Chapter 58
Ketika kereta tiba-tiba berhenti dan kuda meringkik panjang, Ma Tung tertegun dan menghentikan langkahnya pula, melihat dua sosok bayangan melompat keluar dan lenyap di sisi kereta. Ma Tung terkejut melihat gerakan mereka yang cepat. Bayangan pertama mendekap bayangan kedua; ilmu meringankan tubuh (*ginkang*) yang ditunjukkan bayangan itu luar biasa sekali. Ma Tung membelalakkan mata.
Namun, karena Sin-kee Lo-jin sudah menyusul dan terengah-engah di belakangnya, Ayam Sakti ini memberi saran agar mereka berdua menyembunyikan muka di balik sapu tangan.
"Mereka rupanya mencium gerakan kita. Kita harus hati-hati, sebaiknya Locianpwe menyembunyikan muka." Ma Tung menurut.
Dengan berdebar tapi juga jengkel, dia menutupi mukanya, kembali berkelebat, dan mendekati kereta. Dari samping, ia tak melihat apa-apa; kereta itu kosong. Namun, ketika dia menyelinap ke kiri dan bergerak menuju kerimbunan tempat dua bayangan tadi melompat masuk, sekonyong-konyong angin pukulan dahsyat menghantamnya dari belakang, disusul munculnya sesosok bayangan tinggi besar yang juga mengenakan kedok.
"Dess!" Ma Tung menangkis, membalik, dan terkejut karena pukulan lawan demikian kuat. Dia terpental, sementara lawan juga tergetar empat langkah. Bayangan itu menggeram dan kelihatan terkejut juga, matanya yang mencorong terbelalak. Namun, ketika Ma Tung menggulingkan tubuh menjauh, lawan sudah berkelebat dan menyerangnya bertubi-tubi. Geraman dan bentakan pendek terdengar berkali-kali dari mulut bayangan ini; suaranya tak begitu jelas karena tertutup kedok.
Jadi, masing-masing sama-sama tak mengenal siapa lawan mereka. Tapi karena Ma Tung diserang dan tokoh Bhutan ini marah, tentu saja dia membalas dan mengeluarkan maki-maki pula. Suaranya pun tak jelas karena tertutup sapu tangan. Sebentar kemudian mereka bertempur hebat. Kuda penghela kereta ketakutan; kuda ini meringkik dan mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi. Suara pukulan dan benturan di antara dua orang yang bertempur itu memang mengerikan. Masing-masing rupanya memiliki tenaga dalam (*sinkang*) yang berimbang, dan pepohonan di sekitar disambar angin pukulan mereka. Malam yang gelap tak membantu keduanya untuk mengenal lawan masing-masing.
Ketika kuda meringkik dan lawan Ma Tung rupanya gelisah karena tak dapat segera merobohkan lawannya, bayangan ini memberi perintah pada temannya yang masih bersembunyi agar kabur. Bayangan kedua melompat dan memasuki kereta, membedal keretanya, dan dua kuda di depan melesat seperti terbang. Mereka dicambuk dan bayangan ini membentak-bentak.
Si Ayam Sakti terkejut karena buruan lolos. Dia mengejar dan menyuruh Ma Tung menahan lawannya. Karena di kereta itu hanya ada seorang saja dan Ma Tung menganggap temannya bisa membereskan tugasnya, tokoh Bhutan ini tertawa bergelak dan menahan semua pukulan lawannya. Ia sebenarnya gembira, tapi juga penasaran karena tak dapat merobohkan lawannya ini.
Bayangan itu mau melompat menyambar Sin-kee Lo-jin, namun Ma Tung selalu mencegah. Berkali-kali hal itu dilakukan hingga lawan menjadi murka. Ketika si Ayam Sakti sudah lenyap mengejar kereta dan bayangan ini menggerung hebat, sekonyong-konyong dua lengannya bergerak menghantam dengan tulang-tulang berkerotok, menyambar lawannya. Ma Tung terkejut; dia mengenal pukulan itu. *Hek-in-ciang* (Pukulan Awan Hitam), pukulan temannya sendiri. Jadi, kiranya ini adalah Bong Kak. Pantas demikian lihai!
Namun, karena pukulan sudah menyambar tiba dan Ma Tung tak punya waktu untuk mengelak selain menangkis, tokoh Bhutan ini berseru keras dalam bahasa Bhutan, "Kayik...!" Dua benturan itu bertemu. Ma Tung mencelat tiga tombak sambil melepas sapu tangannya, mengeluh namun mampu menahan *Hek-in-ciang*. Lawan terkejut dan mencelat pula, mendengar teriakan Ma Tung. Tentu saja dia mengenal seruan yang diserukan temannya itu.
Ketika mereka sama-sama melompat bangun dan Bong Kak melihat bahwa itu adalah temannya sendiri, raksasa Bhutan ini berseru kaget. "Ma Tung...!"
Ma Tung mengangguk. Dia melompat mendekati temannya, dada diusap sambil menggerutu, betapapun napasnya terasa sesak. Ketika dia sudah mendekati kawannya itu dan Bong Kak terbelalak menggigil, Ma Tung berkata, "Ya, aku, Bong Kak. Kita kiranya telah bertempur sendiri untuk urusan yang sama. Keparat, kita berada di persimpangan jalan yang repot."
"Apa yang terjadi? Kenapa kau mengejar-ngejarku?"
"Aku tak mengejar-ngejarmu, Bong Kak, melainkan mengejar temanmu yang di dalam kereta itu. Bukankah dia seseorang bernama Sam?"
"Ya, Sam Yin, keponakan Sam-taijin. Lalu kenapa kau mengejar-ngejarnya? Bukankah Sam-taijin telah memerintahkan aku untuk membawa keponakannya ini?"
"Aku tak tahu kalau dia ini Sam Yin, Bong Kak. Aku mendapat perintah dari Mao-taijin untuk menangkap bocah itu!"
"Kenapa? Ada apa?" Bong Kak heran.
"Aku mulanya tak tahu, tapi kini aku mulai mengerti," jawab Ma Tung. Ma Tung lalu menceritakan persoalannya pada temannya, disambut seruan dan gelengan berkali-kali oleh Bong Kak. Bong Kak merasa terkejut mendengar ini, juga heran. Tapi ketika temannya berkata bahwa ini tentu gara-gara permusuhan dua pembesar itu, Ma Tung mengakhiri ceritanya, "Aku kira Mao-taijin menangkap sesuatu yang tidak beres antara Sam-thaikam dengan keponakannya, mengirim aku untuk mendahului menangkap bocah itu. Tapi Sam-taijin keburu menyuruhmu membawa bocah itu. Aku tak tahu apa yang direncanakan Sam-taijin, tapi melihat Mao-taijin begitu serius menyuruhku menangkap bocah ini, tentu ada sesuatu yang penting yang direncanakan thaikam itu."
"Kemudian bagaimana sekarang?" Bong Kak bingung. "Siapa yang harus kita turuti?"
Ma Tung juga bingung. "Mestinya Sam-thaikam, Bong Kak. Dia lebih banyak memberi imbalan pada kita."
"Tapi Mao-taijin tentu marah-marah kepadamu kalau tidak membawa bocah itu. Kau dianggap tidak berhasil!"
"Inilah yang repot. Sebaiknya kita tanya Bin-kwi dan dia saja yang menentukan."
"Baik, tapi sekarang Ayam Buduk itu menyambar korban kita. Lalu apa yang kita lakukan?"
"Sebaiknya cegah dia dulu, Bong Kak. Kau pura-pura lolos dariku dan serang si Ayam menyebalkan itu. Aku pura-pura menyusul dan kita sama-sama kembali."
"Baik!" Bong Kak yang tidak sabar lagi menunggu temannya tiba-tiba berkelebat. Ma Tung meneriakinya agar mengenakan kedoknya lagi; mereka harus berpura-pura untuk menjalankan sandiwara ini.
Sin-kee Lo-jin sudah jauh dan keponakan Sam-thaikam dalam ancaman. Tapi karena tokoh ini adalah tokoh sakti dan kepandaian meringankan tubuhnya luar biasa, begitu berkelebat dan lenyap dibiarkan Ma Tung, kakek raksasa ini menyusul dan sudah berada di belakang kereta yang berderap kencang. Sin-kee Lo-jin hampir menyandak kereta itu. Sang kusir, yang bukan lain Sam Yin sendiri, pucat mukanya. Dia membedal keretanya dan berteriak-teriak agar kudanya berlari lebih cepat lagi.
Namun, karena Sin-kee Lo-jin sudah tiba di belakang dan membentak agar lawannya berhenti, tiba-tiba kakek ini melayang di atas kereta dan berseru keras, "Sam-siauwya, robohlah...!"
Pemuda itu terkejut. Dia melihat Sin-kee Lo-jin berkelebat di atas keretanya, memburu, dan mencengkeram dadanya. Laki-laki ini ketakutan, cambuk diayun dan kuda pun meringkik. Tali kekang tiba-tiba ditarik dan kereta berhenti mendadak hingga kedua rodanya terseret oleh rem yang diinjak pemuda itu, menggores tajam di atas tanah. Ketika Sin-kee Lo-jin melayang dan cambuk menyambut dirinya, dengan tertawa si Ayam Sakti ini menangkis dan kedua lengan tetap terjulur mencengkeram dada lawannya.
"Aih...!" Sam-siauwya nekat. Dia membuang tubuh keluar kereta, cambuk terampas, dan cengkeraman lawan luput, hanya mengenai bajunya saja. Sin-kee Lo-jin mendongkol melihat lawan bergulingan di tanah. Dia tentu saja tertawa mengejek dan mengejar lawannya itu. Kali ini Sam-siauwya tak mungkin lolos, ia telah menghadang jalan keluar pemuda itu.
Namun, ketika Lo-jin menjengke dan menyambar turun untuk menotok lawannya, tahu-tahu sebuah bentakan terdengar dan Bong Kak menghantam si Ayam Sakti ini. "Enyahlah...!"
Lo-jin terkejut. Dia tak menyangka kalau lawan temannya lolos; dari kejauhan terdengar teriakan Ma Tung yang mengejar bayangan ini. Bong Kak kembali menutupi mukanya dan pura-pura menggeram. Lo-jin menangkis, namun tentu saja kalah kuat. Karena Bong Kak memang ingin merobohkan pembantu Mao-taijin itu agar sepak terjangnya tidak diketahui, sekali pukul dia membuat lawan mencelat.
"Aaaah!" Sin-kee Lo-jin mengeluh, terbanting, dan roboh bergulingan.
Ma Tung berkelebat tiba dan pura-pura bertanya pada si Ayam Sakti ini. Kakek ini menuding-nuding Bong Kak sebentar saja karena kemudian ia pingsan. Kakek Bhutan itu tentu saja tertawa dan mengejek melihat temannya terguling; itu adalah siasat mereka.
Ketika Bong Kak menolong Sam-siauwya dan pemuda itu ketakutan melihat Ma Tung, kakek tinggi besar ini berkata, "Kita berlari cepat, tak perlu mempergunakan kereta lagi." Begitu Bong Kak menyambar pemuda ini di atas pundaknya, tiba-tiba kakek ini sudah terbang menuju kota raja, disambut seruan keheranan dari Sam-siauwya. Pemuda itu heran melihat Ma Tung mengikuti, tidak menyerang, bahkan kini berendeng bersama pemondongnya ini. Pemuda ini tertegun.
Ketika dia bertanya siapa Ma Tung ini dan kenapa sudah tak bermusuhan lagi, Bong Kak menjawab sambil tertawa lebar, "Dia temanku sendiri. Tadinya diutus menangkapmu oleh Mao-taijin. Kami sekarang sudah saling tahu, kau tak perlu tanya lagi dan tutup mulut!"
Pemuda ini melongo. Sekarang dia tak bertanya-tanya lagi. Beberapa jam kemudian mereka tiba di kota raja, langsung menuju istana, dan Bong Kak serta temannya mencari Bin-kwi. Mereka berdua tidak ada yang pergi ke Mao-taijin atau Sam-thaikam. Tentu saja pemuda ini keheranan dan terbelalak.