Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 43

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 43

"Sedemikian kejikah kau menganggap diriku? Sedemikian hinakah perempuan bernama Cao Cun ini hingga dia menyembunyikan sebuah kebusukan bersama lelaki? Baiklah, aku akan menjawab pertanyaanmu, Lihiap. Tapi katakan dulu, hubungan apa yang terjadi di sini hingga kau menganggap urusan ini bisa menjadi urusanmu pula yang membuat aku tidak mengerti!" Salima terkejut.

Tiba-tiba dia ditantang untuk bersikap adil. Cao Cun memandangnya berapi-api sementara dua pasang mata mereka bentrok di udara. Salima melihat keberanian dan kegagahan gadis ini. Dan karena dia menuntut Cao Cun untuk menjawab sebuah urusan pribadi dan Cao Cun kini ganti menuntut dia untuk memberitahukan hubungannya pula, terpaksa Salima tersipu merah, menjawab tenang, suaranya sedikit bergetar, "Aku menanyakan hal ini karena ada hubungannya dengan Suheng. Dengan kata lain, aku ingin menguji cinta Suhengku yang berhubungan dengan orang bernama Bu-hiong ini." Cao Cun mengerutkan kening.

"Suhengmu, Kim-taihiap...?" "Ya," Salima juga mengerutkan kening. Suara Cao Cun mengandung isak dan tiba-tiba dia curiga.

"Apakah kau tak mengerti, Cao Cun?" "Aku tak mengerti," Cao Cun menggigit bibir, jelas menahan luka hati yang membuat Salima geram. "Aku tak mengerti maksud kata-katamu, Lihiap. Kenapa Suhengmu bersangkut paut dan ada hubungannya dengan persoalan ini?" "Hmm," Salima mulai memancing.

"Orang bernama Bu-hiong ini katanya mencintaimu, Cao Cun, tetapi kau menolak cintanya karena kau mencintai Suhengku. Inilah masalahnya. Sekarang aku datang untuk menanyaimu, benarkah kau mencintai Suhengku dan mengenal orang bernama Bu-hiong ini!" Cao Cun tiba-tiba mendekap dada. Disebut-sebutnya lagi nama Kim-mou-eng mendadak membuat hati wanita ini hancur. Teringatlah Cao Cun akan semua janji Pendekar Rambut Emas itu, akan cintanya, dan penantiannya yang tak kunjung padam. Betapa dia amat mencintai pendekar itu, namun Kim-mou-eng sendiri ingkar janji. Dia menunggu, namun pendekar itu tak pernah datang. Luka dan kekecewaan lama kambuh, Cao Cun tiba-tiba menjerit dan melempar dirinya di atas pembaringan. Dan ketika Salima terbelalak dan marah melihat semuanya itu, tiba-tiba Cao Cun mengguguk dan mencengkeram guling dan bantal sekuatnya.

"Lihiap, kenapa kau mengorek-ngorek hati yang sudah hampir sembuh ini? Kenapa kau menyebut-nyebut nama Suhengmu? Aduh, aku tak tahan, Lihiap... aku tak tahan. Lebih baik kau bunuh aku dan biar semuanya itu lenyap!" Cao Cun mengguguk di atas pembaringannya, menutupi muka dengan bantal, dan Salima tertegun. Tapi ketika Cao Cun menangis tak keruan dan menjerit minta dibunuh, tiba-tiba gadis Tar-tar ini berkelebat mencengkeram Putri Wang-Taijin itu.

Cemburu dan rasa bencinya timbul. "Cao Cun, kau benar ada hubungan dengan Suhengku itu? Kau mencintainya? Kau menolak si Bu-hiong ini karena cintamu kepada Suhengku? Keparat, kau wanita tak tahu malu, Cao Cun. Kau harus tahu bahwa Suhengku adalah kekasihku. Dia punyaku! Kau perampas dan wanita hina! Kubunuh kau!" Dan Salima yang mengangkat serta membanting Cao Cun di atas lantai tiba-tiba membuat Cao Cun berteriak kesakitan dan mengaduh, mendapat dua kali tamparan dan tendangan. Salima bergolak marah dan bertubi-tubi menyiksa wanita ini. Cao Cun mencelat dan terguling-guling. Sungguh sial nasib Wang Cao Cun ini.

Tapi ketika Salima hendak membunuh dan buas bagai harimau haus darah, tiba-tiba pintu terbuka dan Wan Hoa muncul, kaget mengenal Salima. "Tiat-ciang Sian-li, apa yang kau lakukan ini?" Salima terkejut. Wan Hoa menubruknya dan menahannya dengan marah. Wanita ini mencengkeram Salima dan menarik sekuat tenaga, menolong Cao Cun yang menangis tersedu-sedu dengan tubuh babak belur. Kasihan Putri Wang-Taijin ini. Tapi Salima yang tertarik dan memutar tubuh melepas tendangan, tiba-tiba membuat Wan Hoa mencelat dan ganti menjerit.

"Bress!" Wan Hoa terguling-guling, tidak takut dan sudah melompat bangun lagi dengan beringas. Kini ia menyambar pisau yang terletak di atas meja dan menubruk gadis Tar-tar itu lagi, tentu saja disambut dengusan dan Salima menangkis pisau itu. Wan Hoa terpental dan pisau pun terlepas. Tapi ketika ribut-ribut itu kian memuncak dan Wan Hoa bersikeras mau menyerang lagi dengan sikap tak kenal gentar, tiba-tiba Cao Cun sudah menubruk temannya, berkata tersedu-sedu, "Sudah... sudah... jangan menyerang, Wan Hoa. Jangan menyerang. Biarkan Tiat-ciang Sian-li yang gagah perkasa ini membunuh kita wanita-wanita lemah. Tentu namanya akan tersohor dan kian terkenal!" Salima tertegun. Dia melihat Cao Cun sudah menubruk temannya itu, memeluk erat-erat. Wan Hoa berontak, namun Cao Cun mendekapnya ketat. Dua wanita ini tiba-tiba sama-sama menangis dan Wan Hoa pun memeluk Cao Cun. Salima melihat pembelaan seorang sahabat sejati dari Wan Hoa itu, bukan main! Dia termangu.

Tapi Wan Hoa yang tak dapat menyerang dengan tangan dan kakinya ternyata kini menyerangnya dengan kata-kata, "Tiat-ciang Sian-li, apa dosa sahabatku hingga kau menghajarnya sedemikian rupa? Sudah gilakah kau hingga tak malu-malu memukul wanita lemah? Cao Cun bukan lawanmu kalau adu fisik, Tiat-ciang Sian-li. Kalau ingin bertanding dan melampiaskan kebuasanmu, carilah lawan setimpal dan orang-orang dunia kangouw. Bukan Cao Cun yang sama sekali tak bisa silat ini!" Salima terkejut, mulai sadar.

"Dan kau tentunya tak diajar gurumu untuk bertindak sewenang-wenang. Apakah Sian-su mengajarmu menyerang orang lemah agar menikmati kesenangan sadis dari hal semacam ini? Begitukah nama Dewi Bertangan Besi mendapatkan kesohorannya? Cih, aku sebagai wanita yang tak bisa silat saja malu menyaksikan sepak terjangmu, Tiat-ciang Sian-li. Apalagi orang-orang kangouw yang tentu akan mencemooh dan mengejekmu habis-habisan!" Muka Salima memerah.

"Kau tak perlu ikut campur. Ini urusanku dengan Cao Cun!" Akhirnya Salima membuang rasa sungkan, membentak, dan teringat lagi persoalannya semula. Sahabat Cao Cun itu tajam benar mulutnya. Dan ketika dia melompat dan Cao Cun mau disambar, tiba-tiba Wan Hoa sudah maju ke depan mendorong Cao Cun ke belakang tubuhnya, berapi-api dengan muka yang tak kalah merah dengan Salima.

"Tiat-ciang Sian-li, kau tak dapat sembarangan di sini. Ini rumah Cao Cun, ini tempat tinggal Cao Cun. Kalau kau mau bicara padanya boleh, tapi kalau mau menyiksa dan menunjukkan kekejamanmu, sebaiknya kau hadapi aku dulu. Meskipun aku tak bisa silat, tapi aku akan membela sahabatku sampai titik darah terakhir. Persoalan bisa dibicarakan, tapi adu pukul dan segala bentuk kekerasan tak perlu kau pamerkan di sini. Kami berdua sudah tahu kelihaianmu. Nah, bicaralah dan bersikaplah jantan sebagai wanita kangouw yang sudah mendapat julukan pendekar, bukan manusia liar!" Salima tertampar.

"Kau mau mencampuri urusan kami?" "Cao Cun sahabatku, Tiat-ciang Sian-li. Urusannya urusanku pula, tak ada yang mencampuri. Kami dua orang tapi satu hati!" Salima marah.

"Cao Cun, benarkah kata-katanya ini? Atau kau mau berlindung di balik punggung orang lain?" Cao Cun terguguk, maju ke depan tapi cepat dilindungi Wan Hoa lagi.

"Apa yang dikatakan memang benar, Lihiap. Aku dan Wan Hoa dua jiwa tapi satu hati. Urusanku urusannya pula, tak ada rahasia di antara kami." "Jadi dia pun tahu pula rahasiamu?" "Persoalan dengan Kim-taihiap tak pernah kusembunyikan pada Wan Hoa, Lihiap. Apa yang kulakukan, dia pun tahu." "Bagus, kalian rupanya sudah sekomplot!" Tapi Wan Hoa yang menatap tajam dengan mata bersinar-sinar tiba-tiba menyergah, "Aih, urusan Suhengmu, Tiat-ciang Sian-li? Pendekar yang tak dapat dipercaya itu? Bagus, kau bicaralah dan aku akan menjawab pertanyaan-pertanyaanmu, dan kau lihatlah apakah jawabanku sama dengan Cao Cun. Kau tentu akan bertanya masalah cinta mereka, akan janji-janji palsu Suhengmu, dan apa saja yang bersangkut paut dengan itu. Kau tanyalah, aku tahu persis urusan ini dan ajukan apa saja yang ingin kau ketahui!" Salima tertegun.

"Ayo, bertanyalah, Dewi Tangan Besi. Justru aku akan menceritakan semua perbuatan Suhengmu yang tidak bertanggung jawab!" Salima jadi berdebar.

"Aku ingin menanyakan tentang seseorang bernama Bu-hiong." "Bu-hiong? Siapa itu? Cao Cun tak kenal orang ini!" "Bohong! Dia baru saja menangis. Kau tak perlu menyembunyikan kebusukan sahabatmu dengan melindungi Cao Cun!" Wan Hoa gusar.

"Tiat-ciang Sian-li, kami berdua bukanlah wanita-wanita murahan yang suka mengobral kebohongan. Cao Cun tak kenal orang bernama Bu-hiong itu, dia tak pernah menceritakan siapa orang ini dan apa hubungannya pula dengan dia!" "Tapi dia menangis, sahabatmu terpukul waktu aku bicara tentang orang ini dan Suhengku!" "Hm!" Wan Hoa jadi mengerutkan kening, ragu, memandang Cao Cun. Tapi yakin sahabatnya tak menyembunyikan rahasia dan segala kisah Cao Cun diketahuinya baik, tiba-tiba Wan Hoa mengambil seikat dupa dan menyalakan semuanya di atas kepala Cao Cun.

"Cao Cun, bersumpahlah dengan dupa ini atas nama orang tua dan nenek moyangmu bahwa kau tak mengenal orang bernama Bu-hiong itu. Lakukan sumpahmu dan ambil kutukan yang berat untuk menjadi saksi!" Cao Cun terkejut. Salima juga terkejut, melihat Wan Hoa sudah mengangkat seikat dupa yang menyala semua itu di atas kepala Cao Cun. Bukan main, seikat dupa, bukan satu atau dua batang melainkan seikat. Seratus lebih asapnya menyesakkan kamar dan Cao Cun tiba-tiba tersedu. Tapi mengangguk, dan menyambar dupa itu diletakkan di atas kepalanya sendiri. Tiba-tiba Cao Cun berseru, "Wan Hoa, disaksikan langit dan bumi, dan bersumpah demi arwah nenek moyangku, biarlah kunyatakan di sini bahwa aku sama sekali tak mengenal orang bernama Bu-hiong itu. Kalau aku dusta, biarlah aku menjadi anjing selama tujuh zaman berturut-turut!" Itulah sumpah yang berat. Cao Cun telah siap menjadi anjing dalam inkarnasi berikut, dalam zaman dunia roh kalau dia sudah meninggal, kepercayaan kuat yang saat itu memang menjadi keyakinan bangsa Tiongkok sejak ribuan tahun yang lalu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment