Chapter 49
Ketika ia melompat bangun dan terbelalak memandang adiknya, Salima telah berkelebat di depannya dengan bendera maut di tangan.
"Ah, apa artinya ini, Sumoi? Apa yang ingin kau lakukan?" Kim Mou Eng terkejut, menggigil, dan tidak mengerti memandang adiknya itu.
Salima tampak beringas dan baru sekarang ia sadar bahwa adiknya ini sedang marah besar. Kobaran api dari tatapan mata gadis itu baru sekarang dilihatnya. Kim Mou Eng tertegun dan heran pula melihat wajah adiknya yang pucat; tubuh yang biasanya ramping itu kini tampak agak kurus. Kim Mou Eng merasa heran sekaligus kaget.
Ketika Salima terisak dan membentaknya dengan pandangan menusuk, tiba-tiba pendekar ini tertegun. "Suheng, apa yang telah kau lakukan terhadap Cao Cun? Apa yang telah kau perbuat pada putri bupati bermarga Wang itu?"
Kim Mou Eng terkesiap. "Apa? Cao Cun, Sumoi? Putri Wang Taijin itu? Ah, aku tidak melakukan apa-apa, aku tidak berbuat apa-apa terhadap putri bupati Wang itu."
"Bohong!" Bentakan ini terdengar seperti guntur di siang bolong. "Kau berjanji mau mengawininya, kau telah mengobral cinta yang muluk-muluk terhadap gadis itu. Kau laki-laki tak bertanggung jawab yang menyakiti wanita, jahanam...!"
Bendera yang bergerak mengebut ke depan itu tiba-tiba menyerang dan menghantam wajah pendekar ini dengan satu kibasan maut, disusul pukulan *Tiat-lui-kang* yang menampar dari bawah ke atas, bersembunyi di balik kebutan bendera. Salima melengking penuh kemarahan.
Kim Mou Eng kaget bukan main dan sadarlah dia bahwa urusannya dengan Cao Cun telah diketahui oleh adiknya ini. Celaka, adiknya cemburu dan kini mengamuk. Baru dia sadar bahwa dia pun memiliki janji-janji terhadap Cao Cun. Gadis itu masih di Istana Dingin dan selama ini dia melupakannya begitu saja.
Ah, tidak... Bukan melupakan begitu saja, melainkan semata-mata karena dia disibukkan oleh urusan suku bangsanya mengenai kaisar, lalu disusul pencurian *Sam-kong-kiam* yang dituduhkan kepadanya. Bertubi-tubi peristiwa mengganggunya; sungguh dia bukan sengaja melupakan nasib putri Wang Taijin itu. Dia terlalu sibuk, itulah alasannya.
Mendengar adiknya membentak-bentak dan urusannya ternyata berpangkal pada putri Wang Taijin ini, tiba-tiba Kim Mou Eng gugup dan bingung. Ia berteriak dan menangkis serangan bendera, tetapi adiknya tak mau berhenti, malah menyerang semakin gencar dan tampak kalap. Sungguh celaka.
Ketika Kim Mou Eng lengah sekejap dan berteriak-teriak menyuruh adiknya menghentikan serangan, Salima justru melancarkan pukulan bertubi-tubi. Akhirnya, kelebatan bendera yang menghalangi pandangan matanya itu menyembunyikan sebuah tamparan telak yang mengenai pundaknya.
"Plak!"
"Augh!"
Kim Mou Eng terguling-guling, mengeluh, dan langsung dikejar dengan satu totokan gagang bendera. Adiknya berkelebat dan gagang bendera itu sudah mendekati ulu hatinya; sekali terlambat, tentu dia tewas. Kim Mou Eng terkejut karena Salima tampak bersungguh-sungguh ingin membunuhnya. Bukan main, urusan ini kiranya benar-benar gawat.
Merasa marah tetapi juga bingung oleh sikap adiknya yang dinilai berlebihan, akhirnya pendekar ini menangkis dan menendang serangan tersebut. Ia mencelat bangun dan menjaga diri dari segala kemungkinan. Kali ini Salima terhuyung; Kim Mou Eng melakukan tangkisan keras ketika adiknya mencoba menotoknya tadi.
Sementara adiknya mendelik mau menyerang lagi, buru-buru Kim Mou Eng mengangkat kedua lengan ke atas dan berseru, "Stop... stop! Nanti dulu, Sumoi. Kenapa kau memaki-maki dan menyerangku begitu sungguh-sungguh? Apakah dosa dan salahku sebenarnya kepadamu? Kenapa harus mengincar nyawa untuk urusan putri Wang Taijin itu? Memang benar aku mengobral janji padanya, tetapi janji itu kulakukan dalam keadaan terpaksa. Stop, jangan menyerang!"
Kim Mou Eng melihat adiknya mendengus dan hendak bergerak lagi. "Dengarkan aku dan ceritakan pula semuanya ini dengan jelas!"
Lalu, sambil menurunkan lengan dan mencoba menyabarkan adiknya, Kim Mou Eng menyambung, "Sumoi, di antara kita tidak ada hal yang harus disembunyikan. Selama ini kau tahu bahwa aku selalu jujur padamu. Sekarang ceritakan dengan lebih tenang apa yang telah membuatmu marah-marah begini. Ada apa dengan putri Wang Taijin yang membuatmu naik darah ini?"
Salima bergetar, memaki kakaknya, "Kau laki-laki penipu, Suheng. Kau menipu Cao Cun dan mengkhianati aku pula. Aku benci padamu! Aku muak!"
"Baiklah, jelaskan mengapa begitu. Sabarlah dan tekan sedikit kemarahanmu ini."
"Siapa yang dapat menekan kemarahan? Kau yang mengobarkannya, Suheng! Kau yang membuat aku begini dan kau layak dibunuh. Aku benci melihat hubunganmu dengan Wang Cao Cun itu!" Gigi Salima berkeratak, lalu ia membentak, "Suheng, beranikah kau menyangkal bahwa kau pernah berjanji untuk mengawini putri Wang Taijin ini? Beranikah kau menyangkal bahwa kau menjalin cinta pula dengan Cao Cun?"
Kim Mou Eng tersudut. Tanpa berpura-pura lagi, adiknya telah mengajukan pertanyaan inti. Wajahnya memerah dan tiba-tiba ia gugup. Urusan ini seharusnya menjadi rahasia, terlalu peka dan tidak boleh diketahui orang lain, apalagi oleh adiknya. Tanpa disangka-sangka, mendadak adiknya mengajukan pertanyaan ini. Gawat!
Saat Kim Mou Eng sedang bingung dan gugup, tiba-tiba ia melihat sebuah bayangan berkelebat di belakang adiknya, cukup jauh.
"Sumoi, kau membawa teman?" tiba-tiba Kim Mou Eng bertanya.
Salima menyangka ia hendak mengalihkan percakapan dan tentu saja menjadi marah. Sorot matanya berpijar seolah hendak membakar pendekar ini. Pendekar kita terkejut, sadar bahwa dia dikira hendak mengelak. Adiknya tidak menjawab. Ketika Salima mendelik dan bayangan itu semakin mendekat di belakangnya, tiba-tiba Kim Mou Eng menarik napas dan pura-pura tidak tahu.
"Baiklah, maafkan aku, Sumoi. Tapi aku tidak ingin pembicaraan ini didengar orang lain. Ada seseorang di belakangmu!"
Persis saat Kim Mou Eng menghentikan kata-katanya, bayangan yang dilihatnya itu muncul.
"Ha-ha, tidak perlu banyak bicara, Nona. Bunuh dan serang kakakmu ini. Aku akan membantumu..."
"Srat!"
Sinar berkilau warna-warni yang menyilaukan mata mendadak membuat Kim Mou Eng tertegun dan terkejut mundur. Ia melihat sebatang pedang ampuh dengan tiga warna yang begitu menakjubkan: merah, kuning, dan hijau. Kim Mou Eng semakin heran dan terkejut melihat si pemegang pedang itu, seorang laki-laki berkedok yang rambutnya keemasan, mirip dengannya.
"Bu Hiong...!" teriak Salima. Ia memang terkejut melihat kehadiran laki-laki ini. Pemilik *Sam-kong-kiam* itu ternyata datang tanpa diundang.
Kim Mou Eng terkejut dan terheran-heran melihat adiknya mengenal pendatang itu. Namun, begitu menyadari kemilau pedang ampuh tersebut dan teringat pada *Sam-kong-kiam* yang berarti Pedang Tiga Sinar, Kim Mou Eng segera melompat mundur. Pikirannya yang cerdik langsung menangkap siapa pendatang ini. Sang pencuri!
"Kau si pembuat onar!" seru Kim Mou Eng. Ia kagum sekaligus kaget merasakan hawa luar biasa tajam dari pedang yang digerak-gerakkan itu; hawa dingin yang terasa mengiris kulit, barangkali seratus kali lebih tajam dibanding pisau cukur. Kim Mou Eng bergidik.
Ketika orang itu tertawa dan berdiri di samping Salima, si pencuri berseru dengan suara berderai, "Benar, aku yang membuat onar, Kim Mou Eng. Akulah pencuri *Sam-kong-kiam* dan kini kau mengenalku!"
Kim Mou Eng terbelalak. "Dan kau mengenal adikku?"
"Haha, adikmu gadis baik, Kim Mou Eng. Tentu saja aku mengenalnya dan bersimpati atas luka yang dideritanya akibat perbuatanmu. Kau laki-laki yang tidak dapat dipercaya, mengobral cinta di sana-sini, dasar penipu! Sekarang kau akan mati di tangan kami berdua untuk menebus dosamu. Hayo, serang laki-laki busuk ini, Tiat-ciang Sian-li. Aku bantu kau dan kita bereskan dia berdua...!"
"Sing!"
Pedang itu tiba-tiba berkelebat. Bu Hiong sudah menyambar, dan Kim Mou Eng terkesiap melihat kilatan tajam dari gerakan pedang itu. Ia melompat mundur dengan ragu; gerakannya tampak ayal-ayalan sehingga laki-laki itu tertawa terbahak-bahak. Saat lawan menyerang lagi, hawa dingin yang luar biasa tajam dari pedang itu menyambar-nyambar hingga baju Kim Mou Eng tergores panjang.
"Bret!"
Kim Mou Eng kaget dan membanting tubuh bergulingan. Lawannya berteriak kecewa dan menyerang lagi. Kali ini sinar berkeredep membuat matanya berkerut setengah menutup. Kim Mou Eng terkesiap karena lawan melenting tinggi dan meluncur turun sambil menggerakkan pedang saling menyilang empat kali, sangat cepat dan ganas menuju tubuhnya. Angin sambaran pedang itu saja sudah membuat baju Kim Mou Eng robek lagi.
Kim Mou Eng terkejut dan marah. Karena dia sedang bergulingan dan lawan tidak memberinya kesempatan untuk bangkit, ia menggulingkan diri lebih jauh. Pedang itu membacok tanah hingga memercikkan bunga api dan menimbulkan suara berkerontang yang mengerikan. Pedang Tiga Sinar itu betul-betul hebat.
Ketika lawan berteriak tinggi dan hendak menyerang lagi, Kim Mou Eng sudah melompat bangun dan berseru keras, "Stop! Tahan dulu! Tahan!"
Pedang di tangan pencuri itu berhenti. Ia tertawa terbahak-bahak, membuat Kim Mou Eng geram. Pendekar ini melihat adiknya diam saja, yang berarti adiknya memihak musuh. Kim Mou Eng menggigit bibir dan mengerahkan tenaga saktinya. Matanya tiba-tiba mencorong dan uap kemerahan muncul di permukaan tubuhnya. Itulah hawa *Tiat-lui-kang*.
Saat lawan menyeringai, Kim Mou Eng yang gusar membentak, "Bu Hiong, kau pencuri hina yang melemparkan kesalahanmu kepadaku! Dan sekarang kau menghasut adikku untuk memusuhiku? Apa maksudmu sebenarnya? Apa yang kau inginkan?"
"Haha, aku tidak menginginkan apa-apa kecuali nyawamu, Kim Mou Eng!"