Chapter 72
Saat itu ia telah mengorbankan senjatanya sebanyak tujuh kali. Ikat pinggangnya hampir habis dan lawan terus berkelebat.
Sam-kong-kiam mengeluarkan sinar menyilaukan dan Beng An berseru keras saat melihat adiknya dalam bahaya. Begitu pedang berkelebat dan Sam-kong-kiam mengarah ke dada adiknya, tiba-tiba Beng An membentak lalu meloncat tinggi. Kakinya bergerak sangat cepat, menendang pundak lawan.
Swat Lian sendiri sudah membanting tubuhnya bergulingan, tetapi sisa ikat pinggangnya disambitkan ke depan. Benda itu mirip belati tajam yang menyambar muka lawan. Jarak yang sangat dekat membuat Bu-hiong terkejut karena tidak menduga Beng An akan menyerangnya dari sebelah kiri.
Karena sambaran ikat pinggang itu cukup berbahaya—benda lemas tersebut telah menjadi kaku seperti pisau—dan tendangan dari samping dinilai tidak begitu berbahaya dibandingkan sambitan jarak dekat, Bu-hiong berseru keras. Ia mengubah gerakan pedangnya untuk menangkis ikat pinggang yang menyambar cepat itu.
"Crak!" Sam-kong-kiam berhasil memutus benda tersebut.
Bu-hiong selamat, tetapi karena tendangan dari samping tidak dapat dihindari, ia mencelat dan jatuh bergulingan sambil mengeluh kaget. Bagaimana pun, tendangan Beng An bukanlah tendangan main-main; Beng An mengerahkan hampir segenap tenaganya di sana. Jika orang biasa yang menerima tendangan itu, tentu pundaknya sudah remuk.
Bu-hiong melompat bangun dan menatap pemuda itu dengan marah.
Ketika Beng An mendekati adiknya dan merasa lega melihat Swat Lian tidak apa-apa, pemuda ini berkata, "Nah, sekarang kau mundurlah, Lian-moi. Kau tidak dapat mengatasi Kim-mou-eng, biar aku yang maju."
"Tapi aku belum kalah!" jawab Swat Lian sengit. "Dia licik karena mempergunakan keampuhan pedangnya itu. An-ko, kalau bukan karena Sam-kong-kiam, belum tentu dia menang!"
"Sudahlah, kita harus bersikap ksatria, Lian-moi. Karena kau kehilangan senjata dan tidak dapat meneruskan pertandingan, anggap saja kau kalah. Sekarang biarkan aku yang maju dan kau menontonlah di pinggir." Beng An berkata halus. Ia harus membujuk adiknya karena Swat Lian merupakan gadis yang keras hati.
Dengan lembut ia mendorong adiknya. Swat Lian melotot, namun akhirnya mau dibujuk. Setelah Beng An tersenyum, pemuda ini berbalik menghadapi lawan.
"Kim-mou-eng, kau hebat. Tapi sayang, kehebatanmu ternyata ditunjang Sam-kong-kiam. Biarlah aku menggantikan adikku dan kita main-main sebentar... Srat!" Beng An mengeluarkan ikat pinggangnya, meluruskannya, dan mengerahkan sinkang hingga ikat pinggang itu menjadi kaku, keras, serta bergetar di tangannya.