Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 77

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 77

"Aku curiga dan yakin dia memiliki kepandaian tinggi."

"Dari mana Ayah tahu?"

"Eh, apakah kau tidak berpikir? Lihat, seharian kita berlari cepat, tapi gadis ini sudah lebih dulu di sini mendahului kita. Ini menunjukkan dia memiliki ginkang yang luar biasa; kalau tidak, tak mungkin dia lebih dulu tiba."

"Aku jadi ingin tahu."

"Tapi jalan ke Lu-sin ada banyak. Dia tentu memotong jalan hingga mendahului kita?"

"Benar, tapi betapapun, sinar matanya yang tajam dan penuh tenaga sinkang itu menyatakan dia bukan gadis sembarangan, Lian-ji. Aku berani bertaruh gadis ini merupakan pendekar kelas satu!"

"Tapi dia sombong dan angkuh."

"Itulah kebiasaan orang-orang berkepandaian tinggi. Orang yang sudah memiliki tingkat kepandaian tinggi memang biasanya angkuh, memiliki kepercayaan diri yang berlebihan, sehingga membuat mereka sombong. Tapi betapapun, kita harus berhati-hati dengannya!"

Swat Lian tak puas. "Ayah terlalu memuji," katanya. "Aku jadi gatal untuk membuktikan omonganmu!"

Sementara ayahnya terkejut, tiba-tiba gadis itu melompat keluar. "Yah, aku ingin mengikuti An-ko. Coba kulihat apa yang dia lakukan!"

"Eh!" Pendekar itu menyambar puterinya. "Kau jangan mencari ribut, Swat Lian. Kau di sini saja, tak perlu keluar!"

"Tapi Ayah mengizinkan An-ko, kenapa aku tidak? Aku juga sebentar, Yah. Lepaskan, aku akan segera kembali!"

Dua mata beradu. Si jago pedang tersenyum dan melepas tangannya. Swat Lian memakai alasan kakaknya sebagai izin; dia memang harus bersikap adil. Karena Swat Lian sudah dewasa dan dia tidak perlu khawatir lagi, akhirnya pendekar itu mengangguk. "Baik, tapi jangan kau mencari permusuhan, Lian-ji. Sekali kau melanggar, aku tak bakal melepasmu lagi sampai kau tobat!"

Swat Lian tertawa. "Ayah terlalu khawatir. Baik, aku berjanji."

Swat Lian berkelebat keluar dan menghilang. Hal itu membuat Hu Beng Kui duduk tertegun, menenggak araknya kembali, lalu tersenyum dan bernyanyi kecil. Saat itu dia menyadari kebebasan putra-putrinya; mereka sudah dewasa dan bukan anak kecil lagi. Tak apa kalau hanya sebentar saja.

Begitu pendekar ini menikmati araknya di dalam kamar, Swat Lian dan Beng An yang katanya berjalan-jalan sebentar sudah menemui kejadiannya sendiri-sendiri.

Beng An sebenarnya hanya beralasan. Dia ingin mengintai gadis Tar-iar itu. Entah mengapa keinginannya begitu kuat untuk mengenal si nona. Ketika keluar kamar, dia sudah melirik pintu kamar gadis itu, berdebar, dan diam-diam ingin tahu apa yang dikerjakan gadis itu di dalam. Begitu dia memutar dan mendekati losmen dari belakang, tiba-tiba pemuda ini melayang dan menggantungkan kakinya di atas jendela.

Beng An tertegun. Kamar itu kosong, penghuninya tak ada. Beng An terkejut. "Bukan main," pikirnya. "Kapan gadis itu pergi dan kenapa aku tak tahu? Kenapa aku tak mendengar gerakannya padahal kamar kami bersebelahan? Apakah di saat adikku ribut-ribut tadi?"

Beng An melayang turun. Dia mencari ke sana ke mari, lalu tiba-tiba mendengar dengusan. Pemuda itu terperanjat. Suara itu datang dari sebelah kiri dan dengan cepat dia menoleh. Ketika dia memandang, matanya terbelalak kaget; gadis itu sudah ada di belakangnya, menatap dengan mata bersinar-sinar!

"Kau pencuri?"

Beng An kaget sekali. "Eh, tidak... eh, maaf, Nona! Aku mengintaimu karena..."

"Karena kau kurang ajar!" Gadis itu berkelebat ke depan, menampar pipi Beng An. Dua kali pemuda itu kena tampar hingga terdengar suara plak-plak yang nyaring, membuat Beng An terpelanting.

Ketika pemuda itu melompat bangun dengan pipi memerah, si nona sudah bertolak pinggang dengan suara dingin. "Orang she Hu, jangan kau main-main denganku. Kulihat kau pemuda baik-baik, kenapa mengintai kamar orang? Kau mau kurang ajar dan menjadi pemuda hidung belang?"

"Eh, tidak... maaf, Nona. Aku sebenarnya ingin berkenalan denganmu. Aku mengintai karena melihat pintumu tertutup. Aku mau masuk tapi takut!" Beng An gugup.

"Kau laki-laki mau memasuki kamar seorang wanita? Kaukira gadis macam apa diriku ini?"

"Tidak... tidak, nanti dulu!" Beng An menggoyang-goyangkan tangan, menyetop karena melihat gadis itu mau menggerakkan tangannya lagi. "Aku tak bermaksud kurang ajar, Nona. Kalau aku salah, biarlah aku minta maaf padamu. Aku bukan pemuda pemogoran. Aku..."

"Aku tahu, karena itu aku tak membunuhmu!" Gadis itu memotong. Suaranya dingin dan bengis, membuat tengkuk Beng An meremang.

Ketika pemuda itu terbelalak melihat betapa gampangnya gadis ini berniat membunuh orang, gadis itu membentak, "Sekarang kau pergi dan jangan ganggu aku lagi!"

Beng An menelan ludah. "Aku ingin berkenalan, Nona..."

"Kita sudah berkenalan. Di atas tadi ayahmu sudah menyebut-nyebut kalian!"

"Tapi itu lain, aku ingin berkenalan dalam arti yang lebih dalam lagi. Aku..."

"Cerewet!" Gadis itu berkelebat pergi. "Kau menyebalkan, orang she Hu. Kalau kau tidak mau pergi, biar aku yang pergi!"

Beng An yang bengong ditinggal lawan tiba-tiba berseru, "Eh, tunggu, Nona! Tunggu!"

Beng An mengejar di belakang, lalu tiba-tiba melihat orang itu mengerahkan ginkang melayang ke wuwungan penginapan. Beng An terbelalak melihat ilmu meringankan tubuh yang begitu enteng; bagai seekor walet saja, gadis itu melayang naik. Karena Beng An tidak mau melepaskan gadis itu dan ingin bicara lagi, dia mengerahkan ginkangnya pula untuk mengejar. Gadis itu menoleh, kembali terdengar dengusannya, lalu dia melompat turun dan berlarian di tanah. Beng An mengejar hingga gadis itu naik lagi ke atas wuwungan rumah penduduk.

Ketika pemuda itu tetap membayangi di belakang, tiba-tiba gadis ini tancap gas, *wuuut*... terbang menuju luar kota.

"Heii!" Beng An berteriak keras, kaget. "Tunggu, Nona... tunggu!"

Si gadis yang bergerak cepat di depan terpaksa dikejar dengan sepenuh tenaga. Beng An kini mengerahkan semua ilmu lari cepatnya dan terkejut melihat kepandaian gadis itu. Bayangannya bergerak seperti iblis dan nyaris dia kehilangan jejak karena terhalang kegelapan malam. Beng An bersusah payah mengejar. Sekarang teringatlah dia akan kata-kata ayahnya bahwa gadis itu berkepandaian tinggi dan bukan orang sembarangan.

Ketika dia mengejar dan berteriak-teriak, tiba-tiba gadis itu membalik dan kembali ke dalam kota.

"Ah," Beng An sadar. "Kau mau menguji kepandaianku, Nona? Kau mau melihat ilmu lari cepatku? Baik, aku akan mengejarmu sampai ke manapun kau lari!"

Beng An sekarang mendusin. Wajahnya tiba-tiba berseri karena rupanya lawan mau mengadu kepandaian dengannya, yaitu kepandaian berlari cepat. Ini berarti dia telah menarik simpati gadis itu. Dia rupanya berhasil! Beng An tertawa, mengerahkan ginkangnya, lalu melesat mengejar.

Kini mereka masuk kembali ke kota, namun si gadis menambah kecepatannya. Jarak di antara mereka terjaga ketat. Si gadis rupanya kagum; dia menoleh dan berseri-seri memandang Beng An. Pemuda ini merasa mendapat durian runtuh dengan pandangan lawan—mata yang berseri-seri, girang, dan kagum.

Ketika mereka memasuki kembali kota Lu-sin dan terbang seperti iblis di malam hari, gadis itu berkelebat memasuki sebuah restoran, lalu berhenti dan duduk mengusap keringatnya. Beng An menyusul dan menyeka keringatnya pula. Pemuda ini tertawa kecut.

Ketika Beng An menarik kursi berhadapan dengan gadis itu, dia serasa disiram air sejuk ketika si gadis berkata, "Kepandaianmu hebat, ilmu lari cepatmu mengagumkan. Siapa gurumu, orang she Hu?"

"Ah," Beng An menyeringai malu-malu. "Guruku adalah ayahku sendiri, Nona. Ilmu lari cepatmu pun hebat dan nyaris aku ketinggalan. Kau rupanya benar-benar gadis kang-ouw yang mengagumkan!"

"Hm, dan kenapa kau mengikutiku selalu?"

"Aku, eh... aku ingin berkenalan!"

Gadis itu tiba-tiba tersenyum. "Kau pemuda tak waras. Bukankah kau sudah tahu namaku? Apalagi yang kau minta? Kalau tidak melihat dirimu sebagai pemuda baik-baik, tentu sudah kutendang kau, orang she Hu. Kau tidak tahu malu namun lurus!"

Beng An tertawa. Sekarang dia merasa gadis ini tidak marah lagi. Mata yang bersinar-sinar itu sudah kehilangan galaknya. Beng An maju mendekat; kursi yang sudah dekat itu didekatkan lagi hingga menyentuh pinggir meja. Beng An kini berani karena meskipun orang memakinya tak tahu malu, namun bibir itu tersenyum.

Kekaguman gadis ini rupanya membangkitkan keramahan. Seorang pelayan mendekati mereka dan Beng An mendahului si gadis, memesan makanan dan minuman. Ketika pelayan pergi menyiapkan permintaan mereka, Beng An tertawa lebar menjawab, "Nona, maafkan aku kalau tidak tahu malu. Aku tidak bermaksud kurang ajar; aku ingin mengenalmu lebih jauh dan mengikat persahabatan. Kau tentu tak keberatan menerima keinginanku, bukan?"

"Kalau aku keberatan tentu sudah kulempar kau pergi, mungkin kubunuh! Nah, sekarang apa yang ingin kaupercakapkan? Cepat saja, aku tak lama di kota ini dan sedang terburu-buru."

"Tentu, aku dan ayahku juga terburu-buru, Nona. Aku juga tak lama di kota ini dan besok harus pergi. Siapakah Nona sebenarnya dan tinggal di mana? Aku orang she Hu, tinggal di Ce-bu. Kami sekeluarga sedang bepergian untuk mencari seseorang."

"Hm, aku juga mencari seseorang. Kau mencari siapa? Bagaimana perjalanan kita bisa sama?"

"Aku dan Ayah juga heran, Nona. Kita rupanya searah. Kami mencari Pendekar Rambut Emas."

"Kim-mou-eng?" Alis yang menjelerit itu tiba-tiba terangkat naik. "Ada apa? Kenapa kalian mencarinya?"

"Ha, agaknya kau mengenal penjahat itu, Nona. Kami mencarinya karena hendak merampas Sam-kong-kiam."

Mendadak wajah yang cantik itu berubah. Beng An terkejut ketika mata si nona berkilat, memandangnya seperti api, dan bola mata itu menyambarnya seperti mau menelannya bulat-bulat.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment