Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 76

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 76

Saat pendekar itu memanggul putrinya menuju Se-yang dan lengan Beng An dicengkeram ayahnya dengan lembut, Swat Lian tertawa-tawa di pundak ayahnya.

"Yah, beginikah ketika aku kecil kau menggendongku? Berapa kali sehari kau menggendongku?"

"Ha-ha, kau cerewet seperti masa kecilmu, Swat Lian. Aku ratusan kali menggendongmu setiap kali kau merengek. Ada apa? Minta ditampar pinggulmu pula seperti masa kanak-kanak?"

Saat Swat Lian terkekeh dan sang ayah bercanda dengan mereka, akhirnya sejam kemudian Hu Beng Kui dan anak-anaknya tiba di Se-yang. Tentu saja di pintu gerbang kota, Swat Lian meloncat lebih dulu. Gadis ini berseri-seri dan bahagia memandang ayahnya. Begitu mereka masuk ke kota dan cemberut Swat Lian hilang, langsung gadis ini mencari penginapan yang paling baik.

"Kita ke jantung kota, cari penginapan bertingkat dan pilih yang di atas!"

"Ya... ya, aku tahu," ayahnya tertawa. "Kau selamanya minta yang serba baik, anak nakal. Kita cari losmen bertingkat dan tidur di atas!"

Hu Beng Kui menuruti putrinya, mendapatkan losmen yang dimaksud, dan malam itu mereka meminta tiga kamar. Beng An mengerutkan kening dan minta dua saja; biar dia dan ayahnya tidur bersama, katanya demi penghematan. Hu Beng Kui mau menolak, tapi melihat sinar aneh di mata putranya itu, rupanya Beng An pun ingin tidur bersama sang ayah menikmati kasih sayang seperti adiknya tadi. Pendekar ini tersenyum, tentu saja tak menolak, dan kali ini dia memenuhi keinginan putranya.

Malam itu ayah dan anak tidur bersama. Beng An merasakan kenikmatan tersendiri. Memang tak pernah ia tidur bersama ayahnya sejak beranjak dewasa; tentu saja itu merupakan kenangan manis bagi pemuda ini. Keesokan harinya, ketika mereka bangun tidur dan sang ayah membuka jendela, Swat Lian mengetuk pintu ribut-ribut. Rupanya ia sudah bangun duluan.

"Yah, bangun! Sudah siang. Ayo sarapan dan nikmati hidanganku ini!"

Si jago pedang keluar. "Hm, kenapa ribut-ribut? Hidangan apa?"

"Lihat, aku mendapatkan bubur ayam, Yah, dan kecap asin. Ayo kita sarapan mumpung masih panas!"

Hu Beng Kui tersenyum. Di depan pintu kamar, Swat Lian telah membawa tiga mangkuk bubur yang mengepul harum, bubur ayam kesukaannya, juga kecap asin. Putrinya begitu gembira menawarkan semuanya. Cepat pendekar ini menyambut dan seorang pelayan membawa meja kursi. Bubur dan lain-lainnya ditaruh. Ketika Beng An muncul dan keluar dengan muka segar, pemuda ini pun tersenyum memandang adiknya dengan wajah berseri-seri.

"Yah, kebiasaan anakmu ini tak hilang juga. Selalu menggedor dan suka membuat ribut di pintu kamar."

"Hi-hik, aku tak sabar menanti kalian, Koko. Aku terbangun karena dengkur yang terlalu keras!"

"Siapa mendengkur?"

"Tentu kau!"

"Tidak, aku tak pernah mendengkur dan tentu Ayah. Ayah semalam pulas dan mendengkur. Aku tahu dan..."

"Ha-ha, sudahlah, anak-anak. Kalau bertengkar begini saja kapan kita menikmati bubur? Ayo makan, jangan ribut!"

Hu Beng Kui tertawa tergelak. Pagi itu dia gembira karena perjalanan ini memang sangat menyenangkan. Melihat dua anaknya ribut menimbulkan kegembiraan tersendiri di hatinya. Swat Lian dan kakaknya tersenyum. Ketika sang ayah menyambar mangkuk bubur dan mengeduk isinya, dua kakak beradik itu tertawa mengikuti, menyambar mangkuk masing-masing, dan tak lama kemudian isinya pun habis disikat. Bubur ayam dengan kecap asin sungguh nikmat.

Ketika Swat Lian mengusap bibirnya yang berminyak, seorang gadis muncul di tangga loteng, diantar pelayan.

"Ini, Nona. Silakan beristirahat!"

Swat Lian tertegun. Dia melihat seorang gadis berkulit hitam manis mendapatkan kamar sebelah, cantik dan gagah dengan topi burung rajawali di atas kepalanya. Semuanya menoleh dan kagum memandang gadis itu. Yang diperhatikan bersikap acuh dan dingin. Ada kesan angkuh pada tamu baru itu. Rupanya gadis itu mencari kamar dan kebetulan berada dekat dengan kamar Swat Lian, bersebelahan.

Ketika pelayan menyerahkan kunci dan gadis itu masuk, Hu Beng Kui berkata perlahan, "Seorang gadis kang-ouw, rupanya bangsa Tartar!"

Swat Lian tertarik. "Kau tahu, Yah? Dia gadis asing?"

"Ya, kulit dan mukanya itu jelas menunjukkan dia bangsa Tartar. Tapi mukanya murung, sebaiknya tak usah kita mengganggu dan biarkan dia sendirian."

"Tapi aku ingin berkenalan!" Beng An tiba-tiba berkata tanpa sadar, lalu terkejut sendiri. "Aku, eh... apa yang kukatakan ini?"

Ketika pemuda itu tersipu merah mendengar suara hatinya yang terloncat keluar, Swat Lian terkekeh berseru menggoda, "An-ko, kau rupanya kasmaran. Baru sekali ketemu sudah jatuh cinta!"

"Hush!" Beng An merah mukanya. "Aku maksudkan berkenalan dengan kepandaiannya, Lian-moi. Kalau dia gadis kang-ouw, tentu kepandaiannya tinggi!"

"Hi-hik, bukankah sama saja? Berkenalan dengan kepandaiannya atau orangnya tiada beda. Kau tak perlu berpura-pura dan aku tahu kau kagum memandang sejak tadi, kau melotot!"

"Sudahlah!" Hu Beng Kui melerai sambil tersenyum, melirik putranya. "Jangan keras-keras, Lian-ji. Tamu itu dapat mendengar dan kita disangka kurang ajar. Kalian tak perlu ribut dan hari ini kita meneruskan perjalanan. Kakakmu tak serius."

"Tak serius apa? Lihat, An-ko kecewa, Ayah. Begitu kau bilang mau melanjutkan perjalanan, tiba-tiba kakakku yang baik ini terkejut. Lihat, tuh... matanya!"

Swat Lian berolok-olok menggoda sang kakak dan Beng An terkesiap. Memang ia terkejut mendengar perjalanan mau diteruskan, hatinya tiba-tiba kecewa. Sang adik melihat dan langsung saja Swat Lian yang nakal itu mencoblosnya; tentu saja ia kaget. Ketika ayahnya memandang dan Beng An gugup, tiba-tiba pemuda ini bangkit berdiri berseru geram, "Siapa kecewa? Siapa terkejut? Kalau mau berangkat tentu saja aku mau. Hayo...!"

Beng An yang gemas melotot pada adiknya disambut ketawa ayahnya yang geli melihat tingkah dua anaknya itu.

"Sudahlah, kalian lagi-lagi bertengkar. Kenapa ribut melulu? Kau jangan menggoda kakakmu, Swat Lian. Kakakmu tak apa-apa dan mari kita turun, perjalanan tertunda semalaman setelah kita menginap."

Hu Beng Kui yang berkemas untuk melanjutkan perjalanan lalu membayar sewa kamar dan diam-diam memperhatikan putranya. Tampak jelas bahwa mukanya memang kecewa. Beng An rupanya berat meninggalkan tempat itu setelah melihat kedatangan si gadis Tartar. Jago pedang ini ingin menguji dan mengajak putranya berangkat. Kekecewaan Beng An disembunyikan, dan jago pedang ini pun diam-diam tertarik pada gadis di tempat penginapan itu. Sebenarnya dia juga ingin tahu, tapi terhadang perjalanan mereka mencari Kim-mou-eng. Dia ingin secepatnya menemui lawannya itu dan merampas Sam-kong-kiam.

Beng An agak murung dalam perjalanan kali ini, sering melamun. Swat Lian sering memberi isyarat padanya dan menyuruh ia melirik putranya itu. Jago pedang ini tersenyum. Ketika perjalanan dilanjutkan dan hari kedua mereka menginap di kota Lu-sin, mendadak tanpa disangka mereka bertemu kembali dengan gadis Tartar itu di penginapan yang kebetulan dituju pendekar itu. Gadis itu sudah lebih dulu di situ, sama-sama di loteng!

"Eh, ketemu lagi, Nona?" Hu Beng Kui terpaksa menegur, terkejut dan heran. "Kau sendiri...?"

"Perkenalkan, kami keluarga Hu. Ini putra-putriku, Hu Beng An dan Hu Swat Lian." Jago pedang itu terpaksa menyapa; mereka berada di penginapan yang sama dan kebetulan mendapat kamar yang bersebelahan pula. Entah bagaimana semua kebetulan ini terjadi lagi. Si jago pedang terkejut dan heran, kini ia melihat mata yang tajam dan penuh tenaga sinkang dari gadis yang ditegur ini.

Lawan rupanya terkejut dan heran juga. Gadis itu tertegun. Tapi ketika Hu Beng Kui memperkenalkan diri dan dia terpaksa membalas muka dengan sedikit anggukan, gadis itu berkata, "Maaf, aku Malisa. Aku telah mengenal kalian ketika di Se-yang, silakan kalian beristirahat."

Dia tidak mau menanggapi lebih jauh dan sudah meninggalkan Hu Beng Kui dan dua anaknya memasuki kamar.

"Sombong!" Swat Lian berseru. "Kenapa begitu angkuh budak betina itu, Yah? Apakah perlu dia kuhajar?"

"Sst!" sang ayah mencengkeram putrinya. "Jangan membuat ribut, Lian-ji. Gadis itu rupanya tinggi hati, tapi biarlah. Mudah-mudahan kita tak ketemu lagi dan tak usah bercakap-cakap!"

Pendekar ini mendongkol; betapapun dia tersinggung, tapi sebagai orang yang telah cukup umur dia dapat menahan diri. Beng An terkejut dan kecewa juga, bukan kecewa karena ayahnya tidak dihargai, melainkan kecewa kenapa gadis itu masuk ke kamarnya lagi; berarti kesempatan emas yang hanya sejenak itu lenyap. Beng An memaki ketidakberuntungannya.

Ketika mereka memasuki kamar dan duduk beristirahat, pendekar pedang ini memesan arak. "Bawa kemari yang terbaik, kami ingin minum."

Pelayan mengangguk. Tak lama kemudian arak sudah diantar, baunya harum dan Hu Beng Kui menenggak araknya. Beng An termangu melihat kebiasaan ayahnya yang jarang dilakukan ini; agaknya sang ayah mendongkol dan ingin melepas kemendongkolan dengan menenggak arak. Rupanya sikap gadis Tartar itu masih menyinggung ayahnya. Swat Lian mengerutkan kening dan menegur ayahnya. Beng An yang termangu menyandarkan diri, tiba-tiba bangkit berdiri.

"Yeh, aku ingin jalan-jalan sebentar. Aku ingin keluar."

Si jago pedang mengerutkan kening. "Mau ke mana?"

"Melihat-lihat kota, Yah. Sekadar membuang waktu karena aku belum ingin tidur."

"Tapi ini sudah malam..."

"Aku hanya sebentar saja, sekitar losmen."

"Baik, tapi jangan buang tenaga cuma-cuma, Beng An. Besok kita sudah di tempat tujuan dan kau harus menjaga kondisimu!"

"Aku tahu, Yah, sebentar saja."

Beng An keluar kamar dan menutup pintu. Akhirnya, ia dipandang curiga oleh adiknya yang memperhatikan gerak-gerik aneh sang kakak.

"An-ko rupanya mau bertemu si budak betina itu. Dia nampaknya terpikat!"

"Hm, gadis ini memang aneh, Lian-ji."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment