Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 57

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 57

Ketika Sam-thaikam berkata dengan dongkol bahwa yang bisa memberi kedudukan bukan hanya Mao-taijin, pembesar itu mengeluarkan tiga pundi-pundi uang yang penuh dengan gemerincing emas.

"Kalian kuminta lebih melindungi diriku daripada Mao-taijin. Ini hadiah tiga kali lipat dibanding menteri she Mao itu. Kalian sanggup?"

"Ha-ha, tentu sanggup, Taijin! Kalau Paduka memberi hadiah tiga kali lipat begini, tentu saja perhatian kami akan lebih terpusatkan pada Paduka. Apa yang Paduka takuti?"

"Kim-mou-eng, aku takut kedatangannya!"

"Kim-mou-eng?" Siauw-bin-kwi terbelalak. "Ha-ha, itu mudah, Taijin. Kami bertiga baru saja menangkap sumoinya, bahkan Kim-mou-eng lari terbirit-birit ketika dia membebaskan sumoinya itu."

"Kalian telah bertemu dengannya?"

"Ya, dan kami hampir saja berhasil merampas Sam-kong-kiam." Siauw-bin-kwi membual. Ceritanya dibuat-buat sedemikian rupa hingga Sam-thaikam mengangguk-angguk, merasa kagum pada ketiga orang itu dan merasa sayang karena pedang tersebut tidak berhasil dirampas.

Setelah Bin-kwi selesai bercerita, Sam-thaikam menarik napas lalu berkata sambil mengepal tinju, "Bin-kwi, kalau kalian bertemu lagi dengan Pendekar Rambut Emas itu, harap kalian rampas pedangnya. Aku akan memberi kalian masing-masing seratus ribu tail emas. Serahkan pedang itu kepadaku!"

"Baik." Siauw-bin-kwi agak terkejut. "Paduka berminat pada Sam-kong-kiam pula, Taijin?"

"Hmm," pembesar ini tertawa licik. "Aku hanya akan menyerahkan pedang itu kepada Sri Baginda, Bin-kwi, dan berkata bahwa kalianlah yang berjasa besar mengembalikan pedang itu pada istana."

Siauw-bin-kwi terkekeh. "Tapi pedang itu katanya memiliki tiga pengaruh gaib, apakah Paduka tidak menginginkannya untuk diri sendiri?"

Sam-thaikam terkejut. "Kau tahu itu?"

"Ha-ha, aku tahu apa yang tidak diketahui orang, Taijin. Sebaiknya pedang itu Paduka simpan untuk diri sendiri."

"Ah, tidak," pembesar ini mengelak. "Aku hanya menginginkan pedang itu untuk dikembalikan pada Sri Baginda, Bin-kwi. Aku harap kalian membantuku sungguh-sungguh. Tapi bagaimana kau tahu tentang tiga pengaruh gaib itu? Apa yang kauketahui?"

Bin-kwi tertawa lebar. "Taijin, agaknya semua orang kini sudah tahu akan kesaktian pedang keramat itu dan pengaruhnya yang hebat. Bahwa Sam-kong-kiam dinyatakan dapat membawa tiga hal kepada pemiliknya: kekuasaan, kekayaan, dan kenikmatan. Bukankah hal ini sudah dibuktikan pada Kaisar sendiri? Lihat Sri Baginda itu. Kekuasaannya besar, kekayaannya besar, dan kenikmatannya pun besar. Wanita cantik macam apa yang tidak pernah dinikmati Kaisar ini? Ha-ha, semuanya sudah dipunyai Kaisar itu, Taijin. Terus terang, sebaiknya Paduka miliki sendiri pedang ini, jangan dikembalikan pada istana!"

Sam-thaikam terkejut. Bin-kwi mulai membujuknya. Dengan cerdik dan amat ramah, iblis buntung itu merayunya akan pedang pusaka ini, akan keampuhannya, dan pengaruhnya yang besar. Sam-thaikam semakin terkejut karena Bin-kwi benar-benar mengetahui kehebatan pedang itu, bahkan iblis ini menceritakan ketajaman pedang itu ketika bertemu Kim-mou-eng, padahal sebenarnya yang ditemui adalah Bu-hiong.

Ketika iblis itu selesai bercerita dan Thaikam ini mengangguk-angguk, tiba-tiba Ma Tung, yang jarang bicara dan tertawa lebar, berseru serak, "Bin-kwi, siapa sebenarnya yang lebih tahu akan pedang itu kecuali Sam-taijin yang merupakan pembantu Kaisar? Bukankah tak ada gunanya kau menceritakan semuanya itu kepada orang yang lebih tahu? Tutup mulutmu dan tidak perlu membujuk, Bin-kwi. Taijin lebih tahu dari apa yang kauketahui!"

"Ah, benar," Bin-kwi sadar, lalu tertawa menyeringai. "Aku lupa, Taijin. Maaf."

Sam-thaikam hanya tertawa. Ia sudah menutup pembicaraan tentang pedang itu dan kembali membahas Kim-mou-eng. Ketika Bin-kwi bertanya kenapa Thaikam itu takut menghadapi Kim-mou-eng, Sam-thaikam berkata, "Persoalannya ada pada seorang dayang tolol. Kim-mou-eng menculik dayang itu dan akan ke mari. Kami berdua, maksudku aku dan Mao-taijin, terlibat dalam persoalan ini dan takut akan pembalasan Kim-mou-eng."

Thaikam itu lalu menceritakan bahwa Kim-mou-eng menculik dayang kepercayaan mereka yang menghasut Cao Cun. Kim-mou-eng tentu marah karena namanya dijelek-jelekkan.

Bin-kwi mengangguk-angguk dan tersenyum mendengar hal itu. "Tak perlu dilebihkan, Taijin. Sekarang ada kami di sini. Kalau dia datang dan mengganggu Paduka, tentu akan kami bunuh. Aku pribadi juga memiliki sakit hati pada Pendekar Rambut Emas itu."

Sam-taijin tenang. Penampilan Bin-kwi dan kawan-kawannya memang meyakinkan. Karena ia memberi imbalan lebih besar pada tiga orang itu daripada Mao-taijin, Thaikam ini tidak lagi diliputi ketakutan, bahkan justru berharap Kim-mou-eng akan datang. Agar persoalan segera selesai dan Pendekar Rambut Emas itu dapat dibunuh, Sam-kong-kiam dapat dirampas, dan diam-diam pembesar kebiri ini merencanakan sesuatu untuk tiga tokoh itu.

Sejak hari itu, mereka bekerja untuk Sam-thaikam dan Mao-taijin. Bong Kak dan temannya hidup senang di istana, keluar-masuk dengan bebas karena mereka memiliki kepandaian tinggi. Lenyap dan munculnya tiga orang ini seperti siluman. Karena Sam-thaikam berusaha memberi imbalan lebih besar daripada Mao-taijin, otomatis Bin-kwi dan dua temannya lebih memperhatikan Sam-thaikam. Waktu demi waktu lewat dan mereka cepat menjadi gemuk. Tiga iblis ini benar-benar hidup dalam kesenangan sebagai pengawal pribadi rahasia.

Tiga bulan kemudian, saat mereka bekerja secara malas-malasan, mereka menghadapi ujian pertama. Sam-taijin memanggil mereka dan menyuruh salah satu di antara mereka pergi ke Provinsi Liao-ning. Di sana, Sam-thaikam memiliki seorang kemenakan bernama Sam Yin yang bekerja di gubernuran. Sam-thaikam minta agar keponakannya dibawa ke sini karena ada persoalan penting. Karena yang diperintah hanya seorang saja, Bin-kwi menunjuk Bong Kak untuk melaksanakan tugas itu.

"Kau saja yang pergi, aku dan Ma Tung di sini."

Bong Kak mengangguk dan pergi melaksanakan perintah. Namun, ketika Bong Kak pergi, mendadak Mao-taijin memanggil Bin-kwi dan minta agar salah satu di antara mereka pergi ke Liao-ning untuk menculik seseorang.

"Aku butuh bantuan kalian. Seseorang harus dibawa ke sini."

"Siapa, Taijin?" tanya Bin-kwi.

"Seorang pemuda yang bekerja di gubernuran Liao-ning. Kalian tak perlu tahu namanya karena Lo-jin akan mengantar kalian. Siapa yang akan pergi?"

Bin-kwi bingung. "Kenapa tak menjawab? Ada apa, Bin-kwi?"

Terpaksa, Setan Ketawa ini tertawa. Ia berkata bahwa Ma Tung yang akan melaksanakan tugas itu. Ma Tung terbelalak dan melirik si Setan Ketawa tapi tidak bisa menolak. Sio-kee Lo-jin akan mengantarnya untuk menunjukkan pemuda tersebut. Ma Tung mengumpat dan menegur Bin-kwi kenapa harus dia yang pergi sementara Bin-kwi bisa bersantai. Bin-kwi memberi alasan bahwa Ma Tung dapat bekerja lebih baik dan iblis itu tidak akan dikenal oleh orang-orang di Liao-ning.

Karena si Ayam Sakti sudah menunggu, Ma Tung tidak dapat banyak bicara lagi. Kakek Bhutan ini berkelebat keluar menuju Liao-ning, diikuti oleh Sin-kee Lo-jin. Susah payah si Ayam Sakti mengikuti tokoh Bhutan itu hingga berkali-kali nyaris ketinggalan. Ma Tung mengomel panjang pendek. Sebenarnya di depan sudah ada temannya, Bong Kak.

Ketika mereka tiba di Liao-ning saat hari sudah gelap, Sin-kee Lo-jin langsung mengajak si tokoh Bhutan memasuki sebuah rumah baru.

"Di sini pemuda itu tinggal. Locianpwe harus membawanya dan boleh mendahului aku kalau berhasil."

"Siapa namanya?"

"Seseorang bernama Sam, laki-laki berumur tiga puluhan tahun dan amat licik. Taijin membenci pemuda ini."

Si Ayam Sakti sudah melompat masuk, menyelinap, dan melihat rumah itu kosong. Ia tertegun dan celingukan, wajahnya berubah. Ketika seorang pelayan muncul dari pintu belakang dan Sin-kee Lo-jin menangkapnya, si Ayam Sakti terkejut mendengar bahwa pemuda yang dicari sudah dibawa seseorang baru saja. Mereka sedang menuju ke rumah gubernur Hiang dan setelah itu akan ke barat, seorang kakek tinggi besar membawa Sam-siauwya (Tuan Muda Sam) ini.

Sin-kee Lo-jin tak menduga ada bayangan Bong Kak. Ia cepat menyusul ke rumah gubernur Hiang, tapi kabarnya Sam-siauwya telah pergi. Kakek ini kelabakan dan Ma Tung yang berada di belakangnya mengerutkan kening. Tokoh Bhutan ini hampir saja mencaci maki. Ia meraba-raba siapa kiranya pemuda yang akan diculik ini.

Ayam Sakti pucat dan buru-buru menangkap seorang pengawal dengan menyembunyikan wajah di balik kedok. Pengawal yang ditangkap itu menggigil.

"Sam-siauwya baru saja pergi, dibawa seseorang yang tak kukenal. Mereka menunggang kereta...."

"Ke mana?"

"Ke barat, ke kota raja...."

"Keparat!" Ayam Sakti membanting pengawal ini sampai pingsan.

"Kita kejar, Locianpwe! Mereka menggunakan kereta!"

Ma Tung menggeram panjang pendek. Ia merasa dipermainkan dan menghadapi teka-teki gelap. Tapi karena buruan sudah jelas dan sebuah kereta menuju ke barat, mereka mengejar. Sin-kee Lo-jin jatuh bangun menyusul bayangan si tokoh Bhutan. Akhirnya mereka mendengar derap kereta. Sin-kee Lo-jin girang melihat kereta indah bergerak di depan. Ma Tung berkelebat, tidak sabar ingin menangkap buruan. Itulah orang yang harus dibawa.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment