Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 63

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 63

Lo-mo bercerita bahwa nama itu mencuat beberapa hari yang lalu; begitu hebatnya hingga dunia kang-ouw geger. Bin-kwi dan temannya tak tahu karena kerja mereka sehari-hari hanya bersenang-senang di istana. Mereka terkejut dan tertegun mendengar semuanya. Kim-mou-eng tewas, dan Pedang Tiga Sinar atau Pedang Tiga Dimensi itu kini berada di tangan orang lihai bernama Giam-lo-kiam Hu Beng Kui.

"Nah, kalian sekarang tahu berita ini, Bin-kwi. Kalian angkrem saja seperti ayam mau bertelur. Hu Beng Kui telah menantang kita, menantang siapa saja yang ingin merampas kembali Sam-kong-kiam itu. Apakah kalian tidak tertarik dan ingin menipu dua pembesar di sini? Bukankah itu tiada guna dan memalukan nama besar kalian? Ayo, ikut kami, bergabung dan kita menuju Ce-bu!"

"Ha-ha!" Bin-kwi akhirnya tertawa. "Kau benar, Mo-ong. Aku dan dua temanku di sini memang menunggu-nunggu Sam-kong-kiam itu. Setelah Kim-mou-eng mampus dan pedang berpindah ke tangan Hu Beng Kui, aku ingin tahu seberapa hebat kepandaian orang sombong itu. Kalau dia telah membunuh Kim-mou-eng, berarti dia betul-betul hebat!"

"Tentu, dan bertiga menghadapi Kim-mou-eng saja kita masih kalah, Bin-kwi. Apalagi menghadapi si Pedang Maut ini yang masih dibantu dua anaknya dan lima muridnya!"

Bin-kwi tertawa bergelak. Sekarang dia melihat kegembiraan itu, melihat Mao-taijin melotot dan merasa tertipu. Menteri itu batuk-batuk dan bangkit berdiri, memakinya sebagai orang yang tak dapat dipercaya, dan Bin-kwi merasa geli. Ketika menteri itu memanggil pengawalnya dan menyuruh mereka menyerang, Bin-kwi berkelebat memberi aba-aba pada dua temannya.

"Bong Kak, Ma Tung, kita pergi...!" Iblis itu melesat di atas kepala para pengawal. Bin-kwi tak mau bersenang-senang lagi di situ. Dia telah mengerahkan kepandaiannya dan lenyap dalam waktu yang sangat cepat, disusul Bong Kak dan Ma Tung yang tertarik mendengar berita itu.

Tokoh baru muncul. Si Pedang Maut Hu Beng Kui menantang mereka. Ketika Bin-kwi terbahak pada Mo-ong dan Mo-ong tertawa menggerakkan kakinya, tiba-tiba iblis ini pun berseru meninggalkan tempat itu, disusul Hek-bong Siang-lo-mo dan Bu-kongcu. Mereka mengibaskan lengan, membuat pengawal roboh berpelantingan. Untungnya, iblis-iblis ini tak menurunkan tangan kejam.

Ketika mereka melesat keluar dan lenyap entah ke mana, Mao-taijin berteriak teriak seperti kambing kebakaran jenggot, "Tangkap mereka, kejar....!"

Namun, siapa yang berani menghadapi Bin-kwi dan kawan-kawannya? Para pengawal hanya mengangguk dan pura-pura mengejar, ikut berteriak-teriak seolah pasukan gagah berani. Tapi begitu berada di luar dan berpencar ke sana-sini, mereka membalik dan kembali ke posnya masing-masing.

Para pengawal tak ada yang berani melaksanakan perintah itu. Mereka lebih baik dimaki. Karena Bin-kwi dan kawan-kawannya sudah lenyap meninggalkan tempat itu dan sia-sia Mao-taijin berteriak-teriak, maka pengawal melapor bahwa mereka tak berhasil. Memang, mereka mendapat dampratan dan cacian, tapi begitu Mao-taijin terhuyung dan memasuki kamarnya, pengawal pun tersenyum menyeringai dan ganti mengumpat menteri itu secara diam-diam.

Ce-bu, kota di provinsi Kwang-tung ini, tak begitu besar. Kota ini berada di jantung provinsi, terletak di selatan pegunungan Nan-ling-san. Namun, karena kota ini merupakan kota dagang dan lalu lintas perdagangan cukup ramai di situ, meskipun kecil, kota ini adalah kota yang hidup.

Di sini tinggal seorang pedagang besar. Orang mengenalnya sebagai keluarga Hu. Keluarga ini cukup kaya dan rumahnya yang bagus, yang terletak di jantung kota, juga cukup menarik perhatian karena megah. Rumah itu berlantai dua dan merupakan rumah paling besar di seluruh kota. Karena keluarga ini selama ini dikenal baik-baik dan cukup dermawan pada fakir miskin, orang mengenal keluarga Hu sebagai keluarga yang sosial, ramah, dan tidak congkak.

Hu-wangwe (hartawan Hu) orangnya sederhana saja, tapi selalu rapi. Dia memiliki seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan, semuanya sudah dewasa, gagah, dan cantik. Mereka berusia dua puluh dan sembilan belas tahun. Karena keluarga ini mempunyai rumah yang besar, tentu saja mereka harus memiliki pembantu; ada tak kurang dari sepuluh orang. Namun, dari semuanya itu, mereka sendiri masih dipisah oleh dua golongan penting. Pelayan dalam arti kata sebenarnya hanya tujuh orang, yang mengurusi rumah dan urusan domestik. Sedang yang lain, lima orang jumlahnya, adalah "pelayan-pelayan" istimewa. Mereka ini tidak bekerja di rumah, melainkan di luar, membantu urusan dagang Hu-wangwe.

Karena keluarga ini cukup tersembunyi dalam masalah pribadi, tak ada seorang pun kecuali wali kota dan beberapa pembesar di situ yang mengetahui bahwa Hu-wangwe, di samping seorang pedagang, juga seorang ahli silat yang amat pandai, seorang jago pedang yang amat lihai. Dia dijuluki Si Pedang Maut dan nyaris membuat penjahat roboh sebelum bertanding. Itulah yang tak diketahui kebanyakan orang.

Karena Pedang Maut Hu Beng Kui ini tak menonjol sepak terjangnya dan hanya dikenal sebagai pedagang besar serta hartawan yang ramah, penduduk kota bersikap biasa-biasa saja kepadanya. Hal ini kurang disenangi putrinya yang pernah memprotes, "Ayah adalah seorang jago pedang, kenapa tak ingin diketahui dan takut terhadap warga Ce-bu? Bukankah ini akan menaikkan derajat kita dan meningkatkan wibawa Ayah? Aku tak mau orang bersikap sembarangan kepada kita. Ayah lihat tingkah si juragan cita yang melamar aku itu, enak saja meminang diriku untuk anaknya yang berhidung pesek!"

"Ha-ha, itu bukan karena salahmu, Lian-Ji (anak Lian). Melainkan semata ketidaktahuan si orang she Kok itu. Biarlah, kenapa sewot dan harus marah? Bukankah lamarannya sudah kutolak?"

"Tapi anaknya sering peringas-peringis, aku benci sikapnya itu!"

Hu-wangwe tertawa. Swat Lian, putri Hu Beng Kui, marah-marah. Beberapa hari yang lalu, datang si juragan cita meminangnya, bukan untuk diri sendiri melainkan untuk anak laki-lakinya. Lamaran ditolak, tapi anak juragan she Lok itu sering menggoda Swat Lian dengan cengar-cengir. Hu-wangwe mengatakan biar saja dan tak perlu pemuda itu ditanggapi. Swat Lian hampir tak kuat dan ingin menghajar lawannya, tetapi sang ayah mengerutkan kening.

Karena juragan she Lok itu adalah rekan dagang sementara puterinya seorang gadis yang keras, Hu-wangwe akhirnya berkata, "Kau tak perlu lagi bertemu dengannya. Kalau anak orang she Lok itu datang menghampirimu, lebih baik kau pergi. Toh kau dapat melakukan itu."

Swat Lian menurut. Dia tahu kehendak ayahnya bahwa ayahnya tak mau hubungan dengan juragan cita itu rusak. Persoalan pinangan sudah dianggap selesai. Hu Beng Kui menyatakan putrinya belum ingin menikah; inilah penolakan halus. Tapi anak juragan she Lok yang rupanya tergila-gila pada Swat Lian ternyata tak melepaskan gadis ini semudah perkiraan Hu-wangwe. Swat Lian yang menghindar selalu diburu, dan gadis itu menjadi jengkel.

Suatu hari, ketika gadis itu memasuki pasar dan sedang berbelanja, tahu-tahu Lok Pauw, anak juragan cita itu, sudah berada di sampingnya.

"Heh-heh, belanja apa, Hu-siocia?"

Swat Lian mengerutkan kening. Dia terkejut melihat kehadiran pemuda itu dan sekarang tak dapat menghindar. Orang itu sudah berada di sampingnya dan siap membawakan belanjaannya, sayur dan buah-buahan. Swat Lian menjadi sebal dan ingin menampar. Namun, karena ayah pemuda itu rekan dagang ayahnya dan dia tak mau merusak hubungan itu, Swat Lian berkata bahwa sebaiknya pemuda itu tak mengganggu.

"Ah, aku tak mengganggumu, siocia. Bahkan ingin menolongmu. Bukankah belanjaanmu berat? Mari kubawakan semuanya!" Lok Pauw sudah menyambar belanjaan Swat Lian, tertawa-tawa, dan orang pasar tersenyum. Mereka sama-sama mengenal dua anak muda itu; yang satu putra juragan cita, sedang yang lain putri Hu-wangwe. Perhatian lebih tertarik pada Hu-siocia yang cantik ini.

Swat Lian memang cantik. Tapi ketika Lok Pauw membawakan belanjaannya dan gadis ini geram, tiba-tiba Swat Lian ingin memberi pelajaran.

"Kau tak perlu repot-repot, biarlah itu kubawa sendiri!"

Swat Lian maju dengan cepat, kedua tangannya bergerak, dan tanpa diketahui seorang pun, dia memencet jalan darah di tengkuk pemuda ini, jalan darah git-ceng-hiat yang membuat orang akan menjerit karena tubuh seakan disengat ribuan tawon. Tak berhenti di situ saja, kaki Swat Lian menyentuh jalan darah di belakang lutut pemuda itu, yang juga akan membuat Lok Pauw terguling-guling mengaduh kesakitan.

Ketika benar saja pemuda itu menjerit dan berteriak mengejutkan orang pasar, tahu-tahu dia sudah bergulingan dan mengaduh-aduh tak keruan. Tengkuk dan belakang lututnya dipegangi seperti orang kena setrum!

"Aduh.... augh.... aku disengat tawon..... tolong....!"

Orang-orang terkejut. Swat Lian sendiri sudah menyelinap menyambar belanjaannya; dia tersenyum puas menghajar pemuda itu. Tapi ketika orang ribut-ribut dan Swat Lian menjauhi tempat itu, mendadak seorang laki-laki berkelebat menghadang dan membentak, "Nona, sembuhkan dulu Lok-siauwya (tuan muda Lok)!"

Swat Lian berhenti. Dia hampir menabrak seorang laki-laki brewok yang tinggi besar. Laki-laki ini sudah menghadang larinya dan Swat Lian marah. Di belakang, Lok Pauw masih mengaduh-aduh tak keruan. Pasar menjadi ribut dan ramai. Tak ada orang yang mampu menyembuhkan Lok Pauw; pemuda itu memang akan menderita setengah jam lebih. Swat Lian telah mengatur ini.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment