Chapter 66
Ketika Hoa Kiem memandang Kao Sin dengan penuh kekaguman, suhunya tiba-tiba melompat dan berdiri di hadapan pemuda itu.
"Bocah, antar aku kepada gurumu. Suruh dia meminang muridku!" wajah Kao Sin bersemu merah.
"Hek-San Mo-li, aku tidak akan menjadi suami muridmu. Aku hanya bertempur karena ditantang."
"Heh? Kau menipu? Kau menghina kami?"
"Hm!" Kao Sin tertawa mengejek. "Sudah kubilang bahwa aku menolak tawaranmu, Hek-San Mo-li. Aku melayani muridmu karena ditantang. Urusan di antara kita habis sampai di sini, tak ada pinang-meminang!"
Kao Sin telah mengetahui kepandaian Hoa Kiem, sehingga ia segera dapat mengukur sampai di mana kira-kira kepandaian nenek ini. Ia tak perlu takut. Maka, begitu melontarkan kata-katanya dan mengejek sang nenek, Kao Sin sudah bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan.
Benar saja, nenek itu terbelalak dengan mata melotot, sementara Hoa Kiem tampak terkejut dengan wajah berubah. Mereka menganggap diri sendiri seperti ratu; tidak boleh ada orang yang membantah perintah mereka. Hek-San Mo-li mengeluarkan suara aneh dari kerongkongannya. Sikap Kao Sin dianggap menghina dirinya. Saat Hoa Kiem masih tertegun mendengar ucapan pemuda itu, mendadak Hek-San Mo-li mencelat dan kelima jari tangannya menusuk mata Kao Sin.
"Kau pemuda berani mati!" bentak nenek itu. Gerakannya jauh lebih cepat dibanding sang murid, namun Kao Sin sudah bersiap. Ia memang sudah menduga kemarahan nenek ini. Begitu lawan menyerang dengan kelima jari setegang baja ke arah matanya, tiba-tiba Kao Sin menunduk dan menangkis.
"Dukk!" Hek-San Mo-li terkejut. Sekarang Kao Sin menunjukkan kelihaiannya; pemuda itu mengerahkan *sinkang* hingga lengannya pun sekeras baja, menangkis dan memukul mundur kelima jari si nenek hingga terpental.
Hek-San Mo-li memekik karena merasa ditantang; pemuda ini dianggapnya kurang ajar. Ia kembali memekik dan menerjang. Kaki dan tangannya bertubi-tubi menghujani tubuh Kao Sin, namun semua serangannya berhasil dikelit dan ditangkis oleh pemuda itu. Hek-San Mo-li kian terkejut dan melengking marah.
Ketika Kao Sin melompat ke sana-sini dan semua pukulannya dipentalkan, sang nenek terbelalak karena lawannya memiliki *sinkang* yang sangat kuat. Mendadak, nenek ini mengeluarkan senjatanya dan berteriak keras, "Kubunuh kau!"
*Tar-tar!* Selendang berwarna hitam yang jauh lebih amis dibanding milik Hoa Kiem tiba-tiba meledak dan menyerang gencar, disusul cengkeraman tangan kiri yang berkerotok, mematuk bagai kuku rajawali. Kao Sin dibuat sibuk dan mengerutkan alisnya. Pemuda ini terkepung oleh bayangan selendang yang kian hebat, sementara bau amis kian menyengat. Kao Sin sadar, lama-kelamaan ia bisa celaka.
Maka, ia berseru keras sambil menggerakkan kedua tangannya ke kanan dan kiri. "Hek-San Mo-li, kau nenek buruk!" begitu Kao Sin mengembangkan lengannya, ia menangkis dan menghalau selendang itu dengan tenaga penuh. Hek-San Mo-li memekik. Angin pukulan pemuda itu membuat selendangnya mental; kejadian ini persis seperti yang dialami muridnya tadi.
Hek-San Mo-li semakin gusar. Ketika selendang dipukul balik dan Kao Sin juga mampu menangkis cengkeraman tangan kirinya hingga lengan nenek itu terasa sakit, tiba-tiba Hek-San Mo-li mencabut senjata-senjata rahasianya dan menyambitkannya ke arah lawan.
"Curang!" Kao Sin terkejut dan marah. Ia menangkis senjata-senjata rahasia itu. Beberapa di antaranya runtuh, namun satu dua mengenai tubuhnya. Hek-San Mo-li tertawa girang, namun segera menghentikan tawanya ketika melihat senjata-senjata rahasia yang mengenai tubuh Kao Sin tidak mampu melukainya. Pemuda itu telah menjaga diri hingga tubuhnya kebal; *sinkang* yang kuat melindunginya.
Ketika Kao Sin menangkap dan melemparkan balik beberapa senjata rahasia yang berhasil disambarnya, ganti nenek itu yang kelabakan.
"Keparat, kurang ajar!" nenek ini memaki. Dua dari senjata rahasianya merobek bajunya dan menggores kulitnya. Ia terkejut karena sambitan Kao Sin jauh lebih hebat darinya. Ia kalah kuat!
Ketika Kao Sin mulai membalas dan menyerang dengan pukulan *sinkang*, selendang sang nenek justru berbalik dan menyerang dirinya sendiri. "Aduh, jahanam!"
Nenek itu kembali terkejut. Sekarang Kao Sin berkelebatan mengelilinginya hingga ia sibuk menangkis. Tangan kiri dipergunakan, namun tetap tertolak. Dua kali nenek ini mengaduh ketika lengan mereka beradu sama keras. Ketika nenek ini mulai terhuyung-huyung dan selendang di tangannya meledak-ledak didorong Kao Sin, akhirnya satu lecutan keras mengenai pundak nenek ini, disusul lecutan kedua dan ketiga hingga Hek-San Mo-li menjerit kelabakan.
Nenek ini mulai gugup dan gusar. Ketika selendang mulai berputar dan menyerang dirinya sendiri, akhirnya ia berteriak kepada muridnya, "Hoa Kiem, bantu aku! Jangan bengong!"
Hoa Kiem tersentak sadar. Tadi ia terkesima oleh pertandingan itu dan kekagumannya memuncak melihat Kao Sin mampu mendesak gurunya. Tapi mendengar teriakan gurunya, wanita ini melengking tinggi, menggerakkan tubuhnya, dan menyerang Kao Sin.
Kini Kao Sin dikeroyok oleh guru dan murid. Ia geram dan berseru marah, "Hek-San Mo-li, kau benar-benar wanita tak tahu malu. Baik, aku akan menghajar kalian!"
Kao Sin mengubah permainannya. Ia mengacungkan lengan lurus ke atas, menggetarkannya tiga kali hingga lengan itu mengeluarkan cahaya berkilat macam pedang. Ujung tangannya kini membentuk ujung pedang. Kao Sin tiba-tiba membacok. Ketika selendang Hoa Kiem menyambarnya dari kiri, ujung tangan Kao Sin membabatnya hingga putus.
"Bret!" Hoa Kiem terkejut dan menjerit. Ia bergulingan menghindari bacokan tangan itu dan berteriak meminta bantuan gurunya. Hek-San Mo-li tersentak dan ganti menyerang, namun saat Kao Sin membalik dan membacok selendang nenek itu, selendang tersebut pun putus.
"Bret!" Hek-San Mo-li terpekik. Nenek itu bergulingan saat bacokan tangan pemuda itu masih mengejarnya. Ia merasa siutan angin tajam bergerak dari tangan Kao Sin. Setelah berkali-kali selendang itu putus, kini tinggal tersisa setengah meter. Nenek ini ngeri. Ia teringat silat pedang yang dapat dimainkan dengan lengan, semacam *kiam-ciang* (Tangan Pedang), yang mampu membacok putus senjata tajam.
Dalam ketakutan, ia memutar tubuhnya dan melarikan diri sambil menyambar sang murid. "Hoa Kiem, bocah ini siluman. Ayo lari!" nenek itu terbirit-birit.
Kao Sin tidak mengejar. Ia berhenti dan tertawa mengejek. Ia mengira nenek itu tidak akan berani lagi mencarinya dan mengusap peluh. Namun, beberapa hari kemudian, saat ia dihadang oleh dua orang kakek dan nenek itu muncul kembali bersama muridnya, Kao Sin tertegun.
Seorang dari dua kakek tinggi kurus itu bertanya, "Inikah orangnya?"
Kao Sin sebal dan menjadi marah. Ia geram karena terus diganggu. Kini Hek-San Mo-li yang disangka takut itu kembali datang. Agaknya, sikapnya selama ini terlalu lunak. Kalau saja orang-orang ini dibunuh, ia pasti akan terbebas dari segala gangguan. Mata Kao Sin berkilat, memancarkan sinar keras.
Hek-San Mo-li menjawab dengan marah, "Ya, dia, Twa-heng (kakak seperguruan pertama). Inilah orangnya yang telah menghina aku itu!"
Nenek ini tampak garang dengan sorot mata beringas. Kao Sin segera tahu siapakah kakek tinggi kurus itu; agaknya ia adalah *suheng* (kakak seperguruan) Hek-San Mo-li yang sengaja dibawa untuk membalas kekalahan. Mereka ingin menebus kekalahan dengan cara mengeroyok.
Dua kakek itu tersenyum mengejek sambil mencabut tongkat baja. "Bagus, memang bertampang sombong. Agaknya bocah ini cukup berisi!"
Kao Sin mendongkol. "Kalian siapakah? Ada apa mencari perkara dan mengganggu orang di tengah jalan?"
"Aku Si Tongkat Iblis, anak muda. Dan ini *suteku* (adik seperguruan), Si Tongkat Hantu."
Kao Sin tertawa mengejek. Ia tidak takut mendengar julukan yang seram itu. Pandangannya beralih kepada si nenek curang yang sedang melotot—rupanya nenek itu telah memiliki senjata selendang baru—dan Kao Sin berkata, "Mo-li, rupanya dua orang *suheng*-mu ini adalah orang-orang tak keruan semua."