Chapter 64
Ketika pria brewok itu membentaknya dan Swat Lian meletakkan barang belanjaannya, pria itu berkata lagi dengan nada tinggi, "Kau mengerjai Lok-siauwya! Kau menotok tengkuk dan belakang lututnya. Sembuhkan dia dulu baru kau boleh pulang!"
"Hmm!" Swat Lian menjadi gusar. "Siapakah kau dan apa hubunganmu dengan pemuda itu? Kalau kau tahu aku menotoknya, mengapa tidak kau sembuhkan sendiri? Bukankah kau tahu?"
"Aku telah mencoba, tapi gagal. Aku adalah centeng Lok-loya, dan karena itu aku harus menjaga keselamatan keluarganya!"
"Bagus, kalau begitu kau minggir. Suruh Lok-siauwya datang ke rumahku dan biar dia kusembuhkan di sana." Swat Lian meloncat, menyambar kembali barang bawaannya, lalu tiba-tiba menyelinap di samping laki-laki itu.
Laki-laki tersebut terkejut dan mencoba menggerakkan lengan, tetapi Swat Lian telah lolos. Saat Swat Lian berlari cepat dan tidak ingin membuat keributan, laki-laki itu mengejar dan membentak, "Hu-siocia, kau harus kembali dulu!"
Swat Lian mendongkol. Kalau saja tidak ingat pesan ayahnya, tentu ia sudah menghajar laki-laki ini. Namun, ia tidak senang menjadi pusat perhatian orang banyak karena teriakan laki-laki tersebut. Mereka berlari di jalan raya; Swat Lian tidak berani mengerahkan ginkang-nya dan hanya berlari biasa. Mereka seolah sedang adu cepat.
Ketika Swat Lian hampir tiba di rumahnya dan laki-laki di belakang tetap mengejar, kebetulan seorang pemuda muncul. Ia adalah murid dari Giam-lo-kiam Hu Beng Kui.
"Sumoi, ada apa?"
Swat Lian menuding ke belakang. "Centeng Lok-loya itu mengejar-ngejarku seperti orang gila. Hajar dia!"
Pemuda itu mengangguk. Ia melompat ke depan untuk menghadang, sementara Swat Lian segera memasuki rumahnya dan lenyap. Centeng itu berhenti dan terbelalak marah karena gagal mengejar putri Hu-wangwe. Saat pemuda yang dikenalnya sebagai pembantu Hu-wangwe itu melompat ke depan dan menghadang, si centeng membentak, "Kau minggirlah!"
Tangannya mencengkeram ke arah pundak, bersiap mendorong dan membanting pemuda itu, namun disambut dengus mengejek. Pemuda itu, Kao Sin, murid termuda Hu Beng Kui, tidak mengelak. Ketika tangan lawan mencengkeram pundaknya, Kao Sin mendadak membentak, "Kaulah yang minggir!"
Begitu kakinya bergerak cepat menuju perut lawan, terdengar suara "ngek". Centeng itu berteriak, terpelanting, dan roboh terjerembap. Lutut Kao Sin telah bersarang di perutnya. Centeng itu mengaduh-aduh, namun ketika ia melompat bangun dan melotot marah, ia mencabut golok dan menyerang Kao Sin.
"Kau pelayan jahanam. Derajatmu masih rendah dibanding aku!" seru centeng itu sambil membacok bertubi-tubi. Ia terus memaki Kao Sin yang dianggapnya pelayan biasa. Namun, saat lawan berloncatan ringan dan tidak satu pun serangan mengenai tubuhnya, si tukang pukul itu terkejut.
"Kau kiranya bisa sedikit ilmu silat, pantas sombong," bentak centeng itu lagi. Ia kembali menyerang, namun Kao Sin terus mengelak sambil mengejek bahwa centeng itulah yang sombong. Saat centeng itu semakin membabi-buta mengayunkan golok, tiba-tiba Kao Sin menangkis bacokannya sambil berseru, "Sekarang kau lihat, aku yang tak tahu diri atau kau... plak!"
Golok yang ditangkis itu patah oleh tangan telanjang. Sang centeng teriak kaget, terbelalak, dan tertegun. Saat ia terkesima dengan mata pucat, lawan telah menendang pinggangnya hingga ia terbanting dan tidak dapat bangun lagi.
"Aduh... aduh...!" Centeng itu mengerang di atas tanah, menggeliat sambil menekan pinggangnya yang kesakitan. Sekarang ia sadar bahwa "pelayan" Hu-wangwe ini bukan orang sembarangan. Karena takut, ia minta ampun. Kao Sin pun membebaskannya dan menyuruh tukang pukul itu pergi.
"Kau jangan berlagak macam-macam. Kalau tidak ingat pesan guruku, tentu tulang-tulangmu sudah kupatahkan!" ancam Kao Sin. Centeng itu mengangguk berkali-kali dan segera pergi dari Kota Ce-bu. Ia melaporkan kepada majikan mudanya bahwa di rumah keluarga Hu terdapat seorang pemuda lihai.
Lok Pauw terkejut dan bimbang; ia tidak berani lagi mengganggu Swat Lian karena takut pada Kao Sin. Namun, seminggu kemudian, centeng itu kembali bersama lima orang kawannya. Mereka mencegat Kao Sin yang tengah mengawal kereta barang milik Hu Beng Kui di pinggiran kota.
Enam laki-laki itu menyuruhnya turun. "Kau berhutang sesuatu kepada kami. Turunlah!"
Kao Sin tertegun. Ia melihat laki-laki brewok itu dan sadar bahwa urusan seminggu lalu berbuntut panjang. Ia melompat turun dan tersenyum mengejek. "Aku berhutang apa pada kalian? Dan ini centeng Lok-loya, bukan?"
"Benar, dia A-lun, kami teman-temannya. Kami menuntut hutang karena seminggu yang lalu kau menghina teman kami ini. Sekarang bayar dosamu, tinggalkan kereta ini atau kau berlutut minta ampun dan mencium kaki kami!"
"Hm...!" Kao Sin tertawa mengejek. "Urusanku dengan A-lun sudah selesai, sobat. Kenapa diperpanjang dan mencari ribut? Kalau kalian ingin merampok, bilang saja, tak usah banyak bicara."
"Sombong!" Orang di depan mencabut senjata dan langsung menyerang. Kao Sin yang berkelit dan tertawa mengejek, tetap waspada terhadap lima orang lainnya. Kao Sin sengaja bermain-main sambil mengawasi si A-lun.
Ketika lawan kembali menyerang, Kao Sin menangkis sambaran golok tersebut. Ia membentak dan mencengkeram golok itu hingga patah. Si pemilik golok ternganga, lalu Kao Sin menendangnya hingga terjungkal.
"Nah, sekarang tahu rasa. Yang ingin coba-coba boleh maju!" tantang Kao Sin.
Melihat teman-temannya terkejut dan A-lun pucat, mereka memutuskan mengeroyok. A-lun memberi aba-aba dan empat temannya menyerang, sementara yang tadi roboh bangkit lagi dengan senjata cadangan. Enam golok menyambar-nyambar, namun Kao Sin dengan lihai berjumpalitan melewati kepala mereka.
"Wui-wut wut...!" Enam golok menyambar, tapi Kao Sin hanya menggeliat dan memiringkan tubuh. Gerakannya sederhana namun semua serangan luput. Setelah itu, Kao Sin membentak sambil mengayunkan lengan kirinya, "Sekarang kalian rasakan balasanku!"
"Plak-plak-plak!" Enam lawan terpelanting dengan pipi bengkak. Mereka bangkit kembali dengan marah, namun Kao Sin berkelebat lenyap dengan ilmu ginkang yang luar biasa, membuat lawan tidak tahu ke mana ia menghilang.