Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 59

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 59

Namun, ketika Bin-kwi muncul dan pemuda ini mengerutkan kening melihat seorang kakek buntung di sana, Bong Kak menurunkan panggulannya dan berseru, "Sekarang kita dibuat bingung."

"Yang disuruh tangkap oleh Mao-taijin adalah pemuda ini juga."

"Apa pendapatmu, Bin-kwi?" Bin-kwi terkejut.

"Kalian maksudkan keponakan Sam-thaikam?"

"Ya."

"Wah, repot!" Bin-kwi yang menggaruk-garuk kepala karena ikut kebingungan tiba-tiba tertawa lebar. "Heh heh, ada akal. Bong Kak, kita serahkan pemuda ini pada Mao-taijin, tapi setelah itu kau harus menculiknya kembali!"

"Apa?"

"Ya, Ma Tung menyerahkan pemuda ini sesuai tugasnya, Bong Kak. Tapi setelah itu kau menculiknya dan membawanya pada Sam-thaikam. Dengan begini, kalian berdua sama-sama telah menjalankan tugas dengan berhasil!"

"Tidak, jangan....!" Sam-siauwya pucat. "Jangan serahkan aku pada Mao-taijin, lociaapwe. Menteri itu amat membenciku dan tak mungkin dia mau melepaskanku!"

Pemuda ini tidak tahu kedudukan Bin-kwi dan kawan-kawannya. Ia hanya mendapatkan titipan surat dari sang paman bahwa ia harus ikut kakek buntung itu karena ada urusan penting. Sam Yin memang diam-diam menjalin hubungan dengan sang paman, sementara Bong Kak bertiga belum mengetahui hal itu. Maka, ketika Bin-kwi berkata bahwa ia hendak diserahkan pada Mao-taijin dan setelah itu Bong Kak akan menculiknya kembali, pemuda itu merasa ketakutan dan cemas. Ia hendak berteriak, namun Bin-kwi keburu menotoknya hingga roboh.

Pemuda itu pingsan dan Bong Kak mengernyitkan kening. Ketika Bin-kwi bersikeras menjalankan siasat itu, Ma Tung melangkah ke depan dengan ragu-ragu. "Kita tak khawatir kalau Mao-taijin membunuh pemuda ini, Bin-kwi?"

"Tidak, tak mungkin dia berani. Pemuda ini keponakan Sam-thaikam, dia tahu itu. Mana mungkin Mao-taijin mau membunuh pemuda ini?"

"Tapi dia katanya membenci pemuda ini. Mao-taijin akan bersikap keras terhadapnya!"

"Ah, bisa diatur, Ma Tung. Kita sekalian mendampingi dan mengamati gerak-gerik Mao-taijin itu. Kalau dia hendak membunuh, umpamanya, kita bisa membujuk. Sudahlah, kalian ikut perintahku dan tak akan ada apa-apa!"

Ma Tung menurut. Ia menyambar pemuda yang pingsan itu dan membawanya ke gedung Mao-taijin. Dua temannya mengikuti, sementara Bin-kwi dan Bong Kak berpura-pura tidak tahu; mereka bertiga melayang turun mencari Mao-taijin.

Ketika menteri she Mao itu ditemui dan Mao-taijin girang melihat keberhasilan Ma Tung, pembesar ini berseru, "Bagus, kau benar-benar lihai, Ma Tung. Tapi di mana Sin-ke Lo-jin?"

Ma Tung memutar akal setelah mendapat lirikan temannya. "Pembantu Paduka itu ketinggalan di belakang. Ilmu lari cepatnya rendah sekali. Aku tak sabar dan mendahului ke mari setelah berhasil merampas pemuda ini dari tangan seseorang yang lihai!"

"Dirampas seseorang? Apa maksudmu, Ma Tung?" Mao-taijin terkejut.

Ma Tung lalu bercerita. Ia berkata bahwa bersama Lo-jin, mereka ketinggalan oleh seseorang yang lihai yang menculik pemuda ini dan membawanya lari dalam kereta. Mereka mengejar dan bertempur. Lawan Ma Tung hebat; pemuda itu disuruh melarikan diri dan dikejar Sin-ke Lo-jin. Tak tahunya lawan lolos dan lawan yang hebat itu mengejar Lo-jin, di situ Lo-jin diserang dan dipukul pingsan. Ma Tung ganti mengejar dan kembali menyerang lawan itu. Karena ia lebih lihai, lawan akhirnya melarikan diri, maka Ma Tung berhasil membawa pemuda itu.

"Pemuda ini ternyata keponakan Sam-thaikam, Taijin," ujar Ma Tung. "Bagaimana Paduka menyuruh kami menculik dan membawanya ke mari? Bukankah Sam-thaikam akan marah kalau mengetahui perbuatan ini?"

"Kalian tahu dia keponakan Sam-thaikam?"

"Ya, pemuda itu sendiri mengaku, dan lawan hamba juga berkata begitu."

"Hmm." Mao-taijin rupanya terkejut. "Memang benar, Ma Tung. Dia ini memang keponakan Sam-thaikam. Tapi dia dan pamannya mau melakukan sesuatu yang berbahaya. Aku hendak memperingatkannya dengan menculik pemuda ini."

"Dan mau diapakan sekarang?"

"Aku mau.... hmm, aku mau mengurungnya. Tadinya aku hendak...."

"Membunuhnya kalau kami tak tahu?" Bin-kwi memotong sambil tertawa. "Kalau begitu berbahaya, Taijin. Kami peringatkan Paduka pula untuk tidak mencari permusuhan."

Mao-taijin terbelalak. "Tidak," ia menolak. "Aku tidak bermaksud membunuh pemuda ini, Bin-kwi, melainkan benar-benar hendak mengurungnya. Sekarang terima kasih atas bantuan kalian dan biar dia bersamaku!"

Menteri ini memanggil pengawal dan menyerahkan pemuda itu. Bin-kwi serta dua temannya cepat berkelebat lenyap; kehadiran mereka tidak boleh diketahui seorang pun. Bin-kwi tentu saja mengamati gerak-gerik menteri itu dan siap mencegah jika keponakan Sam-thaikam hendak dibunuh. Mereka bisa terkena amarah Sam-thaikam. Namun, ketika pemuda itu dimasukkan ke sel bawah tanah dan Bin-kwi menyeringai girang, Setan Ketawa ini berkata pada Bong Kak, "Sekarang giliranmu bekerja. Bawa dan ambil kembali pemuda ini dari tempatnya!"

Bong Kak mengangguk. Dengan mudah ia merobohkan pengawal, lalu membawa dan menyambar Sam-siauwya yang masih pingsan. Mao-taijin tentu saja tidak tahu akan sepak terjang tiga pengawal rahasianya ini. Bin-kwi dan teman-temannya memang ular bermuka dua.

Ketika mereka mencari Sam-thaikam dan pembesar itu gembira melihat "keberhasilan" Bong Kak, pembesar ini berseru dengan muka berseri-seri, "Bagus, terima kasih, Bong Kak. Kalian benar-benar pandai. Tapi, eh.... kenapa dia pingsan?"

Bong Kak menyeringai, "Hamba mengalami sedikit kesukaran, Taijin. Tapi kesukaran itu sekarang tak ada lagi. Dia pingsan karena hamba totok. Setengah jam lagi dia akan siuman sendiri."

"Baiklah, kalian boleh pergi. Nih, sekedar untuk bersenang-senang!" Pembesar itu melempar sepundi-pundi uang, diterima, lalu Bong Kak serta temannya pergi.

Mereka lupa akan isi percakapan yang sempat didengar pemuda itu. Sam-thaikam membawa keponakannya ke kamar pribadi dan menunggu. Betul juga, setengah jam kemudian keponakannya siuman. Ketika Sam-thaikam memanggil, pemuda ini menggigil dan celingukan ke sana ke mari.

"Paman ada di sini. Mana mereka itu?"

"Siapa?"

"Dua kakek tinggi besar, Paman, ditambah seorang yang buntung kakinya!"

"Ha ha, mereka itu pembantuku, pengawal rahasiaku, tak perlu takut. Kau sudah ada di tempat yang aman!"

"Di gedung Paman sendiri?"

"Ya."

"Tapi aku dibawa ke tempat Mao-taijin!"

"Heh?" Sam-thaikam terkejut. "Mao-taijin? Benarkah katamu itu?"

"Benar, aku dikejar-kejar dua orang, Paman. Dan yang seorang ini hebat sekali. Dia sama tinggi besar dengan orang yang Paman utus itu, mau menangkapku tapi entah kenapa tiba-tiba tak jadi. Orang yang Paman utus itu ternyata sahabatnya, aku bingung dan khawatir. Bagaimana ini?"

Sam-thaikam terkejut. Disebut-sebutnya nama Mao-taijin membuat ia mengerutkan alis. Perasaan menjadi tidak enak dan pembesar ini mengunci pintunya. Ia tidak tahu bahwa tiga pasang telinga mendengar percakapannya, telinga para pengawal rahasianya sendiri; Bong Kak dan dua temannya. Kiranya Bin-kwi teringat ini dan tiba-tiba memberi tahu dua temannya; mereka kembali dan mendengarkan percakapan itu.

Ketika Sam-thaikam menoleh ke sana-sini namun tetap tidak melihat apa-apa, segera ia mendekati keponakannya dan berbisik, "Mereka itu pengawal-pengawalku pribadi, Sam Yin. Yang tinggi besar adalah Ma Tung dan Bong Kak, sedang si kakek buntung itu adalah Siauw-Bin-kwi."

"Siauw-bin-kwi? Si Setan Ketawa yang dulu gagal membantu Pangeran Muda dan ibunda selir itu?"

"Ya, mereka, Sam Yin. Tapi tak perlu kau khawatir, mereka orang-orang lihai dan tak ada seorang pun di istana ini yang mengetahui kehadiran mereka."

"Tapi Bin-kwi dianggap membantu bekas pemberontak. Kehadirannya membahayakan Paman. Dan lagi, mereka rupanya mempunyai hubungan erat dengan Mao-taijin!"

"Sudahlah," sang paman tertawa. "Aku mengetahui itu, Sam Yin. Kembali kuberi tahu padamu tak usah khawatir. Mereka memang juga pembantu Mao-taijin, mereka terpaksa digunakan untuk menghadapi Kim-mou-eng."

"Dan Paman memanggilku untuk apa?"

"Urusan Sam-kong Kiam."

"Hah! Pedang keramat itu?"

"Huus, jangan keras-keras, Sam Yin. Bin-kwi dan teman-temannya itu rupanya juga mengetahui kehebatan pedang ini secara lengkap. Mereka tahu daya gaib pedang yang hilang itu. Aku hendak mempergunakan mereka sebagai alat."

"Alat bagaimana?"

Sang Paman duduk berseri-seri, mengusap meja. "Kukira dalam waktu dekat ini Kim-mou-eng akan ke mari, Sam Yin. Kalau benar Pendekar Rambut Emas itu datang, maka sebuah sejarah baru akan mengukir nama keluarga kita!"

"Mengukir bagaimana? Apa maksud Paman?"

"Kau jangan memotong, dengarkan aku dulu," Sam-thaikam tertawa. "Aku telah merencanakan sesuatu yang hebat, Sam Yin, dan rencana ini khusus kutujukan untukmu. Stop, jangan bertanya....!" Pembesar itu mengayunkan tangannya, melihat sang keponakan hendak membuka mulut. "Dengarkan saja baik-baik dan ketahuilah."

Melihat keponakannya mengerutkan kening dan menutup mulut, pembesar ini segera melanjutkan, "Sam Yin, kau adalah satu-satunya keponakanku lelaki. Kau merupakan penerus keturunan keluarga Sam. Karena kau adalah satu-satunya keponakanku lelaki, maka aku hendak membuat dirimu hidup mulia dan mengukir sejarah baru keluarga kita."

"Aku tak jelas, Paman masih berbelit-belit!" sang pemuda akhirnya bicara juga.

"Tentu, kau terlalu bernafsu bertanya, Sam Yin. Sekarang dengarkan penjelasanku ini. Bahwa aku ingin mengangkatmu sebagai kaisar. Bahwa dengan Pedang Tiga Dimensi yang akan dirampas tiga pengawalku pribadi itu, aku hendak menjadikanmu sebagai orang yang paling tinggi derajatnya di muka bumi. Aku hendak memberikan pedang Sam-kong Kiam itu kepadamu!"

Pemuda ini terkejut. "Tapi pedang itu ada di tangan Kim-mou-eng!"

"Sabarlah," sang paman kembali tertawa. "Aku tahu itu, Sam Yin."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment