Chapter 65
Saat lawan terbelalak mencari keberadaannya, mendadak Kao Sin muncul dari atas sambil terbahak. Pemuda itu tadi melompat ke atas pohon dan kini melayang turun mengejutkan enam lawannya.
"Sekarang kalian rasakan kakiku, boleh tambah kalau kurang!" Des! Des! Des! Enam lawan itu kontan terbanting, mengaduh, dan menjerit kesakitan. Si brewok bahkan mengeluh karena menerima tendangan paling keras; dagunya terangkat dan rahang bawahnya sobek akibat sepatu Kao Sin yang mencuat terlalu cepat untuk dihindari.
Mereka semua bergulingan.
Saat mereka berteriak dan melompat bangun, tahu-tahu Kao Sin sudah berkelebatan di antara mereka dan merampas enam batang golok, membuat lawan tertegun.
"Nah, siapa yang berani coba-coba lagi?" Enam orang itu mendadak gentar.
Mereka hanya melihat bayangan pemuda itu mengelilingi mereka, pergelangan tangan diketuk, lalu golok pun disambar. Kini, keenam batang golok itu ada di tangan sang pemuda. Kao Sin memain-mainkannya seperti orang bermain gelang tanpa ada yang berani menjawab.
Ketika Kao Sin tertawa dan ingin menghajar si brewok, tiba-tiba ia menyambitkan sebatang golok ke telinga laki-laki itu.
"Kau yang menjadi gara-gara, kau pula yang harus menerima hukuman!" Cras! Telinga si brewok terpapas, darah memuncrat, dan ia pun menjerit. Ia jatuh bergulingan mendekap telinganya yang berdarah; daun telinga itu telah jatuh ke tanah.
Karena takut pemuda itu akan terus membuntuti mereka seperti ia membuntungi telinga si brewok, lima orang lainnya mendadak menjatuhkan diri, berlutut, dan memohon ampun.
"Siauw-hiap (pendekar muda), ampuni kami. Kami memang terbujuk Alun!"
Kao Sin tertawa. "Kalian benar-benar bertobat atau hanya pura-pura?"
"Tidak... tidak! Kami betul-betul bertobat, siauw-hiap. Ampuni kami dan jangan hukum kami!"
"Baiklah. Kalau begitu kalian enyah dan jangan tunjukkan muka lagi kepadaku!" Kao Sin membuang golok-golok yang sudah patah itu. Kelima orang tersebut mengangguk, lalu tanpa diperintah lagi mereka bangkit berdiri dengan kaki menggigil dan muka pucat.
Saat mereka memutar kaki dan membalikkan tubuh, mereka langsung kabur tanpa memedulikan si brewok yang masih merintih memandangi potongan telinganya.
"Hei, bawa aku!" teriak laki-laki itu terkejut. Seketika ia sadar dan tidak memedulikan lagi daun telinganya; ia sudah terlanjur ngeri menghadapi Kao Sin.
Karena kelima kawannya sudah lari mendahului, Kao Sin pun tertawa melihat ketakutan si brewok. Akhirnya, Kao Sin meloncat ke atas keretanya lagi dan membedal tali kekang. Begitulah cara Kao Sin menghajar keenam lawannya. Dengan mudah dan tanpa senjata, ia melumpuhkan si brewok beserta teman-temannya.
Karena pemuda ini memang lihai, kekalahan si brewok membuat lawan-lawan lainnya merasa gentar. Entah bagaimana, tiba-tiba pemuda ini menjadi dikenal dan terus-menerus menghadapi lawan baru. Rupanya, orang-orang ini ingin menjajal kepandaian sang pemuda dengan berbagai alasan. Barangkali mereka penasaran atau ingin tahu seberapa hebat kepandaiannya; kebanyakan dari mereka adalah orang-orang kasar, mungkin teman si brewok yang berprofesi sebagai tukang pukul.
Kao Sin merasa jengkel dan menghajar mereka semua. Namun, ketika suatu hari ia didatangi seorang wanita muda disertai nenek tua yang menghadang jalannya, Kao Sin tertegun karena kali ini ia menghadapi lawan yang berbeda.
"Kau bocah bermarga Kao?" bentak nenek itu dengan seruan galak.
"Kau pembantu Hu-wangwe?" Kao Sin terkejut.
"Ya. Ada apa? Siapa kalian?"
"Aku penghuni Bukit Hitam, ini muridku, Hoa Kiem."
"Hah," Kao Sin terbelalak. "Locianpwe adalah Hek-san Mo-li (Iblis Wanita dari Bukit Hitam)? Ada keperluan apa datang menggangguku di jalan?"
"Heh-heh," nenek itu mendadak tertawa. "Kau mengenal diriku, bocah. Kalau begitu kau pemuda yang cukup pandai. Aku memang Hek-san Mo-li. Aku ingin menguji muridku sekaligus mencari jodoh. Kalau kau dapat mengalahkan muridku, maka kau pantas menjadi suaminya!"
Kao Sin melongo dengan muka memerah, apalagi melihat wanita muda di samping Hek-san Mo-li yang tersenyum-senyum. Sejak tadi gadis itu memandangnya dengan mata bersinar-sinar; Kao Sin barangkali dianggap calon yang tepat. Namun, karena cara itu dianggap tidak wajar dan Hek-san Mo-li dikenal sebagai nenek jahat, Kao Sin menolak tawaran tersebut meski Hoa Kiem cantik dan murah senyum.
Begitu menggeleng dan mundur selangkah, pemuda ini berkata agak jengah, "Aku tak dapat menerima itu. Aku tak biasa bertanding untuk urusan begini!"
"Heh, kau menolak? Kau berani menentang kehendak Hek-san Mo-li?"
Sebelum Kao Sin menjawab, gadis di samping nenek itu tertawa genit. "Subo, sebaiknya tak perlu mendesak orang. Meskipun pemuda ini tampan, belum tentu ilmu silatnya luar biasa. Sebaiknya biarkan aku maju dan kujajal kepandaiannya. Kalau dia kosong tiada guna, biar kulempar dan kubenamkan kepalanya ke lumpur!"
"Heh-heh, bagus, Hoa Kiem. Aku lupa dan terlalu banyak bicara. Kau majulah, tantang dia, dan robohkan dalam sepuluh jurus!"
Hoa Kiem sudah melompat maju menghadapi Kao Sin. "Sobat bermarga Kao, mari main-main beberapa jurus. Cabut senjatamu dan biar kulihat ilmu silatmu!"
Kao Sin menjengek. Setelah berhadapan cukup dekat, ia melihat sinar mata yang buruk dalam pandangan gadis itu—liar dan menunjukkan watak cabul. Diam-diam pemuda itu mencemooh dalam hati, jauh bedanya dengan sumoinya yang jelita; bagai bumi dan langit.
Karena orang-orang terus menantangnya dan sikap sombong gadis itu membuat Kao Sin marah, ia menjawab dengan menyilangkan kedua tangannya, "Aku tak membawa senjata. Senjataku adalah tangan dan kaki ini. Kalau kau memang mengajak aku main-main, silakan, boleh kau maju lebih dulu."
Hoa Kiem tertawa. "Kau sungguh-sungguh?"
"Tentu, aku siap melayanimu dan..."
"Wuuut!" Gadis itu tiba-tiba menyerang. Gerakannya mendadak dan sebuah tamparan melesat tanpa memberi tanda. Kao Sin terkejut karena gadis ini dinilai curang; angin pukulan panas menyambar mukanya. Namun, karena Kao Sin cepat mengelak dan waspada, ia segera menjengek saat lawan berkelebatan mengejarnya.
Hoa Kiem diam-diam terkejut melihat Kao Sin mampu menghindari tamparannya, padahal ia bergerak cukup cepat dan nyaris mengenai muka pemuda itu. Saat Kao Sin berlompatan lincah dan serangan Hoa Kiem bertubi-tubi selalu luput, nenek di luar sana terkekeh dan berseru, "Hoa Kiem, mainkan Silat Dewi Hitam, cabut senjatamu!"
Hoa Kiem tertawa. Ia mengangguk dan diam-diam penasaran oleh kelihaian lawan; sepuluh jurus telah ia lancarkan, namun semuanya gagal. Kao Sin hanya mengelak sana-sini dan belum membalas. Diam-diam Hoa Kiem terkejut, kagum, dan girang. Agaknya inilah calon yang tepat; ia akan mendapat suami yang lihai.
Namun, mendengar perintah subonya untuk mengeluarkan Silat Dewi Hitam, Hoa Kiem yang ingin menjajal sejauh mana kehebatan lawannya langsung melengking dan mencabut sehelai selendang.
"Orang bermarga Kao, aku akan menyerangmu habis-habisan!" bentak Hoa Kiem sambil mengubah permainannya. Selendang itu tiba-tiba meledak nyaring di sisi kepala.
Kao Sin mengerutkan kening dan mencium bau amis. Selendang itu tampaknya dilumuri racun. Ia cepat mengelak dan berhati-hati. Namun, karena sekarang lawan menggunakan senjata panjang, ke mana pun Kao Sin mengelak, ia selalu diburu hingga selendang itu berputaran dan mengurungnya.
"Hi-hik, kau tak dapat mengelak saja, harus menangkis!" seru Hoa Kiem. Benar saja, Kao Sin terpaksa menggerakkan lengannya. Apa boleh buat, ia mendorong dan mengarahkan sinkang; selendang itu ditangkis dan selalu mental saat bertemu angin pukulannya.
Hoa Kiem terbelalak karena selendangnya tak pernah menyentuh lengan lawan; dorongan pukulan Kao Sin selalu membuat selendangnya mental sebelum bertemu. Hebat! Ketika Hoa Kiem terkejut dan nenek di luar berseru penasaran, Hoa Kiem mempercepat permainannya, tapi tetap selalu gagal.
"Keparat, kau memang lihai. Ayo balas dan jangan tangkis melulu!" Hoa Kiem kini minta diserang. Selama ini dialah yang menyerang dan Kao Sin belum membalas, hal yang membuat wanita itu gusar namun gembira.
Ketika Hoa Kiem berkali-kali minta dibalas dan Kao Sin tertawa, tiba-tiba pemuda ini menjawab pendek, "Baik!"
Begitu Kao Sin menangkis lecutan terakhir, mendadak ia berkelebat ke depan. Dua jarinya menotok tengah kening lawan. Hoa Kiem terkejut dan menarik selendangnya untuk menangkis, namun Kao Sin mengubah gerakan. Lengan kirinya menampar bahu lawan hingga Hoa Kiem terpelanting roboh dan menjerit bergulingan. Kao Sin mengejar, kali ini benar-benar membalas.
Hoa Kiem gugup mengelak ke sana kemari, lalu tiba-tiba mengeluarkan senjata gelap (am-gi) dan menyerang Kao Sin. Meski hampir mengenai pemuda itu, Kao Sin segera menepisnya hingga jatuh. Saat Hoa Kiem bergulingan dengan muka pucat dan selendangnya tak dapat digunakan lagi, tiba-tiba Kao Sin menotok pinggangnya. Murid Hek-san Mo-li itu pun tak dapat bergerak lagi, roboh mengeluh di tanah.
"Tuk!" Hek-san Mo-li terbelalak. Ia melihat muridnya tak berdaya. Hoa Kiem menangis tapi juga tertawa, ganjil sekali sikap gadis ini. Namun, begitu nenek ini sadar dan melonjak girang, Hek-san Mo-li terkekeh dan menari-nari.
"Bagus, kau hebat, bocah bermarga Kao. Bagus sekali. Kau menang, kau layak menjadi suami muridku!"
Hek-san Mo-li berputar-putar mengelilingi Kao Sin, lalu tiba-tiba melompat dan membebaskan muridnya sembari tertawa-tawa. Setelah memeluk Hoa Kiem, Hek-san Mo-li berkata bahwa calon suami yang cakap sudah ada dan pemuda itulah jodoh yang sesuai.