Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 50

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 50

"Aku sekadar membantu sumoimu ini yang telah kautipu!"

"Tipu apa? Kau berani mencampuri urusan pribadi orang lain?"

"Ha-ha, bagiku sumoi-mu bukan orang lain, Kim-mou-eng." Aku telah menyelamatkan jiwanya dan sudah seperti sahabat. Tidak, bukan seperti sahabat melainkan sudah lebih dari itu. "Dia adikku, dia milikku!"

Kim-mou-eng terkejut. "Kau gila?" Kim-mou-eng lalu memandang sumoinya yang memerah pipinya. Pendekar ini bertanya, "Sumoi, apakah dalam urusan pribadi ini kau memasukkan orang ketiga untuk menyudutkan aku? Benarkah terhadap pencuri pedang ini justru kau membelanya dan siap memusuhi aku?"

Salima mendengus. "Aku tidak meminta si Bu-hiong ini mencampuri urusan kita, Suheng. Tapi kalau dia membelaku karena merasa aku dipermainkan, tentu saja aku tidak menolaknya. Dia memang telah menyelamatkan jiwaku, aku tidak dapat mengusirnya karena dia pun memusuhimu."

Kim-mou-eng berkata, "Tapi seharusnya aku yang memusuhi orang ini. Dia mencuri Sam-kong-kiam, dia merusak namaku, dan seharusnya kau tahu. Kenapa membiarkan Bu-hiong ini memusuhiku dan kau tidak membela Suhengmu? Apa artinya ini, Sumoi? Kenapa kau menjadi gila seperti pencuri ini? Kau seharusnya menangkap pencuri ini, merampas pedangnya, dan menyerahkannya kepadaku. Kau tahu aku terfitnah dan si pemfitnah ini ada di depan mata. Tapi sekarang kau malah diam saja dan membiarkan aku diancam. Terlalu!"

Kim-mou-eng marah, tidak habis pikir, dan melotot memandang sumoinya itu. Tapi Salima yang balik merasa gusar dan mendelik pada Suhengnya, tiba-tiba maju ke depan, bendera kembali bergetar di tangan.

"Suheng, kau tidak perlu banyak bicara. Kau seharusnya tahu apa yang menjadikan aku begini. Kau melukai hatiku. Kau laki-laki mata keranjang!"

"Ha-ha, betul, Tiat-ciang Sianli," Bu-hiong tertawa tergelak. "Dia memang mata keranjang dan karena itu kita bunuh saja. Ayo gerakkan benderamu, serang dan bunuh dia...."

"Sing!" Pedang yang kembali menyambar mendahului Salima tiba-tiba berkelebat dan menusuk tujuh titik berbahaya di tubuh Kim-mou-eng. Begitu cepat dan bertubi-tubi hingga membuat Kim-mou-eng melompat tinggi. Hawa pedang benar-benar membuatnya seram. Begitu ganas.

Dan ketika sumoinya hendak bergerak dan menyerang, membantu pencuri ini, Kim-mou-eng berteriak menggerakkan kakinya ke bawah. Ketika melayang turun, ia menyambar dagu lawan yang saat itu sedang terhuyung.

"Sumoi, tunda dulu urusan kita. Biar aku menghadapi si hina ini kalau kau masih menghormatiku sebagai saudara seperguruan!"

Salima ragu, terhenti menahan benderanya, matanya terbelalak, dan Bu-hiong terkejut. Bu-hiong khawatir gadis itu terpengaruh dan berseru agar Salima tidak usah menghiraukan teriakan Suhengnya itu. Mereka harus menyerang bersama agar pendekar ini cepat dibunuh.

Bu-hiong menyebut-nyebut urusan Cao Cun yang membuat Salima panas. Nama putri Wang Taijin ini memang mudah menyulutkan api kemarahan. Salima menggeram. Dan ketika Bu-hiong mengelak tendangan Kim-mou-eng, pendekar itu ganti melepas satu tamparan panas ke arah lawan. Maka Bu-hiong buru-buru menyambung seruannya dengan kata-kata yang membakar.

"Nona, Suhengmu ini laki-laki hidung belang. Pernah kulihat dia mencium Cao Cun. Ih, mesranya! Ayo bunuh dan gerakkan benderamu itu!"

"Wuut!" Salima tiba-tiba meradang, melengking tinggi, tidak kuat mendengar omongan Bu-hiong ini. Hati yang sudah panas tiba-tiba seakan mendidih mendengar kata-kata itu. Suhengnya berciuman dengan Cao Cun!

Dan karena bayangan ini memang mudah mengobarkan kemarahannya, dan Bu-hiong berteriak lagi mengatakan lain-lain yang lebih memanaskan hati, sekonyong-konyong Salima memekik dan menerjang Suhengnya itu, tanpa ampun mengibaskan bendera, dan tangan kirinya pun bergerak dengan tenaga Tiat-Lui-Kang.

Kim-mou-eng terkejut sementara Bu-hiong terbahak gembira. Dan ketika sumoinya melengking dan memainkan bendera dengan ganas, sementara Bu-hiong juga memainkan Pedang Tiga Sinar itu dengan teriakan mengerikan yang membuat Kim-mou-eng pontang-panting tak karuan, maka Pendekar Rambat Emas ini memaki lawannya dengan mata membulat lebar, bukan kepalang kegusarannya. "Bu-hiong, kau laki-laki pengecut. Kiranya di samping hina sebagai pencuri rendahan, kau pun tukang fitnah yang suka memburuk-burukkan orang lain. Baiklah, aku akan menghadapimu dan jangan sombong dengan pedangmu yang ampuh itu...."

"Tar!" Kim-mou-eng mulai meledakkan Tiat-Lui-Kang. Kemarahannya tidak terkendalikan karena mulut berbisa Bu-hiong benar-benar membuat sumoinya terpengaruh; sumoinya tidak mau tahu lagi kebenaran cerita pencuri Sam-kong-kiam ini.

Kim-mou-eng sudah menghadapi serangan bertubi-tubi yang amat berat. Hampir dari segala penjuru dia menerima tusukan dan bacokan, belum lagi pukulan sumoinya yang disertai kibasan bendera. Sumoinya ini pun tidak dapat dipandang ringan.

Dan ketika Sam-kong-kiam memburu tanpa henti, sementara angin sambarannya membuat nyali menjadi ciut kalau tidak benar-benar tabah, akhirnya Kim-mou-eng berkelebat dan lebih menitikkan perhatiannya pada Bu-hiong, sedangkan sumoinya dilayani setengah hati, sementara tusukan dan babatan Bu-hiong menjadi pusat konsentrasinya. Kim-mou-eng tergetar oleh kehebatan ilmu pedang laki-laki ini, terutama keampuhan Pedang Tiga Dimensi itu sendiri.

Dan ketika pertempuran berjalan seru dan berkali-kali Kim-mou-eng menolak pedang dengan tamparan Tiat-Lui-Kang-nya, maka Salima yang mendapat pelayanan setengah hati saja ternyata mendesak Suhengnya ini dan berhasil membuat Suhengnya repot.

"Sumoi, jangan gila. Aku tidak memusuhimu!"

Namun, teriakan berkali-kali Kim-mou-eng ini tidak membawa hasil. Salima telah menutup pikiran sadarnya untuk tidak menanggapi seruan Suhengnya itu. Suhengnya betul-betul dianggap musuh. Kim-mou-eng tentu saja kewalahan dan panik.

Dan ketika suatu saat pedang di tangan Bu-hiong menyambar tenggorokannya, sementara bendera dan tangan kiri sumoinya berkelebat menghantam dadanya, maka Kim-mou-eng terpaksa memilih membiarkan dua pukulan sumoinya mengenai dirinya. Ia mengelak sambaran pedang, dan secepat itu menangkis Bu-hiong. Tangan kirinya bergerak menghantam muka lawan, dan ketika Bu-hiong berteriak kaget dan menangkis tapi terpelanting roboh, maka Kim-mou-eng sendiri juga menerima kibasan bendera dan tamparan sumoinya yang begitu keras.

"Dess!" Kim-mou-eng mengeluh. Dia sempoyongan menahan napas. Untungnya, sinkang sumoinya tidak sekuat sinkangnya sendiri, sehingga dia dapat menahan. Tapi bagaimanapun juga, sumoinya adalah seorang gadis sakti, dan tamparan serta kibasannya cukup menghancurkan kepala seekor gajah, maka Kim-mou-eng sesak dadanya dan hampir muntah darah, terhuyung, dan mengeluh memandang sumoinya itu. Tidak dilihatnya sedikit pun rasa kasihan di pandangan mata sumoinya itu. Kim-mou-eng menggigit bibir.

Dan ketika Bu-hiong kembali menerjang dan sudah membalik dengan tikaman miring menusuk ulu hatinya, maka Kim-mou-eng marah dan mulai mencabut *pit*-nya, senjata yang jarang digunakan. "Bu-hiong, kau benar-benar manusia busuk. Ingin kutahu siapa sebenarnya kau ini!"

Kim-mou-eng yang mulai membalas dan menangkis serta mengerahkan gingkang-nya, berkelebatan ke sana kemari, akhirnya tidak tahan dan terpaksa pula bersikap keras terhadap sumoinya. Pukulan-pukulan sumoinya dibalas keras dengan keras. Salima terkejut dan melengking marah. Perubahan yang dilakukan Suhengnya itu dianggapnya sebagai tanda tidak cinta lagi. Aneh wanita ini.

Dan ketika Kim-mou-eng berseru tinggi dan *pit* di tangan, serta tamparan-tamparan petir berkelebatan menyambar-nyambar menghadapi dua orang musuhnya, maka Bu-hiong maupun Salima tidak mampu mendesak lagi hingga kedudukan mereka berimbang. Tentu saja hal itu membuat Bu-hiong dan Salima marah. Mereka naik darah dan penasaran.

Bu-hiong tiba-tiba menggerakkan tangan kirinya, dan Kim-mou-eng terkejut melihat tangan kiri itu tiba-tiba berubah menjadi hijau. Sinar mengerikan mencuat dari telapak laki-laki aneh ini. Kim-mou-eng terbelalak.

Dan ketika Sam-kong-kiam lewat di sisi telinganya, sementara bendera di tangan Salima menderu di atas kepalanya, maka Kim-mou-eng yang mengelakkan tangan kiri, melakukan pukulan Tiat-Lui-Kang. Ia sudah memasuki kesempatan itu untuk menghantam leher Bu-hiong.

"Plak!" Kim-mou-eng terkejut. Untuk pertama kali adu pukulan ini bertemu secara langsung. Tiat-Lui-Kang diterima telapak kiri laki-laki aneh itu. Dua tangan mereka lekat, masing-masing tergetar, dan Kim-mou-eng terkesiap karena lawan memiliki sinkang yang kuat. Telapak lawan menutup dan hawa gatal tiba-tiba menyelinap, menembus Tiat-Lui-Kang-nya. Kim-mou-eng tercekal karena bau amis dan gatal merayap ke lengannya, disusul rasa perih dan panas. Inilah sinkang beracun!

Dan ketika lawan terbahak dan tidak mau membuka telapaknya yang sudah menjepit tangan Kim-mou-eng, tiba-tiba Salima membalik dan saat itu menyerang dari samping dengan kibasan bendera dan pukulan tangan kirinya.

"Ha-ha, sekarang dia mampus, Nona. Hantam pelipisnya dan bunuh dia!" Kim-mou-eng terperanjat. Sekarang tidak ada waktu baginya untuk melompat mundur, tangannya dicengkeram Bu-hiong. Satu-satunya jalan hanyalah menambah sinkang dan mendorong balik pukulan Bu-hiong yang hendak menjalar terus.

Secepat itu Kim-mou-eng membentak keras dan mengguncang tubuh. Hawa beracun yang hendak memasuki tubuhnya tiba-tiba dibakar dari dalam. Bu-hiong terkejut merasakan perubahan ini. Kim-mou-eng berontak.

Dan ketika bendera menyambar dan pukulan Salima juga sudah mendekati lehernya, tiba-tiba, apa boleh buat, Kim-mou-eng mengempos semangatnya dan mengeluarkan Pek-Sian-Ciang (Pukulan Dewa Putih).

"Auuugh!" Suara ini bagai aum singa. Salima dan Bu-hiong terkejut karena lengan Kim-mou-eng tiba-tiba berubah menjadi putih, berkedipan hawa keperakan memancar dari tubuh pendekar ini. Salima terkejut karena itulah Pek-Sian-Ciang. Dia mengenalnya betul. Tentu saja dia kaget karena bendera yang berkelebat tiba-tiba terpental, sebelum mengenai sasarannya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment