Chapter 45
Mata gadis itu ganas dan beringas.
Setelah perjalanan demi perjalanan yang tiada henti, Salima akhirnya putus asa dan menangis di sebuah hutan pada bulan ketujuh karena tidak berhasil menemukan suaminya. "Ke mana Kim-mou-eng? Bagaimana mungkin ia tak muncul di dunia persilatan selama berbulan-bulan?" Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus menengok ke belakang.
Setelah keluar dari Jurang Malaikat dan bertemu dengan gurunya, Kim-mou-eng langsung menuju utara. Ia mendapat nasihat untuk kembali ke sukunya, berlari cepat ke padang rumput, tetapi tempat itu sudah kosong. Kim-mou-eng ternyata terlambat. Batas waktu perjanjiannya dengan bangsa Tar-tar telah terlewati. Sukunya sudah menyerbu kota raja. Khawatir, Kim-mou-eng bergegas menuju selatan untuk mengejar sukunya. Namun, sekali lagi ia terlambat. Bangsa Tar-tar sudah jauh masuk ke dalam, dan kekacauan akibat perang menghambat perjalanannya. Banyak gerbang kota besar ditutup, membuat Kim-mou-eng mengeluh. Saat ia melaju perlahan dan melihat jejak-jejak berdarah akibat serbuan sukunya, Kim-mou-eng merintih melihat korban berjatuhan. Pendekar itu terpukul, tersayat, dan sering kali harus berhenti menolong orang tua atau anak-anak yang terinjak kuda dalam keadaan yang semrawut.
Karena perjalanannya terhalang banyak hal, yang semakin memperlambat pertemuannya dengan bangsa Tar-tar, Kim-mou-eng mendengar tentang serbuan bangsa Siung-nu yang mengalahkan sukunya. Di sini, Kim-mou-eng mendengar kematian Siga. Dengan haru namun marah, ia mendengar kematian pembantunya yang gagah perkasa itu. Siga tewas dengan gagah berani melawan musuh-musuhnya, tombak di tangan, roboh dengan senjata tetap melekat. Kematian yang heroik.
Saat ia tertegun dan bangsa Tar-tar tercerai-berai melarikan diri, secara kebetulan ia bertemu dengan Bora dan beberapa anak buahnya yang mencoba lari keluar tembok besar. "Kim-taihiap, aduh...!" teriak Bora yang tersandung dan terjungkal melihat Kim-mou-eng. Kim-mou-eng hendak memasuki sebuah hutan. Anak buahnya yang lain juga berteriak gembira dan bersujud, pasukan kecil yang kalah perang itu berseru, "Taihiap, kami dikalahkan bangsa Siung-nu. Siga tewas di tangan Raja Hu! Dan kami terpukul mundur, taihiap. Bangsa Tar-tar hancur dan harus melarikan diri seperti anjing-anjing buduk!"
Muka Kim-mou-eng memerah. "Bangunlah! Mana yang lain dan mana pula sumoi-ku." Bora meringis. "Lihiap tidak bersama kami, taihiap. Kami menyerbu sendiri tanpa pimpinannya!" "Ke mana dia?" Kim-mou-eng mengerutkan alis. "Kami tidak tahu, inilah sebabnya kami kalah. Kalau saja kau atau Lihiap ada di antara kami, tentu Raja Hu dan dua panglimanya itu tidak akan bisa mengalahkan kami!" "Hm, mari kita duduk di sana," Kim-mou-eng menunjuk sebuah tempat yang nyaman, lalu melompat ke sana. "Coba kalian ceritakan selengkapnya dan kenapa sumoi tidak ikut kalian?"
Bora menunjukkan penyesalannya. "Lihiap tidak mau ikut karena mengkhawatirkan dirimu, tathiap. Ia ingin mencarimu, dan karena itu meninggalkan kami." "Dan kalian diam saja?" "Siapa dapat membantah keinginannya? Kami sudah membujuk dan mencegahnya, taihiap, tapi gagal. Lihiap meninggalkan kami tanpa pamit!" Kim-mou-eng menarik napas. Ia tahu kekerasan hati sumoinya, keinginannya yang kuat, tak banyak orang yang dapat menundukkannya.
Ketika Bora mulai menceritakan pengalaman sukunya menyerbu istana, ia mengakhiri ceritanya dengan berapi-api, "Kami hampir berhasil, tapi gagal setelah bangsa Siung-nu muncul. Kalau saja mereka tidak memiliki kekuatan fisik seperti bangsa Tar-tar, tentu bangsa Han sudah kami gilas dan kaisar kami bunuh. Sayang, Lihiap atau Taihiap tidak ada bersama kami. Kami harus menelan kekalahan ini dan mohon sukalah taihiap membalaskan sakit hati bangsa Tar-tar dan menyiapkan kami untuk menebus kekalahan!"
Kim-mou-eng muram. "Bora, pertumpahan darah adalah hal yang paling tidak kusukai. Aku dapat mendidik dan membangun kalian menjadi pasukan-pasukan tangguh, tetapi apa gunanya semua itu kalau hanya berlandaskan dendam? Dulu sudah kuperingatkan kalian untuk tidak menyerbu kota raja, Bora. Namun, kalian dibakar emosi sendiri untuk perang dan mempergunakan kekerasan!"
"Ah, itu karena hinaan kaisar, taihiap. Kalau saja kaisar tidak menghina bangsa Tar-tar dalam persoalan Bi Nio, tentu kami juga tidak akan membalas sakit hati. Taihiap jangan menyalahkan kami!"
"Benar, dan aku menyesal atas semua kejadian ini, Bora. Hubungan kita sekarang menjadi buruk dengan istana. Kaisar ternyata menyangkal tuduhan itu. Aku telah datang ke sana dan bicara tentang ini." Kim-mou-eng lalu menceritakan pertemuannya dengan kaisar, bagaimana kaisar menolak memberikan selir yang hamil karena saat itu Bi Nio masih bersih. Anak yang dikandung Bi Nio adalah benar dari Gurba sendiri. Kaisar sudah tidak mengganggu Bi Nio karena selir itu sudah diserahkan ke Gurba, demikian pernyataan kaisar.
Ketika Bora dan teman-temannya tertegun mendengar penjelasan Kim-mou-eng, salah seorang di antara mereka tiba-tiba nyeletuk, "Kalau begitu, anak Bi Nio tentu hitam, taihiap. Telah kaulihatkah anak itu di tempat kaisar?" Di sini, Kim-mou-eng terpaksa berbohong. "Aku telah melihat anak itu, memang benar, hitam. Tapi karena Bi Nio masih menyusui anaknya dan tidak dapat kubawa pada kalian, biar lain kali saja dia kubawa."
Bora termangu, teman-temannya juga begitu. "Jadi, tuduhan kami salah?" Mereka tidak menduga kebohongan Kim-mou-eng, mempercayai pendekar ini karena Kim-mou-eng memang tidak pernah berbohong. Baru kali ini ia terpaksa melakukannya demi mencegah timbulnya salah paham yang makin besar. Betapa pun Kim-mou-eng meyakini kesungguhan kaisar dan masih ragu atas peristiwa hilangnya anak Bi Nio, anak yang katanya ditukar seseorang, pendekar ini harus berhati-hati menyajikan berita. Ia menganggap sebaiknya menutupi dulu persoalan itu agar Bora dan teman-temannya ini, bangsa Tar-tar ini, tidak menjadi pendendam dan sakit hati. Kebohongan untuk mencegah timbulnya keruwetan yang lebih besar memang mulai menjadi "kebijaksanaan" Kim-mou-eng yang aneh.
Ketika Bora dan teman-temannya mulai menyesal atas kesembronoan mereka, pendekar ini mengangguk. "Benar, tuduhan kalian salah, Bora. Karena itu, kekalahan kalian sekarang hitung-hitung sebagai pembayaran atas kelalaian kalian sendiri."
"Tapi kami menyerbu kota raja karena taihiap tidak menepati janji. Bangsa Tar-tar menunggu-nunggu taihiap yang tak kunjung datang!"
"Benar," Kim-mou-eng mau disalahkan. "Aku salah dalam hal ini, Bora. Tapi tahukah kalian apa yang terjadi hingga aku tidak dapat kembali pulang? Tahukah kalian bahwa aku dikejar-kejar dan nyaris dibunuh gara-gara Sam-kong-kiam? Aku tidak dapat pulang karena dihadang ratusan pendekar, Bora, dan tidak mungkin bertemu kalian lagi kalau guruku tidak datang!"
"Ah, Sian-su muncul?"
"Ya, tapi itu pun untuk menyelamatkan aku, Bora. Bukan untuk membalas atau membunuh orang-orang yang hendak membunuhku itu!" Bora terkejut. Kim-mou-eng lalu menceritakan peristiwa yang dialaminya itu. Betapa ia dikeroyok dan dikejar-kejar orang persilatan, dihadang dan diserang karena semua menganggap dialah pencuri Sam-kong-kiam. Bora mendengarkan dengan mata terbelalak.
Saat Kim-mou-eng menyelesaikan ceritanya dan Bora serta teman-temannya mengangguk tanda mengerti, pemuda itu mengeram sambil mengepal tinju. "Kalau begitu, taihiap harus mencari pencuri asli ini, harus membersihkan nama dan membekuknya. Apakah kami dapat membuntuti?"
"Tidak, kalian pulang saja. Bora... Urusan ini tidak dapat kumintakan tolong kalian. Hanya sumoi-ku yang dapat membantuku dalam persoalan ini. Karena itu, kalian pulang dan kembali saja ke tempat kalian." Bora menarik napas kecewa. "Kami memang bodoh, taihiap. Kalau saja kami memiliki kepandaian tinggi, tentu tenaga kami amat kaubutuhkan. Baiklah, kami tahu diri dan biar kami pulang sambil menantimu di sana."
Kim-mou-eng mengangguk. Sekarang Bora tidak mengungkit masalah Bi Nio lagi. Untuk sementara, keadaan aman. Bora diminta mencari teman-temannya yang lain dan mengajak mereka kembali ke padang rumput, sekaligus memberitahukan apa yang telah didengarnya dari Kim-mou-eng. Pemuda Tar-tar itu berjanji.
Saat mereka berangkat dan Kim-mou-eng ditinggal sendirian, pendekar ini termenung di pinggir hutan. Apa yang harus ia lakukan? Pertama, tentu mencari si pencuri, ini penting. Lalu mencari sumoinya dan memberitahukan keselamatannya. Sumoinya tentu mendengar dan cemas akan nasibnya, jangan-jangan sumoinya malah terlibat pertempuran dengan orang-orang tak bersalah. Sumoinya itu ganas dan gampang marah, ia harus mencegah dan mencari sumoinya.
Saat Kim-mou-eng membulatkan tekad dan bangkit berdiri, akhirnya pendekar ini meneruskan perjalanan dan bergerak ke timur. Minggu demi minggu dilewati pendekar ini. Kim-mou-eng berhati-hati menginjakkan kakinya di setiap daerah. Maklum, ia sudah amat dikenal dan gampang dicari orang. Perjalanannya belum membawa hasil. Beberapa bulan kemudian, ketika ia tiba di wilayah pegunungan Heng San, mendadak tanpa sengaja ia bertemu dengan dua orang nenek yang terkekeh-kekeh membawa seorang bayi, sementara seorang wanita muda diseret dan menangis tersedu-sedu. "Aduh, ampun, ji-wi locianpwe (dua orang tua sakti)... ampun... kakiku lelah, aku capai!" "Heh-heh, kau capai? Kalau begitu naiklah, kau boleh duduk di sini, heh...."