Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 55

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 55

Urusan bangsanya terkait Bi Nio membuat kaisar pusing. Sang kaisar dituduh menghina bangsa Tartar, dan karena itu Kim-mou-eng harus bertindak. Kematian Gurba membuat pendekar ini menjadi pemimpin bangsanya, menggantikan suhengnya. Kim-mou-eng menjelaskan semuanya secara gamblang tanpa ada yang dikurangi atau ditambah.

Ketika ia bicara tentang Sam-kong-kiam dan kini dikejar-kejar orang kang-ouw, bahkan sumoinya pun memusuhinya hingga membuat Kim-mou-eng tak dapat memikirkan Cao Cun, maka semua cerita ini seketika membersihkan nama Pendekar Rambut Emas itu. Wan Hoa terisak, sementara Cao Cun tertegun dan kian lama kian terharu. Benar kiranya kepercayaan hatinya selama ini bahwa Kim-mou-eng bukanlah pendekar "imitasi" dan gangguan yang dihadapi pendekar itu memang berat. Kim-mou-eng harus menghadapinya seorang diri.

Kekaguman dan cinta Cao Cun tiba-tiba muncul; wanita ini mendadak mengalirkan air mata dengan deras. Kini jelaslah sudah apa yang sesungguhnya terjadi bahwa Mao-taijin berdiri di balik semua ini, menjadi dalang dari segalanya. Cao Cun disambar keharuan besar melihat kesulitan yang dihadapi pria pujaannya. Begitu besar keharuan ini hingga Cao Cun terisak, menangis, dan menubruk Kim-mou-eng.

Ketika Wan Hoa terlongong dan pucat pasi melihat Pendekar Rambut Emas tak dapat disalahkan sedikit pun, Cao Cun sudah mengguguk menciumi wajah pendekar itu, ambrol dan lupa diri bahwa ia sudah menjadi istri orang.

"Kim-twako, maafkan kami. Kiranya kau benar-benar tak bersalah. Mao-taijin lagi-lagi menjadi dalang dari semua kisah kita. Aduh, aku menyesal atas kesan jelek yang selama ini melekat di hati kami, Twako. Kau maafkanlah kami berdua dan biar kelak kami berdua menjadi pelayanmu!" Cao Cun mengguguk, menciumi pendekar itu, dan mengusap air matanya dengan baju Kim-mou-eng yang dekil, tak peduli baunya, dan berulang-ulang mengusap tanpa henti.

Air mata wanita itu mengalirkan semacam kehangatan di hati Kim-mou-eng, merembes hingga ke relung hati yang paling dalam. Kim-mou-eng tersenyum penuh bahagia, senyum nikmat, senyum puas. Ia merasa berada di awang-awang yang paling indah dipeluk wanita ini. Sekarang namanya sudah bersih; rasa geram kini tertumpah pada Mao-taijin, keparat si menteri dorna itu.

Namun, ketika Cao Cun mengguguk dan menciumi dirinya, mendadak tangis seorang bayi mengganggu mereka. Seorang wanita Xiongnu muncul dengan muka pucat, membopong Ituci Yashi, "Hujin, anakmu minta mimik!"

Cao Cun dan Kim-mou-eng kaget. Mereka berdua tiba-tiba sama-sama sadar. Wan Hoa segera berlari menyambar bayi laki-laki itu. Dialah yang seharusnya merawat dan menyerahkannya pada Cao Cun. Cao Cun melepaskan Kim-mou-eng. Semua orang tiba-tiba dihentak ke alam kenyataan. Kim-mou-eng tiba-tiba menggigit bibir dan menahan semacam luka di hatinya. Entahlah, melihat Cao Cun menyusui bayinya tiba-tiba membuat pendekar ini memejamkan mata. Ada semacam gangguan tidak enak di hati.

Ketika Cao Cun menerima bayinya dan sudah menenangkan bayinya yang menangis itu dengan sesapan buah dadanya, maka tanpa diketahui seorang pun, tiba-tiba Kim-mou-eng lenyap berkelebat. Pendekar ini tak mau diganggu perasaan bermacam-macam lagi, merasa urusannya selesai dan Ma-yang ditinggal di situ. Namanya telah bersih kembali, itu yang pokok.

Cao Cun dan yang lain tidak tahu kalau Pendekar Rambut Emas ini telah meninggalkan kemah. Mereka semua sibuk oleh tangis si bayi yang minta mimik ibunya. Ketika bayi itu sudah tenang kembali dan Cao Cun serta Wan Hoa sadar, maka pertama-tama yang mencari Pendekar Rambut Emas itu adalah gadis ini. Ia ingin meminta maaf dan menyatakan penyesalannya. Wan Hoa malu tapi ingin mengakui kekalahan; betapapun Wan Hoa adalah gadis jujur.

Namun ketika tak dilihatnya lagi pendekar itu, Wan Hoa terpekik kaget, "Dia tak ada!"

Cao Cun terkejut. Ia menoleh dan tak melihat lagi pendekar itu di situ. Semuanya mencari namun gagal. Wan Hoa merasa kecewa dan tiba-tiba menangis, keluar dan mencari-cari Kim-mou-eng ke sana kemari. Namun ketika disadarinya bahwa Kim-mou-eng tak ada lagi di situ dan Pendekar Rambut Emas lenyap sebelum ia menyatakan maafnya, tiba-tiba Wan Hoa mengguguk dan meledak tangisnya.

"Kim-mou-eng, maafkan aku... maafkan aku!" Wan Hoa berputar-putar, tak menemukan, dan akhirnya jatuh terduduk di luar kemah. Cao Cun dan yang lain sibuk menghibur gadis ini.

Ketika Wan Hoa menubruk dan dipeluk Cao Cun, wanita itu berkata, "Sudahlah, aku telah mintakan maaf bagi kita berdua, Wan Hoa. Tak perlu menyesal dan bangunlah, Kim-twako telah memaafkan kita berdua, kau dan aku."

"Tapi aku ingin menyatakan penyesalanku dengan mulutku sendiri, Cao Cun. Aku tak puas dan akan selalu dikejar-kejar rasa berdosa bila belum melakukan itu!"

"Tapi Kim-twako tak ada di sini. Tanpa keinginannya tak mungkin kita bakal bertemu dengannya."

"Itulah! Itu yang membuat aku kecewa, Cao Cun. Kalau saja tadi... ah, sudahlah, aku memang tak beruntung..." Wan Hoa yang menangis lagi di pelukan Cao Cun akhirnya menahan kata-katanya yang hendak mengatakan tentang pelukan antara Cao Cun dan Pendekar Rambut Emas tadi, bahwa itu yang membuat ia kehilangan kesempatan. Wan Hoa jadi menyalahkan diri sendiri dan berkali-kali menampari mulutnya. Ia merasa berdosa dengan mulutnya yang tajam itu, yang suka "menyengat" Kim-mou-eng dengan kata-kata pedas.

Cao Cun tentu saja tak membiarkan sahabatnya berduka terus. Ketika ia menghibur dan berkata bahwa sebaiknya Wan Hoa menemaninya di kamar untuk menenangkan Ituci Yashi yang menangis karena ngeri mendengar keributan itu, akhirnya Wan Hoa menurut. Ia berhenti menangis, digandeng, dan menemani Cao Cun ke kamar pribadi. Di sini, tanpa terdengar siapa pun, mereka menumpahkan air mata; keduanya sama-sama menyesal.

Karena Kim-mou-eng telah pergi dan tak mungkin mereka bertemu pendekar itu kalau bukan atas kehendak Kim-mou-eng sendiri, maka Wan Hoa melepas sesalnya dengan berpuasa tujuh hari serta berdoa untuk keselamatan Kim-mou-eng. Semoga pendekar itu mau memaafkannya dan diberi keselamatan oleh dewa yang agung.

Cao Cun terharu dan mendekap sahabatnya ini. Kedukaan Wan Hoa berarti kedukaan dirinya pula. Ketika Wan Hoa mulai tenang dan dapat dibujuk untuk menerima semua kisah mereka sebagaimana adanya, akhirnya Wan Hoa dapat menerima semuanya itu dan kembali mendampingi Cao Cun sebagaimana biasa, merawat dan memelihara keponakannya yang mungil, Ituci Yashi. Cao Cun sudah dianggap seperti saudara sendiri dan hubungan mereka memang melebihi saudara, itulah sebabnya anak laki-laki Cao Cun ini dianggap sebagai keponakannya pula. Wan Hoa tak memedulikan hubungan darah, anak Cao Cun dianggap seperti anak atau keponakannya sendiri.

Karena Wan Hoa mulai tenang dan sedikit-sedikit mulai dapat tersenyum serta bermain-main bersama bayi laki-laki itu, maka Cao Cun merasa lega dan tenang pula. Mereka berdua seolah dapat melupakan kejadian itu; di luar tak tampak. Tapi Cao Cun yang sesekali memergoki Wan Hoa menangis sendiri di kamarnya dapat menduga bahwa penyesalan Wan Hoa belum tuntas dan karena itu ingin menemui Kim-mou-eng, siap mengutus seseorang untuk mencari pendekar itu. Tapi, berhasilkah kiranya? Cao Cun sendiri sering menghela napas panjang.

Hari itu dua pembesar itu sama-sama duduk berhadapan. Mereka sama-sama muram; yang satu menyilangkan kaki dengan gelisah sedangkan yang lain mengepal tinju dan melotot gemas.

"Jadi Ma-yang diculik Kim-mou-eng, Taijin?"

"Ya, itu yang kudengar dari pengawalku, Taijin. Dan sampai sekarang dayang itu tak kembali juga. Aku khawatir bahwa ia akan membuka rahasia."

"Tentu. Kim-mou-eng pasti memaksanya. Keparat Pendekar Rambut Emas itu!" pembesar pertama yang bangkit berdiri tiba-tiba memanggil seseorang. Kakek bercakar baja muncul di situ, berkelebat, dan sudah membungkuk memberi hormat.

"Ada perintah, Taijin?"

"Tidak, hanya aku ingin mengajakmu bercakap-cakap. Duduklah!" pembesar itu mempersilakan kakek ini. Matanya berputaran tak tenang dan kembali ia memandang temannya, pembesar kedua yang selalu menyilang-nyilangkan kaki itu.

Ketika mereka saling pandang dan kakek bercakar baja ini bingung, maka pembesar pertama—yang bukan lain Mao-taijin—berkata, "Lojin, apa yang harus kulakukan kalau Pendekar Rambut Emas itu ke sini? Apakah pengawal di luar cukup ketat berjaga?"

"Hamba mengerahkan tiga ratus pengawal pendam, Taijin. Keadaan di luar tak perlu menggelisahkan Paduka dan cukup aman. Hamba berani jamin."

"Tapi pengawal saja tak cukup. Kita harus mempunyai pembantu andalan. Bagaimana pendapatmu, Taijin?" Mao-taijin menoleh pada temannya, pembesar gendut yang bukan lain Sam-thaikam, pembesar kebiri yang menjadi kepala di Istana Dingin.

Hari itu pembesar kebiri itu menceritakan hilangnya Ma-yang, memberitahu bahwa Kim-mou-eng datang menculik dayang ini—tentu ada hubungan dengan Wang-siocia. Mao-taijin terkejut dan pucat mendengar itu. Karena kepandaian Kim-mou-eng selalu menggetarkan orang dan menteri ini kecut atas pembalasan pendekar itu, maka ia mau berjaga-jaga dan mengajak Sam-thaikam bicara. Tentu saja mau menyelamatkan diri sendiri dan bersiap-siap kalau Kim-mou-eng datang.

Sam-thaikam memaklumi, bahkan thaikam ini pun juga kecut kalau Kim-mou-eng sampai mencarinya pula, ia akan dituntut tanggung jawabnya. Maka ketika Mao-taijin bertanya bagaimana pendapatnya kalau mereka memiliki pembantu andalan, tiba-tiba pembesar ini mengangguk.

"Benar, kita harus memiliki pembantu yang dapat dipercaya, Taijin. Aku sependapat denganmu, tapi tak tahu siapa orangnya yang dapat dijadikan pembantu itu. Apakah Lojin dapat memberi tahu kami?"

Sin-kee Lojin, kakek bercakar baja itu, tersipu. Sebenarnya omongan ini sama dengan ketidakpercayaan dua pembesar itu kepadanya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment