Chapter 61
Itu baru khayal Sam-thaikam!
Kalau kita tak memberikan Sam-kong-kiam padanya, apakah dia pun dapat mendudukkan keponakannya sebagai kaisar? Kalau kita miliki sendiri pedang keramat itu, apakah angan-angan Sam-thaikam dapat terkabul? Ha-ha, jangan bodoh, Ma Tung.
Itu semuanya tergantung kita!
Ma Tung terbelalak, tertegun juga. "Benar, bukan?" Bin-kwi menyambung seraya tertawa. "Atau kata-kataku salah?"
"Tidak," Ma Tung akhirnya sadar. "Kau benar, Bin-kwi. Aku lupa bahwa semuanya ini sebenarnya tergantung kita."
"Itulah, karena itu jangan bodoh. Biarkan Sam-thaikam menganggap kita jinak kepadanya dan terus mengalirkan uangnya kepada kita. Tapi begitu Sam-kong-kiam terampas dan jatuh di tangan kita, maka pedang itu tak akan kita serahkan pada si dungu bodoh!"
Ma Tung mengangguk-angguk. "Dan sekarang kau cepat pergi, Ma Tung. Cepat kembali dan bersiap-siap di sini. Besok kita akan menghadapi kemarahan Mao-taijin yang kehilangan bocah ini."
"Dan kita dituduh."
"Tuduh apa? Bukankah kita sudah menyerahkan bocah itu dan Mao-taijin menyuruh pengawalnya? Ha-ha, jangan goblok, Ma Tung! Mao-taijin telah melihat kesungguhan kita dan tak mungkin curiga. Yang kena damprat tentu pengawalnya itu; kita paling-paling disuruh mencari dan bisa saja berpura-pura mencari!"
Ma Tung terbelalak. "Setan kau," desisnya. "Kau cerdik, Bin-kwi. Kau benar-benar siluman!"
Ma Tung yang kagum akan kepintaran temannya ini tiba-tiba disambut tawa bergelak. Bin-kwi menyuruh kakek itu pergi mengantar kemenakan Sam-thaikam. Bong Kak yang ada di samping si Setan Ketawa ini juga mengangguk-angguk. Bong Kak pun kagum. Dan ketika Ma Tung mendesis serta berkelebat pergi, maka Bong Kak memuji temannya ini.
"Bin-kwi, kau hebat. Otakmu benar-benar jalan!"
"Sudahlah," Bin-kwi tertawa lebar. "Kau tak perlu memujiku, Bong Kak. Ini sebenarnya bukan persoalan rumit. Yang rumit masih ada di depan; kita harus menghadapi Kim-mou-eng dan kepandaiannya itu tak boleh kita pandang ringan."
"Hm, aku jadi gatal tangan. Kalau dulu dia tak melarikan diri dan mau menghadapi kita bertiga, tentu Sam-kong-kiam terampas!"
"Ya, dan kuharap pendekar itu tak tahu kita di sini. Itulah sebabnya kalian kubawa ke sini. Dan sekali dia muncul dan kita kepung, tak boleh dia lolos lagi dan Sam-kong-kiam harus menjadi milik kita!"
Bong Kak mengangguk-angguk. Dia mengepal tinju dan gemas teringat kejadian dulu, meskipun diam-diam dia pun bergidik melihat kehebatan pedang itu, ketajamannya yang luar biasa, dan kepandaian Kim-mou-eng pula. Sayang mereka tak bisa puas karena Kim-mou-eng keburu kabur menyelamatkan sumoinya.
Beberapa jam kemudian, Ma Tung kembali ke tempat mereka dan berkata bahwa kemenakan Sam-thaikam itu telah diantar ke tempat bibinya. Maka benar saja, di lain pihak keesokan harinya Mao-taijin marah-marah karena kehilangan tangkapannya.
"Goblok! Kalian kerbau-kerbau tolol. Masa kalian tak tahu siapa yang menculik bocah itu? Mana Bin-kwi? Mana tiga pengawalku yang lihai?"
Pembesar ini kelepasan bicara. Dalam gusarnya, dia menyebut-nyebut nama Bin-kwi dan para pengawal melongo. Memang mereka tak tahu kehadiran tiga iblis itu. Tentu saja pembesar ini sadar dan cepat menutup mulut. Hampir dia membuka rahasianya sendiri.
Ketika pengawal melongo dan dibentak diusir pergi, akhirnya menteri ini menepuk tangan memanggil Bin-kwi dan kawan-kawannya.
"Celaka, kita kebobolan. Bocah itu lenyap!"
Bin-kwi pura-pura bodoh. "Siapa yang lenyap, Taijin? Kebobolan apa?"
"Anak yang semalam kalian kirim itu, dia sudah tak ada lagi!"
"Lho?" Bin-kwi semakin pura-pura terkejut. "Bagaimana terjadinya itu, Taijin? Kapan hilangnya?"
"Semalam! Semalam pengawalku kedatangan penculik, mereka dirobohkan dan bocah itu dibawa. Aku menyesal tak menyuruh kalian saja yang menjaga!"
Mao-taijin yang mencak-mencak kehilangan tangkapannya lalu bercerita bahwa kemenakan Sam-thaikam dibawa lari seseorang, mungkin orang yang dihadapi Ma Tung itu. Bin-kwi dan teman-temannya berlagak bloon dan ikut marah. Ketika Mao-taijin selesai bercerita dan Bin-kwi mengetukkan kaki bambunya, maka iblis ini berkata, "Kalau begitu kami cari dia, Taijin. Biar kami bertiga menangkap dan membekuk penculik hina ini!"
"Betul, kalian boleh cari penculik itu. Tangkap dan bawa lagi bocah she Sam itu. Tapi jangan bertiga. Cukup seorang saja dan biar Bong Kak yang melakukan pekerjaan ini!"
Bong Kak mengangguk. "Baik, Taijin."
Begitu dia berkelebat dengan tawa di dalam hati, tokoh Bhutan ini pura-pura pergi dan mencari "penculik". Tentu saja tak akan dicari karena penculiknya adalah dia sendiri. Bin-kwi dan Ma Tung ikut tertawa melihat semuanya ini. Mereka lagi-lagi bertemu di tempat persembunyian. Itu sepak terjang mereka belaka.
Sementara mereka geli oleh hasil perbuatan mereka, seseorang yang mereka lupakan datang menemui Mao-taijin. Dia berbisik-bisik dan Mao-taijin mengerutkan alis. Orang ini tidak lain adalah Sin-kee Lo-jin. Hari itu dia tertatih-tatih menghadap majikannya, melapor apa yang terjadi dan mengatakan bahwa dia pingsan dipukul lawan yang amat lihai. Dia bertanya apakah Ma Tung berhasil memberikan keponakan Sam-thaikam itu dan apakah semuanya baik-baik.
Kebetulan Mao Kang, putra Mao-taijin, ada di situ. Dia melihat ayahnya marah-marah, menemani sang ayah, dan ikut marah melihat lenyapnya Sam Yin. Ketika Mao-taijin mengatakan bahwa tangkapan mereka sudah dibawa tapi hilang kembali dilarikan penculik, maka Ayam Sakti yang setia pada majikannya ini tertegun.
"Hilang, Taijin? Lenyap dari tempat tinggal Paduka?"
"Ya, semalam pengawal yang bodoh itu diserang, Lo-jin. Dan mereka mengatakan tak tahu pula siapa penculik ini!"
Si Ayam Sakti mengerutkan alirnya. "Tapi ada tiga pengawal Paduka yang sakti, apakah mereka tak tahu?"
"Mereka telah menyerahkan bocah itu kepadaku, dan aku lalu menyerahkannya pada pengawal bawah tanah."
"Itu tak soal, seharusnya mereka tahu dan menangkap penculik ini!"
Mao-taijin terkejut. "Kau menuduh?"
"Maaf," Sin-kee Lo-jin memandang ke sana ke mari, berhati-hati. "Tangkapan itu disembunyikan di wilayah Paduka, Taijin. Bukankah seharusnya Bin-kwi dan teman-temannya itu tahu kalau musuh mendatangi tempat ini? Bukankah tak masuk akal kalau mereka tak tahu dan tawanan lenyap? Ampun, hamba bukan menuduh mereka ini, Taijin. Tapi janggal rasanya kalau Bin-kwi dan dua temannya yang lihai itu tak tahu, kecuali mereka berada di luar dan tidak menjaga tempat Paduka!"
Mao-taijin terbelalak, mengangguk-angguk. "Benar, aku juga merasa heran, Lo-jin. Apakah mereka tak ada di tempat ketika penculik itu datang?"
"Atau mereka sendiri yang menculik?"
Mao Kang, pemuda di samping ayahnya, tiba-tiba berseru, membuat ayahnya terkejut. Ketika Lo-jin tampak berseri-seri dan rupanya setuju pada kata-kata pemuda ini, maka Mao Kang menyambung, "Apa yang dikata Lo-jin beralasan, Ayah. Aku jadi curiga terhadap tiga kakek iblis itu. Kita mungkin tertipu, dan Ayah harus menyelidiki ini!"
"Hm, bagaimana menyelidiki mereka?"
"Dengan mengawasi gerak-geriknya!"
"Tapi tak ada seorang pun di antara kita yang sanggup mengikuti gerak-gerik tiga kakek iblis itu. Apakah kau sanggup?"
Sang anak terdiam, terkejut. Dia lupa dan bingung juga setelah sang ayah bicara begini. Bin-kwi dan kawan-kawannya memang lihai, lagi pula mereka dirahasiakan ayahnya ini, tak ada pengawal tahu. Tapi Mao Kang yang rupanya tak mau kalah dan cerdik memutar akal tiba-tiba berkata, "Ayah, mereka memang tak dapat diikuti gerak-geriknya. Tapi kita tentu dapat membuat mereka salah arah dan tertangkap basah!"
"Salah arah bagaimana? Tertangkap basah bagaimana?"
"Begini, Ayah. Aku mempunyai akal...."
Mao Kang berbisik-bisik, sang ayah manggut-manggut, dan Mao-taijin rupanya girang. Pembesar ini setuju. Ketika sang anak selesai bicara dan Sin-kee Lo-jin menunggu saja, maka malam itu Bin-kwi menghadapi cobaan kedua.
"Bin-kwi," demikian Mao-taijin mulai bicara. "Aku ada persoalan serius yang ingin kukatakan kepadamu. Bagaimana dengan Bong Kak yang kusuruh cari pemuda itu? Ada hasilkah?"
Bin-kwi tersenyum. "Belum, Taijin. Bong Kak belum datang."
"Lalu kapan kira-kira?"
Bin-kwi mengerutkan alis. "Hamba tidak tahu, tapi tentunya tidak lama."
"Kau bisa menentukan batas waktunya?"
Repot! Bin-kwi tiba-tiba mendesah. Mendadak dia menjadi bingung oleh desakan ini. Mao-taijin menyuruh dia menentukan waktu, padahal Bong Kak ada di belakang lagi menikmati kesukaannya, bermain-main dengan dayang muda. Ketika Mao-taijin bertanya apakah kira-kira dia dapat menemukan itu dan kapan si penculik dapat dibawa, maka pembesar ini berkata, "Kalau kalian tak dapat menangkap penculik itu, percuma saja kalian mengaku pandai, Bin-kwi. Percuma saja aku mempercayai kalian dan memberi kedudukan pada kalian. Padahal Kim-mou-eng pasti lebih lihai dibanding penculik itu, jadi kalian harusnya mampu. Kenapa sekarang tak dapat menjawab dan kelihatan bingung? Manakah jasa kalian?"
"Hmm." Bin-kwi menggaruk-garuk kepala yang tak gatal. "Hamba tak dapat menentukan karena bukan hamba yang diberi tugas, Taijin. Bong Kak tak ada di sini dan hamba harus mencari dia dulu."
"Kalau begitu carilah, tentukan beberapa lama kau pergi dan katakan hasil tidaknya."
"Baik," Bin-kwi yang lenyap meninggalkan menteri itu lantas menemui dua temannya yang lagi bersenang-senang di belakang. Dia menceritakan permintaan menteri itu dan Ma Tung serta Bong Kak pun bingung. Mereka lupa bahwa mereka pasti dituntut kabarnya tentang penculik ini, berhasil tidaknya. Tapi ketika Bin-kwi menggaruk-garuk kepala dan mengumpat dengan muka merah, tiba-tiba Bong Kak berseru, "Aku datang saja pada Mao-taijin. Katakan terus terang bahwa aku tak berhasil menangkap penculik ini!"
"Bagus, dan mendapat kata-kata manis bahwa kita tak mampu melaksanakan perintah menteri itu? Bahwa kita ternyata tolol dan Mao-taijin jadi sangsi akan tugas kita menghadapi Kim-mou-eng? Tidak, itu tak boleh terjadi, Bong Kak."