Chapter 44
Sumpah ini dianggap berat karena ia rela membanting derajatnya sendiri dalam bentuk yang amat hina, seekor anjing, jika ia berdusta.
Salima yang tertegun dan terkejut mendengar sumpah itu segera dihadapkan pada Wan Hoa yang bersinar-sinar memandang gadis Tar-tar itu.
"Nah, kau dengar, Tiat Ciang Sian-li. Disaksikan langit dan bumi, dan bersumpah atas nama leluhur, Cao Cun telah menyatakan diri tidak mengenal orang bernama Bu-hiong itu. Kau harus percaya ini. Cao Cun telah bersumpah berat. Tapi kalau kau tidak percaya juga dan masih mau menang sendiri, kau akan kukutuk sebagai hewan yang lebih rendah dari anjing!" Salima tergetar.
"Tapi dia menangis..."
"Itu dapat kutanyakan," Wan Hoa memutar tubuh, menghadapi sahabatnya.
"Cao Cun, kenapa kau menangis hingga disangka Tiat Ciang Sian-li sebagai orang yang mengenal Bu-hiong itu? Bukankah ini mencurigakan lawan kita?"
"Aku menangis karena dia menyebut-nyebut suhengnya, Wan Hoa. Aku teringat akan Kim Tai Hiap dan segala penderitaanku itu!"
"Hah!" Wan Hoa tiba-tiba mengerti. Memang dialah yang cepat memahami gerak-gerik dan sepak terjang Cao Cun, segera memahami apa yang dimaksudnya.
"Kau dengar sendiri, Tiat Ciang Sian-li. Cao Cun menangis bukan karena orang bernama Bu-hiong itu, melainkan karena kenangannya pada suhengmu, Pendekar Rambut Emas."
"Tapi kenapa dengan orang bernama Bu-hiong ini? Apa sesungguhnya yang terjadi hingga kau menyebut-nyebut nama Bu-hiong?"
"Orang ini mencintai Cao Cun, tapi Cao Cun menolaknya karena dia mencintai suhengku!"
"Oh, begitukah? Dan kau percaya?" Salima melengak.
"Tiat Ciang Sian-li," Wan Hoa berkata lagi, nadanya mulai mengejek. "Memang tak dapat kusangkal bahwa Cao Cun mencintai suhengmu. Suhengmu itu gagah, hebat, dan pandai. Di antara suhengmu dan Cao Cun terdapat janji untuk saling menikah. Mereka saling mencintai, begitu yang kulihat selama ini. Tapi apa kenyataannya yang dilakukan suhengmu itu? Apa yang diperbuatnya selama ini? Kim-mou-eng tak pernah menepati janjinya, Tiat Ciang Sian-li, dan untuk itu Cao Cun harus membayarnya mahal. Pendekar Rambut Emas yang menjadi suhengmu itu ternyata laki-laki pembual yang tidak menepati janji. Dia memperdayai sahabatku hingga Cao Cun menunggu dan merana berbulan-bulan. Dan sebagai hasil dari semuanya itu, kaulihat Cao Cun sudah menjadi istri orang. Akulah yang tahu benar semua kisah ini, akulah yang menjadi saksi atas kebohongan suhengmu. Karena itu aku mengutuk suhengmu agar dijemput iblis kalau mati!"
"Wan Hoa...!" Cao Cun tiba-tiba berteriak, menubruk temannya itu. "Jangan keluarkan sumpah untuk dia. Biarlah Kim Tai Hiap melakukan apa saja yang dia suka. Tarik dan cabut kembali kata-katamu!"
"Tidak!" Wan Hoa beringas. "Aku benci orang yang tak tahu diri itu, Cao Cun. Aku benci Pendekar Rambut Emas yang tak pernah menepati janji. Kalau dia mampus, biarlah dijemput iblis sampai anak cucunya. Aku benci dia... benci...!" Wan Hoa yang hampir kalap mengutuk sana-sini tiba-tiba ditampar dan jatuh terpelanting. Ia terkejut, berseru tertahan, melihat Cao Cun berapi-api memandangnya dan berdiri tegak membungkam mulutnya.
Wan Hoa seketika ternganga dengan perasaan hampir tak percaya. Cao Cun, sahabatnya, menamparnya membela Kim-mou-eng dan kini tersedu-sedu menubruknya di lantai, minta maaf, serta menciumi Wan Hoa berkali-kali tepat pada pipi yang bengap itu. Wan Hoa mengeluh. Tapi ketika Cao Cun tergugu dan tak tahan melihat wajah sahabatnya, tiba-tiba Cao Cun bangkit berlari dan keluar, menutup pintu kamar.
"Wan Hoa, maafkan aku... maafkan aku...!" Wan Hoa bengong.
Salima pucat dan merah berganti-ganti melihat adegan itu: betapa Cao Cun menampar Wan Hoa dan kini tersedu-sedu meninggalkan kamar. Wan Hoa menangis. Tapi ketika dia bangkit terhuyung dan beringas memandang Salima, gadis ini berseru, "Nah, kau lihat, Tiat Ciang Sian-li. Inilah bukti kecintaan sahabatku terhadap suhengmu itu. Meskipun Kim Tai Hiap tak menepati janjinya, tetap saja Cao Cun mencintai dirinya lahir batin. Sahabatku bahkan berani menamparku begitu aku menghinanya. Kalau kau tidak percaya kata-kataku, boleh kaucari dan tanya pada suhengmu. Benarkah semuanya ini atau bohong?" Salima menggigil.
"Kau tentu ragu, bukan? Nah, dengarkan ceritaku, dewi yang gagah. Dengarkan ini yang kumulai dari perbuatan menteri durjana Mao Taijin itu. Betapa suhengmu datang dan menyatakan cinta pada Cao Cun, membawa Cao Cun ke ayah ibunya lagi, tapi meninggalkannya sendirian. Derita demi derita kami alami, tapi suhengmu berdusta. Karena Cao Cun menunggu-nunggu namun suhengmu tak pernah muncul juga, akhirnya kaisar menyerahkan Cao Cun pada suaminya yang sekarang, dibuang dan diasingkan dari kalangan bangsanya sendiri. Adakah yang lebih besar dari duka nestapa ini? Adakah kesengsaraan yang lebih berat dari ditinggalkan kekasih dan hidup di pengasingan? Jawablah... jawablah, Tiat Ciang Sian-li. Kalau kau juga seorang wanita dan mengenal lembutnya cinta, tapi sekaligus dihancurkan cintamu itu oleh orang yang kaucinta, tentu kau dapat merasakan penderitaan Cao Cun. Dan inilah hasil kerja suhengmu: orang yang disebut Pendekar Rambut Emas itu!"
Salima terbelalak. Wan Hoa telah menceritakan semua kisah Cao Cun itu. Salima mendengarnya dengan muka pucat. Mulai dari perbuatan Ma Taijin yang berusaha memeras Cao Cun sekeluarga sampai dimasukkannya gadis itu ke dalam Istana Dingin, tempat yang sebenarnya merupakan penjara. Tapi suhengnya membebaskan gadis itu lagi, membawanya ke tempat orang tuanya, dan berjanji pada Cao Cun untuk melindungi gadis itu. Cao Cun sebenarnya tak mau ditinggal. Suhengnya berjanji tidak akan meninggalkannya, tapi tetap meninggalkannya juga. Cao Cun sedih, marah, dan kembali ke Istana Dingin lagi untuk mengurung kebebasan hidup sampai mati. Biarlah dia hidup di sana daripada menderita dibohongi suhengnya. Dengan jelas dan satu per satu Wan Hoa menceritakan itu semua. Dan ketika tiba pada bagian di mana Cao Cun diserahkan pada Raja Hu dan dalam detik-detik terakhir Cao Cun masih mengharap pertolongan suhengnya, Wan Hoa menjerit, "Suhengmu itu manusia penipu, Tiat Ciang Sian-li! Susah payah aku menghibur Cao Cun agar tidak bunuh diri. Kalau saja suhengmu datang dan mendengar penderitaan batin Cao Cun, tentu sahabatku tak perlu diasingkan di sini. Tapi dia munafik, pembual, dan pembohong yang sepatutnya dipanggang di api neraka. Terkutuk suhengmu itu!"
Salima pucat dan menggeram. Semuanya ini baru ia ketahui sekarang. Hubungan Cao Cun dengan suhengnya itu memang tidak diketahui jelas olehnya, paling-paling disangka sebagai sahabat biasa di mana hal itu pun cukup membuatnya cemburu. Tak tahunya, mereka terlibat dalam cinta yang serius, meskipun akhirnya suhengnya membohongi gadis ini. Membayangkan bahwa suhengnya tentu memeluk dan pernah bermesraan dengan Cao Cun, tiba-tiba darah Salima bergolak dan, aneh sekali, gadis ini tertawa nyaring!
"Wan Hoa, suhengku rupanya memang orang keparat. Baiklah, kuterima semua pengaduanmu ini. Aku akan mencarinya dan membuktikan apakah benar semua yang kaukatakan ini. Kalau benar, aku akan menghajar suhengku itu meskipun aku gembira sahabatmu menderita. Kalau tidak benar, aku akan datang ke sini dan membunuhmu!" Wan Hoa terbelalak.
"Kau gembira melihat penderitaan sahabatku?"
"Ya, aku gembira, Wan Hoa. Suhengku itu hanya aku yang punya, dia lancang, dan salahnya sendiri kenapa mencintai suhengku. Mereka berdua sama-sama tak tahu malu. Aku akan menghajar suhengku itu sebelum menghajar kalian berdua!"
"Ah," kau keji, Salima. Kau yang tak tahu malu dan...!"
"Plak-plak!" Salima melepas geramnya, menampar Wan Hoa hingga gadis itu terpelanting, otomatis menghentikan kata-katanya, dan Wan Hoa menjerit.
Salima beringas dan tertawa aneh. Wan Hoa tak dapat bangun karena kepalanya pening. Ia memaki gadis itu, dan Salima menendangnya kembali! Ketika Wan Hoa terjerembab dan mengeluh pingsan, Salima keluar berkelebat meninggalkan perkemahan bangsa Siong-nu itu. Ia marah bukan main kepada suhengnya dan entah kepada siapa lagi. Kedatangannya ke situ malah membuat perasaannya terbakar. Sungguh tak dapat diterima kalau suhengnya pernah bercintaan dengan puteri Wang Taijin itu, meskipun sekarang Cao Cun telah menjadi istri orang lain. Karena perasaan marah ini sedemikian membakar Salima hingga kepalanya terasa cekot-cekot, ia menuju Chi-cou untuk menghajar Bupati Wang itu!
"Anakmu tak tahu malu, berani dia mencintai suhengku tanpa sepengetahuanku. Nah, kau sebagai orang tuanya ikut bertanggung jawab. Bupati Wang, ini hadiah dariku untuk kelancangan anakmu...!"
"Des-des!" Salima menendang, membuat sang bupati mencelat dan berteriak-teriak tak tahu apa yang terjadi. Tiada hujan tiada angin, gadis Tar-tar ini menghajarnya. Bupati itu tunggang langgang dan kelabakan serta kaget melihat kemarahan Salima. Ia dibuat jungkir balik dan segera memanggil pengawal, kemudian disambut kemarahan yang lebih lagi dari gadis ini. Pengawal pun menjadi korban.
Ketika bupati itu pingsan dan pengawal malang melintang di ruangan itu, Salima sudah berkelebat keluar dengan perasaan sedikit longgar. Kemarahannya telah mendapatkan sasaran, dan tubuh yang babak-belur di Chi-cou itu meringankan dadanya. Tapi karena sumber utama belum didapatkan dan sumber itu adalah suhengnya sendiri, Salima tak puas. Ia pergi mencari suhengnya ini, berminggu-minggu dan berbulan-bulan dia merantau. Urusan bangsa Tar-tar sungguh tak dihiraukan. Karena cemburu serta panasnya hati membuat gadis ini menjadi galak, gangguan setiap penjahat yang coba menghadangnya di jalan mendapat pukulan keras di mana mereka paling ringan cacat seumur hidup. Salima menjadi beringas. Cinta yang dikhianati membuat gadis ini gampang tersinggung. Orang menjadi takut menghadapi gadis Tar-tar ini. Jangankan mendekat, beradu pandang saja dari jauh cukup membuat orang keder.