Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 62

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 62

"Itu sama halnya menghilangkan kepercayaan Mao-taijin kepada kita!" Bin-kwi mendamprat.

Temannya tertegun dan Bong Kak melihat ada benarnya juga kata-kata itu. Memang Mao-taijin tak akan percaya lagi pada mereka, padahal mereka baru mendapat tugas penting ini sekali, belum dua kali atau tiga kali. Bong Kak menjadi bingung dan marah. Ketika Bin-kwi menggeleng berkali-kali dan Ma Tung juga kelihatan terdesak, mereka bertiga jadi mati kutu dan termangu-mangu.

"Bagaimana?" Tak ada yang menjawab.

"Sebaiknya bocah itu kita ambil kembali. Ma Tung melaksanakan tugas ini dan Bong Kak yang menyerahkannya pada Mao-taijin." Ma Tung dan Bong Kak terbelalak.

"Kau tak takut dampratan Sam-thaikam?"

"Hm, semuanya bisa diatur, Ma Tung. Kau ambil bocah itu tapi jangan tunjukkan dirimu. Gunakan kedok, bawa kembali bocah itu, dan kita serahkan kepada Mao-taijin. Semuanya aku yang bertanggung jawab!"

Ma Tung mengangguk. Kalau Bin-kwi sudah bicara tentang tanggung jawab, tentu saja dia merasa ringan. Urusan selanjutnya ada di pundak temannya itu. Malam itu juga dia pergi dan mengambil Sam Yin. Pemuda ini ditotok dan dirobohkan tanpa mengetahui siapa penyerangnya. Bong Kak menerima pemuda itu dan datang pada Mao-taijin, berkata bahwa dia berhasil mengejar si penculik. Mao-taijin girang; tiba-tiba keraguannya lenyap dan akal sehatnya berhenti setengah jalan.

Sam Yin kini dijaga ketat dan Bin-kwi serta dua temannya itu yang diminta menjaga. Tiga iblis ini tersenyum sejenak. Tapi ketika Sam-thaikam marah-marah dan mendengar hilangnya keponakannya itu, maka Bin-kwi dipanggil dan disemprot.

"Bagaimana ini? Kenapa keponakanku lenyap?" Bin-kwi pura-pura bodoh dan menyeringai. "Hamba tak tahu, Taijin. Bukankah Paduka sudah menyembunyikannya di Dusun Su-chung?"

"Ya, tapi saudara perempuanku ini datang. Dia memberi tahu sambil menangis bahwa keponakanku lenyap. Ini tak boleh terjadi!"

"Lalu maksud Paduka?"

"Aku menuntut tanggung jawab kalian, terutama Ma Tung. Dialah yang tahu rumah persembunyian kemenakanku!"

Celaka, Bin-kwi tiba-tiba berubah mukanya. Sam-thaikam menyuruh dia memanggil temannya itu. Ma Tung menghadap dengan bingung. Ketika Thaikam itu marah-marah dan berkata bahwa tak ada orang lain yang tahu kecuali Ma Tung, pembesar ini berkata, "Ini tanggung jawabmu, Ma Tung. Aku tak mau tahu, pokoknya Sam Yin harus kembali. Kalau tidak, kalian tak dapat kupercaya lagi dan aku tak akan mempergunakan kalian!"

Ma Tung dan Bin-kwi bingung. Sam-thaikam adalah orang yang paling royal memberikan hadiah; tiba-tiba mereka berada di persimpangan jalan dan gugup. Ma Tung mengeluarkan keringat. Ketika Sam-thaikam kembali berkata bahwa mereka bertiga ternama dan Ma Tung harus bertanggung jawab atas hilangnya anak muda itu karena hanya kakek Bhutan inilah satu-satunya orang yang tahu di mana Sam Yin bersembunyi, maka Ma Tung mencaci temannya ketika mereka mundur ke belakang.

"Bangsat, baru kali ini aku dibenci pembesar kebiri, Bin-kwi. Kalau bukan gara-gara kau, tentu tak akan terjadi semuanya ini. Hayo mana tanggung jawabmu? Apa yang harus kita lakukan dan siapa yang akan kita pilih di antara dua pembesar itu?"

Bin-kwi kecut. Sekarang dia menjebak teman-temannya sendiri dalam keadaan yang tidak enak. Ma Tung marah dan memaki dirinya. Dia harus mencari jalan keluar. Dan karena jalan keluar itu hanyalah membebaskan Sam Yin dan mengembalikan pemuda itu ke asalnya, maka Bin-kwi nekat membebaskan keponakan Sam-thaikam itu.

Esoknya, kemenakan Sam-thaikam itu lagi-lagi "hilang". Mao-taijin mencak-mencak dan menuduh mereka. Merekalah yang menjaga, tak ada hujan tak ada angin, tiba-tiba tawanan lenyap. Bin-kwi dan dua temannya "disidang". Ketika mereka terpojok dan bingung menjawab pertanyaan-pertanyaan Mao-taijin, mendadak terdengar suatu tawa bergelak dan empat bayangan muncul berkelebat satu per satu.

"Ha-ha, permainanmu ini konyol, Bin-kwi. Kalau niat menipu Mao-taijin, bilang saja terus terang. Kami berempat tahu semua sepak terjang kalian!"

"Mo-ong....!" Bin-kwi terkejut, melompat berdiri, dan melihat Mo-ong serta Hek-bong Siang Lo-mo di situ, bersama Bu Kongcu. Guru dan murid ini bersinar-sinar memandang mereka. Mo-ong lah yang tadi tertawa bergelak dan mengejek si Setan Ketawa ini. Ketika Bin-kwi terkejut melihat kedatangan bekas rekannya, tiba-tiba Bong Kak yang marah dan menggereng keras mencelat dari tempat duduknya menghantam kakek bermuka singa ini, karena baru kali itu bertemu Mo-ong.

"Manusia busuk, kau enyahlah!"

Mo-ong terbelalak. Dia telah mendengar munculnya dua tokoh Bhutan ini, tapi baru kali itu pula mengenal Bong Kak dan Ma Tung, serta mendengar kabar tentang Bin-kwi yang dikira tewas. Kini melihat serangan Bong Kak, dia kaget oleh angin pukulannya yang dahsyat. Mo-ong membelalakkan mata tapi tiba-tiba tertawa dan berseru keras.

Ketika angin pukulan tiba dan Bong Kak menggeram mengerotokkan buku-buku jarinya, mendadak iblis ini menangkis dan cepat merendahkan tubuh setengah membungkuk.

"Dess!"

Dua orang itu sama terpental. Baik Mo-ong maupun lawannya mencelat setombak, masing-masing melotot. Adu pukulan itu membuat dinding bergetar dan Mao-taijin khawatir gedungnya ambruk. Bong Kak berseru marah dan menerjang lagi. Kali ini dia mengerahkan Hek-in-ciang-nya hingga kedua lengan mengeluarkan uap hitam, juga bau amis.

Tapi Mo-ong terbahak gembira dan justru penasaran melihat kekuatan lawan. Tiba-tiba dia merendahkan tubuh semakin membungkuk lagi dan berteriak, "Bin-kwi, temanmu hebat!" dan begitu dua lengan iblis ini digetarkan ke muka dan menyambut Hek-in-ciang, tiba-tiba genting di atas berkerotok dan langit-langit ruangan runtuh.

Mao-taijin berteriak-teriak dan yang lain melompat keluar. Adu pukulan itu mengguncang jantung, Mao-taijin terjerembab di sana sambil batuk-batuk. Sin-kee Lo-jin cepat menolong dan membawa majikannya itu keluar. Mo-ong dan Bong Kak sendiri terjengkang bergulingan dan sama-sama mengeluh. Tapi ketika mereka melompat bangun dan para pengawal berdatangan kaget oleh ribut-ribut itu, Bin-kwi berseru menahan teman-temannya.

"Mo-ong, Bong Kak, tahan. Jangan kalian bertempur!" Bin-kwi mengibas para pengawal yang berdatangan dengan kedua lengan bajunya dan membentak agar para pengawal itu mundur. Ia terpaksa melakukan itu. Mao-taijin marah-marah. Ketika semuanya terbelalak dan ngeri namun gembira oleh pertandingan dua orang sakti, Bin-kwi buru-buru mengangkat tangan tinggi-tinggi, mengenal watak Mo-ong yang rupanya memiliki keperluan dengannya.

"Mo-ong, kau datang dengan tiba-tiba. Apa maksudmu ke sini mencari aku? Ada keperluan apa?"

"Heh-heh," Mo-ong mengusap dada kirinya yang sesak, melotot tapi kagum memandang Bong Kak. "Temanmu itu hebat, Bin-kwi. Siapa dia? Mau kau memperkenalkan sebelum aku menjawab pertanyaanmu?"

"Dia Bong Kak, yang ini Ma Tung."

"Dari Bhutan?"

"Ya."

"Bagus, kalau begitu kita semakin kuat!" Sai Mo-ong berkata, "Bin-kwi, aku datang untuk mengucap syukur bahwa kau masih selamat. Ini tak kusangka. Dan kedua, aku hendak memberi tahu kematian Kim-mou-eng."

"Apa, Kim-mou-eng mampus?" Bin-kwi kaget. "Kau main-main, Mo-ong?"

"Ha-ha, yang membunuh adalah aku dan Sepasang Iblis Kuburan ini, Bin-kwi. Kau boleh tanya mereka kalau tidak percaya."

"Tapi beberapa bulan yang lalu aku bertemu Kim-mou-eng, aku melihat dan menghadapinya bersama dua temanku ini," Bin-kwi tak percaya.

"Betul, tapi Kim-mou-eng kini telah mampus, Bin-kwi. Dulu aku membunuhnya tapi rupanya Pendekar Rambut Emas itu hidup lagi. Sekarang seseorang benar-benar membuatnya tak ada lagi di dunia. Kim-mou-eng telah tewas tapi seorang musuh luar biasa menantang kita!"

Bin-kwi bingung. "Mo-ong, sebaiknya tak perlu main-main. Beberapa waktu yang lalu Kim-mou-eng ke istana, menculik dayang, dan sampai kini ditunggu kedatangannya oleh Mao-taijin. Kami pun menunggu kedatangannya, sekarang kau bilang dia mampus dan tak ada lagi. Siapa mau percaya omonganmu yang suka membual ini?"

"Hm!" Mo-ong mengejek. "Kau tanya dua iblis ini, Bin-kwi. Dan biar kau menunggu Kim-mou-eng seumur hidup pun tak bakalan dia datang!"

"Apa yang terjadi? Kalian dapat menceritakannya, Lo-mo?" Bin-kwi kini memandang Sepasang Iblis Kuburan itu. Hek-bong Siang Lo-mo mendengus dan mengangguk. Ketika Lo-mo bercerita bahwa Kim-mou-eng telah tewas dan Pedang Tiga Dimensi yang ada di tangan pendekar itu dirampas Giam-lo-kiam (Si Pedang Maut) Hu Beng Kui, maka si Setan Ketawa ini terbelalak dan tertegun.

"Giam-lo-kiam Hu Beng Kui? Siapa dia ini? Kenapa aku belum pernah mendengar namanya?"

"Dia seorang tokoh selatan, Bin-kwi. Kepandaiannya hebat dan ilmu pedangnya luar biasa. Kita belum pernah mendengar namanya karena memang dia tak pernah keluar rumah. Kini dia muncul karena Sam-kong-kiam itu, dan Kim-mou-eng tewas di tangannya dan pedang dirampas!"

"Hebat, kalau begitu dia tokoh luar biasa!"

"Ya, dan orang ini memang tak boleh dibuat main-main, Bin-kwi. Dia sekeluarga merupakan tokoh yang lengkap. Bersama dua putra-putrinya dan lima muridnya yang lihai, terus terang aku dan Mo-ong menghadapi lawan berat. Karena itu kami minta kau bergabung. Si Pedang Maut itu telah menantang siapa saja yang ingin merampas Sam-kong-kiam boleh datang ke rumahnya. Dia menunggu dan siap menghadapi siapa saja yang bertandang ke sana!"

"Sombong!" Bin-kwi kian tertegun, menjadi marah. "Apakah dia mau menantang orang sedunia, Lo-mo? Apakah Pedang Maut ini tak khawatir diserbu orang banyak?"

"Dia memang sombong, dan dia tak khawatir. Justru orang she Hu ini mengundang siapa saja yang ingin berurusan dengannya di rumahnya!"

Siauw-bin-kwi terbelalak. Kalau orang sudah begitu berani tentu Giam-lo-kiam Hu Beng Kui ini orang hebat, bukan main-main. Lo-mo memberi tahu bahwa si Pedang Maut ini tinggal di Ce-bu. Tempat ini terletak di provinsi Kwong-tung, jauh juga, nyaris di ekor wilayah Tiongkok.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment