Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 75

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 75

"Biar aku yang maju dan dua hari lagi kita berangkat?"

"Tapi aku sudah sehat, Ayah," Beng An berseru, rupanya penasaran tapi juga girang. "Dan aku sanggup berangkat hari ini atau besok!"

"Tidak," sang ayah tetap menggeleng. "Racun di tubuhmu memang telah sirna, An-ji. Tapi kekuatan tubuhmu belum pulih benar. Kau masih lemah. Biar kau beristirahat dua hari ini, sementara aku akan mengatur kelima suhengmu meneruskan pekerjaan."

Beng An terdiam. Kalau ayahnya sudah bicara seperti itu, tak mungkin dia membantah lagi. Swat Lian tersenyum dan menowel kakaknya ini, memberi pandangan penuh arti. Beng An menarik napas panjang, senyum kecut muncul di sudut bibirnya. Dia maklum akan perintah sekaligus nasihat ayahnya ini. Karena sang ayah sudah memutuskan begitu dan mereka terpaksa menurut, maka Beng An disuruh ayahnya untuk memulihkan tenaga sendiri.

"Kau harus mengumpulkan tenagamu, bersamadhilah dan pulihkan tenaga sendiri agar sisa-sisa racun benar-benar lenyap."

Beng An lagi-lagi tak dapat membantah. Hari itu dan hari kedua, dia diharuskan mengumpulkan tenaga, memulihkan sinkangnya, dan duduk bersila. Swat Lian telah keluar untuk menyiapkan yang lain-lain; gadis itu pun tak dapat membantah ayahnya.

Ketika dua hari lewat, jago pedang itu memanggil semua muridnya. Sebelum berangkat, pendekar ini berkata, "Kalian berlima, teruskan pekerjaanku sebagaimana biasa. Aku, Beng An, serta Swat Lian akan pergi mencari Kim-mou-eng. Kalau ada urusan yang tak dapat kalian selesaikan, biar ditunda dulu sampai kami kembali."

"Apakah tidak dapat diwakili kami, Suhu?" tanya Kao Sin, murid termuda, setelah mendengar perihal sumoinya dan kecurangan Kim-mou-eng. "Atau dua di antara kami mewakili Suhu menghadapi Pendekar Rambut Emas itu!"

"Tidak. Sam-kong-kiam di tangannya terlalu berbahaya, Kao Sin. Kalau toh kalian semua pergi, maka pekerjaan di sini tidak ada yang mengurus."

"Tapi dua atau tiga di antara teecu sanggup, tidak perlu berlima!"

"Tidak, aku menginginkan kalian di sini, Kao Sin. Pedang itu benar-benar terlampau berbahaya dan kalian mungkin kurang pengalaman. Sudahlah, kalian tunggu kami kembali dan urus pekerjaan sehari-hari sebagaimana biasa."

Jago pedang itu tak mau berpanjang lebar lagi, memutus bantahan muridnya. Kao Sin serta keempat suhengnya tak berani lagi bicara. Mereka tahu watak suhu mereka ini: keras dan tegas.

Ketika hari itu sang suhu berangkat bersama Beng An dan adiknya—yang menyimpan pedang di belakang punggung dan tampak begitu gagah dengan pakaian baru yang ringkas—mereka kagum memandang kedua sumoi dan sute itu, terutama Swat Lian, yang tampak semakin cantik dan gagah.

"Selamat jalan, Sumoi. Hati-hati!"

"Ya, selamat jalan, Sute. Hati-hati!"

Beng An dan adiknya mengangguk. Mereka sudah naik ke kereta bersama ayah mereka. Hu Beng Kui tidak mau menunjukkan kepandaian di dalam kota, lalu menyuruh kusir berangkat seolah mereka keluarga hartawan yang ingin pesiar. Kusir pun menurut.

Namun, begitu tiba di perbatasan kota yang sepi, jago pedang ini menyuruh kereta berhenti dan meloncat keluar diikuti kedua anaknya.

"Cukup, pulanglah. Sekarang kau kembali dan kami akan berjalan kaki."

Hu Beng Kui berkelebat. Untuk pertama kalinya, dia menunjukkan kepandaiannya pada bawahan; tiba-tiba dia lenyap seperti iblis. Swat Lian dan Beng An tertawa melihat kusir mereka melongo. Memang pembantu mereka itu hanya mendengar-dengar saja tentang kepandaian pendekar ini, tidak berani bicara, apalagi bertanya. Tentu saja dia kaget melihat majikannya lenyap sebelum kata-katanya selesai.

Begitu Beng An serta adiknya mengikuti jejak sang ayah dan lenyap dari depan mata, Swat Lian berseru dari kejauhan sambil tertawa, "Ai-lopek, jangan ndomblong saja. Ayah menyuruhmu pulang, maka pulanglah! Jangan ceritakan peristiwa ini pada siapa pun!"

Sang kusir baru sadar. Dia terkejut, menjatuhkan diri berlutut, dan berulang-ulang mengucap janji. Keluarga itu memang dianggap sebagai dewa atau orang aneh. Dia hanyalah pelayan biasa yang tidak memiliki kepandaian seperti Kao Sin dan empat suhengnya. Maka, begitu mendapat peringatan dan disuruh pergi, kusir ini mengangguk, meloncat ke atas keretanya, memutar balik, dan pulang ke Ce-bu. Entah kenapa, mukanya tiba-tiba penuh keringat. Kalau tidak mengenal majikannya bertahun-tahun, tentu dia akan menganggap ketiganya adalah hantu yang pandai menghilang.

Begitu hebat dan luar biasa. Ketika kereta berderap kembali memasuki kota Ce-bu, Swat Lian tertawa-tawa mengejar ayahnya.

"Ayah, Ai-lopek seperti melihat setan. Kau membuatnya terkejut!"

Hu Beng Kui tak tersenyum. Dia sedang memusatkan perhatian pada Kim-mou-eng, diam-diam meraba sebatang pedang hitam di pinggangnya; pedang lentur namun tajam luar biasa. Itu pun pedang pusaka, dan entah bagaimana nanti jika berhadapan dengan Sam-kong-kiam. Pedangnya terbuat dari baja pilihan bercampur batu bintang; kerasnya sudah diuji dan batu sebesar apa pun mudah terbacok oleh pedang ini. Dia menamakan pedangnya Hek-seng-kiam (Pedang Bintang Hitam).

Maka ketika putrinya menegur tentang perbuatannya, jago pedang ini seolah-olah tak mendengar.

"Hm, tak perlu banyak bicara saat ini, Lian-ji. Aku ingin kalian semua serius dan cepat menemui Kim-mou-eng."

Swat Lian cemberut. "Memangnya sehari bisa sampai? Aku harus berlari tanpa henti tiga hari tiga malam, Ayah. Sebaiknya tak perlu serius dan dua hari ini kau ajak kami menikmati perjalanan."

"Benar, kami hampir tak pernah keluar bersamamu, Ayah. Ini kesempatan bagus bagi kami untuk menikmati perjalanan keluarga sebelum bertemu Kim-mou-eng!" sambung Beng An.

"Huh, memangnya kalian mau bersenang-senang? Bukankah di Ce-bu kalian dapat melakukan itu tanpa halangan?"

"Tapi ini lain, Ayah. Kami ingin mendapatkan perhatianmu sebelum kita bertemu Kim-mou-eng!" kata Swat Lian lagi.

Ayahnya menoleh, bertanya apa maksud putrinya tentang "perhatian". Ketika dengan mulut sedikit cemberut Swat Lian berkata bahwa dia ingin dimanja ayahnya dengan makan minum bersama atau tinggal di penginapan yang baik karena jarang mereka dapat melakukan itu, tiba-tiba pendekar ini tersenyum.

"Kau seperti anak kecil, tingkahmu lucu!"

"Hm, Ayah tak mau menyenangkan kami?"

"Menyenangkan apa lagi? Bukankah di Ce-bu hampir semua permintaan kalian kuturuti? Sudahlah, ini bukan perjalanan santai, Lian-ji. Aku ingin cepat bertemu dan berhadapan dengan Kim-mou-eng itu!"

Hu Beng Kui tak menggubris lagi. Kedua anaknya disuruh diam dan Swat Lian serta kakaknya kecewa. Swat Lian mendongkol. Maka, ketika malam tiba dan mereka terhambat di tengah hutan, tiba-tiba gadis ini mogok dan tak mau meneruskan perjalanan.

"Sudah, di sini saja. Kita boleh berteman nyamuk dan ular!"

Swat Lian berhenti. Sang ayah terkejut karena sebenarnya pendekar pedang itu menghendaki perjalanan diteruskan. Untuk pertama kalinya putrinya mogok dan protes. Ketika Swat Lian membanting pantat dan terisak di rerumputan, akhirnya Beng An mengikuti adiknya dan duduk memandang ayah mereka.

"Benar, kita berhenti di sini saja, Ayah. Aku capai dan Lian-moi pun rupanya letih. Kalau kau mau melanjutkan perjalanan, biar Ayah di depan dulu, besok kami menyusul."

Pendekar ini tertegun. "Kalian sinting! Dua puluh li lagi ada Dusun Lim-chung, Beng An. Kita beristirahat di sana dan minta sekadar makanan pada penduduk!"

"Tidak, aku tak lapar, Yah. Aku juga tak haus dan ingin tidur di hutan ini. Sudah lama aku tak berteman nyamuk maupun ular, biar malam ini aku berkawan mereka dan kau tidur di Dusun Lim-chung itu," Swat Lian ngambek, bilang tidak lapar tapi perutnya tiba-tiba berkeruyuk.

Hu Beng Kui tersenyum dan tiba-tiba tertawa tergelak. Kalau sudah begini, dia dilulu oleh putrinya. Dia mengerti dan teringat percakapan pagi tadi. Maka, ia berkelebat menepuk pundak putrinya dan berkata, "Baik, aku menyerah pada kalian, anak-anak. Ayo bangun dan kita ke Se-yang. Di sana kita menginap dan cari losmen yang bagus, kalian boleh makan yang enak-enak dan puaskan diri. Tapi ingat, kita harus lari cepat satu jam lagi sebelum tiba di kota itu!"

Hu Beng Kui menarik bangun puterinya. Kata-kata ini membuat mata putrinya bersinar dan bibir yang cemberut itu mendadak tersenyum. Swat Lian merasa permintaannya dikabulkan. Tapi karena dia gadis manja, dia pura-pura menolak.

"Aku tak ingin ke mana-mana. Aku ingin di sini saja. Kalau Ayah mau ke Se-yang, silakan pergi."

"Eh!" Hu Beng Kui mengenal watak anaknya. "Kau mendongkol? Baik, aku minta maaf padamu, Swat Lian. Dan biar kutebus kesalahanku itu..." Wut!

Si jago pedang tiba-tiba menyambar puterinya, memanggulnya di pundak, lalu tertawa berseru pada putranya, "Beng An, ayo jalan. Adikmu yang manja ini memang ingin menghukum ayahnya, ha-ha!"

Hu Beng Kui berkelebat sambil memondong anaknya seperti anak kecil, tiba-tiba sudah meluncur keluar dari hutan. Swat Lian terkekeh dan Beng An tersenyum. Kalau sudah begitu, tampaklah betapa kasih ayah mereka itu. Beng An tersipu melihat adiknya dipondong. Namun, karena ayahnya berkelebat dan mau tak mau dia harus angkat kaki, akhirnya Beng An menyusul dan berkelebat mengejar ayahnya.

"Yah, lempar saja si bengal itu. Kenapa dipondong seperti anak kecil?"

"Ha-ha, adikmu ingin disayang, Beng An. Biar kulaksanakan permintaannya itu dan jangan kau marah. Sekali tempo Ayah memang harus tunduk kepada kemauan anaknya!"

Beng An tertawa. Tiba-tiba saja kemesraan di antara mereka tumbuh. Hu Beng Kui menyambar lengan putranya pula dan Beng An merasakan kasih yang hangat dari jari-jari ayahnya. Inilah yang mereka inginkan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment