Chapter 53
"Hati-hati terhadap rayuannya dan jangan terkecoh!" Wan Hoa memperingatkan temannya. Ia merasa khawatir dan gelisah melihat adegan tadi, saat Cao Cun berpelukan dan nyaris berciuman dengan laki-laki itu.
Wan Hoa merasa hatinya tak keruan. Melihat adegan tersebut, hatinya terasa tertusuk, terluka, sekaligus waswas.
Ketika melihat temannya melepaskan diri dan Cao Cun mendekati Kim-mou-eng untuk menanyakan perihal pisau itu, Wan Hoa tiba-tiba berseru agar Cao Cun bersikap keras dan tidak lemah. Ia mendesak Cao Cun untuk mengaku terus terang tentang pisau yang tertancap di pundak Kim-mou-eng.
Wan Hoa ingin membunuh Pendekar Rambut Emas itu karena ia dianggap tidak mau pergi dan justru ingin membuat onar.
Namun, Cao Cun justru mengerutkan kening dan menegur temannya, "Wan Hoa, kau keterlaluan. Kim-twako tidak melakukan apa-apa; dia tidak bersalah. Mengapa kau menikam dan melukainya? Cabut pisau itu. Wan Hoa, obati lukanya dan segera balut!"
Wan Hoa terbelalak dan tertegun. "Dan kau menamparnya pula, Wan Hoa. Aih, kau keji. Kau jahat dan kejam terhadap tamu, sungguh keterlaluan!"
Cao Cun bergegas menghampiri Kim-mou-eng, lalu terisak sambil mengusap pipi Kim-mou-eng dengan lembut, nyaris mencium pipi yang tampak bengap serta memerah kebiruan itu. Dua pasang mata kembali beradu, dan Cao Cun menangis karena tidak sanggup menahan perasaannya.
Saat Wan Hoa masih diam dan tidak mau mencabut pisau serta mengobati luka Kim-mou-eng, Cao Cun merobek bajunya sendiri dan mencabut pisau itu. Darah mengucur, lalu ia segera memampatkan luka tersebut dengan robekan kain bajunya. Cao Cun bekerja dengan cepat dan segera membalut luka itu.
Kemesraan di antara mereka tidak dapat disembunyikan, membuat Wan Hoa merah padam. Ketika semuanya selesai dan Kim-mou-eng tertegun dengan perasaan berseri-seri, Cao Cun mundur. Pendekar Rambut Emas itu berbisik, "Terima kasih, Cao Cun." Semburat merah muncul di wajah Cao Cun.
Kini mereka duduk berhadapan. Cao Cun telah menguasai diri dan berhasil menenangkan guncangan hatinya. Meski kembali bertatapan, Cao Cun mulai bisa bertahan. Kim-mou-eng melihat sesuatu yang agung dan anggun di bola mata wanita itu. Sinar kemesraan mulai lenyap, digantikan oleh sikap seorang ratu.
Cao Cun rupanya berusaha mengingatkan diri bahwa ia adalah istri Raja Hu, bukan lagi wanita yang tidak terikat seperti saat berada di Istana Dingin. Ia adalah istri orang, "Ibu Negara" bangsa Siung-nu. Saat bibirnya mengeras dan sikapnya menjadi tegak, pertanyaan yang meluncur dari mulutnya memiliki nada yang berbeda; nada seorang wanita agung yang ingin menegakkan harkat dirinya.
"Kim-twako, apa yang kauinginkan dariku? Apa yang kaukehendaki hingga datang jauh-jauh ke sini? Aku sudah menyatu dengan bangsa Siung-nu, Twako. Jadi, jika kau hendak membawaku pergi dari sini, itu tidak mungkin. Aku istri Raja Hu!" Tekanan suara itu memiliki intonasi yang kuat.
Kim-mou-eng mengangguk dan menelan ludah, memahami kedudukannya serta kedudukan Cao Cun. Memang gadis itu sudah menjadi istri orang, tidak layak bagi mereka membicarakan masalah cinta. Masa itu telah lewat. Masing-masing sudah terpisah oleh pagar etika, dan ia pun memang tidak ingin memikirkan urusan cinta.
Kim-mou-eng datang untuk meminta maaf, itulah intinya. Maka, ketika Cao Cun bertanya apa maksud kedatangannya dan mengapa ia mengejar sampai sejauh ini, Pendekar Rambut Emas menarik napas dan berkata jujur, "Aku datang untuk menyatakan penyesalanku, Cun-moi. Aku datang untuk meminta maaf. Aku telah mendengar semua ceritamu dari ayahmu."
Cao Cun tersenyum. "Aku telah memaafkanmu. Apa yang terjadi memang sudah menjadi kodratku, aku tidak menyalahkan siapa-siapa."
"Tapi aku merasa merana dan berdosa, Cun-moi. Kalau saja aku cepat membebaskanmu dari Istana Dingin, tentu semua ini tidak akan terjadi. Aku menyesal, aku terlibat urusan bertubi-tubi yang membuatku tidak sempat menengokmu di sana!"
"Sudahlah, aku percaya, Twako. Sebaiknya urusan ini tidak perlu dibicarakan lagi. Nasi telah menjadi bubur, kita sama-sama tidak dapat menariknya kembali, dan sebaiknya kita lupakan kenangan kita dulu."
"Tentu, tapi kau pasti sakit hati, Cun-moi. Barangkali ada hal-hal yang membuatmu berprasangka buruk kepadaku. Aku ingin menjelaskan semuanya agar salah paham di antara kita terhapus."
"Hm!" Wan Hoa tiba-tiba mengejek. "Kau enak saja menyatakan maaf dan pura-pura bersikap bersih, Kim-mou-eng. Padahal apa yang kaulakukan terhadap keponakan Ma-yang sungguh tidak dapat diampuni!"
"Keponakan siapa?" Kim-mou-eng terkejut. "Ma-yang? Siapa Ma-yang ini?"
Mendadak, Wan Hoa melompat bangun. "Kim-mou-eng, untuk apa berpura-pura lagi di depan kami? Untuk apa bertanya siapa Ma-yang ini? Bukankah kau tahu dia dayang istana? Bukankah kau telah bertemu keponakannya dan berkata hal yang membuat sahabatku hampir gila oleh hinaanmu yang tidak bertanggung jawab itu? Bukankah kau mengatakan bahwa cintamu terhadap Cao Cun hanyalah palsu belaka untuk kedok permainanmu yang tidak berprikemanusiaan? Kau laki-laki yang tidak tanggung-tanggung menyakiti wanita, Kim-mou-eng. Kau pria jempolan yang pandai membinasakan cinta suci seorang wanita!"
"Wut!" Kim-mou-eng tiba-tiba meloncat dari tempat duduknya dan mencengkeram pundak Wan Hoa. "Apa kau bilang, Wan Hoa? Apa kau bilang dengan semua kata-katamu ini? Aku bertemu keponakan Ma-yang? Aku mengatakan bahwa aku mempermainkan Cao Cun?"
"Ya!" Wan Hoa meringis, membentak galak tanpa menghiraukan rasa sakitnya. "Kau terang-terangan mempermainkan Cao Cun, Kim-mou-eng. Kau menghancurkan cinta sucinya dengan ucapanmu yang amat berbisa!"
"Ucapan apa? Yang bagaimana?"
"Hm!" Wan Hoa masih beringas. "Kau menyatakan bahwa cintamu terhadap Cao Cun hanya sekadar penghibur saja, Kim-mou-eng. Bahwa cintamu hanya untuk sumoimu itu dan kau menyakiti sahabatku. Kalau kau memang tidak mencintai Cao Cun, tidak perlu kau membujuk rayunya sedemikian rupa. Kau laki-laki tidak bermoral karena menyepelekan cinta suci sahabatku yang agung. Kau manusia hina, terkutuklah kau di api neraka!"
"Wan Hoa...!" Cao Cun tiba-tiba menjerit. "Jangan ucapkan kutukan itu, jangan ungkit-ungkit lagi apa yang telah lewat. Aku memaafkan semua perbuatannya, biarlah yang sudah berlalu, sudah. Aku tidak ingin mendengar lagi semua benci dan kemarahanmu!"
"Biarlah, aku memang benci dan sengit pada orang yang bernama Pendekar Rambut Emas ini, Cao Cun. Aku memang muak dan benci kepada semua perbuatannya. Kau telah dihinanya setinggi gunung, aku tidak terima dan ingin mengutuknya habis-habisan!"
"Tidak, jangan, Wan Hoa. Diam, jangan katakan apa-apa lagi dan biarkan hati yang sudah sembuh ini tidak terluka!" Cao Cun bangkit berdiri dan menubruk sahabatnya, tapi Wan Hoa masih memaki-maki Pendekar Rambut Emas.
Kim-mou-eng sendiri pucat dan menggigil mendengar kutuk dan serapah gadis itu. Wan Hoa memakinya habis-habisan sebagai laki-laki yang tidak menepati janji, laki-laki yang tidak bertanggung jawab, dan amat hina karena mempermainkan cinta Cao Cun. Semuanya itu diucapkan gadis ini dengan berapi-api dan ganas. Kata demi kata menusuk perasaan Kim-mou-eng bagaikan pedang beracun yang sudah berkarat.
Ketika Wan Hoa kembali mengungkit-ungkit masalah dayang istana dan Kim-mou-eng dituduh tidak berprikemanusiaan dengan melontarkan kata-kata menyakitkan tentang cintanya yang palsu terhadap Cao Cun, mendadak Pendekar Rambut Emas ini menampar Wan Hoa sambil menggeram marah.
"Bohong, keparat kau... Aku tidak mengenal sama sekali dayang bernama Ma ini, Wan Hoa. Sumpah demi Langit dan Bumi, aku tidak mengatakan apa-apa pada dayang yang tidak kukenal itu. Kau melepas omongan busuk, atau dayang itu yang telah mempermainkan kalian dan merusak namaku... Plak-plak!"
Wan Hoa terbanting roboh dan menjerit. Cao Cun segera menubruknya sambil menangis tersedu-sedu. Wanita ini bingung dan marah akan apa yang terjadi. Satu sisi adalah sahabat, sementara sisi lain adalah pria yang ia cintai lahir batin, meskipun kini dengan sekuat tenaga Cao Cun berusaha mengusir api cinta itu.
Ketika Wan Hoa ditampar dan untuk pertama kalinya Kim-mou-eng menggeram bagaikan singa kelaparan, mendadak Cao Cun berbalik sikap menghadapi Pendekar Rambut Emas itu. Ia membentak penuh kemarahan, "Kim-mou-eng, ini rumahku! Ini adalah tempat tinggalku dan Wan Hoa adalah sahabatku. Berani kau menamparnya dan berkata dia mengeluarkan omongan busuk? Ma-yang memang mengatakan semuanya itu, Kim-mou-eng. Dan aku sebagai yang bersangkutan mendengar kata-katanya sendiri. Aku pun berani bersumpah demi Langit dan Bumi, aku tidak dapat menerima tindakanmu terhadap sahabatku dan kau enyahlah... Plak... plakk!"
Cao Cun ganti menampar wajah pendekar itu. Kim-mou-eng terbelalak dan terhuyung. Ia hampir tidak percaya pada apa yang dilakukan Cao Cun, gadis yang begitu lembut dan biasanya amat tunduk kepadanya mendadak menamparnya, membalas tamparannya terhadap Wan Hoa. Wan Hoa sendiri tertegun melihat kejadian itu.
Ketika Kim-mou-eng sadar dan terhuyung menerima tamparan Cao Cun, ia tersedak dan mengusap dua titik air matanya yang jatuh di pipi dengan gemetar.
"Cao Cun, kau menamparku sebagai balas dendam? Kau memaki aku untuk melampiaskan sakit hatimu? Baiklah, kuterima semuanya ini, Cun-moi. Tapi sumpah demi nenek moyangku, aku akan mencari dan membawa dayang jahanam itu. Aku akan menunjukkan kepada kalian bahwa aku tidak tahu-menahu urusan ini. Kalian tunggu beberapa hari, aku akan kembali dan membawa dayang itu!"
"Wut!" Kim-mou-eng lenyap berkelebat dengan rintihan memilukan, menyadarkan Cao Cun dan membuat wanita ini menangis tersedu-sedu. Pandangannya terasa gelap dan Cao Cun tiba-tiba roboh. Wanita ini hampir pingsan melihat apa yang telah ia lakukan; ia telah melontarkan kata-kata menyakitkan terhadap Pendekar Rambut Emas, pria yang sesungguhnya ia cinta dan merupakan pria pertama yang menjatuhkan hatinya, pria yang ia kagumi dan hormati.