Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 68

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 68

Karena Kao Sin mempunyai alasan sendiri dan dengan cepat menjatuhkan diri berlutut, pemuda ini berkata, "Suhu, ampunkan teecu. Sebenarnya tiada maksud teecu untuk memamerkan kepandaian. Semuanya ini berawal dari sumoi." Kao Sin dengan cepat menceritakan kejadian yang bermula dari Swat Lian, lalu didengar dan diperhatikan oleh si jago pedang itu.

Alis Hu Beng Kui berkerut-kerut. Ketika cerita itu selesai dan Swat Lian dipanggil, ganti gadis ini yang mendapat teguran. "Kenapa kau menyuruh Kao Sin menghajar si brewok? Bukankah sudah kukatakan bahwa rahasia keluarga kita tak perlu diketahui orang lain?"

Swat Lian tersenyum mengejek, "Ayah, kalau orang menggangguku, haruskah aku diam saja? Kalau Lok Siauwya itu mencari perkara, haruskah aku mengalah dan membiarkannya tanpa pelajaran? Aku pribadi tak menunjukkan kepandaianku, Ayah. Kebetulan Kao Suheng ini muncul dan kusuruh menghajar si brewok karena dia mengejar-ngejarku sampai ke rumah ini."

"Hmm!" sang ayah tetap mengerutkan alisnya. "Kau dapat menghindar, Lian-ji. Kau seharusnya mampu melakukan ini dan tak perlu si brewok mengejarmu!"

"Oh, Ayah menyuruhku mengeluarkan ginkang di jalan raya? Ayah hendak membenarkan tindakan si brewok itu? Baik, aku akan mengeluarkan kepandaian di depan orang banyak, Ayah. Dan biar kau tahu siapa sebenarnya yang salah!" Swat Lian membanting kaki. Sang ayah terkejut dan tiba-tiba sadar; anak gadisnya telah marah kepadanya karena dia terlalu mendesak.

Ketika Swat Lian melompat pergi dan mengancam ingin menghajar siapa saja agar tidak dikejar-kejar sampai ke rumah, jago pedang ini menyambar puterinya dan berkata dengan terkejut, "Lian-ji, jangan begitu. Maaf kalau aku salah bicara!" Lalu, menenangkan putrinya dengan tawa sejuk, pendekar ini menyambung, "Aku tak tahu kalau kau dikejar-kejar sampai ke rumah ini. Sudahlah, aku minta maaf dan jangan kau memarahi ayahmu. Mana kakakmu?"

Bibir yang cemberut tadi mendadak tersenyum. "An Koko di kebun, Ayah. Perlukah kupanggil?"

"Ada apa di sana? Dia sedang berbuat apa?"

"Melatih ilmu silat, katanya sedang jengkel dengan jurus Bangau Mematuk Naga!"

"Hmm, panggil dia, aku juga ingin bicara."

Ketika putrinya mengangguk dan jago pedang ini tersenyum, ia menyuruh muridnya pergi. Kao Sin pun mengangguk, diam-diam melirik sang sumoi. Tak lama kemudian, Beng An muncul. Dialah putera si Pedang Maut, kakak Swat Lian. Ketika pemuda itu duduk mengusap peluh dan bertanya apa maksud panggilan ayahnya, sang ayah kagum memandang putranya yang gagah itu.

"Aku hendak minta kau mengawal adikmu. Swat Lian sekarang banyak diincar pemuda-pemuda nakal. Apakah kau tak pernah memperhatikan adikmu?"

Beng An, pemuda gagah ini tersenyum, "Apakah Lian-moi tak dapat menjaga dirinya, Ayah? Bukankah dia mampu melindungi diri sendiri?"

"Bukan begitu. Adikmu telah membuat keributan, Beng An. Gara-gara Lok Siauwya, sekarang nama Kao Sin terbawa-bawa dan aku pun terlibat. Orang mulai mengenal namaku dan tahu keberadaanku di kota ini."

"Hm," Beng An mengerutkan kening. "Apa yang terjadi? Kenapa bisa begitu?"

"Aku mendengar Kao Sin menghajar orang-orang kauw-ouw; beberapa di antaranya adalah si Tongkat Iblis dan Hek San Mo-li. Mereka menceritakan hal ini kepada orang lain dan namaku mulai terbawa-bawa."

"Kao-suheng membawa-bawa nama Ayah? Dia menghajar Tongkat Iblis dan Hek-san Mo-li?"

"Ya, kau dengarlah," si jago pedang menceritakan peristiwa itu, mengulang cerita Swat Lian yang diganggu Lok Siauwya, munculnya si brewok A-lun, Kao Sin yang menghadapi si brewok, hingga munculnya orang-orang lain. Terakhir, Hek San Mo-li dan dua suheng-nya.

Ketika Beng An mengangguk-angguk dan mengerti duduk perkaranya, tiba-tiba pemuda ini tersenyum. "Ayah, dari dulu kau selalu suka menyembunyikan diri. Apa salahnya kalau sekali tempo kau dikenal orang bukan sebagai Hu Wangwe, melainkan sebagai Si Pedang Maut yang lihai? Bukankah tiada orang yang dapat menandingi ilmu pedangmu dan tak perlu gentar menghadapi siapa pun? Kalau ada orang coba-coba mengganggu kita, biarlah itu kita hadapi. Toh aku dan Lian-moi sudah bukan anak-anak kecil lagi yang harus selalu kaulindungi."

"Hm, aku tak suka menonjolkan diri, An-ji. Aku tak senang kalau ada orang lain mengetahui aku sebagai Si Pedang Maut!"

"Tapi Sun Taijin dan beberapa pembesar di Ce-bu tahu tentang siapa Ayah, mana mungkin tak ingin dikenal orang? Bukankah mereka tahu dan mengenal Ayah?"

"Mereka lain, An-ji. Mereka telah kupesan untuk tidak menyebut-nyebut namaku sebagai Si Pedang Maut!"

"Benar, tapi mereka toh tahu. Kita tak dapat menyembunyikan diri dari beberapa orang dan ini namanya bukan rahasia lagi."

"Sudahlah," ayahnya tak mau dibantah. "Persoalan adikmu cukup di sini, An-ji. Kuminta kau mengawal adikmu agar tidak terjadi lagi peristiwa seperti Lok Siauwya itu!"

"Baik," Beng An menyanggupi dan menjaga adiknya. Ia melakukannya bukan untuk sekadar melindungi keselamatan, melainkan semata agar para pemuda yang ingin menggoda adiknya menjadi segan. Swat Lian memang cantik.

Keadaan berjalan sebulan dua bulan tanpa gangguan. Tiba-tiba suasana berubah ketika suatu hari Sun Taijin datang dengan takut-takut menghadap si jago pedang ini. "Maaf, aku ingin mengganggu sebentar, Taihiap. Bolehkah aku bicara tentang sesuatu yang penting?"

"Tentang apa?" Hu Wangwe tersenyum lebar; walikota ini memanggilnya dengan sebutan Taihiap, bukannya Wangwe.

Ketika tamunya duduk dan Sun Taijin tertawa gugup, pembesar ini berkata tentang keributan di kota raja, di istana. "Kim Mou-eng mencuri Sam-kong Kiam. Sri Baginda marah-marah dan menyuruh mencari Pendekar Rambut Emas ini. Bu Ciangkun datang dan kini meminta aku membantu istana."

"Hm," alis pendekar ini tiba-tiba terangkat. "Kenapa kau menceritakan ini kepadaku, Taijin? Apa maksudmu?"

"Aku ingin minta tolong padamu, Bu Ciangkun ingin menemuimu dan bicara tentang ini."

"Kau sudah bicara mengenai diriku?" mendadak pendekar ini terbelalak. "Taijin melanggar pesanku dan bercerita pada Bu Ciangkun?"

"Tidak... tidak...!" pembesar itu terkejut sambil menggoyangkan lengan. "Aku tidak menceritakan apa-apa tentang dirimu, Taihiap. Hanya aku berkata bahwa aku mengenal seseorang yang mungkin dapat membantu persoalan ini. Aku tak menyebut namamu!"

Jago pedang ini mengangguk-angguk. "Terima kasih, kalau begitu aku tetap menghargaimu, Taijin. Tapi, apakah Sam-kong Kiam ini betul-betul benda berharga bagi istana?"

"Ah!" Sun Taijin membelalakkan matanya, kaget dan penasaran. "Pedang ini pedang keramat, Taihiap. Kalau pedang ini hilang dari istana, maka pamor Sri Baginda akan turun!"

"Hm, begitu hebat?"

"Ya, dan pedang ini membawa pengaruh gaib pula. Konon katanya, siapa yang dapat memiliki pedang itu, dia akan hidup enak tujuh turunan!"

Hu Beng Kui tertawa. "Taijin, pedang keramat mana bisa membuat orang enak selama tujuh turunan? Jikalau tidak bekerja dan membanting tulang, tak mungkin sebatang pedang bisa membuat orang hidup seperti itu, betapapun pedang itu adalah benda mati."

"Tapi Sam-kong Kiam bukan pedang biasa. Pedang ini simbol kekuasaan Kaisar dan jatuh bangunnya kerajaan!"

"Baiklah," Hu Beng Kui tak mau berdebat panjang lebar. "Sekarang apa maumu, Taijin? Bantuan bagaimana yang kauinginkan?"

"Aku ingin Taihiap menemui Bu Ciangkun. Panglima itu ada di rumahku dan bingung mencari orang lihai. Aku teringat Taihiap dan kini datang untuk meminta pertolongan ini, mencari dan menangkap Kim-mou-eng yang mencuri Pedang Tiga Sinar itu!"

"Baik, tapi aku tak berjanji banyak, Taijin. Untuk sementara ini anak-anakku yang akan turun tangan. Masalah Bu Ciangkun, katakan saja bahwa aku coba membantu."

"Taihiap tak mau menemuinya?" pembesar ini kecewa.

"Maaf, aku tak suka memperkenalkan diriku, Taijin. Yang penting adalah maksud kedatanganmu kuterima, bukan? Nah, katakan saja pada Bu Ciangkun bahwa aku akan menolongnya dan coba merampas Sam-kong Kiam itu. Kebetulan aku juga sudah mendengar tentang Pendekar Rambut Emas dan ingin mengenalnya."

Mata jago pedang itu bersinar-sinar. Memang dia sudah mendengar akan kelihaian Kim-mou-eng dan diam-diam ingin mengenal pendekar itu. Hanya saja, mendengar pendekar itu tiba-tiba mencuri sebatang pedang membuat dia bertanya-tanya, kenapa hal ini terjadi? Bukankah Pendekar Rambut Emas dikenal sebagai orang baik-baik dan bukan golongan hitam?

Ketika dia bertanya pada pembesar itu dan Sun Taijin mengerutkan kening, pembesar ini menjawab, "Kim-mou-eng bukan bangsa kita, Taihiap. Dia keturunan Tartar dan mungkin saja ingin membalas dendam atas kematian suheng-nya. Dulu mereka ribut-ribut di kota raja dan bangsa Tartar pernah menyerang pula bangsa kita!"

"Hmm, aku jadi tertarik," jago pedang ini mengangguk-angguk. Dia telah mendengar hal itu pula dan jadi gatal untuk menemui Pendekar Rambut Emas ini. Kini Kim-mou-eng memang hampir dikenal di seluruh negeri.

Setelah berjanji untuk membantu istana lewat pembesar itu, Sun Taijin berpamitan. Sam-kong Kiam merupakan sebatang pedang ampuh yang amat tajam, juga berpengaruh gaib karena dapat membuat orang memiliki 3K: Kekuasaan, Kekayaan, dan Kenikmatan.

Ketika jago pedang itu terpekur memikirkan permintaan tamunya, dua hari lamanya ia mondar-mandir di kamarnya. Kegiatan dagang tiba-tiba berhenti.

"Ayah ada apa? Kenapa sering melamun?" tanya Swat Lian. Gadis itu heran melihat ayahnya hilir-mudik dan sering mengerutkan kening, kadang-kadang tersenyum dan menyeringai aneh seperti orang gembira. Ketika hari itu kembali dia menegur ayahnya dan Beng An kebetulan menemani, pendekar pedang ini tiba-tiba memanggil mereka berdua.

"Kalian duduklah, ada berita penting." Swat Lian berdebar.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment