Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 67

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 67

"Kalian sama-sama berjuluk iblis, agaknya di neraka sudah tak ada kerjaan lagi hingga kalian kelayapan di muka bumi!"

"Jangan sombong!" si nenek membentak. "Kau menghadapi dewa maut, anak muda. Kami datang untuk mencabut nyawamu!"

"Atau kau yang harus kembali ke neraka?" Kao Sin mengejek. "Kalau begitu, boleh kuantar, nenek bangkotan. Maju dan mari main-main lagi untuk terakhir kalinya. Aku tak akan mengampunimu lagi!"

Ketika si nenek gusar dan meletakkan selendangnya, Kao Sin sudah bersiap-siap dengan kedua lengan lurus ke atas, digetarkan tiga kali.

"Awas, Tangan Pedangnya!" Hek-san Mo-li berseru, rupanya jerih dan ngeri memandang tangan yang tiba-tiba berkilat itu.

Kao Sin memang menyiapkan Tangan Pedangnya, tertawa mengejek, sementara dua kakek di depan terbelalak. Mereka juga melihat tangan Kao Sin yang berkilat-kilat itu, tangan yang tampak kokoh dan tajam! Ketika lawan mengetukkan tongkat dan Hoa Kiem diminta mundur, ketiga orang tua itu segera berputar.

"Mo-li, biar kami berdua di depan. Kau di belakang!"

Hek-san Mo-li mengangguk. Dia sudah melompat di belakang Kao Sin, bergerak diam-diam dengan niat merobohkan pemuda ini untuk membalas kekalahannya. Kao Sin menghadapi dua kakek di depan dengan senyum mengejek; dia tidak mengikuti kedua lawan yang berputar dengan gaya masing-masing. Si Tongkat Iblis memutar gagang tongkatnya ke kiri, sementara sutenya menggerakkan tongkat dengan putaran ke kanan.

Kao Sin menunggu dengan kedua lengan yang digetarkan semakin keras. Mendadak, kakek di sebelah kanan mengeluarkan bentakan dan mulai menyerang. "Awas!" Tongkat itu bergerak mengarah ke kepala, namun tiba-tiba menukik menghantam lambung Kao Sin. Pemuda ini waspada, mengelak, dan menghindarkan serangan. Dia tahu sebentar kemudian Hek-san Mo-li dan kakek satunya akan menyerang secara bersamaan.

Benar saja, kedua orang itu berseru keras. Selendang di belakang pemuda ini meledak, disusul terjangan kakek kedua. Mendadak Kao Sin sudah menghadapi dua serangan yang meluncur dari arah berlawanan.

"Plak! Dess!"

Kao Sin menangkis; selendang terpental dan kakek di depan terkejut. Tongkatnya membalik dan menyerang kepalanya sendiri hingga kakek itu terpaksa meliuk. Dengan gaya yang indah, dia mengikuti gerakan tongkatnya dan tiba-tiba menyerang kembali. Kao Sin melihat kaki yang ringan dan gerakan yang cepat dari kakek ini; lincah namun bertenaga.

Saat dua lawan lainnya menyambar kembali dan selendang serta tongkat di belakang menderu hebat, tiba-tiba Kao Sin mengeluarkan seruan nyaring dan berkelebatan cepat menangkis semua serangan itu.

"Plak! Plak! Plak!"

Tiga senjata tertolak semua. Ketiga orang tua itu mengeluarkan teriakan marah. Kakek pertama melengking tinggi, berputar, dan lenyap bersama gulungan tongkatnya. Begitu pula kakek kedua yang membentak parau dan lenyap dengan gerakan tongkatnya. Mendadak Kao Sin menghadapi dua gulungan hitam yang menari-nari, mengepungnya dari segala penjuru. Hek-san Mo-li juga meledakkan selendangnya dan ikut mengelilingi pemuda itu. Kao Sin dikeroyok tiga.

Ketika pemuda itu berseru marah dan mengerahkan ginkangnya untuk mengimbangi lawan, dia pun lenyap di balik gulungan selendang dan tongkat.

"Plak! Des! Des!"

Kao Sin menangkis. Lawan mengeluarkan pujian, namun serangan selendang dan tongkat terus menghujani pemuda itu bertubi-tubi. Kao Sin didesak dari tiga jurusan dan mulai kewalahan karena bertangan kosong. Dua kakek di depan memang sangat lihai, serangan tongkat mereka membingungkan. Meski tidak sering, Kao Sin sesekali terkena gebukan tongkat. Namun, pemuda ini telah melindungi dirinya; tongkat mental dan lawan berteriak mendongkol karena tubuh Kao Sin kebal. Betapapun dihantam, tongkat itu selalu membalik seolah mengenai karet.

Karena gebukan-gebukan itu cukup bertenaga dan Kao Sin sering terhuyung, Hek-san Mo-li berseru girang, "Dia mulai kepayahan, hajar dan hantam terus!"

Kao Sin mendongkol. Kalau saja dia membereskan nenek ini sejak awal, barangkali tidak akan ada pertempuran ini. Dia mulai marah melihat si nenek yang tidak tahu diri. Dia teringat pada A-lun, dan nenek ini pun agaknya serupa; tidak mau berhenti jika belum mendapat hajaran keras.

Kao Sin didesak dan dua kakek di depan berulang-ulang mendaratkan tongkat mereka di tubuh pemuda itu. Wajah Kao Sin mulai memerah. "Orang-orang tak tahu malu! Kalian kiranya tua bangka yang suka menyusahkan orang lain. Aku akan menghajar kalian agar tahu diri. Awas!"

Kao Sin yang menangkis tongkat dengan tangan telanjang tiba-tiba menambah tenaganya hingga tongkat bergetar hebat. Seharusnya tongkat itu patah bertemu Tangan Pedang ini, namun sinkang yang dimiliki kedua kakek itu rupanya cukup kuat hingga mereka mampu bertahan. Hal ini membuat Kao Sin diam-diam terkejut; lawan ternyata memang cukup lihai.

Saat kakek di depan terhuyung, temannya maju menyerang dengan tongkat yang lain, sementara Hek-san Mo-li menubruk dengan lecutan selendangnya. Mendadak, entah dari mana asalnya, sebatang pedang berkelebat menyilaukan mata dan mengeluarkan desing mengerikan menyambut senjata mereka.

"Crak! Breet!"

Hek-san Mo-li dan Tongkat Hantu kaget bukan main. Mereka tidak menyangka Kao Sin membawa pedang yang disembunyikan di balik punggungnya. Kini, dia menggerakkan pedang itu dengan cara yang luar biasa. Selendang dan tongkat mereka terbabat buntung. Kedua orang tua itu berteriak kaget dan ternganga. Ketika mereka terbelalak melihat kilauan sinar putih itu, pedang Kao Sin kembali berkelebat panjang, menusuk tenggorokan dan dada mereka.

"Awas!" Tongkat Hantu menjerit, melemparkan tubuhnya bergulingan, namun pangkal lengannya tergores. Kakek ini kalah cepat dan menjauh dengan luka di lengannya. Hek-san Mo-li, yang selendangnya terbabat lebih dari setengah, terpekik saat ujung pedang mengejarnya seinci saja dari tenggorokan. Nenek itu pucat pasi dan membanting tubuhnya bergulingan.

Namun, saat terdengar suara robekan dan dada kanan nenek itu tergores panjang, ia menjerit. Tongkat Iblis membantunya dengan menghantam kepala Kao Sin, memaksa pemuda itu menunda serangannya terhadap Hek-san Mo-li untuk membalik dan menangkis hantaman tongkat. Ketika tongkat bertemu pedang dan buntung separuh, si Tongkat Iblis berseru tertahan dan melemparkan tubuhnya bergulingan pula.

"Pedang Maut!" kakek itu berteriak, melompat bangun sambil menggigil memandang Kao Sin.

Pemuda itu berdiri tegak setelah melakukan satu gebrakan luar biasa. Ketiga lawannya terluka, dan Hek-san Mo-li adalah yang paling menderita. Nenek itu merintih sambil mengusap cucuran lukanya. Dalam satu jurus, pemuda ini telah membuat lawan-lawannya jumpalitan.

Kao Sin tersenyum mengejek sambil memandang lawannya satu per satu. Tongkat Iblis bertanya dengan suara gemetar, "Bocah, kau ada hubungan apa dengan Si Pedang Maut yang sakti? Bukankah itu jurus Bangau Mengelepakkan Sayap?"

Kao Sin terkejut. "Kau tahu dari mana, tua bangka? Memang benar, itu jurus yang kausebutkan. Agaknya kau pernah bertemu guruku?"

"Si Pedang Maut gurumu?" kakek ini terbelalak. "Jadi kau muridnya? Ah!"

Kakek yang mundur itu berseru tertahan, lalu tiba-tiba meloncat pergi meninggalkan pemuda tersebut. "Kalau begitu, aku tak akan berurusan lagi denganmu! Sampaikan salam hormatku pada gurumu!"

Si Tongkat Iblis berkelebat pergi meninggalkan temannya. Dia sempat berseru pada Hek-san Mo-li, "Mo-li, aku tak dapat membantumu. Maaf!"

Bayangan si kakek yang lenyap dengan cepat membuat Hek-san Mo-li tertegun. Suheng nomor duanya pun menyusul suheng nomor satunya; Tongkat Hantu pun gentar menghadapi Kao Sin. Karena ditinggal sendirian dan Hek-san Mo-li merasa pucat mendengar nama Si Pedang Maut, nenek ini pun meloncat pergi meninggalkan Kao Sin, disusul Hoa Kiem yang ketakutan melihat gurunya pergi. Wanita muda itu melompat mengejar subonya.

Setelah orang-orang itu pergi, Kao Sin—yang membiarkan mereka setelah memberi pelajaran keras—menyimpan pedangnya dan tertawa mengejek. Dia bangga dan baru tahu bahwa nama gurunya ternyata telah dikenal luas. Rupanya, gurunya pernah menghajar si Tongkat Iblis dengan jurus Bangau Mengelepakkan Sayap hingga kakek itu mengenali dan gentar.

Setelah semua lawan pergi, Kao Sin merasa puas dan kembali tenang dalam hari-hari berikutnya. Dia tidak diganggu lagi. Tongkat Iblis dan teman-temannya adalah orang terakhir yang mengganggunya. Kao Sin bekerja seperti biasa dan hidup dengan gembira.

Namun, karena pemuda ini mulai dikenal orang-orang kang-ouw dan sepak terjangnya membuat lawan terbirit-birit, suatu malam dia dipanggil gurunya.

"Apa yang kaulakukan selama ini, Kao Sin? Kau mendemonstrasikan kepandaianmu pada orang luar?"

Kao Sin terkejut. "Maaf, Teecu sebenarnya tak melakukan apa-apa, Suhu. Dari mana Suhu tahu?"

"Aku mendengar orang membicarakan namamu. Kau telah menunjukkan ilmu pedangmu dan namaku terbawa-bawa. Bagaimana ini? Bukankah sudah kupesan padamu agar tidak membocorkan rahasia diriku?"

Kao Sin pucat pasi. Dia melihat wajah gurunya marah; mata yang biasa lembut itu mendadak mencorong. Hu-wangwe, atau Si Pedang Maut ini, benar-benar marah dan menegur Kao Sin.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment