Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 52

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 52

"Melapor bagaimana, Taihiap? Menceritakannya bagaimana? Kau seorang kang-ouw, kau kelayapan dan berkeluyuran ke mana-mana. Mana mungkin aku mencarimu dan memberitahukan ini? Apakah mungkin aku dapat menemukanmu kalau tidak kau sendiri yang datang?"

Kim-mou-eng sadar, napasnya menjadi sesak dan tiba-tiba rasa berdosa yang besar menghimpit batinnya. Perasaan luka tiba-tiba menyengat. Ketika bupati itu tersedu dan menyesali nasib puterinya yang malang, tiba-tiba Kim-mou-eng menitikkan air mata dan ikut menangis.

"Maafkan aku, aku rupanya khilaf, Taijin. Aku sempat melupakan puterimu gara-gara urusan pribadi. Aku menyesal, biar sekarang juga aku berangkat menemui puterimu!"

"Untuk apa?" Bupati itu terbelalak. "Kau mau melarikan istri orang?"

Kim-mou-eng tertegun. "Tidak, jangan, Taihiap. Apa yang terjadi telah terjadi. Bagaimanapun puteriku harus menjadi wanita terhormat. Kau sebaiknya tak perlu ke sana kalau hanya untuk mengambil dan membawa puteriku itu. Hancur namaku nanti, juga Baginda akan murka!"

"Aku tahu," Kim-mou-eng menghela napas, menggigit bibirnya. "Aku tak bermaksud untuk melarikan seperti apa yang kauduga, Taijin. Melainkan semata ingin melihat keadaannya dan meminta maaf untuk semua kesalahanku. Aku berdosa, aku telah melupakan puterimu karena aku sendiri bertubi-tubi dilanda persoalan pribadi."

"Baiklah, kalau begitu aku setuju, Taihiap. Dan tolong titip surat ini untuk puteriku."

Wang-taijin buru-buru membuat surat dan menitipkannya pada Kim-mou-eng. Kim-mou-eng termangu-mangu. Ada perasaan kaget bercampur marah di hatinya, ada perasaan duka, tapi ada juga perasaan girang. Girang karena urusannya dengan Cao Cun tiba-tiba menjadi putus; urusan cinta, hal yang selama ini mengganjal hatinya dan membuat perasaannya terganggu.

Menjelang pagi, setelah semuanya selesai dan Kim-mou-eng menerima surat titipan Bupati Wang, akhirnya tanpa mengenal lelah dan tidak memikirkan istirahat, Pendekar Rambut Emas ini melakukan perjalanannya ke suku bangsa Siung-nu. Perjalanan ini memakan waktu dua hari, cukup jauh. Tanpa makan dan minum, Kim-mou-eng menuju ke perkemahan suku bangsa itu.

Dia tahu macam apa suku bangsa ini. Hampir seperti suku bangsanya sendiri dan merupakan suku yang dianggap setengah liar oleh orang-orang Han. Bangsa Siung-nu memang bangsa yang belum memiliki peradaban tinggi, dan Kim-mou-eng ngeri melihat Cao Cun harus tinggal di tengah-tengah suku bangsa semacam itu. Dua hari dua malam ini dia terguncang. Kabar itu memang belum dia ketahui; maklum, pendekar ini berbulan-bulan menjadi incaran orang kang-ouw dan dikejar-kejar sebagai pencuri Sam-kong-kiam. Tubuhnya menjadi lelah dan kuyu.

Ketika pagi itu Kim-mou-eng tiba di perkemahan dan dia tak tahu bahwa Raja Hu baru saja meninggal dunia, maka dengan tenang tapi hati-hati dia menyelinap masuk. Dia menuju ke kemah hitam yang merupakan kemah paling besar dan mudah diduga sebagai kemah pemimpin bangsa Siung-nu. Begitu masuk dan menyelinap ke dalam, mendadak yang pertama kali dijumpai adalah Wan Hoa!

"Wan Hoa...!"

Wan Hoa terkejut. Saat itu dia sedang menyiapkan bubur hangat untuk Ituci Yashi, anak laki-laki Cao Cun. Tentu saja dia terperanjat melihat kehadiran Kim-mou-eng. Pendekar Rambut Emas itu tahu-tahu telah berdiri di depannya dengan rambut kusut, mata sayu, dan pakaian lusuh; jelas pendekar ini tak merawat tubuhnya berhari-hari. Wan Hoa tertegun dan membelalakkan mata, piring di tangannya jatuh, bubur itu tumpah dan berceceran di lantai.

Begitu sadar, Wan Hoa memekik kecil lalu menghambur ke depan dan menampar bertubi-tubi ke muka Kim-mou-eng.

"Kim-mou-eng, kau laki-laki tak dapat dipercaya. Kau laki-laki busuk. Kau penipu dan jahanam!"

Wan Hoa menangis, mencakar, serta memukuli pendekar ini penuh kemarahan. Kim-mou-eng tidak mengelak, dia terhuyung ke sana kemari. Mukanya tiba-tiba bengkak dan pucat melihat sambutan Wan Hoa ini. Untuk kesekian kalinya dia melihat pembelaan Wan Hoa terhadap Cao Cun, pembelaan seorang sahabat sejati. Ketika Wan Hoa kelelahan dan akhirnya jatuh terduduk, wanita ini menangis tersedu-sedu menutupi mukanya.

"Kim-mou-eng, kau keji. Kau laki-laki tak bertanggung jawab. Kau pendekar yang tak pantas disebut pendekar...!"

Kim-mou-eng terengah, mukanya semakin pucat. "Wan Hoa, mana Cao Cun...?"

"Untuk apa mencari Cao Cun? Untuk apa datang ke sini? Kau hanya akan menambah sakit hati, Kim-mou-eng. Kau hanya akan menambah beban penderitaan saja terhadap sahabatku. Pergilah... pergilah kau dari sini dan jangan perlihatkan mukamu kepada kami!"

"Tidak," Kim-mou-eng gemetar, "aku datang untuk melihat Cao Cun, Wan Hoa. Aku datang untuk meminta maaf. Aku tahu kesalahanku, aku bersalah dan ingin mengaku dosa..."

"Cuh!" Wan Hoa tiba-tiba bangkit berdiri, mukanya merah seperti terbakar. "Cao Cun sekarang sudah menjadi istri orang, Kim-mou-eng. Tak guna kau menyesali kesalahanmu dan minta maaf kepadanya. Cao Cun telah benci kepadamu dan tak ingin melihat mukamu lagi!"

"Aku tak peduli." Kim-mou-eng semakin gemetar. "Aku ingin melihatnya sekali ini, Wan Hoa. Tolong panggil dia dan temukan aku padanya. Aku datang ingin menyampaikan surat ayahnya pula."

"Kau membawa-bawa nama Wang-taijin? Kau mau menipu dan membohongi kami lagi? Keparat, kubunuh kau, Kim-mou-eng! Kubunuh kau kalau tidak segera pergi dari sini. Pergilah, pergi...!"

Wan Hoa beringas, mengira Kim-mou-eng mengada-ada dan sudah apriori terhadap pendekar ini. Matanya yang terbelalak semakin berapi-api. Wan Hoa menyambar pisau dan mengacungkannya di depan Kim-mou-eng dengan jari menggigil. Orang akan merasa lucu melihat sikap gadis ini; Kim-mou-eng, tokoh yang demikian hebat, hendak dibunuh seorang gadis lemah biasa dengan pisau dapur. Barangkali orang kang-ouw akan terbahak melihat adegan ini.

Namun, Kim-mou-eng tiba-tiba mengeluh dan menitikkan air mata melihat keberingasan Wan Hoa. Dia berlutut dan merintih di depan gadis itu, "Wan Hoa, tolonglah aku. Aku benar-benar ingin bertemu dengan Cao Cun. Aku telah mencari kalian di Istana Dingin, aku telah datang ke Chi-cou pula bertemu dengan ayahnya. Aku ke sini untuk menjelaskan semuanya. Aku bersalah, tapi kesalahanku pun ada sebabnya. Tolong kau panggil dia dan suruh ke mari..."

"Kau nekat? Kau tak mau pergi?"

"Aku tak akan pergi sebelum bertemu Cao Cun, Wan Hoa. Panggil dia dan setelah itu aku akan menuruti semua kehendakmu."

"Keparat, kalau begitu kau menantang. Kau rupanya mengira aku main-main untuk membunuhmu... hih!"

Wan Hoa menerjang gemas dan menghunjamkan pisau itu ke leher Kim-mou-eng. Maunya menikam dan melampiaskan kemarahan, tapi karena jari yang menggigil, tikamannya meleset dan tergelincir mengenai pundak. Pisau itu menancap dan bergoyang, darah seketika menyemprot dan Wan Hoa menjerit. Lucu sekali, Kim-mou-eng yang terluka tapi Wan Hoa yang terpekik, seolah gadis itulah yang kesakitan. Kim-mou-eng ternyata tidak mengerahkan sinkangnya hingga pisau menembus kulit dagingnya.

Ketika Wan Hoa tertegun dan pisau itu masih menancap di pundak, tiba-tiba tirai kamar terbuka dan Cao Cun muncul.

"Kim-twako...!"

Seruan itu bagai angin segar bagi para bidadari. Kim-mou-eng menoleh, mukanya yang nyeri menahan sakit mendadak berseri. Dia bangkit berdiri dan memanggil nama gadis itu. Cao Cun terkejut dan bengong, tapi begitu dua mata beradu, Kim-mou-eng melompat ke depan. Mereka saling tubruk dan Cao Cun mengguguk di pelukan pendekar ini, yang juga gemetar namun girang bukan kepalang.

"Cao Cun, aku datang. Maafkan aku...!"

"Oooh...!" Cao Cun hanya mengeluarkan suara keluhan panjang tak berawal. Mereka bertangis-tangisan saling dekap. Cao Cun memeluk erat-erat pendekar yang dicintainya ini, sejenak lupa dan tak sadar akan kedudukannya. Kedatangan Kim-mou-eng yang amat tiba-tiba memang mengguncang wanita muda itu; Cao Cun lupa daratan.

Namun, ketika dua hati yang sama bergetar itu meledak penuh kebahagiaan dan Kim-mou-eng hendak mencium wanita itu, mendadak Cao Cun sadar. Dia cepat merenggut lepas dirinya dan berseru tertahan.

"Tidak, tidak... jangan, Kim-twako... jangan...!"

Cao Cun terhuyung, jatuh terduduk di atas kursi, dan menutupi mukanya. Tangis yang menghentak-hentak membuat wanita ini mengguguk; perasaannya tercabik-cabik. Ketika Kim-mou-eng terbelalak dan sadar akan apa yang hampir dia lakukan, Cao Cun tersedu-sedu berkata di antara derasnya air mata.

"Kim-twako, aku telah menjadi istri Raja Hu. Aku telah menjadi milik orang lain. Jangan kaulakukan itu dan pergilah, hubungan kita telah putus...!"

Kim-mou-eng menggigil. "Maaf, aku lupa, Cun-moi, aku tahu. Tapi aku datang bukan untuk melakukan yang tidak-tidak."

"Lalu apa maksud kedatanganmu? Mau apa kau ke sini?"

"Aku hendak meminta maaf, aku hendak mengaku dosaku..."

Cao Cun membuka matanya. Muka yang tadi tertutup itu sekarang dilepaskan, jari-jari lentik itu gemetar, mata kembali beradu pandang, dan Cao Cun diserang rindu yang hebat. Hampir dia mengeluh dan menubruk orang yang dicintainya lahir batin ini; dia tak kuat mendengar suara yang begitu memelas. Pandangan mata Kim-mou-eng penuh kesedihan dan penyesalan. Cao Cun mengguguk, tapi ketika dilihatnya pisau yang menancap di pundak Kim-mou-eng, wanita ini bangkit berdiri dengan terbelalak.

"Siapa yang menusukmu?"

Wan Hoa tiba-tiba melompat ke depan. "Aku, Cao Cun."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment