Chapter 60
"Tapi bukankah Bin-kwi dan teman-temannya akan merampasnya untukku? Aku hanya menunggu kedatangan Kim-mou-eng itu dan mereka akan menghadapinya."
Bin-kwi telah berjanji untuk menyerahkan pedang itu bila Kim-mou-eng berhasil dibunuh.
"Dan karena aku ingin pedang itu jatuh ke tanganmu, maka aku tak akan menyerahkan Sam-kong-kiam ini kepada Sri Baginda. Kau harus menjadi kaisar!"
"Paman...!" Sam Yin melompat bangun. "Mungkinkah itu? Mungkinkah aku dapat...?"
"Tunda pertanyaanmu," sang paman memotong. "Aku telah merencanakan sesuatu dengan matang, Sam Yin. Karena itu aku memanggilmu kemari untuk membicarakan ini. Kita tak akan berhasil kalau Mao-taijin mengganggu, karena itu aku juga telah merencanakan sesuatu untuk menyingkirkan menteri ini!"
"Maksud Paman?" pemuda ini terbelalak.
"Kau ingat Mo Kang, bukan?"
"Putra Mao-taijin itu?"
"Ya, menteri she Mao itu pun mengidamkan putranya mengganti kaisar, Sam Yin. Dan karena aku tak ingin didahului menteri ini, maka kuberi imbalan-imbalan besar pada tiga pengawaiku yang hebat itu. Mereka juga membantu Mao-taijin, aku tahu. Tapi karena aku memberi hadiah lebih banyak dan lebih memuaskan pada tiga kakek itu, maka Bin-kwi dan dua temannya kuyakin membantu kita lebih sungguh-sungguh dibandingkan Mao-taijin!"
Sang kemenakan ternganga. "Dan kau tahu gerak-gerik Mao-taijin?"
"Tidak."
"Ha-ha, dia pun mau mengangkangi Pedang Tiga Sinar itu melalui Bin-kwi!"
"Paman tahu?"
"Tentu saja. Aku telah mengamati gerak-gerik menteri itu, Sam Yin. Aku memasang beberapa orangku di sana!"
"Aih...!" Pemuda ini terbelalak. "Kalau begitu Mao-taijin merupakan saingan berbahaya, Paman. Kita harus mendahuluinya dan membunuhnya kalau perlu!"
"Tidak, sementara ini jangan. Kalau kita mau membunuhnya maka yang kita bunuh adalah putranya, Mao Kang. Kita dapat mempergunakan tiga iblis itu melaksanakan perintah dan bocah itu dapat dibereskan. Tapi itu nanti. Yang penting sekarang ini adalah bagaimana Kim-mou-eng segera datang dan Bin-kwi serta dua temannya merampas pedang itu!"
"Hm!" Pemuda ini mengangguk-angguk, berseri mukanya. "Kalau begitu hebat, Paman. Tapi kenapa kau memilih aku? Bukankah kau sendiri dapat menggapai cita-citamu itu dan menjadi kaisar?"
"Seorang thaikam mana bisa menjadi kaisar, Sam Yin?" Pembesar ini marah, teringat keadaannya sebagai pembesar kebiri. "Bukankah aku tak bisa mendapatkan keturunan? Percuma aku mengangan-angan itu karena aku telah menjadi laki-laki tak sempurna!"
"Maaf," pemuda ini teringat. "Aku lupa, Paman. Kalau begitu budimu sungguh tak akan hilang seumur hidup."
"Sudahlah, aku pun ingin naik tingkat. Aku jemu menjadi kepala harem melulu. Kalau kau dapat menjadi kaisar, aku ingin menjadi penasihat, penasihat agung!"
"Tentu, tentu Paman. Aku akan mengangkatmu sebagai apa saja yang kau suka!" Sam Yin girang. "Tapi bagaimana sekarang dengan langkah-langkah Paman berikutnya?"
"Hm, ceritakan dulu keteranganmu tadi. Kau menyatakan dikejar-kejar kakek tinggi besar itu, tentu Ma Tung maksudmu. Bagaimana dia bisa tahu kau pergi? Kenapa Ma Tung tak mengenal temannya sendiri? Aku agak merasa aneh mendengar ini, tentunya mereka tak perlu bertempur dan bertanding sendiri!"
"Kami mengenakan kedok, Paman. Maksudku orang utusanmu itu..."
"Ya, dia Bong Kak."
"Benar, kakek lihai bernama Bong Kak itu menyembunyikan muka di balik kedok. Kami meninggalkan Liaoning malam hari, naik kereta dan kakek Bhutan itu mendengar orang mengejar di belakangnya. Kereta kami hentikan dan benar saja kami disusul, dua orang..."
"Dua orang?"
"Ya, dua orang, Paman. Kakek Ma Tung itu dan temannya menyembunyikan muka pula di balik saputangan. Ma Tung dan Bong Kak akhirnya bertempur, aku melarikan diri dan dikejar orang kedua itu..."
"Siapa?"
"Aku tak tahu."
"Pasti Sin-kee Lo-jin!" Sam-thaikam mengetok meja. "Apakah kau tidak mengenal suaranya?"
"Suara di balik saputangan itu menjadi sengau, Paman. Aku tak jelas dan saat itupun aku dilanda takut."
"Lalu?"
"Aku terkejar, orang kedua ini mau menangkapku tapi kakek Bhutan bernama Bong Kak itu muncul. Dia melempar lawanku itu dan aku selamat. Lalu muncul temannya bernama Ma Tung itu, aku dibawa dan akhirnya bertemu Siauw-bin-kwi."
"Hm, jelas kalau begitu," Sam-thaikam manggut-manggut. "Kiranya Mao-taijin pun sudah mencium gerak-gerikku, Sam Yin. Sementara aku mengirim Bong Kak untuk membawamu ke sini, ternyata ia pun menyuruh Ma Tung menculikmu. Mengerti aku sekarang, menteri ini berbahaya dan dia pun rupanya juga menanam orang-orangnya di gedungku!"
"Mata-mata?"
"Tentu, kita harus hati-hati."
"Dan aku mendengar Siauw-bin-kwi berkata pada dua temannya agar aku dibawa ke Mao-taijin, Paman. Ketika aku berteriak dan minta mereka membatalkan niat itu, sekonyong-konyong aku ditotok!"
Sam-thaikam terbelalak. "Kau sudah dibawa ke Mao-taijin?"
"Aku tak tahu, aku pingsan..."
"Celaka, kalau begitu Mao-taijin akan mencari-carimu besok. Ini berarti Bong Kak baru saja mengeluarkan dirimu dari cengkeraman menteri itu!"
Sam Yin terkejut. Melihat pamannya berubah mukanya, dia pun dag-dig-dug. Sayang dia tak tahu apakah dia sudah ditemukan dengan menteri she Mao itu atau tidak, saat itu dia pingsan. Namun, pamannya yang gelisah dan bingung mendengar ini tiba-tiba melompat keluar.
"Mau ke mana, Paman?" pemuda itu kaget.
"Memanggil Bin-kwi atau Bong Kak!"
Sam-taijin yang bergegas membuka pintu tiba-tiba bertepuk tangan dan memanggil pembantu-pembantunya itu. Biasanya Bin-kwi dan kawan-kawannya akan muncul, mereka tak pernah jauh darinya. Tapi ketika tiga kali tepukan tak juga sebuah pun bayangan muncul di depannya, tiba-tiba pembesar ini marah.
"Bin-kwi, di mana kalian?"
Ma Tung tiba-tiba muncul, mengejutkan pembesar ini. "Paduka ada perintah, Taijin?"
Sam-thaikam tertegun. "Mana Bin-kwi?"
"Ke tempat Mao-taijin, baru saja dipanggil."
"Ada urusan apa?"
"Mana hamba tahu? Hamba menjaga di sini, baru saja meronda di timur gedung."
Sam-thaikam mengerutkan kening, bersikap apa boleh buat. "Baiklah, kau saja yang bertugas, Ma Tung. Aku ingin kau mengantar keponakanku keluar kota raja, sekarang juga."
"Eh, bukankah baru tiba?"
"Benar, tapi bukankah dia juga baru dari Mao-taijin?"
Ketika Ma Tung mengangguk dan menyeringai lebar, maka Sam-thaikam tahu apa yang telah terjadi. Semakin kuat dugaannya, dia menyuruh Ma Tung malam itu juga mengantar keponakannya ke Su-chung, dusun kecil tempat tinggal seorang saudara perempuannya, dan menyuruh Sam Yin bersembunyi di sana. Keadaan dinilai darurat karena besok Mao-taijin akan mencak-mencak kehilangan tangkapannya.
Ma Tung bicara apa adanya karena Bin-kwi berkata tak usah mereka menyembunyikan hal itu pada Sam-thaikam; justru apa yang mereka perlihatkan ini merupakan kesetiaan mereka pada Sam-thaikam. Betapapun, keponakan pembesar itu akhirnya mereka berikan pada Sam-thaikam.
Dan ketika Sam-thaikam mengangguk dan semakin percaya pada pembantu-pembantunya ini, maka malam itu juga Sam Yin diminta untuk pergi ke dusun di sebelah barat kota raja, diantar kakek Bhutan ini yang siap menjaga. Sam-thaikam bertanya di mana Bong Kak, dijawab bahwa Bong Kak masih mengelilingi gedung, menjaga keselamatan pembesar itu. Memang mereka bertiga sering berganti-ganti mengawasi, itulah sebabnya Ma Tung muncul ketika yang lain tak ada.
Karena pembesar ini memiliki kepercayaan pada pembantunya, malam itu juga dia menyuruh keponakannya berangkat. Ma Tung menyambar pemuda ini dan berkelebat ke dusun Su-chung. Tapi benarkah Ma Tung menjalankan tugasnya dengan baik? Sam Yin tak tahu itu. Dia tiba-tiba dibuat tak sadar ketika dirinya disambar; katanya Ma Tung melakukan itu agar dirinya tak ketakutan dibawa "terbang". Sam Yin tak tahu apa yang terjadi. Kepandaian kakek ini memang tinggi.
Ketika pemuda itu mengira dirinya dibawa ke dusun Su-chung, maka sebenarnya kakek ini membawanya ke tempat Bin-kwi bersembunyi.
"Nah, sekarang kita semua telah mendengar pembicaraan pembesar itu. Aku disuruh menyembunyikan keponakannya ini di Su-chung. Apa yang akan kita lakukan, Bin-kwi? Haruskah aku mengantar si manja ini ke bibinya?"
Bin-kwi tersenyum-senyum. Tadi dia sengaja tak muncul sewaktu dipanggil Sam-thaikam, begitu juga Bong Kak, menyuruh Ma Tung yang muncul dan menerima perintah Sam-thaikam. Kini Bin-kwi tahu bahwa Sam-thaikam ingin mendapatkan Pedang Tiga Dimensi, pantas menyuruh datang keponakannya untuk diberi tahu tentang itu. Kiranya pembesar kebiri ini pun ambisius, diam-diam ingin mengangkat keponakannya menjadi kaisar. Rupanya dengan memegang pedang itu saja orang lain dapat menikmati kekuatan gaibnya. Betapa mudahnya.
Ketika dia tertawa dan Ma Tung datang membawa keponakan Sam-thaikam yang pingsan, maka iblis ini menjawab, "Sekarang kita juga tahu bahwa Mao-taijin pun kiranya diam-diam ingin mendapatkan Sam-kong-kiam. Pedang ini ternyata betul-betul dapat membuat orang mengiler. Kedudukan seperti dua orang pembesar itu bukankah sebenarnya sudah tinggi? Mau tinggi macam apalagi mereka itu? Heh-heh, kita dikira bodoh, Ma Tung. Mereka rupanya mau memperalat kita untuk merampas pedang ini dari Kim-mou-eng, padahal taruhan kita adalah nyawa."
"Sekarang Sam-thaikam menyuruh kau mengantar keponakannya ke Su-chung, lakukan saja pekerjaan itu dan kau cepat kembali ke sini setelah melempar bocah ini. Mau apa lagi?"
"Jadi si menyebalkan ini kubawa juga?"
"Ya, sekalian mencari tahu tempat tinggal saudara perempuan Sam-thaikam itu. Bocah ini dininabobokkan pamannya, biar dia tenggelam dalam nina-boboknya itu dan berenang dalam laut khayal!"
"Tapi aku ingin melempar si tiada guna ini, aku ingin membenamkannya ke dalam lumpur!"
"Ah, jangan, Ma Tung. Itu berbahaya. Kepercayaan Sam-thaikam sudah semakin bertambah, jangan menurutkan emosi dan nafsu belaka. Bocah ini tak berbahaya bagi kita, kita tak perlu khawatir padanya."
"Tapi dia calon kaisar, Sam-thaikam telah memilih bocah ini untuk menduduki tempat tertinggi!"
"Ha-ha, jangan melantur, Ma Tung."