Chapter 42
Maka ketika dia melompat masuk, pembesar itu tampak terkejut. Tiba-tiba, pembesar itu mengeluh dan menubruknya dengan roman muka girang.
"Ah, kau, Lihiap! Kau baru datang? Mana suhengmu?" Pembesar itu langsung merocos bicara, tampak kegirangan, dan menghapus air matanya. Sementara itu, Salima dibuat cemberut karena yang pertama ditanya adalah suhengnya. Kontan gadis itu mendorong dan mengibas pembesar tersebut, lalu bupati Wang mencelat dan mengaduh menubruk tembok.
Baru bupati ini sadar bahwa Salima sedang marah!
Maka ketika dia bangkit terhuyung dan kaget memandang gadis itu, segera Wang-taijin bertanya dengan tubuh menggigil, "Lihiap, apa artinya ini? Kenapa kau memukulku dan marah-marah?"
Salima berdiri tegak. "Aku mencari puterimu, taijin. Ingin bicara dan menghajarnya!"
"Apa salahnya? Apa yang telah dilakukan pulenku?"
"Kau tak perlu tanya. Seret dan hadapkan dia dulu kepadaku. Pertanyaanmu bisa kujawab nanti!"
Pembesar itu terbelalak. "Lihiap, tiada hujan tiada angin kau marah-marah di sini. Apa sesungguhnya yang terjadi dan kenapa aku tak boleh tahu? Bukankah Cao Cun puteriku?"
"Cerewet! Aku tak ingin banyak bicara, taijin. Aku datang bukan untuk membuang-buang waktu denganmu. Aku ingin menemui puterimu itu dan menghajarnya!"
"Hm!" pembesar itu tiba-tiba mengedikkan kepala. "Aku orang tuanya, Lihiap. Kalau anakku bersalah, tentu orang tua ikut bertanggung jawab. Aku tak tahu kenapa kau marah-marah begini, tapi kemarahanmu tentu bersebab. Baiklah, Cao Cun tak ada di sini. Dia tidak kusembunyikan, dan kau boleh mencarinya kalau aku bohong. Kalau urusannya bisa dilimpahkan kepadaku, tentu dengan senang hati aku akan mewakili anakku dan kita bicarakan masalahnya."
Salima mengerutkan kening. "Dia tak ada di sini? Kau tidak bohong?"
"Tak ada guna bagiku melepas kebohongan, Lihiap. Kau orang pandai, tentu aku tak dapat menyelamatkan diri kalau kebohonganku ketahuan."
"Baiklah, di mana dia? Di kota raja?"
"Tidak, Cao Cun telah berada di negeri asing. Aku.... aku...." Mendadak pembesar itu menangis. "Aku telah kehilangan puteriku, Lihiap. Dan sebenarnya hanya kau atau suhengmu itulah yang dapat membantuku!"
Salima bergerak. Tahu-tahu telah menangkap pundak pembesar itu. "Taijin, apa maksud kataku itu? Apa maksudmu bahwa puterimu telah berada di negeri asing?"
"Ah, tak tahukah kau, Lihiap? Tak tahukah nasib buruk yang menimpa kami sekeluarga?"
"Tidak, coba kauceritakan!" Dan Salima, yang tertarik serta melihat kedukaan di wajah pembesar itu, lalu melepaskan cengkeramannya hingga bupati itu terduduk, tersedu-sedu. Salima terkejut. Memang dia tidak tahu kejadian baru yang telah mengubah nasib Cao Cun itu, bahwa gadis ini telah dibawa Raja Hu dan dikeluarkan dari Istana Dingin. Dan Wang-taijin, yang tak sanggup dan masih terpukul kedukaannya oleh peristiwa itu, lalu dibiarkan melepaskan kesedihannya dengan tangis yang begitu mengharukan.
Istrinya tiba-tiba muncul dan terkejut melihat Salima. Wang-hujin (Nyonya Wang) berseru tertahan dan menjatuhkan diri berlutut di depan kaki gadis itu. Salima kembali terkejut. Dan ketika nyonya bupati itu juga tersedu-sedu dan mengharap pertolongannya akan Cao Cun, maka Salima tertegun mendengar apa yang terjadi. Dua suami istri itu kini sambung-menyambung menceritakan perihal Cao Cun.
Wang-taijin telah menghentikan tangisnya dan menghadapi Salima. Salima terbelalak. Dan ketika dua suami istri itu menceritakan bahwa Cao Cun telah berada di negeri asing, mendadak Salima menggerakkan jarinya mengangkat bangun tuan rumah. "Ceritakan sekali lagi, kapan terjadinya itu, dan kenapa aku tak mendengar berita ini!"
Wang-taijin mengulang ceritanya. Sang istri juga ikut nimbrung. Kini mereka mengharap Salima menyelesaikan duka nestapa ini. Cao Cun seolah putus hubungan sejak ke bangsa liar itu. Mereka tak dapat menengok. Dan ketika cerita itu selesai diulang dan Salima tertegun, maka bupati ini meratap, "Jauh lebih baik puteriku di Istana Dingin daripada di tengah-tengah bangsa liar itu, Lihiap. Bukankah jelek-jelek dia masih di tengah-tengah bangsa sendiri kalau di kota raja? Meskipun kami juga tak dapat menengok, tapi Cao Cun lebih baik di kota raja daripada di tengah bangsa liar itu. Anak kami jadi terasing, itu sama dengan pembuangan seumur hidup!"
Salima membelalakkan mata. "Dan kalian tak menolak?"
"Ah, menolak bagaimana, Lihiap? Itu atas kehendak kaisar, kami tak mungkin melawan, dan Cao Cun sendiri rupanya pasrah!"
(Ooabu-oO) Jilid VII
"Benar, tapi ada sesuatu yang ingin kutanyakan, taijin. Apakah dia berkenalan dengan seseorang bernama Bu-hiong atau tidak?"
"Bu-hiong? Siapa itu?"
"Kau tak tahu?"
"Tidak, mungkin...."
"Baiklah, kalau begitu aku akan ke suku bangsa Siung-nu itu. Biarlah di sana kutanyakan persoalan ini dan selamat tinggal."
Salima tak sabar, berkelebat, dan tiba-tiba meninggalkan suami istri itu. Wang-taijin terkejut dan berteriak-teriak. Tapi Salima yang tak menghiraukan panggilan pembesar itu dan sudah melesat keluar rumah lalu memulai perjalanannya yang panjang untuk menemui Cao Cun di sana, sekalian mencari jejak suhengnya kalau ketemu.
Ini perjalanan baru yang membuat Salima diliputi berbagai macam perasaan. Ada girang, tapi juga kasihan mendengar berita Cao Cun itu, bahwa Cao Cun telah berumah tangga dan suhengnya tak mungkin mengganggu gadis itu lagi. Ini berarti hilangnya seorang pesaing. Betapapun Salima panas kalau Cao Cun mencinta suhengnya itu. Tapi mendengar bahwa Cao Cun jatuh ke tangan seorang pemimpin suku macam raja yang setengah liar itu, ada perasaan kasihan juga di hatinya. Gadis itu seolah terbuang, benar kata Wang-taijin.
Bupati Wang tentu saja sedih. Dan ketika dua minggu kemudian Salima berhasil memasuki perkemahan bangsa Siung-nu dan dengan kepandaiannya yang tinggi langsung menuju ke kemah besar, maka secara kebetulan saat itu dia melihat Cao Cun lagi dicumbu Raja Hu.
"Ih!" Salima mundur. "Memangnya aku harus menonton orang bercinta?" Muka memerah, ia memutar tubuhnya. Salima lalu keluar dan berputar-putar di wilayah bangsa liar itu. Tidak tahu akan kematian Siga karena seluruh perhatian tercurah pada persoalan pribadi. Urusan bangsa Tar-tar memang tidak dihiraukan. Salima seolah telah melepas persoalan bangsanya sendiri untuk diurus orang-orang itu sendiri. Inilah keuntungan Raja Hu.
Dan ketika beberapa jam kemudian dia kembali dan masuk ke kemah besar, maka Cao Cun yang sudah selesai menjalankan tugasnya sebagai seorang istri baru saja mandi dan menyisir rambutnya di kamar sendirian, di mana saat itu Salima berkelebat masuk dan mengejutkan wanita ini. Ia langsung menegur Cao Cun, "Kau jangan banyak bersuara, Cao Cao. Duduk dan tetap tenanglah di tempatmu!"
Cao Cun tertegun. "Lihiap...!" serunya lirih. "Kau datang mencari siapa? Seorang diri?"
"Ya, aku seorang diri, Cao Cun. Aku mencari dirimu dan ingin bercakap-cakap. Kunci pintumu dan dengarlah pertanyaan-pertanyaanku!"
Cao Cun terkejut. Dia melihat sikap Salima yang kaku, dingin, dan tidak bersahabat. Omongan gadis itu seolah perintah saja yang harus dilaksanakan. Cao Cun terisak dan mengunci pintu kamarnya. Dan ketika Salima menyuruhnya duduk berhadapan, dan Cao Cun menggigil menghapus air matanya, maka gadis itu menahan sedu-sedan dan tiba-tiba memegang lengan Salima, betapapun dia tak menunjukkan sikap permusuhan pada gadis Tar-tar ini.
"Lihiap, dari mana kau tahu aku ada di sini? Kau baru datang?"
"Hm!" Salima melepaskan lengannya. "Aku baru datang, Cao Cun. Dan yang memberi tahu aku tentang dirimu adalah ayah ibumu di Chi-cou!"
"Oohi..." Cao Cun sejenak berseri. "Mereka tak apa-apa, Lihiap? Ayah ibuku sehat dan selamat?"
"Ya, mereka tak apa-apa, kecuali sedih. Aku telah mendengar ceritamu dan kini datang untuk menanyakan sesuatu!"
Cao Cun memejamkan mata, air matanya tiba-tiba membanjir. "Lihiap, tak adakah pesan sesuatu dari ayah ibuku di sana? Tak adakah sepucuk surat atau pemberian untukku?"
Salima tertegun. "Aku tak mengurus itu, Cao Cun. Aku datang untuk urusan pribadiku."
"Ya, aku maklum. Dan kau pun tentu juga bersikap sekaku ini kepada orang tuaku di sana?" Cao Cun menghunjamnya langsung dengan kata-kata yang lirih, tidak marah tapi begitu tepat menikam gadis Tar-tar ini.
Betapapun Salima merasa bersalah karena sikapnya memang kasar, tidak lembut seperti putri Wang taijin ini. Tapi Salima yang menjengek dan membuang rasa malu dengan senyum mencibir sudah coba menekan semua perasaannya dengan omongan blak-blakan. "Aku memang tidak bermaksud untuk bermanis-manis muka dengan siapa pun, Cao Cun. Kalau kau menyesal atas sikapku, aku pun tidak peduli!"
"Aku tahu...." Cao Cun tetap berkata halus, menghapus air matanya. "Dan aku pun juga tidak mengharap perubahan sikapmu, Lihiap. Kalau kau mau berkata kasar, silahkan saja, aku tahu bahwa kau adalah gadis kang-ouw. Bicaralah."
Salima lagi-lagi terpukul. "Aku mau menanya urusan pribadimu."
"Urusan pribadi? Urusan apa?"
"Hm, urusan pribadimu sebelum kau resmi menjadi istri orang, Cao Cun. Pernahkah kau mempunyai kekasih bernama Bu-hiong!"
"Lihiap...!" Cao Cun tiba-tiba marah. "Pantaskah hal begitu kautanyakan kepadaku? Pantaskah masalah begini kau ajukan kepada seseorang yang menjadi rahasia hatinya? Kalau aku tak menjawab, maka kau tak dapat menyalahkan aku, Lihiap. Urusan cinta adalah urusan seseorang yang tak dapat dicampuri orang lain!"
"Betul," Salima tertawa mengejek. "Tapi urusan ini juga bisa menjadi urusanku, Cao Cun. Karena itu jawablah apakah kau pernah berhubungan dengan seseorang bernama Bu-hiong atau tidak?"
"Kalau aku tak menjawab?"
"Berarti kau perempuan tak jujur. Mungkin ada sebuah kebusukan yang sengaja kau sembunyikan."
"Lihiap!" Cao Cun tiba-tiba membentak.