Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 73

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 73

Sementara lawan terbelalak, pemuda ini melompat ke depan. Kelima jari tangan kirinya berkerotok, mencengkeram, dan membuka.

"Majulah!" lantangnya.

"Mari bermain-main dan biar kurasakan sendiri kelihaianmu!" Bu-hiong terbelalak.

Sebenarnya, dia harus mengakui dalam pertandingan melawan Swat Lian tadi bahwa gadis itu memiliki ilmu yang hebat. Kalau tak ada Sam-kong-kiam di tangan, barangkali dia sudah roboh. Kini sang kakak maju, dan lawannya ini tampak lebih tenang, berarti lebih dapat menguasai diri. Orang seperti ini tentu lebih berbahaya.

Beng An sendiri sebenarnya jarang bertempur, tetapi kini harus menghadapi lawan yang dianggap berat karena memegang Sam-kong-kiam. Namun, karena telah menantang dan pemuda itu ingin merasakan sendiri kehebatan lawan, Beng An bersiap-siap dan meluruskan senjatanya. Senjata itu aneh, karena Beng An memang tidak membawa senjata lain kecuali itu, begitu juga adiknya. Mereka dapat mempergunakan apa saja sebagai pedang. Jarang bertempur membuat mereka jarang membawa senjata, padahal kalau pedang ada di tangan, tentu kakak beradik ini akan lebih hebat lagi. Mereka tak perlu mengeraskan senjata lemas menjadi keras yang memakan tenaga ekstra.

Ketika lawan sudah maju menantang, Bu-hiong tertawa aneh. Tiba-tiba laki-laki ini berkelebat ke depan dan berseru mengejek, "Tidak, kau dulu yang maju, anak muda. Kalau kau dapat merobohkan aku, tentu kau berhak membawa pedang ini!"

"Aku akan mencoba," sahut Beng An tenang, melirik dan berhati-hati menghadapi pedang di tangan lawan.

Begitu lawan bersiap dengan senyum mengejek, tiba-tiba Beng An membentak dan menyerang dengan satu serangan miring.

"Awas!" Bu-hiong bersiap.

Beng An menggerakkan senjatanya yang aneh. Ikat pinggang meluncur lurus menuju dadanya. Tentu saja disambut oleh Sam-kong-kiam, dan Bu-hiong tertawa mengejek. Pemuda itu tak mungkin mengadu senjata. Hal ini benar karena Beng An tiba-tiba menarik serangannya. Ikat pinggang membalik dan tiba-tiba menjadi benda lemas lagi. Begitu Beng An melompat ke kiri, tahu-tahu ikat pinggang yang lemas itu meledak nyaring di sisi kepala lawan.

"Tarr!" Bu-hiong terkejut.

Dia tak menduga kalau Beng An mampu mengubah-ubah *sinkang*-nya, dari keras menjadi lemas atau sebaliknya. Hal ini tentu saja membuatnya terkejut karena ikat pinggang sudah menyambar telinganya; ledakannya membuat terkesiap karena mirip petir di siang bolong. Karena tidak sempat menangkis dan satu-satunya jalan hanya melompat mengelak, Bu-hiong melakukan itu dan segera dikejar dengan serangan-serangan berikut. Ikat pinggang mendadak berubah lagi menjadi kaku dan keras, menusuk dan mendesing menuju kaki.

Lalu, ketika Sam-kong-kiam ikut bicara dan menangkis serangan ini, senjata di tangan Beng An sudah berubah lemas lagi dan meledak menyambar tempat lain. Bertubi-tubi dan cepat, Beng An menyerang lawannya. Bu-hiong sibuk dan terpaksa bergerak cepat pula. Serangan lawan berubah-ubah. Ketika ikat pinggang itu menusuk dan meledak membingungkan lawan, mendadak untuk pertama kalinya Bu-hiong dibuat bingung!

"Keparat, lihai sekali. Hebat!"

Beng An tak lekas menjadi gembira. Seruan lawan yang memuji berkali-kali tetap membuat pemuda ini bersikap biasa. Serangan-serangannya mulai menuju pada titik-titik pusat yang berbahaya: kening, mata, dan bagian bawah. Sering berganti namun memiliki tenaga dan kecepatan yang semakin bertambah. Sam-kong-kiam tak banyak berdaya menghadapi serangan Beng An yang tak gampang diikuti—aneh tapi berbahaya.

Ketika Beng An mempercepat gerakannya dan selalu menghindar bila Sam-kong-kiam menyambut, ujung ikat pinggang meledak mengenai pundak lawan. Bu-hiong tak apa-apa. Laki-laki ini hanya terhuyung. Ikat pinggang kembali bergerak dan kali ini berubah kaku. Bagai sebatang pedang, senjata di tangan Beng An menusuk, tepat mengenai leher laki-laki itu. Namun, ketika pedang mental bertemu tubuh lawan yang dilindungi kekebalan *sinkang*, Beng An ganti terkejut dan mengerutkan kening.

"Ha-ha, kau tak dapat melukai aku, anak muda. Boleh pilih sasaranmu, tapi berhati-hatilah, aku pun akan membalas!"

Beng An menjadi penasaran. Saat itu dia berada di atas angin; lawan dibuat bingung oleh perubahan pukulannya yang bervariasi. Inilah kelebihan Beng An dibanding adiknya. Tapi melihat dua tusukannya gagal menghadapi lawan yang kuat, Beng An menjadi gemas dan marah.

"Ayo, kau pun boleh menyerangku, Kim-mou-eng. Jangan hanya menangkis saja!" Beng An membentak, diam-diam mempelajari kelemahan lawan dan mencoba mencarinya.

Seruannya disambut tawa oleh Bu-hiong. Hal itu dianggap sebagai penyerahan; Beng An tak dapat merobohkannya dan laki-laki ini gembira. Maka, begitu lawan menyuruhnya menyerang dan Beng An memperlambat serangannya, tiba-tiba Sam-kong-kiam menusuk dan membabat leher pemuda ini.

"Singg!" Beng An merendahkan kepala. Dengan berani dia membiarkan pedang lewat beberapa senti saja di atas kepalanya. Dia terkejut ketika sebagian rambutnya terpapas oleh angin sambaran pedang. Karena telah mengatur strategi dan melihat kesempatan baik dengan ketiak lawan yang terbuka di atas kepalanya, tiba-tiba Beng An menggerakkan jari menusuk dan menotok bawah ketiak lawan.

"Tuk!" Jari Beng An membal. Sama seperti adiknya, Beng An merasa menusuk segumpal daging yang kosong; tempat ini tak memiliki jalan darah. Beng An tertegun. Namun, karena tak boleh lengah dan lawan memutar tubuh sambil tertawa mengejek, tiba-tiba ikat pinggang Beng An meledak menyambar selangkangan.

"Tarr!" Ikat pinggang itu mental. Beng An terkejut ketika lagi-lagi untuk kedua kalinya dia merasa bagian itu kosong; agaknya lawan "menarik" anggota tubuh ini ke dalam. Beng An tercekat.

Ketika dia terbelalak dan tertegun kalah cepat, tahu-tahu Sam-kong-kiam menyambar dan untuk pertama kali membabat senjatanya. "Tass!" Senjata Beng An putus, ikat pinggang itu tinggal separuh. Kini Beng An berseru keras menghindari sambaran berikut; Sam-kong-kiam memburu dan lawan terbahak gembira. Rupanya sedikit hasil tadi membuat dia di atas angin. Beng An dikejar dan kini berlompatan menghindari Sam-kong-kiam; pemuda itu pucat. Ketika Bu-hiong tertawa terbahak-bahak dan Beng An berputaran mengelak dan menangkis, tiba-tiba posisi berbalik: Beng An yang tadi di atas angin, kini terdesak.

"An-ko, pergunakan Bianglala Menari! Jangan beri kesempatan lawan mendekatimu!"

Beng An sadar. Tiba-tiba dalam saat begitu dia mengeluarkan seruan panjang; tubuh yang berputaran mendadak meloncat tinggi. Beng An berjungkir balik dan melewati kepala lawan. Ketika Bu-hiong menggeram dan memutar tubuhnya, tiba-tiba Beng An berpusing mengelilingi lawan dengan senjata yang tinggal separuh, menikam dan menotok.

"Aih, siluman. Ilmu yang aneh!" Bu-hiong berseru, menjadi marah dan mendongkol karena kini tangan lawan menjulur masuk-keluar mengiringi gerakan senjata. Ikat pinggang di tangan Beng An itu melakukan serangan bertubi yang amat cepat; tingkahnya bagai lidah ular yang keluar-masuk. Sam-kong-kiam kembali bingung menyambut sana-sini.

Beng An sekarang waspada untuk tidak terbacok lagi. Senjatanya yang tinggal separuh itu harus disayang-sayang. Ketika pemuda ini lenyap mengelilingi lawan dan tangan kiri mulai mendesing dengan *kiam-ciang* atau Tangan Pedang, Beng An tiba-tiba seolah memiliki dua senjata di kedua tangannya.

"Keparat, benar-benar hebat!" Bu-hiong terbelalak, matanya menjadi kabur dan tak dapat mengikuti gerakan Beng An. Dia terpaksa memutar cepat Sam-kong-kiam di tangan hingga pedang itu membentuk gulungan cahaya yang membungkus dirinya.

Sekarang Beng An repot dan mengumpat. Lagi-lagi dia tak dapat menyerang; tentu saja tak berani menembus bungkusan cahaya yang angin sambarannya saja sudah merontokkan daun-daun di atas kepala mereka. Ketika pemuda itu berputaran cepat dan Bianglala Menari yang dimainkan Beng An terus bergerak mengelilingi lawan, Bu-hiong membentak dari dalam gulungan sinar pedangnya, melontarkan pukulan aneh dengan tangan kirinya.

"Bocah, jangan berputaran dengan licik. Ayo sambut pukulanku kalau berani!"

Beng An marah. Ditantang dan dikira licik begitu membuat pemuda itu naik darah; pukulan tangan kiri lawan mencuat dari gulungan sinar pedang. Tentu saja dia tak takut dan merasa kebetulan—inilah saatnya dia menemukan titik kelemahan; lawan bisa ditarik dan menghentikan gerakan pedangnya. Maka, begitu pukulan menyambar dan saat itu Beng An ada di depan, mendadak pemuda ini menyambut dan berseru keras.

"Dukk!"

Dua lengan mereka bertemu. Beng An yang mau menarik tiba-tiba melihat tangan lawan dibuka; rupanya lawan pun mau melakukan hal yang sama, yakni menarik dirinya dan membawa dirinya ke dalam gulungan sinar pedang. Tentu saja Beng An tak mau dan mendahului. Tapi ketika lawan tertawa aneh dan cengkeraman Beng An bertemu cengkeraman lawan, sekonyong-konyong Bu-hiong membentak. Beng An terkejut melihat lengan lawan yang sudah berubah kehijauan seperti kulit ular.

"Aihh!"

Beng An terlambat. Terkejut dan segera mencium bau amis dari lengan lawan yang terjulur. Kedua tangan mereka sudah saling cengkeram dan Bu-hiong membetot. Saat itu mereka berkutat, dan Beng An kaget bukan main karena baru sekarang dia sadar bahwa pukulan lawan mengandung racun. Entah apa itu, namun Beng An cepat menahan napas, tak mau menyedot dan tentu saja gugup. Beng An kurang pengalaman dalam pertempuran di dunia kang-ouw. Ketika dia membentak dan mencoba melepaskan diri dengan menarik dan mendorong, mendadak Sam-kong-kiam berkelebat dari samping menyambar leher pemuda ini.

"Ha-ha, mampus kau!"

Beng An dan Swat Lian terkejut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment