Chapter 70
Namun, mendengar kakaknya menyebut-nyebut Kim-mou-eng, mendadak Swat Lian melompat keluar dan menuruni jurang lagi.
"An-ko, pekerjaan kita belum selesai. Ayo turun dan cari Pendekar Rambut Emas itu di dasar jurang," ajak sang adik.
Beng An mengangguk dan menyusul adiknya. Diam-diam dia heran dan terkesan oleh gua atau lubang di dinding jurang itu. Jelas tempat itu ditinggali seseorang; hatinya berdebar dan ingin tahu. Namun, karena tujuan utama mereka adalah mencari Kim-mou-eng, Beng An terus menuruni jurang. Ia terkejut ketika semakin ke bawah pandangan menjadi semakin gelap.
"Kita berhenti, jurang ini terlalu dalam!" Beng An berseru, khawatir melihat adiknya terus turun padahal mata mulai tidak mampu menembus kegelapan.
Swat Lian mengusap keringat dan tertawa. Memang dia sendiri sudah ragu dan waswas memandang ke bawah karena tempat itu terlalu dalam. Namun, karena penasaran dengan bayangan Kim-mou-eng yang belum ditemukan, gadis ini membantah, "Kita hampir sampai, An-ko. Kenapa berhenti dan tidak turun lagi?"
"Kau tahu dari mana bahwa kita hampir sampai? Bukankah dasar jurang belum terlihat?" sang kakak tidak setuju. "Tidak, berhenti saja, Lian-moi. Aku mulai mengendus hawa beracun di bawah ini!"
Swat Lian mengangguk. Dia mengerutkan kening dan terkejut mencium bau tidak enak; ada semacam asap belerang dan uap kekuningan di sana. Gadis ini berhenti dan tidak berani nekat karena kepalanya mulai pusing. Tempat ini berbahaya. Maka, ketika kakaknya menyambar lengannya dan mengajak naik, Swat Lian tidak membantah dan menurut.
"Kita bisa tercekik asap, ayo kembali dan hentikan pencarian!"
Mereka kembali ke atas dengan susah payah. Beng An berkata bahwa tidak mungkin Kim-mou-eng selamat jika terbanting di dasar jurang yang beracun itu. Ketika mereka tiba di gua di tengah jurang, Swat Lian meminta untuk beristirahat.
"Aku lelah, beristirahat sebentar, An-ko. Aku merinding melihat dasar jurang tadi!"
"Ya, dan kau jangan nekat, Lian-moi. Dasar jurang tidak memiliki oksigen, hanya hawa beracun!"
Swat Lian terengah. Pendakian yang mereka lakukan ternyata lebih berat daripada saat turun. Namun, karena mereka bukan orang sembarangan dan Beng An setuju untuk beristirahat, Swat Lian akhirnya meluruskan kaki untuk melepas lelah sambil menghapus keringatnya.
"Bagaimana sekarang, An-ko? Kita kembali dan melapor kepada Ayah bahwa Kim-mou-eng tewas?"
"Agaknya begitu. Kita tidak menemukan Pendekar Rambut Emas ini dan rupanya dia benar-benar jatuh ke dasar jurang."
"Lalu kita tidak membawa sesuatu sebagai oleh-oleh?"
"Oleh-oleh apa? Bukankah kita hanya ditugaskan mencari Pendekar Rambut Emas ini?"
"Aku ingin sesuatu, An-ko," Swat Lian tersenyum, tiba-tiba tertawa aneh. "Aku tidak mau kita pulang dengan tangan hampa. Bagaimana kalau kita tidak terburu-buru dan pergi ke kota raja? Aku ingin tahu istana, ingin melihat-lihat keadaannya, dan siapa tahu ada putri cantik di situ!"
"Untuk apa?" Sang kakak mengerutkan kening. "Kau mau berandal?"
"Hi-hik, aku ingin mencarikan jodoh buatmu, An-ko. Aku ingin punya kakak ipar dan melihat kau menikah!"
"Busyet!" Beng An menampar adiknya, namun luput. "Kau jangan kurang ajar, Lian-moi. Aku tidak mau menikah kalau kau sendiri belum mendapat pasangan!"
Saat mereka tertawa dan bercanda, tiba-tiba dari atas terdengar suara orang.
"Sst, diam!" sang kakak terkejut. "Ada orang, Lian-moi. Hati-hati dan mari kita lihat!"
Beng An berkelebat keluar, namun saat melihat ke atas, tiba-tiba ia kehilangan bunyi gerakan tersebut.
"Hantu?" bisik Swat Lian yang sudah menyusul di samping kakaknya. "Roh Kim-mou-eng, An-ko? Atau pemilik gua ini?"
"Entahlah, jangan ribut. Aku mendengar langkah seseorang yang kini tiba-tiba berhenti!"
"Kau yakin?"
"Tentu."
"Bukan hantu?"
"Ah, aku tidak main-main, Lian-moi. Aku tidak percaya hantu dan jangan kau menggangguku, ini seru!"
Swat Lian tersenyum. Memang dia menggoda kakaknya, meski dia sendiri mendengar suara di atas jurang tadi namun bersikap tak acuh. Dia ingin tahu reaksi kakaknya dan ternyata sang kakak menangkap gerakan itu. Kini suara tersebut hilang dan Swat Lian pun tidak mau main-main; dia memasang telinga dengan jantung berdebar. Dia mengira pemilik gua akan datang.
Namun, ketika suara itu tidak muncul dan mereka tidak sabar, mendadak sesosok bayangan meloncat ke dalam jurang. Swat Lian terkejut melihat seseorang berjungkir balik membawa sebatang pedang yang berkilauan dalam tiga warna: hijau, kuning, dan merah.
"Kim-mou-eng.....!" Seruan itu terloncat begitu saja.
Swat Lian terkejut melihat bayangan itu, melihat pedang tiga warna tersebut, dan tidak dapat menahan mulutnya. Ia otomatis berteriak hingga orang di atas kaget. Pedang di tangan orang itu menusuk tiga kali ke dinding jurang sebagai tancapan. Ia berhenti dan menempel di dinding jurang, lalu menengok dan melihat Swat Lian di sana dengan tertegun. Ketika Swat Lian juga tertegun melihat rambut keemasan yang terurai di punggung orang itu, mendadak bayangan tersebut tertawa aneh dan berjungkir balik meloncat kembali ke atas, tidak melihat Beng An yang cepat menarik kepalanya ke dalam.
"Nona, kau siapa?"
Swat Lian hilang kagetnya. Dia sekarang sadar dan melihat orang itu sudah di atas, melongok ke bawah dan berseru padanya. Tentu saja Swat Lian terkejut, tapi juga girang. Kim-mou-eng rupanya sudah ditemukan!
Maka, begitu orang itu berseru, Swat Lian menggerakkan kaki dan tahu-tahu gadis ini telah berjungkir balik ke atas menggunakan ikat pinggangnya untuk menyusul orang yang disangka Kim-mou-eng itu, sampai lupa pada kakaknya yang ada di belakang.
"Kim-mou-eng, aku Hu Swat Lian. Kebetulan datang mencarimu....!"
Swat Lian yang telah tiba di atas membuat orang itu tertegun dan terbelalak melihat kepandaian gadis tersebut yang mengagumkan. Dalam beberapa gerak yang ringan dan cepat, gadis ini telah berada di atas jurang dan kini mereka berhadapan. Ilmu meringankan tubuh yang diperlihatkan Swat Lian memang luar biasa.
Ketika mereka sudah berhadapan dan Swat Lian baru kali itu melihat Kim-mou-eng, gadis yang tidak mau berpikir panjang ini membentak, "Kim-mou-eng, serahkan Sam-kong-kiam. Itu milik kaisar!"
Orang itu terbelalak. Dia tentu saja bukan Kim-mou-eng, melainkan Bu-hiong. Dia terkejut dan heran melihat seorang gadis cantik di tengah jurang. Dia tidak akan tahu jika Swat Lian tadi tidak berteriak. Namun, melihat gadis itu menyusulnya dan kini membentaknya, mendadak Bu-hiong tertawa bergelak menjawab, "Nona, kau siapa gerangan? Siapa namamu tadi? Kau mau minta Sam-kong-kiam? Ha-ha, mudah memintanya, Nona, tapi tidak gampang untuk memberikannya!"
"Aku tahu!" Swat Lian tetap galak. "Dan aku siap merampas pedang itu dari tanganmu!"
"Hm!" Bu-hiong mundur saat melihat gerakan dari dalam jurang. Sesosok bayangan muncul dan berjungkir balik. Beng An tahu-tahu muncul, membuat pencuri Sam-kong-kiam itu terkejut. Dia tidak menduga ada orang kedua yang bersembunyi di sana karena disangkanya hanya Swat Lian seorang.
Maka ketika Beng An berdiri di samping adiknya dengan mata bersinar-sinar, laki-laki itu membentak, "Siapa ini? Kalian berdua bersembunyi di balik jurang?"
Beng An menjengek, "Aku orang she Hu, Kim-mou-eng. Namaku Beng An dan ini adikku, Swat Lian."
"Kalian menghendaki Sam-kong-kiam?"
"Ya, berikut dirimu. Kami diperintahkan untuk menangkap dan membawamu beserta pedang itu!"
"Ha-ha!" Bu-hiong tertawa. "Kalian terlalu gampang bicara, anak-anak. Tapi tak apalah, kalian rupanya bersemangat tinggi dan ingin menyaksikan kelihaianku. Baiklah, Kim-mou-eng tidak pernah menyerah; kalian baru dapat memperoleh pedang ini jika mampu merebutnya!"
"Srat!" Swat Lian menggetarkan ikat pinggang yang tiba-tiba menjadi kaku dan keras, lagi-lagi membuat lawan terbelalak.
"Kami siap mencoba kepandaianmu, Kim-mou-eng. Jangan sombong kalau kau telah mampu menghadapi ratusan orang kang-ouw!"
Swat Lian menggerakkan ikat pinggang seperti menggerakkan pedang, lalu mundur dan memasang kuda-kuda. Dia maklum bahwa dia menghadapi lawan lihai dan nama Kim-mou-eng telah menggetarkan seluruh dunia kang-ouw. Diam-diam gadis ini memperhatikan dan kecewa melihat wajah Kim-mou-eng yang tidak menarik; wajah itu kaku dan jarang bergerak. Dia mendongkol teringat pujian orang bahwa Kim-mou-eng dikabarkan tampan, tak tahunya hanya seperti topeng.
Ketika Swat Lian mendengus dan marah merasa tertipu, kakaknya menggetarkan lengan yang tiba-tiba berkilat mengeluarkan cahaya, berkerotok membuat kening Bu-hiong berkerut.
"Lian-moi, biar aku yang maju. Kau mundurlah."
"Tidak," Swat Lian menggeleng. "Aku ingin maju dulu, An-ko. Kau yang mundur dan biarkan aku menghadapi si sombong ini!"
"Ha-ha, kalau begitu kalian maju berbareng saja, Nona. Tidak perlu khawatir mengeroyok aku!" Bu-hiong tiba-tiba berseru.
Wajah Swat Lian memerah dan dia melotot. Beng An mengalah meski merasa tidak senang melihat kesombongan lawan. Bu-hiong, yang disangka Kim-mou-eng, dinilai sangat jumawa.
Saat adiknya bersiap-siap dan ikat pinggang yang sudah berubah menjadi keras seperti pedang atau toya itu digetarkan, Beng An berseru dengan sikap hati-hati, "Lian-moi, betapapun si sombong ini memegang pedang ampuh, berhati-hatilah menghadapinya!"
"Aku tahu," Swat Lian mengangguk. "Aku akan berhati-hati, An-ko. Tidak perlu khawatir dan lihat saja aku menghajarnya!"
Gadis itu sudah bersiap-siap dengan pandangan lurus ke depan. Semenjak tadi, matanya tidak pernah lepas dari Sam-kong-kiam itu.