Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 71

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 71

Sebagai putri seorang pendekar pedang, tentu saja Swat Lian tahu keampuhan pedang di tangan lawan. Pedang di tangan lawannya itu mengeluarkan cahaya berkilauan yang menyilaukan mata, menarik, sekaligus memancarkan sinar dingin. Ada semacam hawa gaib yang memancar dari tubuh pedang tersebut, membuat Swat Lian tertarik dan berdebar. Namun, karena kedatangannya memang untuk mencari Kim-mou-eng dan kini lawan telah ditemukan secara kebetulan, Swat Lian tidak gentar dan justru menantang.

"Kim-mou-eng, majulah!"

Bu-hiong tertawa lebar. Sejak tadi ia pun sudah mengamati gadis ini; cantik dan gagah. Tiba-tiba ia membandingkannya dengan Salima, matanya berkilat aneh. Ia tidak mengenal gadis ini. Ia tidak tahu nama Hu Beng Kui karena jago pedang itu tinggal di selatan, jauh di selatan, dan menyembunyikan diri sebagai pedagang. Maka, ketika dilihatnya Swat Lian memandang pedangnya dengan antusias dan gadis itu bersiap dengan senjata aneh di tangan, mendadak Bu-hiong menggerakkan tangannya dan menyimpan Sam-kong-kiam.

"Nona, aku tidak biasa berpedang menghadapi lawan baru. Sebaiknya kau saja yang maju dan seranglah!"

Swat Lian terkejut. "Kau begitu sombong!" Gadis ini lupa dan merasa terhina. Sebagai putri Si Pedang Maut, tentu saja ia merasa direndahkan oleh lawannya itu. Ia tidak tahu bahwa lawan tidak mengenal ayahnya dan karena itu pula tidak mengenal dirinya. Swat Lian tidak ingat akan hal ini. Maka, ketika ia membentak dan Bu-hiong tertawa, laki-laki misterius ini menggoyangkan lengannya.

"Sudahlah, kita main-main dulu, Nona. Kalau pedang itu terpaksa dicabut, tentu aku akan mencabutnya!"

"Baik!" Swat Lian melempar ikat pinggangnya dengan marah. Tiba-tiba ia menggetarkan lengan dengan bentakan nyaring, membalas kesombongan lawan dengan sikap yang sama; sama-sama tidak bersenjata.

"Kim-mou-eng, awas!"

Begitu menerjang tanpa banyak bicara, tiba-tiba Swat Lian sudah mengayunkan lengannya ke muka lawan. Angin bersiut tajam dan sinar keperakan berkeredep dari lengan gadis ini. Kaki bergerak dan lengan yang bersiutan mendadak mendering bagai sebatang pedang; perubahan ini begitu cepat. Ketika Bu-hiong terkejut dan berseru mengelak, tiba-tiba angin serangan itu mengenai pohon di belakang dan pohon itu roboh bagai dibabat senjata tajam.

"Crak!"

Bu-hiong berseru kaget. Ia harus melompat mengelak ketika Swat Lian kembali menyerangnya, berbalik, dan sudah bertubi-tubi melancarkan serangan dengan ganas. Gadis ini melengking, penasaran karena serangan pertamanya tidak ditangkis. Ia ingin menjajal kekuatan Kim-mou-eng dan marah mengapa lawan menghindar. Kini dengan cepat dan bertubi-tubi, Swat Lian menghujam lawannya. Lengan terus membacok ke sana ke mari dan desingan demi desingan membuat Bu-hiong terbelalak; kian lama kian hebat saja serangan gadis ini.

Ketika Swat Lian berkelebatan dan lenyap dalam satu gulungan besar di mana dari balik gulungan ini mencuat lengan pedang yang bertubi-tubi menyerangnya, Bu-hiong terkesiap dan sadar bahwa ia menghadapi lawan yang amat lihai.

"Bagus, hebat sekali. Kian-ciang (Tangan Pedang) yang luar biasa!" Bu-hiong memuji, tentu saja ikut berkelebatan dan kini ia mengimbangi kecepatan lawan.

Keduanya kemudian lenyap, sementara Beng An memandang dengan penuh perhatian. Adiknya sudah mulai mengeluarkan Tangan Pedang, dan tentu saja Tangan Pedang yang dimiliki gadis ini jauh lebih hebat daripada yang dimiliki Kao Sin. Angin sambaran yang digerakkan Swat Lian mampu membacok putus apa saja yang berada dalam jarak dekat, seperti yang dibuktikannya dengan robohnya pohon di belakang Bu-hiong. Karena Swat Lian adalah putri langsung dari Hu Beng Kiam, Si Pedang Maut, belasan jurus kemudian lawan dibuat kaget berkali-kali ketika baju dan rambut Bu-hiong terbabat.

"Kurang ajar! Hebat... aih!" Bu-hiong berseru berulang-ulang, jungkir balik, dan sebentar kemudian terdesak. Laki-laki ini terbelalak dan marah; berkali-kali ia harus bergulingan kalau Tangan Pedang gadis itu menyambar, tajam dan mendesing bagai senjata pusaka. Ketika ia mundur dan Swat Lian mengejek, dalam satu bacokan miring, Tangan Pedang gadis ini sempat mencium pundak lawannya.

"Bret!"

Bu-hiong terpelanting dan mengaduh. Bajunya robek, daging serasa dikoyak sayatan tajam. Ia tidak terluka karena telah mengerahkan sinkang; sinkangnya mampu melindungi diri, namun ia tetap merasa kesakitan. Swat Lian diam-diam terkejut.

Ketika gadis itu gembira dapat membuat lawan jatuh bangun, Beng An yang berseri-seri menonton pertandingan itu ikut girang. "Bagus, arahkan sekarang serangan-seranganmu ke muka lawan, Lian-moi. Robohkan dan pergunakan jurus Pedang Lemas Mengikuti Angin!"

Swat Lian mengangguk. Ia mengikuti petunjuk kakaknya. Kini tangannya bergerak lemas, namun kaku ketika mendekati sasaran. Itulah Pedang Lemas yang dimaksud Beng An; gerakannya tidak diduga dan Bu-hiong gusar. Ketika satu tusukan hampir saja mengenai matanya dan laki-laki ini berteriak, mendadak ketika Swat Lian mengejar dan berkelebat menyusuli serangannya, sekonyong-konyong Sam-kong-kiam dicabut. Pedang itu mendesing dan angin sambarannya membuat Swat Lian terpekik karena kalah tajam dan kalah dingin oleh Kiam-ciangnya sendiri.

Persis saat Swat Lian melakukan bacokan ke pinggang dan Bu-hiong bergulingan menangkis, Swat Lian menjerit ketika ujung lengannya nyaris terpapas. "Bret!" Kini Swat Lian ganti bergulingan. Ia cepat menarik bacokannya kembali. Lawan sudah melompat bangun dan Swat Lian terbelalak, mendengar lawan tertawa dan menggerak-gerakkan Sam-kong-kiam. Pedang Tiga Sinar itu berkeredep dengan mengeluarkan angin yang tajam. Dari jarak setombak saja, orang merasakan gerakannya seperti pisau cukur. Bukan main.

Ketika Swat Lian melompat bangun, pucat oleh gebrakan yang membuat ujung lengan bajunya buntung, gadis ini tertegun dan kaget. Beng An berkelebat dan tidak tega melihat adiknya terluka; gebrakan tadi juga membuat pemuda ini berseru tertahan dan pucat. Sinar menyilaukan dari Pedang Tiga Dimensi itu memang membuat orang mudah terkesiap. Ketika adiknya tertegun dengan kaki menggigil, Beng An berkata sambil mendorong adiknya, "Sekarang kau mundurlah, Lian-moi. Biar aku yang menghadapinya dan kau beristirahatlah."

"Tidak!" Swat Lian tiba-tiba menyambar kembali ikat pinggangnya, mengerahkan sinkang, dan ikat pinggang itu mendadak kaku karena penasaran. "Aku belum kalah, An-ko. Kau yang mundur dan biarkan aku kembali menghadapi si sombong ini!"

"Sing-sing!" Ikat pinggang itu bergerak dua kali, mengeluarkan desingan, dan Swat Lian melompat lagi menghadapi lawan. Matanya bersinar-sinar, kaget tapi juga marah. Ketika kakaknya was-was dan Bu-hiong tertawa melihat kekerasan hati gadis ini, laki-laki itu berkata, "Majulah, mari kita main-main lagi, Nona. Kiam-ciangmu yang hebat terpaksa membuat aku mencabut senjata. Majulah, dan hati-hati!"

Swat Lian tidak dapat menahan diri. Bu-hiong mengejeknya dengan sikap pongah; lawan sebenarnya dapat didesak, tapi berlindung di balik keampuhan pedang pusaka itu. Ia harus mengakui ketajaman Sam-kong-kiam; pedang ini nyaris membuat tangannya buntung. Maka, melihat lawan mengejeknya, Swat Lian gusar. Tiba-tiba gadis ini melejit dan membentak, "Manusia sombong, jangan pongah!"

Begitu ikat pinggang meluncur lurus ke depan dan menusuk tenggorokan lawan, Swat Lian segera menyerang dengan mempergunakan ikat pinggangnya sebagai pedang. Lawan mengelak dan menangkis, memaksa Swat Lian menarik serangannya. Ia menggantinya dengan serangan lain di mana ikat pinggang yang sudah kaku dan keras ini menikam bertubi-tubi, cepat dan luar biasa karena Swat Lian mengerahkan ginkangnya. Tubuh gadis ini lenyap dan sebentar kemudian sinar hitam bergulung-gulung mengelilingi Bu-hiong. Laki-laki ini terkejut tapi tertawa lebar.

Karena ia memiliki Sam-kong-kiam, dan tusukan serta tikaman bertubi-tubi yang dilakukan Swat Lian memang berbahaya dan selalu menuju tempat-tempat mematikan, Bu-hiong melompat ke sana ke mari dan mempergunakan pedangnya untuk menangkis, selalu mencoba membentur senjata di tangan Swat Lian. Tentu saja Swat Lian marah; senjatanya tidak mungkin diadu dengan Sam-kong-kiam karena pasti kalah tajam. Ketika gadis itu melengking dan gusar serta bingung karena senjatanya selalu dipapak Sam-kong-kiam yang luar biasa tajam, akhirnya Swat Lian memekik sambil berputar cepat mengelilingi lawan.

"Kim-mou-eng, kau licik! Kau hanya mengandalkan pedangmu yang ampuh itu!"

"Ha ha, orang bertempur tentu membela diri, Nona. Aku memang hanya memiliki pedang ini. Kalau kau tidak mampu merobohkan aku, sebaiknya menyerah saja!"

"Keparat, kau sombong!" Swat Lian yang marah dan melengking tinggi mendadak menggerakkan tangan kirinya; senjata di tangan bergerak menusuk ulu hati lawan, namun lawan menangkis. Swat Lian berbuat nekat dengan membiarkan ikat pinggangnya bertemu Sam-kong-kiam. Tentu saja ikat pinggangnya putus; sehebat apa pun ia mengerahkan sinkang untuk membuat benda lemas menjadi keras, tetap saja ikat pinggangnya terbabat.

Namun, begitu lawan terbahak menangkis senjatanya, sekonyong-konyong jari telunjuknya bergerak cepat menotok leher kanan lawan.

"Tuk!"

Jari Swat Lian tiba-tiba membal. Gadis ini terkejut karena jalan darah yang diincar ternyata merupakan daging empuk saja; sasarannya kosong. Lawan tidak apa-apa. Swat Lian penasaran, kembali menyerang dan mempergunakan taktik seperti tadi, yakni mengorbankan ikat pinggangnya dan menclok dua-tiga kali. Ikat pinggangnya putus semakin pendek, namun setiap totokannya gagal. Gadis ini kaget dan tidak mengerti. Ketika lima-enam kali ia tetap saja tidak berhasil merobohkan lawan dan ikat pinggangnya kian pendek dibabat Sam-kong-kiam, akhirnya lawan terbahak dan balas menyerangnya.

"Lian-moi, awas...!" Swat Lian kaget.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment