Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 47

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 47

"Jangan kurang ajar dan membuat kami marah!"

"Kalau begitu, Jiwi akan berhadapan denganku."

"Maaf, aku bersikap kasar!" Kim-mou-eng membentak. Sadar tak mungkin dapat membujuk, ia tiba-tiba berkelebat ke depan melancarkan pukulan. Untuk pertama kali menyerang, ia langsung mengerahkan Tiat-Lui-Kang-nya. Sinar merah berkelebat dan angin pukulan panas menyambar nenek itu. Nenek ini terbelalak.

Tapi, ketika pukulan panas itu menampar mukanya dan nenek ini terkekeh, tiba-tiba dia melejit dan menggerakkan lengan kirinya pula.

"Cess!" Kim-mou-eng terkejut.

Pukulan seperti es menyambar pukulan panasnya. Tiat-Lui-Kang lenyap dan pukulan dingin ganti menerobos dirinya.

Tubuh tiba-tiba serasa dingin seperti direndam es. Terkejutlah Kim-mou-eng karena itu tanda sinkangnya kalah kuat. Hebat nenek ini!

Kim-mou-eng mengelak dan cepat melompat tinggi. Tiba-tiba ia menendang nenek itu dengan ujung kakinya, diegos, dan bertubi-tubi. Kemudian, Kim-mou-eng sudah melancarkan serangan yang lain. Dia terkesiap bahwa untuk kesekian kalinya dia merasakan getaran lebih kuat dari angin pukulan lawan.

Nenek ini memang sakti.

Dan ketika Kim-mou-eng berkelebatan dan berseru keras mengelilingi lawan, nenek ini terkekeh mengikuti gerakannya.

"Bagus, kau boleh serang aku, bocah. Tapi setelah itu, bersiap-siaplah untuk roboh!" Kim-mou-eng merah mukanya.

Dia penasaran dan terus melancarkan pukulan-pukulan Petir. Tamparan dan tendangan bertubi-tubi menghujani nenek ini.

Sang nenek menangkis dan mengeluarkan pukulan dinginnya. Berkali-kali suara "cas-ces" terdengar dan Kim-mou-eng selalu terpental.

Pendekar kita kalah kuat!

Dan ketika nenek itu tertawa-tawa dan nenek yang satu juga terkekeh, Kim-mou-eng mendengar ejekan nenek yang di luar pertempuran itu, "Ji-Moi, murid si kakek dewa Bu-Beng Sian-Su ternyata hanya sebegini saja kepandaiannya. Hentikanlah main-main ini dan robohkan dia!"

"Heh heh, aku ingin menguras semua keringatnya, Toaci. Biar dia roboh sendiri setelah lelah. Bocah ini masih menyimpan beberapa kepandaian lain. Pit di balik bajunya itu belum dikeluarkan dan Pek-Sian-Ciang juga belum diperlihatkan!" Kim-mou-eng terkejut bukan main.

Dia sudah mati-matian mengeluarkan pukulan Petir. Berkali-kali pukulannya itu meledak tapi selalu tertolak buyar. Kalau bukan lawan yang demikian sakti, tak mungkin pukulannya itu gagal.

Kini si nenek mengetahui Pit yang disimpannya di balik baju dan mengejek tentang Pek-Sian-Ciang-nya. Betapa lihainya nenek ini!

Betapa awas!

Dan ketika Tiat-Lui-Kang-nya mulai membalik dan nenek itu terkekeh-kekeh menyuruh dia mencabut senjatanya, untuk pertama kali selama hidupnya Kim-mou-eng mencabut Pit-nya itu menghadapi lawan yang bertangan kosong.

"Baiklah, kau yang menghendaki, Locianpwe. Kau memang lihai dan aku akan mengeluarkan semua kepandaianku!"

"Jangan sungkan, kau pun boleh mengeluarkan Tangan Dewamu (Pek-Sian-Ciang), Kim-mou-eng. Dan aku tak akan membalas sampai sepuluh pukulan lagi!" Kim-mou-eng menggeram.

Dia benar-benar marah dan penasaran mendengar kesombongan lawan. Nenek itu tak akan membalasnya dalam sepuluh pukulan berikut.

Baik, dia akan mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya, tak akan lengah, dan akan mempergunakan semua kepandaiannya.

Dan begitu lawan melompat dan terkekeh membiarkan Pit-nya menyerang sebelah kiri, tiba-tiba Kim-mou-eng membalik dan bertubi-tubi menggerakkan Pit di tangan kanan, sementara tangan kiri terus melancarkan Tiat-Lui-Kang. Gagal, dan dia kaget karena pukulan yang luput selalu membuat tubuh sendiri terhuyung. Pendekar ini menggigit bibir dan maklum bahwa dia benar-benar menghadapi lawan yang jauh di atas dirinya sendiri. Mungkin hanya gurunya yang mampu menghadapi nenek ini.

Dan ketika tujuh pukulan berturut-turut lolos dan terpental atau mengenai angin kosong dielak si nenek sakti, nenek itu berseru, "Kim-mou-eng, lepaskan Pek-Sian-Ciang. Tiga pukulan Tangan Dewamu akan kuterima tanpa kubalas!" Kim-mou-eng naik darah.

Dia benar-benar direndahkan sekarang.

Ilmu Tangan Dewanya itu adalah ilmu terdahsyat yang dia miliki, jarang digunakan kalau tidak perlu. Ilmu ini terlampau mahal untuk dikeluarkan.

Tapi karena lawan berhasil mementalkan semua pukulannya dan Tiat-Lui-Kang yang panas itu selalu dirontokkan lawan di tengah jalan, akhirnya apa boleh buat, pendekar ini menggeram mempergunakan sisa tiga pukulan terakhir. Sadar bahwa di sana masih ada seorang nenek lagi yang belum dilayaninya.

Mungkin nenek itu malah lebih hebat karena dia adalah Sang Toaci (kakak). Pendekar Rambut Emas ini bergidik membayangkan kepandaian lawan.

Maka begitu Sang Ji-Moi (adik) berani berkata bahwa dia akan menerima sisa tiga pukulan terakhir dan dia disuruh mengeluarkan Pek-Sian-Ciang-nya, Pendekar Rambut Emas mengeluarkan bentakan yang membuat bumi tergetar, disusul oleh ledakan keras dan munculnya cahaya berkilau dari kedua lengannya.

"Locianpwe, awas pukulan mautku...klap!" Sinar berkedip-kedip yang meluncur bagai bintang berekor mendadak menyambar dan melesat menghantam nenek ini.

Sinar yang berkilau-kilauan membuat mata nenek ini berkejap. Kiranya nenek itu tak tahan akan cahaya yang terlalu terang dan pukulan Tangan Dewa ini. Berseru perlahan dan tidak sempat mengelak lagi, dia pun memang sengaja tak mengelak, ingin menerima dan merasakan pukulan dahsyat ini.

Dan ketika pukulan itu mengenai tubuhnya dan ledakan yang amat kuat menjadikan pohon-pohon di sekitar berderak patah dan bumi bergetar seakan-akan kedatangan ribuan gajah, nenek itu bergoyang tubuhnya, sementara Kim-mou-eng sendiri mencelat terpental.

"Dess!" Hebat hasil pukulan pertama itu.

Nenek itu ambles kakinya, seluruh tubuhnya mengeluarkan cahaya berkilat, namun dia tidak apa-apa.

Kim-mou-eng sudah berjungkir balik dan terbelalak memandang lawan, kaget dan kagum tapi juga marah bukan main.

Lawan tersenyum mengejek kepadanya, seolah pukulan Pek-Sian-Ciang adalah pukulan "gudir" (agar-agar).

Kim-mou-eng cepat berseru keras dan menyerang lagi. Kini empat perlima bagian tenaganya dikerahkan, keringat pun bercucuran membasahi seluruh tubuhnya. Dan ketika pukulan kembali meledak dan nenek itu menahan sambil mengeluarkan seruan pendek, untuk pukulan kedua ini sang nenek mengeluh dan baju bagian atasnya hancur berhamburan.

"Dess!" Kim-mou-eng semburat merah.

Tubuh bagian atas nenek itu seketika tak tertutup apa-apa, telanjang memperlihatkan teteknya yang kempot. Kim-mou-eng seketika melengos dan jengah.

Untuk pukulan ketiga, dia menjadi ragu dan gelisah.

Kaki orang sudah semakin ambles mendekati lutut. Nenek itu tampak terengah tapi gembira menyuruh dia melepas pukulan terakhir, berteriak sambil menyebut-nyebut nama gurunya.

Bu-Beng Sian-Su dikatakan menurunkan ilmu yang tiada guna. Pek-Sian-Ciang itu tak berpengaruh apa-apa pada nenek ini.

Dan ketika sang nenek terkekeh dan menyuruh dia menyerang lagi, tiba-tiba dengan mata gelap dan kemarahan yang tak terkendalikan lagi, Kim-mou-eng mencelat ke depan dengan sisa-sisa tenaganya yang terakhir.

"Awas...!" Bentakan itu sudah merupakan peringatan berbahaya.

Kim-mou-eng menyambar dengan kedua lengan terbuka, dua sinar putih berkilauan lebih menyilaukan lagi.

Nenek itu tertanam kakinya, tak mungkin mengelak.

Kali ini terbelalak. Dua teteknya bergoyang ke kiri dan ke kanan, lucu sekali. Kim-mou-eng harus mengalihkan pandangan dari benda yang agak mengganggu ini.

Dan ketika pukulan dahsyat itu menyambar dan nenek ini berkejap sejenak dari cahaya yang amat menyilaukan itu, Sang Toaci yang ada di belakang mendadak berkelebat dan berteriak pada adiknya agar membuka mata dan berhati-hati terhadap pukulan yang dikerahkan dengan segenap tenaga ini. Dalam waktu yang begitu cepat, ia sudah menahan pundak adiknya yang meledak dihantam Pek-Sian-Ciang.

"Blang!" Pukulan itu benar-benar luar biasa.

Tubuh sang nenek seakan-akan disengat listrik tegangan tinggi, bunga api memuncrat berpercikan sementara sisa-sisa pakaiannya hancur. Nenek ini seketika telanjang bulat dan mengeluh lirih. Kaki yang terbenam semakin melesak hingga mencapai pusarnya.

Bukan main.

Tapi Sang Toaci yang sudah menempelkan lengan di pundak adiknya dan cepat mengerahkan sinkang, tiba-tiba membantu dan menolak hawa pukulan Pek-Sian-Ciang itu. Kalau tidak, tentu adiknya roboh pingsan.

Sang adik terlalu sembrono dengan menerima pukulan hanya bertahan saja. Kesombongan membuat adiknya itu hampir celaka.

Betapapun Pek-Sian-Ciang telah dua kali menyerangnya tanpa dibalas, itu sudah lebih dari cukup. Maka begitu adiknya menerima pukulan ketiga dan kemarahan Kim-mou-eng mencapai puncaknya dengan mengerahkan segenap tenaga, cepat saja Sang Toaci berkelebat membantu adiknya itu.

Ia mengerahkan sinkang untuk bertahan, tapi pakaian adiknya hancur juga. Sang adik melesak sampai sebatas pusar. Dari sini dapat dilihat betapa dahsyatnya ilmu pukulan Bu-Beng Sian-Su itu.

Kim-mou-eng memang geram dan kaget serta marah.

Sang nenek tentu cedera atau paling sedikit pingsan menerima pukulan ketiga itu, pendekar ini sudah memperhitungkan.

Tapi ketika Sang Toaci berkelebat dan tanpa disangka membantu adiknya, dan tepat pukulan tiba, Kim-mou-eng merasakan daya tolak yang amat luar biasa dari depan. Mendadak saja pendekar ini mengeluh dan cepat membelalakkan mata, merasa arus gabungan yang mahakuat menahan pukulannya itu dan sekejap kemudian menghantamnya balik. Demikianlah ia pucat dan amat terkejut.

Kim-mou-eng tentu saja kalah karena dia menghadapi dua tenaga berbarengan. Maut ganti menyerangnya!

Dan karena semuanya sudah tak sempat dielak dan satu-satunya jalan bagi Kim-mou-eng hanya "membuang" semua tenaga yang ada agar tak beradu keras melawan keras, maka Kim-mou-eng sudah melakukan itu dan tubuhnya tiba-tiba terhempas ke belakang. Kim-mou-eng seolah kapas yang memasrahkan diri pada angin serangan, tertiup dan tertolak ke belakang sejauh dua puluh tombak. Terbanting dan berguling-guling di sana.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment