Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 46

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 46

"Heh!" Seorang di antara dua nenek yang menangkap dan mencengkeram pundak wanita muda itu tiba-tiba mengangkatnya ke atas bahu. Ia terkekeh melihat temannya, nenek yang satu lagi, melempar-lempar si bayi ke udara hingga membuat bayi itu menjerit-jerit.

"Heh-heh, kau anak baik, Buyung. Tulang dan tengkorak kepalamu menunjukkan tanda-tanda luar biasa. Kau memiliki tulang istimewa, kau cocok menjadi murid kami. Heh-heh, tak rugi ibumu melahirkanmu!" Kedua nenek itu terus terkekeh sambil berjalan terseok-seok.

Kim-mou-eng tertegun dan menghentikan langkah. Ia menangkap sesuatu yang luar biasa pada kedua nenek ini. Mereka terus berjalan, sementara si wanita muda tetap merintih ketakutan menghadapi mereka. Saat Kim-mou-eng mengernyitkan kening dan bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi, nenek di sebelah kanan yang melempar-lempar bayi tiba-tiba mencongkel sebuah batu dan berseru.

"Heh, ada sepasang mata melotot ke sini. Biar kucoblos sampai buta!"

Kim-mou-eng terkejut. Nenek yang bicara seolah sedang bermain-main itu mendadak melontarkan batu yang melesat ke arah matanya. Gerakan batu itu bagaikan meteor terbang, begitu cepat dan luar biasa. Tahu-tahu batu itu sudah di depan mata dan siap menghajarnya. Sekali kena, matanya tentu akan pecah!

Kim-mou-eng segera mengelak dan mengebutkan lengan untuk menyampok batu itu. "Plak!" Kim-mou-eng terkesiap. Untuk kedua kalinya ia dikejutkan oleh kenyataan ini; lengannya terasa terpental, pedas, serta ngilu. Batu itu hancur berantakan, sementara kedua nenek itu menghilang begitu saja seolah-olah iblis.

Saat Kim-mou-eng tertegun dan celingukan ke sana kemari, mendadak tepat di atas kepalanya terdengar kekehan nyaring. Pendekar ini kaget bukan main karena kedua nenek itu ternyata sudah bergelantungan di atas sebuah dahan dengan posisi terbalik—kaki di atas sementara kepala di bawah—persis di atas kepalanya!

"Heh-heh, kau Kim-mou-eng, Bocah? Kau murid Bu-beng Sian-su?"

Kim-mou-eng mencelat mundur. Gerakan mereka yang bagaikan siluman, muncul tanpa diketahui kapan datangnya, cukup membuat jantung Kim-mou-eng mencelos. Ia berjungkir balik dan melihat kedua nenek itu bergelantungan dengan kepala di bawah mirip kalong. Mereka terkekeh geli memandangnya. Bayi dan wanita muda itu ada di gendongan mereka, juga dalam posisi terbalik. Tidak ada yang berteriak karena rupanya mereka sudah ditotok. Itulah sebabnya Kim-mou-eng tidak mendengar suara sedikit pun, dan keberadaan nenek itu di atas kepalanya benar-benar mengejutkannya.

Saat ia terbelalak dan kedua nenek itu terkekeh geli, Kim-mou-eng berhasil menekan guncangan hatinya dan bertanya, "Locianpwe, siapakah kalian dan kenapa menyerang orang tak bersalah? Bukankah kita tidak saling mengenal?"

"Heh-heh, kau bersalah karena mengintai kami, Kim-mou-eng. Dan lebih bersalah lagi karena kau murid Sian-su!"

"Locianpwe kenal guruku?"

"Wut!" Mendadak kedua nenek itu berjungkir balik, turun, dan sudah berdiri di depan Kim-mou-eng dengan kaki di tanah. Kim-mou-eng melihat sorot mata yang begitu ganas dari kedua nenek yang hampir kembar ini. Pandangan mereka begitu tajam dan menusuk, membuat Kim-mou-eng tanpa terasa surut selangkah dan tergetar.

Dua bola mata nenek itu bagai ujung pedang mustika. *Lweekeh* (tenaga dalam) yang memancar dari sorot mata mereka begitu mengguncang jantung. Orang-orang yang tidak memiliki daya batin tinggi niscaya akan langsung roboh. Kim-mou-eng cepat-cepat menarik napas tiga kali dan membayangkan wajah gurunya untuk menolak daya serang dari sorot mata yang ampuh itu. Ia menjura dan mengumpulkan semangat untuk menghadapi kedua nenek dahsyat ini. Mereka adalah orang-orang sakti; belum pernah seumur hidupnya Kim-mou-eng hampir menyerah dalam adu pandang, kecuali saat bersama gurunya.

Setelah detak jantungnya kembali tenang dan kedua nenek itu berseru kagum, Kim-mou-eng berkata dengan sopan dan hati-hati, "Locianpwe, siapakah Ji-wi yang agaknya telah mengenalku dengan baik? Apakah Ji-wi berasal dari Barat?"

"Heh-heh," seorang di antara mereka tertawa memuji. "Kau hebat, Kim-mou-eng. Agaknya gurumu, si manusia dewa itu, telah membekalimu dengan kekuatan batin yang tinggi. Kami Sepasang Dewi Naga, apakah gurumu tidak pernah menceritakannya kepadamu?"

"Sepasang Dewi Naga?" Kim-mou-eng mengernyitkan kening. "Guruku tak pernah menceritakannya, Locianpwe. Maaf kalau aku tidak tahu."

"Hmm, kau tentu tidak tahu. Kami adalah tokoh-tokoh yang hidup pada zaman empat generasi sebelum leluhur kaisar sekarang, Kim-mou-eng. Kami adalah Sepasang Dewi Naga yang kini sudah berusia dua ratus tahun!"

"Dua ratus tahun?" Kim-mou-eng ternganga. "Maksud Locianpwe, Anda sudah hidup sejak zaman Dinasti Han?"

"Ya, itulah kami. Karena itu tidak ada generasi sekarang yang mengenal kami, kecuali gurumu!"

"Oh..." Kim-mou-eng yang terpana dan takjub memandang kedua nenek ini tiba-tiba membungkuk memberi hormat saking kagumnya. "Locianpwe, maafkan aku. Ji-wi ternyata adalah orang-orang yang sudah hidup pada zaman ayah dari kakek buyutku!"

Namun, nenek di sebelah kanan tiba-tiba mendengus dan tertawa aneh sambil mengibaskan lengannya. "Kau tak perlu berbasa-basi. Kami paling benci sikap yang begini ini!"

Angin pukulan dahsyat menyambar Kim-mou-eng dari gerakan kebutan itu. Tenaga tersebut tiba-tiba mengangkat tubuh sang pendekar dan melontarkannya ke sebatang pohon di belakang. Kim-mou-eng terkejut bukan main dan berseru keras; ia segera berjungkir balik membebaskan diri dari arus dorongan yang amat luar biasa ini. Ia berhasil mendarat, namun terdengar dentuman keras di belakangnya.

Saat melayang turun dan hinggap di tanah, Kim-mou-eng mengeluarkan keringat dingin melihat pohon di belakangnya itu tumbang dan menimbulkan suara hiruk-pikuk. Dahsyat sekali!

"Locianpwe, Anda kejam. Kenapa selalu menyerang dan hendak membunuh orang?"

"Heh-heh, kau pandai, Kim-mou-eng. Bagus dan cepat sekali elakanmu tadi!" Nenek di sebelah kanan tidak memedulikan kemarahan lawannya; ia justru memuji dengan mata bersinar-sinar. Padahal, jika sedikit saja terlambat, Kim-mou-eng pasti tewas!

Kim-mou-eng bergidik. Nenek itu melangkah maju dan melempar wanita dalam cengkeramannya, lalu menggosok kedua tangannya sambil tersenyum. Tetap tidak menghiraukan kemarahan lawan, ia berkata, "Kau mendapat kepandaian apa saja dari Sian-su? Berani kau main-main denganku?"

Kim-mou-eng surut setindak dengan jantung berdebar. "Locianpwe, guruku tidak mengajariku untuk mencari permusuhan dengan orang lain. Aku tidak ingin bertempur. Harap Anda tidak memaksa agar aku yang muda ini tidak sampai kurang ajar."

"Heh-heh, kau takut?"

"Tidak, aku hanya menghormati Anda, Locianpwe. Aku tidak akan takut selama berada di jalan kebenaran!"

"Bagus, kalau begitu untuk apa kau datang? Bukankah kau mengintai kami?"

"Aku curiga melihat wanita yang menangis di sepanjang jalan ini, Locianpwe. Juga bayi yang kalian bawa itu. Aku datang karena ingin mencari keterangan!"

"Heh-heh, bocah ini pintar bicara, Toa-ci. Bagaimana pendapatmu?" Nenek itu tiba-tiba menoleh pada saudaranya sambil tertawa. Kim-mou-eng heran melihat nenek ini masih memiliki gigi depan, meski sebagian sudah ompong.

Saat nenek yang satu lagi tersenyum, Kim-mou-eng melihat hal yang sama. Nenek itu berkata, "Ji-moi, bekuk dan tangkap saja dia. Lihat seberapa lama dia dapat bertahan!"

"Heh-heh, kalau begitu aku harus merobohkan si tampan ini? Atau membunuhnya sekalian, Toa-ci?"

"Jangan, dia cukup sopan. Robohkan saja dan gantung dirinya dengan posisi terbalik."

"Seperti jengkerik?"

"Ya, seperti jengkerik!"

"Bagus, akan kubekuk dia!" Nenek itu kembali menghadapi Kim-mou-eng dengan kekehan aneh. "Bocah, sekarang bersiaplah. Aku akan menjemurmu!"

Namun Kim-mou-eng melompat ke belakang dan memotong, "Nanti dulu, aku ingin bertanya!" Ia merasa marah karena direndahkan seperti itu. "Ji-wi Locianpwe, kalian kiranya begitu yakin akan mudah merobohkanku. Baiklah, sebelum aku melawan, katakan dulu siapa wanita dan bayi ini. Kenapa kalian menyeret mereka dan bersikap kejam?"

"Heh-heh, wanita ini aku tak tahu, Kim-mou-eng. Tapi bayi itu kami ambil dari istana."

"Dari istana?" Kim-mou-eng terkejut. Ia sudah curiga sejak awal melihat kulit bayi yang hitam, jangan-jangan itu memang anak Bi Nio. Ia segera menekan guncangan hatinya lalu membentak, "Kalau begitu kalian menculik anak Bi Nio, Locianpwe. Bocah ini adalah putra mendiang Suheng-ku, jadi dia adalah keponakan muridku juga!"

"Betul," nenek itu terkekeh. "Kami juga mendengar hal itu dari ibunya, Kim-mou-eng. Tapi kami tidak peduli. Anak ini memiliki bakat dan tulang istimewa, kami ingin mengambilnya sebagai murid!"

Kim-mou-eng kaget. Keraguannya terhadap kaisar lenyap seketika dan kemarahannya memuncak. Ternyata benar, anak Bi Nio diculik dan kini kedua nenek itu mengakuinya. Tak perlu lagi mencari-cari. Namun, karena menyadari kelihaian lawan yang amat sakti, Kim-mou-eng menekan kemarahannya, melompat maju, dan berkata dengan suara rendah.

"Locianpwe, perbuatan kalian benar-benar tidak terpuji. Ibu dari anak ini masih hidup, begitu pula aku sebagai paman gurunya. Kenapa kalian menculik dan bertindak sewenang-wenang? Bukankah sebagai kalangan tua, Ji-wi harus tahu bahwa perbuatan ini salah? Kembalikan anak itu, Locianpwe, dan bebaskan pula wanita ini yang tidak tahu-menahu persoalan!"

"Heh, kau enak saja bicara! Wanita ini kami perlukan air susunya. Bocah ini sudah menjadi milik kami dan akan mewarisi semua kepandaian kami. Kami tidak membunuhnya saja sudah untung, Kim-mou-eng!"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment