Chapter 48
Namun, karena angin pukulan nenek itu mengandung sinkang yang luar biasa kuat dan pukulan sakti memang selalu membahayakan bagi orang lain, Kim-mou-eng melontarkan darah segar dan akhirnya tak bergerak lagi setelah berguling dua kali.
Pingsan.
"Bluk!" Nenek yang dipanggil Ji-moi tertegun.
Dia batuk-batuk masih dalam keadaan tertanam, terengah-engah, dan terbelalak memandang robohnya Kim-mou-eng itu.
Anak muda itu pasti pingsan, atau mungkin tewas. Tiba-tiba timbul keinginannya untuk melihat keadaan lawan, tetapi ia sadar bahwa hampir separuh badannya "terkubur" di tanah. Sang Toa-ci menarik, dan segera nenek ini melihat tubuhnya yang telanjang bulat, berseru lirih dan dengan cepat menutupi bagian bawah dan atas tubuhnya dengan gugup. Nenek itu marah tetapi juga bingung, tidak ada pakaian cadangan di situ.
Tetapi sang Toa-ci, yang mendengus dan menyambar wanita muda yang mereka totok dan sudah melucuti pakaian wanita ini hingga tinggal mengenakan pakaian dalam saja, tiba-tiba menyerahkan pakaian luar wanita muda itu pada adiknya. Ji-moi mengumpat, kini berpakaian seadanya, lalu meloncat mendekati Kim-mou-eng.
Dan ketika dilihatnya Kim-mou-eng masih hidup dan wajahnya sepucat kertas, nenek ini terkesima dan kagum meskipun mendongkol.
"Hebat, dia tidak mati."
"Sungguh luar biasa murid Bu-beng Sian-su ini. Dan kau sembrono menerima tiga pukulan berturut-turut dari Pek-sian-ciang, Ji-moi," Toa-ci sudah berkelebat di sampingnya.
"Seharusnya satu pukulan saja sudah cukup, selebihnya kau harus membalas!" "Benar," sang adik mengangguk, menyadari kekeliruannya yang hampir berakibat fatal.
"Aku mengakui kesombonganku, Toa-ci, tetapi betapapun aku mampu menahan Pek-sian-ciang! Bocah ini hebat, namun dia terluka parah. Apa yang harus kita lakukan padanya? Membunuhnya saja agar kelak tidak merupakan bahaya bagi kita?" "Hm, bocah ini murid Sian-su, Ji-moi. Bagaimana kalau Sian-su merunut pertanggungjawaban kita? Aku masih gentar menghadapinya. Si tua bangka itu rupanya masih hebat dan mampu menurunkan kepandaian setinggi ini kepada Kim-mou-eng yang masih muda. Aku ragu, ingat saja kejadian seratus lima puluh tahun yang lalu ketika kita menghadapi kakek dewa itu!" Ji-moi bergidik.
Tiba-tiba dia menjadi ngeri kalau harus membayangkan menghadapi si manusia dewa ini, tokoh yang begitu tinggi kepandaiannya hingga sulit diukur.
Seratus lima puluh tahun yang lalu mereka pernah berhadapan, tetapi semua pukulan memantul.
Bu-beng Sian-su tidak membalas, tetapi semua serangan mereka membalik. Entah mengapa tubuh si manusia dewa itu seolah memiliki tameng sakti yang tidak kelihatan, yang selalu menjaga dirinya dan membuat mereka jatuh bangun.
Dan ngeri beradu pandang dengan sorot mata di balik halimun yang selalu menutupi wajah kakek dewa itu. Akhirnya mereka harus tunggang-langgang karena dari sorot mata di balik halimun itu seolah memancar sebuah kekuatan gaib yang membuat mereka gentar dan tidak sanggup menentang.
Seolah dari sorot mata itu keluar sebuah getaran lembut yang membuat tenaga mereka tiba-tiba lumpuh dan tidak berdaya, serasa seluruh tenaga mereka dikuras habis.
Aneh!
Dan karena kenangan itu demikian membekas, kini setelah seratus lima puluh tahun kemudian kakek dewa itu masih dapat mewujudkan sebagian dirinya pada diri Kim-mou-eng yang luar biasa ini, akhirnya Ji-moi bergidik dan memandang kakaknya. Ia dapat memaklumi keraguan kakaknya, tetapi betapapun dia penasaran.
Masa seratus lima puluh tahun kemudian setelah mereka memperdalam ilmu-ilmu mereka, Bu-beng Sian-su tidak dapat dihadapi juga? Bukankah mereka terlalu kecil hati? Maka ketika dia meminta pendapat, dan kakaknya berkata bahwa sebaiknya Kim-mou-eng dibiarkan begitu saja dan jangan dibunuh, tiba-tiba nenek ini berkata, "Aku tidak akan membunuhnya, Kakak. Tapi aku ingin menyiksanya. Anak muda ini akan kugantung dengan kepala di bawah dan kaki di atas. Kau tentu tidak keberatan, bukan?" "Baiklah, hitung-hitung sebagai pembalasanmu kepadanya, Ji-moi. Aku tidak keberatan asal dia jangan dibunuh." "Tidak, aku tidak akan membunuhnya!" Dan Kim-mou-eng yang kemudian diikat dan disambar nenek itu tiba-tiba digantung dan ditertawai Ji-moi. Pekerjaannya selesai, dan pemuda yang pingsan itu sudah menjadi kelelawar manusia. Setelah ditepuk-tepuk sejenak, Ji-moi kagum memandang wajah tampan itu, meskipun pucat.
Dan ketika Toa-ci ikut tersenyum dan Ji-moi berkata bahwa dia tentu akan gembira kalau mendapat kekasih seperti pemuda ini ketika mereka masih muda, sang kakak mendengus berkata, "Sudahlah, itu sudah lampau bagi kita, Ji-moi. Ayo pergi dan bawa beban kita masing-masing!" Sang kakak menyambar bayi di dekatnya, berkelebat, dan lenyap meninggalkan tempat itu. Sementara adiknya juga menyambar wanita muda yang terisak-isak tanpa suara, ngeri melihat sepak terjang dua wanita itu.
Nenek-nenek ini memang bukan manusia biasa lagi.
Kepandaian mereka seperti iblis, dan Kim-mou-eng yang terbukti lihai saja harus mengakui kalah menghadapi mereka, padahal yang menyerang baru satu orang.
Dan begitu mereka lenyap dan Kim-mou-eng ditinggal sendirian seperti kelelawar sekarat, Kim-mou-eng sendiri yang tidak sadar dan masih pingsan digantung di atas pohon akhirnya menjadi seperti barang mainan yang terayun-ayun ditiup angin.
Akan tewaskah pendekar ini? Akan begitu mengenaskankah kematiannya?
Memang tampaknya begitu, kalau saja tidak ada sesuatu yang kebetulan.
Dan karena yang "kebetulan" itu justru dilakukan Ji-moi kepadanya secara tidak sengaja, Kim-mou-eng yang seharusnya mati perlahan-lahan ini mendadak selamat tanpa sengaja pula dan hidup.
Apa yang menjadi kebetulan itu? Apa yang menyelamatkannya? Tidak lain posisi tubuh yang dijungkirkan itu, kepala di bawah dan kaki di atas, sebuah keadaan yang justru merupakan "siulian" (samadhi) bagi pendekar ini.
Kim-mou-eng yang biasa bersamadhi dengan cara terbalik justru merasa ditolong dengan perbuatan nenek itu.
Benar!
Tanpa sengaja Kim-mou-eng malah "diobati" dengan perbuatan nenek Ji-moi yang bermaksud menghinanya, tidak tahu bahwa dengan cara ini Kim-mou-eng justru melakukan siulian tanpa sengaja.
Sedikit tetapi pasti napasnya mulai teratur.
Wajah yang tadi pucat itu perlahan-lahan memerah.
Dan karena sesuatu yang berulang-ulang dilakukan terus-menerus akan menghasilkan sesuatu yang otomatis, maka tarikan napas dan denyut jantung Pendekar Rambut Emas itu pun tiba-tiba berjalan otomatis. Jadilah sesuatu yang berjalan tanpa sengaja ini justru merupakan suatu keberuntungan besar bagi Kim-mou-eng.
Aneh!
Tubuh memang mempunyai cara yang luar biasa untuk menyelamatkan Kim-mou-eng.
Sebenarnya, kalau saja nenek Ji-moi membiarkan Kim-mou-eng menggeletak di tanah, justru pemuda ini akan tewas.
Tidak ada sesuatu yang bekerja dari dalam.
Tapi begitu dia dijungkirkan dan tenaga sakti justru bangkit dan bekerja dengan otomatis, maka Kim-mou-eng yang pingsan dan dibiarkan tak berdaya seperti jengkerik ini justru selamat.
Nenek Ji-moi tentu tidak menduga keadaan ini, mengira Kim-mou-eng semakin tersiksa oleh perbuatannya.
Tidak tahu bahwa kebiasaan Kim-mou-eng dengan bersamadhi secara jungkir balik justru tertolong oleh perbuatannya tadi.
Perlahan tetapi pasti hawa sinkang di tubuh pemuda ini bekerja, naik, dan akhirnya merambat ke sekujur tubuh.
Luka dalam yang dialami Kim-mou-eng mendapat pengobatan secara otomatis.
Dan ketika tiga hari kemudian hawa sakti ini bekerja secara terus-menerus dan kebiasaan jungkir balik membuat Kim-mou-eng sehat sepenuhnya. Dan akhirnya Kim-mou-eng sembuh dan siuman untuk pertama kalinya.
Luar biasa!
Kim-mou-eng membuka mata.
Mula-mula dia terkejut melihat langit ada "di bawah", tangan dan kaki tidak dapat digerakkan karena dia dalam keadaan terikat.
Memang kesadaran yang baru berjalan ini membuat Kim-mou-eng belum sadar betul, ingatannya masih melayang naik-turun tidak keruan.
Tapi begitu kesadaran sepenuhnya melingkupi kepalanya dan dia ingat akan apa yang terjadi, mendadak pendekar ini menggerakkan tubuh dan tali-temali yang mengikat tangan dan kakinya terputus. Dia terbanting ke bawah tapi cepat berjungkir balik.
Dan ketika Kim-mou-eng tegak di tanah dan merasa agak pening, maka sadarlah pendekar ini akan keadaan tubuhnya yang lemas.
Memang dia sudah sembuh, tapi tenaga yang banyak hilang akibat pertempuran melawan Ji-moi sungguh sangat menguras.
Kim-mou-eng tiba-tiba terduduk. Ia cepat bersila.
Dan ketika dia dapat menduga apa yang terjadi dan kaget serta girang bahwa dia masih hidup, tiba-tiba pendekar ini mengucap syukur dan memeriksa semua aliran darahnya. Ia memejamkan mata dan melihat apakah masih ada sisa-sisa luka pukulan yang mengganggunya. Tarikan napas dan aliran sinkang segera dipantau (diperiksa), melihat bahwa semuanya baik dan dia benar-benar sembuh, kecuali lemah karena tiga hari tiga malam tidak makan dan minum, juga pengeluaran tenaga yang berlebihan melawan nenek sakti itu.
Oleh karena itu, Kim-mou-eng yang girang bahwa dia selamat tidak kurang suatu apa pun kecuali harus istirahat satu atau dua jam untuk memulihkan tenaga, Pendekar Rambut Emas ini segera bersila mengumpulkan semangat, mendorong, dan mengatur tenaganya agar pulih dengan cepat.
Dan ketika semuanya itu berakhir dan Kim-mou-eng membuka mata untuk bangkit berdiri, mendadak seseorang telah berada di depannya, dan Kim-mou-eng mendengar isak tertahan.
Seorang gadis cantik telah berdiri di depannya dengan mata berapi-api.
Salima!
"Sumoi...!" Kim-mou-eng tidak menyangka sama sekali.
Sejenak dia tertegun, terbengong, tetapi melompat bangun menubruk sumoinya.
Entah kapan sumoinya telah ada di situ, menunggu dia memulihkan tenaga.
Kim-mou-eng "lupa" pada bola mata yang berapi-api itu, kalah oleh kegembiraannya bertemu sumoinya.
Tapi begitu dia melompat bangun dan menubruk sumoinya ini, mendadak Salima melengking menghantam perutnya dengan lutut.
"Jangan sentuh aku...." "Ngek!" Kim-mou-eng terjengkang, merasa sakit dan seketika berteriak kaget dan terguling-guling.
Perut yang dihantam lutut itu hampir saja melontarkan isinya, Kim-mou-eng mual.