Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 56

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 56

Sin-kee Lo-jin memang tak dapat mengalahkan Kim-mou-eng. Maka ketika orang bertanya kepadanya dan kakek ini merasa sedikit bersalah karena tak dapat melindungi majikannya, Sin-kee Lo-jin berpikir keras untuk memberikan jawaban.

"Hamba sendiri belum mengetahui orangnya, Taijin. Tapi beberapa hari ini hamba mendengar kabar munculnya dua orang sakti dari Bhutan, juga munculnya Siauw-bin-kwi yang hamba kira tewas beberapa waktu yang lalu!"

"Siauw-bin-kwi? Dia masih hidup?"

"Ya, dan bersama dua tokoh Bhutan, Taijin. Tapi di mana mereka sekarang, hamba tidak tahu."

"Celaka, sialan!" Mao Taijin membanting kaki dengan gemas, lalu tiba-tiba membelalakkan mata. "Eh, Lo-jin, kau menyebut-nyebut dua tokoh Bhutan. Siapa mereka ini dan bagaimana pula kepandaiannya?"

"Mereka sakti, Taijin. Hamba mendengar mereka tak kalah sakti dengan Siauw-bin-kwi!"

"Aku tak tanya itu. Yang kumaksud adalah bagaimana jika mereka melawan Kim-mou-eng? Siauw-bin-kwi sendiri tak dapat mengalahkan Kim-mou-eng!"

Sin-kee Lo-jin pucat. "Maaf, hamba pribadi belum tahu benar, Taijin. Tapi kalau mereka bersama Siauw-bin-kwi, tentu kepandaian mereka hebat. Siauw-bin-kwi kabarnya cacat, dua kakinya buntung. Dua tokoh Bhutan ini selalu menyertainya dan kabarnya hampir saja menangkap Kim-mou-eng; sumoinya tertangkap dan ditawan dua orang Bhutan itu."

"Tiat-ciang Sian-li tertangkap?" Mao Taijin melebarkan mata. "Dan mereka hampir membunuh Kim-mou-eng? Ah, bagus, Lo-jin. Agaknya ini yang kucari-cari. Temukan mereka. Suruh dua orang Bhutan itu kemari dan bilang ribuan tail emas siap memanjakan mereka!"

Menteri itu dilanda perasaan girang, tertawa bergelak dan merasa inilah berita bagus. Dua orang sakti itu boleh disuruh datang. Sam-thaikam juga bersinar-sinar, tapi teringat Siauw-bin-kwi, mendadak pembesar kebiri ini mengerutkan kening.

"Ah, agaknya tak gampang. Bagaimana kalau Bin-kwi ikut mereka?"

Mao Taijin tertegun.

"Ingat," Sam-thaikam melanjutkan, "Bin-kwi dan kawan-kawannya itu tak dapat kita pergunakan, Taijin. Mereka dahulu telah membantu mendiang Pangeran Muda dan menyerang Kaisar. Kalau kita mempergunakan tenaga mereka dan Kaisar tahu, tentu kita repot. Sebaiknya kita berpikir hati-hati agar tidak menyesal di kemudian hari."

"Hmm," Mao Taijin mengangguk-angguk, tertawa lebar. "Yang akan kita pergunakan adalah dua tokoh Bhutan itu, Taijin. Bukan Bin-kwi atau teman-temannya. Aku sudah tahu bahwa mereka tak mungkin boleh menampakkan diri lagi di sini, tapi kalau dua tokoh Bhutan itu, bukankah mereka masih baru? Agaknya ini persoalan kecil, bisa diatur!"

Sin-kee Lo-jin tersenyum. Orang-orang besar memang selalu begitu, selalu bilang bisa diatur dan menganggap segala sesuatu remeh. Memang tampaknya optimis, tapi bisa juga mencelakakan diri sendiri kalau tidak hati-hati, karena semuanya ini saling kait-mengait.

Ketika majikannya tertawa lebar dan Sam-thaikam ikut tersenyum, pembesar ini bertanya, "Baiklah, bagaimana kalau begitu, Taijin? Maukah dua tokoh itu datang kemari? Aku masih menyangsikan, jangan-jangan si Setan Ketawa itu pun akan ikut kemari karena mereka adalah sahabat!"

"Kau jangan kecil hati," Mao Taijin melepas tawanya. "Bukankah kita dapat menyuruh dua orang itu menghalangi Bin-kwi? Kalau mereka mau bekerja sama dengan kita, tentu mereka harus melepas si Setan Ketawa itu, Taijin. Kalau tidak, tentu kita repot. Yang penting sekarang adalah bagaimana mengundang mereka. Dan agaknya Lo-jin dapat melakukan ini!"

Sin-kee Lo-jin menelan ludah. "Hamba sanggup, Taijin. Tapi orang-orang kang-ouw biasanya orang-orang yang tak gampang diatur. Mereka aneh, juga kadang-kadang bersikap di luar dugaan hingga kita harus waspada."

"Sudahlah, kau sanggup mencari mereka, bukan?"

"Tentu saja."

"Kalau begitu sekarang kau berangkat. Katakan pada mereka bahwa selaksa tail emas menanti mereka ditambah sebuah kedudukan tinggi!"

Sin-kee Lo-jin mengangguk, bangkit berdiri, dan mau melompat keluar. Tapi baru ia menggerakkan kaki, tiba-tiba tiga bayangan berkelebat dan suara yang menggetarkan dinding ruangan terdengar di situ.

"Ha-ha, tak perlu mencari kami, Taijin. Kami datang!"

Tiga bayangan susul-menyusul berdiri di situ dengan gerakan yang sangat cepat hingga Sin-kee Lo-jin maupun yang lain bengong. Sin-kee Lo-jin terkejut melihat kedatangan tamu tak diundang, matanya melotot. Tapi ketika ia melotot dan dikira marah, mendadak seorang di antara tiga tamu ini mengibas.

"Cakar Ayam, pergilah. Tak usah mendelik di sini!" teriak Sin-kee Lo-jin.

Tiba-tiba ia disambar tenaga begitu hebat, terangkat, dan terlempar keluar. Ia mencoba menahan tapi tetap kalah. Ketika Ayam Sakti itu menjerit dan bergulingan di luar, Mao Taijin berseru keras sambil mengangkat lengannya.

"Tahan, jangan sakiti dia!"

Pembesar itu kini berdiri bersama Sam-thaikam, memandang tiga tamu itu dan tertegun. Ia melihat dua kakek tinggi besar berjajar di sebelah seorang kakek buntung; keduanya menyeringai sementara kakek yang buntung itu tertawa.

Ketika Mao Taijin terbelalak dan kaget mengenal si buntung itu, Sam-thaikam mendahului berseru, "Siauw-bin-kwi!"

Siauw-bin-kwi tertawa gembira. Ia memang benar Siauw-bin-kwi, bersama dua temannya yang bukan lain adalah Bong Kak dan Ma Tung, dua tokoh Bhutan yang baru disebut-sebut itu. Ketika orang mengenalnya dan Siauw-bin-kwi mengetuk-ngetukkan tongkat bambunya, iblis ini tertawa berseru menjawab, "Benar, aku, Taijin. Kalian masih mengenal aku? Dan ini teman-temanku yang kalian bicarakan itu, siap menerima selaksa tail emas dan sebuah kedudukan tinggi!"

Mao Taijin pucat. Kiranya orang-orang ini telah mendengar pembicaraannya, padahal di luar katanya ada tiga ratus pengawal pendam. Ini bukti betapa lihainya mereka; dapat masuk tanpa diketahui.

Ketika pembesar itu tertegun dan Sin-kee Lo-jin mengeluh melompat masuk, Bong Kak, tokoh yang tadi mengibaskan lengannya itu, siap melempar si Ayam Sakti ini kembali. Mao Taijin buru-buru mencegahnya karena khawatir melihat pembantunya dibuat jungkir balik.

"Jangan... tahan. Biarkan dia di sini!" Ia lalu menghadapi Siauw-bin-kwi yang sudah dikenalnya lebih dulu. "Bin-kwi, bagaimana kalian dapat tiba di sini? Siapa dua temanmu itu?"

"Ha-ha, mereka Bong Kak dan Ma Tung, Taijin. Kami datang karena mendengar tawaranmu yang manis. Sekarang kami tiba dan siap menagih janji!"

"Tapi... tapi..."

"Hmm!" Bong Kak maju menyeringai lebar. "Kami bertiga sahabat sejak lama, Taijin. Kalau kau menyuruh kami mengusir Bin-kwi, hal itu tak dapat kami lakukan. Aku tahu maksudmu, kau hendak menyuruh kami menyingkirkan si Setan Ketawa ini, bukan? Tak dapat, kami tak dapat melakukan itu!"

Sam-thaikam kini maju menengahi. "Maaf," pembesar itu berkata lembut. "Kalian rupanya sudah mendengar semua pembicaraan kami, Sam-wi Locianpwe. Kalau begitu, bagaimana pendapat kalian jika Kaisar tahu kedatangan Bin-kwi? Bagaimana kami mempertanggungjawabkannya kepada Sri Baginda?"

"Hm, kami bukan orang tolol yang gampang menunjukkan diri kepada umum, Taijin. Kalau Bin-kwi tak menghendaki dirinya diketahui orang luar, tentu Kaisar pun tak akan tahu kedatangannya, begitu juga kami."

"Jadi kalian tetap bertiga?"

"Ya!"

"Tak ada yang khawatir ketahuan?"

"Lihatlah!" Bong Kak tiba-tiba berseru. "Apakah kami bertiga dapat dilihat orang?"

Ketika tokoh tinggi besar ini melejit ke atas dan memberi tanda pada dua temannya, mendadak tiga orang ini lenyap berkelebat entah ke mana. Sin-kee Lo-jin, yang merupakan pembantu terpercaya Mao Taijin, celingukan dan terkejut melihat ke sana-sini. Ia tak menemukan bayangan mereka dan heran melihat kesaktian tiga tokoh itu.

Ketika Bong Kak mengeluarkan suaranya kembali dan menyuruh melihat mereka, seperti siluman saja tiga orang itu muncul dan berdiri di depan Mao Taijin tanpa diketahui dari mana datangnya.

"Nah, cukupkah ini, Taijin? Atau kami harus melakukan sesuatu yang lebih hebat lagi?"

"Tidak... tidak, itu sudah cukup... cukup!"

Mao Taijin yang buru-buru menggoyang lengan sambil tertawa akhirnya girang bukan main melihat kehebatan tiga orang ini. Baik Bong Kak maupun Bin-kwi rupanya sama-sama hebat; mereka dapat menghilang begitu saja di hadapan dirinya. Ini tentu ilmu siluman. Bahkan Bin-kwi yang berkaki bambu itu tidak terdengar sama sekali ketukan bambunya, tanda iblis ini lebih hebat.

Ketika Sam-thaikam tersenyum dan Bin-kwi serta dua temannya tertawa, Mao Taijin mengundang mereka duduk, menjamu, dan girang bukan main karena orang-orang lihai telah melindungi dirinya. Bong Kak dan Ma Tung mendemonstrasikan pula kehebatan mereka yang membuat arak menjadi beku atau mendidih seperti lahar panas. Cecak yang sedang bercumbu ditiup mampus, atau hal-hal lain yang aneh-aneh di mana Sin-kee Lo-jin sendiri sampai terbelalak kagum.

Ketika tiga orang itu dijamu makan minum dan mereka diberi kedudukan sebagai pengawal rahasia di mana Mao Taijin minta dilindungi sepenuhnya, Sam-thaikam mengerutkan kening karena dirinya sendiri terlupakan. Semuanya "diborong" oleh menteri she Mao itu dan thaikam ini merasa tak senang.

Mao Taijin muncul egonya, tentu saja pembesar itu kecewa dan marah. Ketika perjamuan berakhir dan pembesar ini pamit, diam-diam ia berbisik pada Siauw-bin-kwi agar nanti Siauw-bin-kwi dan dua temannya itu datang ke gedungnya.

"Aku pun perlu tenaga kalian. Datanglah dan kita bercakap-cakap di gedungku."

Siauw-bin-kwi terkekeh. Ia tanggap, cepat mengangguk, dan memberi isyarat pada dua temannya. Tak lama kemudian mereka sudah datang di gedung Sam-thaikam ini setelah meninggalkan Mao Taijin.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment