalkan tinju karena tanpa sepengetahuannya, suhengnya bertindak di luar batas. Lagi-lagi putri Wang Taijin itu!

Karena rasa panas terhadap Cao Cun dan suhengnya sendiri, segera Salima berlari cepat menuju ke utara untuk akhirnya membelok ke barat. Karena suhengnya belum ditemukan dan Salima gemas terhadap Cao Cun, maka gadis ini menuju Chi-cou, tempat Cao Cun atau orang tuanya tinggal. Begitulah, Salima ingin menghajar Cao Cun.

Dia mempercepat larinya, seolah terbang saja. Dia tidak sabar menuju tempat tinggal Bupati Wang itu. Namun ketika dalam perjalanan, seseorang dirasa membayangi larinya. Segera Salima terkejut dan tertegun karena setiap kali dia menoleh, bayangan itu selalu berhasil menyembunyikan diri. Salima semakin gemas dan mendongkol. Dia mencoba menghadang, namun gagal. Sekilas dia melihat bahwa itu adalah Bu Hiong!

Salima terperangah. Namun karena Bu Hiong tidak mengganggunya dan laki-laki aneh itu justru menjadi "pengawalnya" di belakang, akhirnya Salima tertawa mengejek dan meneruskan larinya ke Chi-cou.

Beberapa hari kemudian dia tiba di sana dan langsung menuju rumah Bupati Wang itu. Jangan-jangan di sanalah suhengnya bersembunyi, di tempat kekasih barunya. Karena hati dibakar cemburu dan Salima merasa panas membayangkan suhengnya bermesraan dengan gadis itu, dia segera melompat dan memasuki kamar Wang Taijin.

"Heh, mana putrimu, Taijin?" tegur Salima kepada bupati ini.

Bentakannya mengejutkan pembesar itu. Wang Taijin berdiri dan langsung menoleh. Salima melihat pembesar itu duduk merenungi meja; ternyata bupati ini sedang menangis. Salima pun terheran-heran.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment