Chapter 51
Ketika Tiat-lui-kang meledak nyaring dan hancur di tengah jalan, mendadak Bu-hiong yang menyalurkan racun lewat cengkeraman ke tangan Pendekar Rambut Emas sekonyong-konyong menjerit dan melepas jepitannya. Ia merasa adanya suatu dorongan dahsyat yang menyambarnya dari depan.
Sinar kehijauan di tangannya tiba-tiba lenyap, hancur oleh sinar pulih yang meluncur dari tangan pendekar itu. Ketika laki-laki ini berteriak kaget dan terdorong mundur, Kim-mou-eng sudah menggerakkan tangan kirinya menghantam dada laki-laki itu, sementara *pit* di tangan kanan juga bergerak menotok lambung lawan.
"Mati aku...." Bu-hiong terbelalak, berteriak, dan mengeluh kaget.
Sam-kong-kiam di tangannya tiba-tiba menangkis. Gerakan ini sebenarnya kebetulan belaka karena terdorong refleks untuk melindungi diri, bukan menyerang. Namun, persis saat *pit* menyambar lambungnya dan pukulan Pek-sian-ciang menghantam dadanya, secara aneh dan luar biasa, pedang di tangan laki-laki ini mengeluarkan ledakan keras yang menangkis dua pukulan tersebut.
"Blam!" Asap hitam dan putih mengepul bersama. Kim-mou-eng terkejut karena *pit*-nya tiba-tiba patah. Pek-sian-ciangnya tertahan oleh kekuatan gaib Pedang Tiga Sinar. Saat ia berseru kaget karena kesaktian pedang pusaka itu, mendadak serangkum tenaga dahsyat menghempasnya tinggi hingga Kim-mou-eng mencelat seperti dilontarkan tenaga raksasa.
"Bumm....!" Kim-mou-eng terbanting ke bawah dengan keras, terguling-guling, dan akhirnya mengeluh di sana, sepuluh tombak dari titik perkelahian. Bu-hiong sendiri yang juga terpental oleh ledakan gaib menjerit kaget, membentur pohon hingga tumbang dengan suara yang hiruk-pikuk. Laki-laki ini terkubur daun-daunan dan ranting hingga hampir tak terlihat, batuk, dan muntah darah.
Sam-kong-kiam masih dicekalnya erat, tetapi laki-laki itu menganggap Pek-sian-ciang-lah yang membuatnya begitu. Ia tak tahu bahwa kekuatan gaib Pedang Tiga Sinar telah menyelamatkannya dengan mengeluarkan tenaga sakti yang meledak menangkis Pek-sian-ciang. Hanya Kim-mou-eng yang tahu benar masalah itu karena pendekar ini beradu langsung. Mengira Pek-sian-ciang yang merobohkannya, laki-laki ini melompat terhuyung dan terbirit-birit melarikan diri keluar dari timbunan daun-daunan itu.
"Tiat-ciang Sian-li, suheng-mu terlalu lihai. Biarlah lain kali kubantu kau!"
Salima tertegun. Ia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi dan mengira Pek-sian-ciang yang membuat Bu-hiong ketakutan. Melihat Bu-hiong melarikan diri hingga lenyap di balik hutan, Salima terisak dan memandang benci kepada suhengnya yang masih terduduk dengan napas sesak.
"Suheng, kau memang sombong. Kalau hari ini tak dapat kubunuh kau, biarlah lain hari aku membalas sakit hatiku!" Salima berkelebat, memutar tubuhnya, dan ikut melarikan diri meninggalkan Kim-mou-eng.
Kim-mou-eng mendelong dan semakin terbelalak melihat Bu-hiong ke kanan sedangkan sumoi-nya ke kiri. Begitu sadar dan melompat bangun, pendekar ini berteriak memanggil sumoi-nya, "Sumoi, tunggu....!" Namun, Salima tak menghiraukan. Ia terlanjur sakit hati oleh perbuatan suheng-nya, hingga lenyap dan tak dapat dikejar.
Kim-mou-eng terengah-engah dan jatuh terduduk, dadanya tiba-tiba nyeri. Baru sekarang ia batuk-batuk dan gentar menyaksikan kesaktian pedang pusaka itu, yang bukan hanya memiliki ketajaman luar biasa, tetapi juga tenaga gaib yang mampu menolak pukulan *sinkang*. Pendekar ini tak dapat mengejar sumoi-nya dan membiarkannya lolos, begitu juga Bu-hiong. Hal terakhir ini amat menyesalkan hatinya karena sekarang ia tahu siapa pencuri pedang keramat itu.
Sejam kemudian, setelah dadanya tak sakit lagi, pendekar ini bangkit berdiri dengan langkah lunglai ke arah selatan sambil diam-diam mengumpat Bu-hiong. Namun, begitu teringat persoalan Cao Cun, tiba-tiba semangatnya bangkit dan ia memutar langkah ke utara, menuju kota raja. Inilah awal mulanya ia dimusuhi sumoi-nya. Ia sempat menyesal kenapa hal itu bisa tercium oleh sumoi-nya. Mengingat janji pada putri Wang-taijin, Kim-mou-eng berkelebat meninggalkan tempat itu menuju kota raja untuk menengok Cao Cun di Istana Dingin.
Malam itu juga Pendekar Rambut Emas tiba di istana. Dengan ilmu meringankan tubuh yang luar biasa, sebentar saja Kim-mou-eng telah berada di belakang istana, tepat di kamar Cao Cun. Hatinya berdebar, teringat kisah romantika serta suka duka mereka. Namun, saat melihat kamar itu kosong, pendekar ini tertegun.
"Ke mana Cao Cun? Dipindah?"
Kim-mou-eng menyelinap ke kamar Wan Hoa, sahabat Cao Cun, yang berada di sebelahnya. Namun, kamar itu pun kosong. Pendekar Rambut Emas ini bingung dan segera menangkap seorang pengawal.
"Di mana putri Wang-taijin itu? Di mana pula sahabatnya?"
Pengawal itu menggigil ketakutan. "Aku.... hamba tak tahu, Taihiap. Wang-siocia sudah lama tidak ada di sini, disusul sahabatnya....!"
"Ke mana mereka?"
"Ke dunia asing, ke tempat suku liar dan diasingkan oleh Sri Baginda!"
Tempat bangsa Siung-nu memang dianggap bangsa Han sebagai tempat tandus yang tak ubahnya neraka. Kim-mou-eng terkejut dan marah, mengira pengawal itu berolok-olok. Saat ia mencengkeram tengkuk pengawal itu, si pengawal merintih ketakutan.
"Aduh, lepaskan aku, Taihiap. Sebaiknya kau tanyakan saja pada Wang-taijin di Chi-cou. Dia lebih tahu daripada aku."
"Kau tak bohong? Gadis itu benar-benar tak ada di sini?"
"Sumpah, Taihiap. Mereka memang tak ada di sini."
Pengawal itu pingsan setelah Kim-mou-eng menendang perutnya dengan lutut. Karena keterangan itu, malam itu juga Pendekar Rambut Emas menuju Chi-cou. Di sana, ia mengagetkan Wang-taijin yang langsung menangis dan menubruknya, lalu melapor mengenai sepak terjang Salima yang membuat bupati itu jatuh bangun.
"Taihiap, celaka. Sumoi-mu datang dan mengamuk di sini. Aku dan pengawalku dihajar habis-habisan. Dia kurang ajar!"
"Sudahlah," Kim-mou-eng merasa tidak enak. "Ceritakan apa yang terjadi dan kenapa sumoi-ku marah-marah di sini?"
"Dia mencari Cao Cun, entah kenapa marah-marah dan memakiku sebagai orang tua goblok. Sumoimu ganas dan telengas sekali."
Wang-taijin menceritakan semuanya, lalu mulai mencucurkan air mata saat menyinggung nasib Cao Cun. "Kau terlambat, Taihiap. Anak kesayanganku satu-satunya sudah tak kumiliki lagi. Kau benar-benar tega membiarkan keluarga Wang menerima musibah!"
"Apa yang terjadi? Kenapa kau bicara begitu?"
"Ah," bupati itu membelalakkan mata dengan marah. "Apakah kau tidak tahu, Taihiap? Anakku telah diambil orang. Cao Cun telah dinikahkan dengan pemimpin liar bangsa Siung-nu. Puteriku itu telah menjadi istri Raja Hu dan kini hidup di tengah suku bangsa itu. Dia merana di sana dan selalu menunggumu!"
"Jagad Dewa Batara....!" Kim-mou-eng mencelat, tak menyangka. "Putrimu telah menikah? Cao Cun telah menjadi istri orang dan hidup di tengah suku biadab?"
"Ya, itu yang terjadi, Taihiap. Dia menangis sepanjang hari menanti kedatanganmu yang tak kunjung tiba!"
"Aduh....!" Kim-mou-eng tiba-tiba mendekap dada dan duduk terhuyung. "Kenapa kau tidak menceritakan ini kepadaku? Kenapa kau tidak melapor?"