Chapter 54
Maka begitu pria itu mengeluh, untuk pertama kalinya Cao Cun melihat Kim-mou-eng menangis. Wanita itu tak kuat menahan diri, ia mengeluh memanggil Wan Hoa, mengguguk, dan segera ditubruk oleh sahabatnya itu.
Mereka berangkulan, air mata sama-sama membanjir, dan dua sahabat itu merintih. Mereka memang berdarah; hati mereka sedang berdarah.
Ketika mereka bertangis-tangisan dan Cao Cun serta Wan Hoa saling berpelukan, tiba-tiba dari dalam terdengar tangis bayi. Anak Cao Cun rupanya menangis, dan wanita itu buru-buru berlari. Wan Hoa mengejar dan menyusul. Bayi yang masih kecil itu rupanya tahu kedukaan ibunya, ikut terguncang, dan kini menangis pula, tak kalah ramai dengan Cao Cun.
Ketika Cao Cun terengah-engah menyusui bayinya dan Wan Hoa mendekap serta mengguguk memeluk bayi laki-laki itu, di lain pihak Kim-mou-eng sendiri sudah berkelebat lenyap dan terbang menuju ke kota raja.
Omongan Wan Hoa tentang Ma-yang sungguh membuat pendekar ini terkejut. Hampir saja ia menganggap gadis itu memfitnah kalau Cao Cun tidak berdiri di belakang, mengakui, dan mendukung sahabatnya. Karena semua ini memerahkan telinganya dan Kim-mou-eng gusar bukan kepalang, perjalanan panjang yang seharusnya diselingi istirahat tidak dilakukan oleh pendekar ini.
Kim-mou-eng terus bergerak dan terbang menuju selatan. Seluruh ilmu lari cepatnya dikerahkan hingga bayangannya melesat seperti iblis. Hampir-hampir tak terlihat.
Dua hari kemudian, ia tiba di kota raja, langsung memasuki kembali istana, dan mengorak-abrik para dayang. Akhirnya, dengan muka beringas dan kotor penuh debu, ia menemukan dayang itu—dayang yang memang memiliki hubungan dengan Mao-taijin, si menteri yang licik.
"Kau melakukan fitnah apa terhadap diriku? Kau mengeluarkan omongan busuk apa saja terhadap Cao Cun mengenai diriku?" Kim-mou-eng menerkam dayang ini dan membentak, membuat si dayang ketakutan.
Dayang ini nyaris pingsan. Kedatangan dan sikap Kim-mou-eng yang begitu buas membuat dayang ini lumpuh; ia tiba-tiba tak dapat menjawab, seluruh tubuhnya menggigil.
Ketika Kim-mou-eng membentaknya lagi dan menyuruhnya bicara, mendadak dayang yang sudah seakan terbang nyawanya itu mengeluh, "Ampun... ampun... aku tak mengerti apa yang kau maksud, *Taihiap*. Aku tak mengerti dosa apa yang telah kulakukan kepadamu!"
"Bohong! Kau menipu. Kau telah menghasut dan menyebarkan omongan busuk kepada Cao Cun. Kau menjelek-jelekkan aku di hadapan gadis itu!"
"Cao Cun siapa, *Taihiap*? Gadis mana?" Dayang ini gugup, bingung, dan lupa pada Cao Cun. Karena di Istana Dingin, ia lebih dikenal sebagai Wang-siocia (Nona Wang)—ayahnya yang bupati lebih mengakrabkan panggilan Cao Cun sebagai Wang-siocia—dayang ini lupa sejenak dan benar-benar tidak tahu.
Kim-mou-eng marah dan mencengkeram tengkuk dayang itu, menjepitnya seperti besi panas. Ketika dayang itu mengaduh kesakitan minta dilepas, Kim-mou-eng membentak, "Yang kumaksud adalah putri Wang-taijin, Wang Cao Cun. Kau tentu tak mengingkari, bukan? Atau hidungmu ingin kupencet?"
Kim-mou-eng mengerahkan *sinkang*-nya, jari-jarinya berkerotok dan tiba-tiba berwarna merah seperti api. Tentu saja dayang itu kaget dan menjerit tertahan. Tiba-tiba celananya basah! Ketika Kim-mou-eng menghardik dan menyuruh dayang itu mengaku, akhirnya dengan tangis beriba-iba, ia berkata, "Be... benar... aku salah, *Taihiap*. Aku mengakui itu, jangan bunuh aku. Aku pun hanya alat... aku..."
"Kau sudah mengaku?" Kim-mou-eng memotong tak sabar. "Kau sekarang berani mengakui ini di depan Wang-siocia? Kalau begitu baik, sekarang juga kau ikut aku ke bangsa Siung-nu!"
Kim-mou-eng berkelebat, tak menunggu penjelasan dayang itu tentang Ma-taijin, ia berlari cepat meninggalkan istana, terbang kembali ke perkemahan bangsa Siung-nu.
Perjalanan pulang-balik itu dilakukan Kim-mou-eng selama hampir tujuh hari; tak heran jika pakaiannya penuh keringat dan nyaris dekil. Bau apek dan kecut tak dihiraukan sama sekali. Ketika ia tiba di perkemahan itu dan Cao Cun serta Wan Hoa terbelalak melihat keadaan Kim-mou-eng, pendekar ini sudah membanting Ma-yang di depan dua wanita itu.
"Nah, sekarang kita buktikan baik-baik, Wan Hoa. Aku yang jahanam atau siluman ini!"
Ma-yang mengeluh, tersungkur, dan menangis di depan dua wanita itu. Tentu saja ia mengenal Cao Cun dan Wan Hoa. Ia pucat dan lemas karena sudah jatuh keberaniannya, dan dua hari ini tak mampu makan minum dengan baik. Sikap Kim-mou-eng yang begitu beringas membuat dayang ini ketakutan; lagi-lagi ia merasa nyawanya di ujung tanduk.
Ketika Kim-mou-eng menyuruhnya bangun dan dayang itu tersedu-sedu, ia mendapat bentakan bengis, "Sekarang katakan pada mereka apa yang sesungguhnya terjadi. Benarkah kau menyuruh keponakanmu dan bicara seperti yang kaukatakan kepada Cao Cun?"
"Ampun...!" dayang ini menggigil. "Aku... aku hanya alat, Kim-taihia... aku hanya melakukan perintah dari atas..."
"Tak perlu macam-macam. Sekarang katakan, betulkah kau menyuruh keponakanmu mencariku dan aku bertemu keponakanmu itu?"
"Tidak... tidak betul..."
"Dan betulkah kau mengatakan yang macam-macam kepada keponakanmu itu sesuai pemberitahuanmu terhadap Cao Cun?"
"Tidak... tidak... ampun, *Taihiap*... aku..."
*Dess!* Dayang ini mencelat. Kim-mou-eng telah menendangnya hingga Ma-yang menjerit, terpental, dan menumbuk dinding kemah hingga membalik seperti bola. Ketika ia menangis tak keruan dan Kim-mou-eng berkelebat mencengkeram tengkuknya, pendekar itu berkata, "Nah, sekarang ceritakan semuanya kepada Cao Cun, dayang hina. Bersihkan namaku dan katakan kenapa kau demikian keji merusak namaku padahal selamanya aku tak pernah mengenalmu... Bruk!"
Kim-mou-eng melempar dayang itu di kaki Cao Cun. Akhirnya, dayang ini meledak tangisnya dan mengguguk memeluk kaki Cao Cun.
"Wang-siocia, ampunkan aku... aku bersalah. Memang apa yang pernah kukatakan padamu itu adalah bohong. Aku tak pernah mengirim keponakanku mencari Kim-taihia. Kim-taihia tak bersalah, aku mohon ampun dan sukalah kau membebaskan aku dari kemarahannya...!"
Cao Cun mengerutkan kening. "Jadi kau memfitnah?"
Dayang ini menangis tersedu-sedu, mengangguk berulang-ulang, dan tak dapat meneruskan kata-katanya. Sinar penuh kemarahan dari Kim-mou-eng membuat dayang ini ketakutan hebat. Cao Cun tertegun dan terdiam mendengar itu, begitu pula Wan Hoa. Tiba-tiba mereka saling pandang, dan rasa penyesalan besar membayang di muka Wan Hoa.
Gadis inilah yang paling sengit mencaci Kim-mou-eng; dialah yang paling agresif dan kasar menuduh Kim-mou-eng, menganggap pendekar itu tak dapat dipercaya dan merendahkan cinta yang agung. Wan Hoa tiba-tiba pucat dan mulai khawatir terhadap diri sendiri, diguncang rasa berdosa yang mengganggu.
Ketika Wan Hoa mulai cemas sementara Ma-yang tersedu dalam tangisnya, mendadak gadis ini meloncat mencengkeram dayang itu.
"Ma-yang, selama ini kau menghibur dan baik kepada kami. Kaulah yang membesar-besarkan hati kami dengan penantian Kim-mou-eng. Kini kau bicara begitu rupa, apakah semuanya ini benar atau kau dipaksa Pendekar Rambut Emas itu?"
Kim-mou-eng terkejut. Cao Cun juga terkejut; kiranya Wan Hoa masih curiga, dan sebersit syak wasangka rupanya masih membuat gadis itu tak gampang percaya. Kini ia menanya dayang itu, dan pertanyaannya jelas menaruh kecurigaan yang tak terselubung. Cao Cun sendiri tak ada pikiran atau dugaan ke situ. Wan Hoa terang-terangan ingin mengorek pengakuan dayang itu secara tuntas.
Tapi Ma-yang yang rupanya tak ingin mengulang kesalahan dan mengguguk di depan Wan Hoa, ternyata menggelengkan kepala.
"Tidak... tidak, Lie-siocia. Aku tak dipaksa Kim-taihia dan mengaku sejujurnya..."
"Kalau begitu kenapa kau menjelek-jelekkan Kim-mou-eng? Bukankah Kim-mou-eng selamanya tak pernah mengganggu dirimu?"
Ini pun pertanyaan yang memunculkan kecurigaan. Wan Hoa rupanya tak mau menyerah begitu saja mengenai masalah ini, mendorong dan memaksa diri untuk melawan rasa bersalah kalau Kim-mou-eng ternyata benar. Ia terlanjur bermain basah. Ketika Cao Cun kembali mengerutkan kening dan menganggap pertanyaan temannya masuk batas wajar dalam usahanya mengorek sesuatu, Ma-yang mulai menjelaskan duduk perkaranya, kini mendapat kesempatan untuk membela diri.
"Aku memang tak ada permusuhan dengan Kim-taihia, *Siocia*. Tapi Sam-thaikam dan Mao-taijin memiliki permusuhan itu. Aku disuruh Sam-thaikam untuk berbuat semua kebohongan itu, sementara Sam-thaikam sendiri diminta Mao-taijin untuk memfitnah Kim-taihia. Jelasnya, aku hanya alat dan terpaksa membujuk Wang-siocia atas perintah mereka."
Wan Hoa pucat. "Sam-thaikam? Mao-taijin?"
"Ya, mereka itulah yang menyuruhku, *Siocia*. Karena itu, aku hanya alat dan ampunkan semua dosa-dosaku."
"Oooh...!" Wan Hoa terhuyung, melepaskan dayang itu, dan kini pucat memandang Kim-mou-eng.
Dayang itu sudah menceritakan pada mereka apa yang sesungguhnya terjadi; kali ini Ma-yang bicara jujur. Apa saja yang diragukan Wan Hoa boleh ditanyakan, dan kian lama gadis itu kian membelalakkan matanya. Ketika semuanya selesai dan Wan Hoa mendekap dadanya, ganti Kim-mou-eng yang menceritakan semua kisahnya, kesulitan-kesulitannya, dan halangan apa saja yang membuat ia tak dapat menengok Cao Cun di Istana Dingin.