Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 69

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 69

"Berita apa, Ayah? Tentang apa?"

"Kalian sudah mendengar tentang Kim-mou-eng?" Mendadak Swat Lian berseri gembira. "Pendekar Rambut Emas itu?" serunya. "Ah, dia orang gagah, Ayah. Juga katanya amat lihai dan memiliki kepandaian tinggi!"

"Benar, dan aku juga mendengar banyak tentang pendekar ini, Ayah. Katanya dia menjadi musuh nomor satu dari golongan hitam dan sepak terjangnya mengagumkan!" Beng An ikut berseru.

"Dan kalian ingin berkenalan?"

Swat Lian dan kakaknya tertegun. Mereka tak mengerti maksud ayah mereka, tetapi Swat Lian yang sudah lama mendengar tentang pendekar itu dan berdebar membayangkan Kim-mou-eng yang gagah dan tampan, tiba-tiba tersipu serta menundukkan muka ketika bertemu pandang dengan ayahnya. Ia melihat ayahnya tertawa, membuat gadis itu tiba-tiba jengah. Pembicaraan itu seolah ditujukan kepadanya; Swat Lian gugup dan entah mengapa jantungnya meloncat-loncat. Dia mengira ayahnya akan membicarakan perjodohannya dengan Kim-mou-eng, sehingga gadis ini menunduk dan membenamkan pandangan ke tanah.

Ketika ayahnya bertanya kembali apakah mereka mau berkenalan dengan pendekar itu, kakaknya menjawab, "Kami tak mengerti maksud Ayah. Sebaiknya Ayah katakan dulu apa maksud semua pembicaraan ini agar kami paham."

"Hmm," sang ayah mengangguk-angguk. "Aku ingin menyuruh kalian berkenalan dengan pendekar itu, anak-anak. Dan aku bermaksud menyuruh kalian menangkap Kim-mou-eng!"

"Apa?" Swat Lian kaget. "Menangkap Kim-mou-eng, Ayah? Apa alasannya dan kenapa kata-katamu mengandung permusuhan?"

Pendekar itu tertawa. "Lian-ji, dua hari yang lalu aku didatangi Sun-taijin. Pembesar itu datang karena ada hubungannya dengan Pendekar Rambut Emas ini. Aku dimintai tolong karena pendekar itu harus dicari dan ditangkap lantaran ia mencuri Sam-kong-kiam!"

Lalu, Hu Beng Kui menceritakan kepada putra-putrinya tentang pencurian Sam-kong-kiam itu. Kabar tersebut didengar dengan raut wajah berubah-ubah dan rasa tidak percaya oleh Swat Lian, sementara kakaknya hanya mengangguk-angguk dan bergumam. Mungkin pemuda ini pun heran mengapa Kim-mou-eng yang dikenal sebagai orang baik-baik justru melakukan perbuatan hina, yaitu mencuri.

Ketika cerita itu habis dikisahkan dan Hu Beng Kui menatap putra-putrinya dengan pandangan tajam, pendekar itu mengakhiri, "Karena itulah aku ingin menyuruh kalian mencari dan menangkap Kim-mou-eng. Karena aku berjanji pada Sun-taijin untuk menghadapi Kim-mou-eng, maka sebaiknya kalian pergi dan cari penjahat ini. Kim-mou-eng ternyata bukan orang baik-baik. Kalian harumkan nama keluarga Hu dan tangkap pencuri ini!"

Swat Lian terhenyak. Kalau bukan ayahnya sendiri yang menceritakan itu, kemungkinan ia tak akan percaya. Kekagumannya pada Kim-mou-eng mendadak lenyap, berganti senyum sinis, dan Swat Lian mendengus. Diam-diam ada rasa mendongkol mengapa orang macam begitu membuatnya berdebar, gugup, dan bingung seolah gadis yang sedang ditawari jejaka. Swat Lian malu pada diri sendiri dan segera mengiyakan permintaan ayahnya.

Mereka disuruh mencari Pendekar Rambut Emas itu. Swat Lian merasa gatal tangan dan diam-diam ingin melampiaskan rasa dongkolnya. Malam itu ayahnya berpesan agar mereka berhati-hati, dan keesokan harinya mereka pun berangkat memulai perjalanan untuk mencari Kim-mou-eng.

Namun, hal itu tidak mudah dilakukan. Swat Lian dan kakaknya harus bekerja keras; mereka bertanya ke sana ke mari dan berkali-kali gagal. Swat Lian semakin dongkol ketika orang-orang menyatakan bahwa Kim-mou-eng memang tampan, gagah, dan berkepandaian tinggi. Hal itu justru membuatnya semakin penasaran.

Dua minggu kemudian, ketika mereka mendengar kabar tentang serbuan orang-orang dunia persilatan di dekat Jurang Malaikat, dua kakak beradik ini terhenyak saat mendengar Kim-mou-eng dikabarkan tewas.

"Pendekar Rambut Emas itu terjungkal, dia tewas di dalam jurang."

"Bagaimana dengan Sam-kong-kiam?"

"Tak tahulah, Mo-ong dan Hek-bong Siang Lo-mo katanya terbirit-birit meninggalkan jurang itu. Katanya mereka bertemu arwah Kim-mou-eng yang mati penasaran."

"Atau Kim-mou-eng hidup lagi? Bagaimana sebuah arwah bisa mengejar-ngejar orang?"

"Kami tak tahu. Kim-mou-eng dikabarkan tewas, tapi katanya tiga kakek iblis itu lari tunggang-langgang setelah melompat ke dasar jurang. Barangkali mereka bertemu arwah sungguhan, atau mungkin Kim-mou-eng masih hidup dan di dasar jurang menghajar tiga kakek itu hingga lari terbirit-birit!"

Swat Lian dan kakaknya tertegun. Itulah pernyataan orang-orang yang mereka jumpai. Hampir semuanya menyatakan Kim-mou-eng tewas, tapi mereka juga tak bisa menjawab bagaimana Lo-mo dan Mo-ong yang hendak merampas Sam-kong-kiam dari mayat Kim-mou-eng bisa ketakutan dan lari keluar jurang. Katanya mereka bertemu hantu, dan orang-orang dunia persilatan di situ juga lari tunggang-langgang. Segumpal asap menyerang mereka dan semuanya roboh; tak ada yang mampu menghadapi asap atau sesuatu yang aneh itu, yang sebenarnya adalah ulah Bu-beng Sian-su.

Karena berita ini dinilai simpang siur dan Swat Lian serta kakaknya penasaran, Swat Lian mengajak kakaknya pergi ke Jurang Malaikat.

"Aku tak percaya, masa sebuah arwah bisa mengusir ratusan orang dunia persilatan yang rata-rata berkepandaian tinggi? Apalagi Hek-bong Siang Lo-mo dan Mo-ong ada di situ. Rasanya tak masuk akal dan tentu ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan di sini. Sebaiknya kita ke sana dan selidiki sendiri apa dan bagaimana rupa Jurang Malaikat itu!"

"Benar, cerita ini kelihatannya ganjil, Lian-moi. Aku juga tak percaya dan sangsi akan cerita orang-orang itu. Memang sebaiknya kita ke Jurang Malaikat dan lihat apa sesungguhnya yang telah terjadi!"

Begitulah, dua kakak beradik ini melanjutkan perjalanan. Mereka menuju ke utara dan mencari Jurang Malaikat. Orang-orang tidak tahu nama persis jurang ini, namun dapat memberi petunjuk karena jurang itu dikenal sebagai tempat pertempuran Kim-mou-eng yang dikeroyok ratusan orang. Orang menyebutnya sebagai Jurang Iblis atau Jurang Hantu karena Mo-ong dan Lo-mo terbirit-birit di sini dengan alasan bertemu hantu, yaitu roh Kim-mou-eng.

Seminggu kemudian, saat dua kakak beradik ini tiba di sana dan melihat bekas-bekas pertempuran, mereka tertegun dan mau tak mau menjadi kagum.

"Hebat, ratusan kaki meninggalkan bekasnya di sini, tak kurang dari tiga ratus orang. Kalau Kim-mou-eng bukan orang berkepandaian tinggi, tak mungkin dia dapat lolos dan menghadapi sekian banyak orang itu!"

"Ya, dan kabarnya dia jatuh ke jurang ini, Lian-moi. Bagaimana kalau kita turun dan tengok ke bawah?"

Swat Lian melongok. Dia tak melihat dasar jurang yang dalam, di tengah-tengahnya tertutup kabut dan gadis ini tergetar. Entah berapa ratus tombak dalamnya jurang ini; yang jelas dalam dan amat berbahaya, dindingnya licin dan terjal. Namun, Swat Lian yang tertarik dan memang berjiwa petualang, tiba-tiba mengangguk dan berdebar menyetujui keinginan kakaknya.

"Benar, kita rupanya harus turun ke bawah, An-ko. Barangkali mayat Kim-mou-eng dapat kita temukan, atau mungkin rohnya yang dikata gentayangan itu menemui kita!"

"Kau tak takut?"

"Tidak, justru aku tertarik dan ingin tahu apa sebenarnya yang telah terjadi!"

Swat Lian tertawa, melepas ikat pinggangnya, lalu melontarkannya ke dinding jurang. Ikat itu menancap, dan sebentar kemudian gadis ini menyusul ke bawah dengan terjun langsung, berjungkir balik, dan sudah menyambar serta melontarkan kembali ikat pinggangnya ke tempat yang lebih bawah. Ikat pinggang ini sudah berubah kaku dan keras seperti baja. Swat Lian mempergunakannya seperti "paku". Ketika gadis itu berpindah-pindah dengan caranya yang luar biasa, dia pun lenyap di tengah jurang di bawah kabut itu.

Beng An tersenyum. Dia melihat kelihaian adiknya yang mengagumkan. Tak lama kemudian ia menyusul, meniru perbuatan adiknya dengan mempergunakan ikat pinggang, dan melayang-layang di bawah jurang. Mereka berdua tentu saja amat berhati-hati dan mengeluarkan ilmu meringankan tubuh yang paling tinggi.

Seperempat jam kemudian, mereka tiba di tengah dan melihat lubang di dinding jurang. Di sini Swat Lian berhenti dan tertegun. "Ada lubang, tampaknya bekas ditempati orang!"

Beng An mengangguk. Mereka tak tahu itulah tempat Bu-beng Sian-su; di sinilah manusia dewa itu tinggal, di samping Lembah Malaikat. Ketika mereka masuk dan melihat tempat yang bersih, Swat Lian semakin terheran-heran hingga membelalakkan mata.

"Luar biasa, tempat ini harum. Bau apa gerangan?" Swat Lian mengendus-endus, cuping hidungnya berkembang kempis, dan Beng An pun mengangguk. Pemuda ini heran dan mencari-cari, tapi ketika tak ditemukannya asal bau harum itu dan mereka melihat tempat ini kosong saja, Swat Lian melihat sebuah batu hitam yang tengahnya berlekuk, halus, dan amat rata.

"Ini tempat orang bersamadhi. Apakah Kim-mou-eng tinggal di sini?" Swat Lian melompat, mendekati batu hitam itu, dan memegang-megang permukaannya. Ketika permukaan batu itu terasa hangat dan seolah baru diduduki orang, gadis ini kaget dan berseru tertahan, "Ah, lekukan batu ini hangat. Jangan-jangan di sekitar sini ada orang!"

Kakaknya melompat mendekat dan terkejut mendengar seruan adiknya. Ia segera mengawasi seluruh lubang, tapi tak melihat apa-apa di dalam gua tersebut.

"Tak ada orang, barangkali pergi ketika kita masuk!"

"Dan Kim-mou-eng tinggal di sini?"

"Siapa yang tahu? Kita baru kali ini memasuki dunia persilatan, Lian-moi. Barangkali benar atau barangkali juga keliru!"

"Dan bagaimana perasaanmu di tempat ini?"

"Maksudmu?"

"Kerasankah kau? Aku merasa nyaman berada di tempat ini. Sepertinya milik orang baik-baik dan setiap hari dirawat!"

"Hm, aku kira begitu. Tapi Kim-mou-eng bukan orang baik-baik, jadi mungkin ini bukan tempat tinggalnya!"

Swat Lian mengangguk. Memang mereka lebih menganggap Kim-mou-eng bukan orang baik-baik, padahal tempat ini berbau harum dan enak ditinggali. Hawa yang menyenangkan terasa di situ, nikmat dan hangat.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment