Chapter 78
Beng An terperanjat dan tanpa terasa bulu tengkuknya meremang; sekali lagi dia melihat sikap yang ganas dari lawan bicaranya itu. Namun, ketika pelayan datang membawa hidangan dan meletakkannya di meja, tiba-tiba gadis itu terkekeh dengan suara yang dingin.
"Hi-hik, kau lucu. Rupanya keluarga Hu sudah mabuk dan tergila-gila pula seperti orang kang-ouw, ingin merampas dan memiliki Sam-kong-kiam. Apakah kau ingin menikmati kemuliaan seperti kaisar?"
Beng An mengerutkan kening. Masalah Pedang Tiga Sinar itu memiliki pengaruh gaib yang dapat membuat orang memiliki "3 K". Dia tidak tahu bahwa pemuda ini semata-mata mencari karena perintah ayahnya. Beng An tidak mengerti dan wajahnya memerah saat dikatakan ingin hidup seperti kaisar. Tentu saja dia tidak senang. Namun, karena perkenalan ini baru berjalan dan dia tidak ingin hubungan itu rusak karena hal-hal yang dianggapnya sepele, Beng An tersenyum dan menggelengkan kepala.
"Tidak, aku sesungguhnya kurang mengerti maksud kata-katamu, Nona. Tapi kalau dikatakan ingin merampas dan memiliki Sam-kong-kiam, sesungguhnya itu juga kurang tepat."
"Lalu untuk apa? Bukankah pedang itu yang kalian cari?"
"Ah, mari nikmati hidangan dulu, Nona. Pembicaraan itu kita bicarakan sambil menikmati makan dan minum ini," Beng An menawarkan. Dia mengambil sumpit, mulai menikmati pesanannya, menuangkan minuman ke cawan si gadis, menyodorkannya, dan menyuruh gadis itu mencicipi hidangan.
Beng An sebenarnya hendak menghilangkan debaran hatinya saat melihat kilatan sinar mata tadi—mata yang marah dan entah kenapa begitu dingin menusuk. Pemuda ini merasa tidak enak. Ketika Malisa mengambil sumpit dan menerima cawan untuk meneguk isinya, Beng An segera melanjutkan, "Kami sekeluarga bukan hendak menguasai pedang itu, tetapi kami mencari karena diminta tolong Kaisar melalui Sun-taijin."
"Siapa Sun-taijin?"
"Walikota Ce-bu, pembesar di tempat kami tinggal."
"Hmm, bagus sekali, kalau memang betul."
"Nona tidak percaya?" Beng An penasaran.
"Aku tidak mengatakan percaya atau tidak percaya, tapi pengalamanku selama ini menunjukkan bahwa orang mencari Kim-mou-eng karena ingin memiliki pedang itu untuk diri sendiri."
"Tapi kami semata-mata membantu Kaisar..."
"Itulah, maka kukatakan bagus kalau kata-katamu betul, orang she Hu. Tapi kukira semuanya itu harus dibuktikan."
"Tentu kami akan membuktikan, Sam-kong-kiam memang milik Kaisar!"
Malisa tertawa dingin. Tiba-tiba dia tidak ingin berbicara lagi tentang itu, tentang Sam-kong-kiam dan Kim-mou-eng. Dia menghentikan Beng An dengan menyuruh pemuda itu tidak perlu menyebut-nyebut lagi masalah tersebut. Katanya, dia akan marah jika pemuda itu melanjutkan bicaranya.
Ketika hidangan sudah habis disapu bersih dan Beng An terbelalak memandang gadis itu, Malisa memanggil pelayan dan melempar sekeping uang emas untuk pembayaran di atas meja.
"Ah, aku yang memesan, biar aku yang bayar," Beng An terkejut dan bangkit berdiri. Pelayan itu berseri-seri mencoba mencabut uang emas yang menancap di meja. Pembayaran itu cukup untuk sepuluh orang, terlalu banyak. Namun, ketika pelayan tersebut berkutat dan tidak berhasil mencabut uang emas itu, dia mengeluh sambil mengusap keringat yang bercucuran di dahi.
"Aduh, siocia terlampau kuat menancapkan uang ini. Biar kuambil alat penyungkil!"
Beng An tertegun. Dia melihat si nona meliriknya dengan senyum mengejek, mulai tampak sinar permusuhan pada pandangan mata itu. Jantungnya berdebar, dia menjepit uang emas itu. Saat pelayan hendak mengambil alat penyungkil, tiba-tiba Beng An mengerahkan tenaganya dan uang itu pun dicabut dengan mudah hanya menggunakan jari telunjuk dan ibu jari.
"Nona, ini uangmu, terimalah. Biar aku yang bayar dan jangan membuat aku sungkan!" Beng An mengeluarkan uangnya dari balik baju dan melemparkannya ke pelayan. "Bung pelayan, tidak usah repot. Terimalah ini!"
Sang pelayan terkejut. Dia melihat uang yang menancap di atas meja tadi sudah dicabut, kini ganti uang Beng An menyambarnya. Dia mencoba menangkap, tapi uang itu tiba-tiba melejit dengan aneh. Saat dia terkesiap, uang itu telah memasuki kantong bajunya dan amblas di situ.
"Aih, terima kasih, Kongcu... terima kasih..."
Beng An tidak mempedulikan. Dia meloncat melihat Malisa berkelebat keluar, membuntuti gadis itu, dan agaknya siap "mengawal" ke mana pun si nona pergi. Malisa berhenti dan tiba-tiba membalikkan tubuh; mereka sudah berada di luar restoran. Ketika Beng An terkejut melihat si nona memandangnya dengan marah, dia mendapat teguran tajam.
"Kau mau apa mengikutiku terus? Mau kurang ajar?"
"Ah, tidak! Eh, bukankah Nona mau kembali? Kita sama-sama ke losmen, kita..."
"Aku tidak ke sana, siapa bilang begitu?" Gadis ini memotong dengan ketus. "Kuharap kau tidak mengikutiku lagi, orang she Hu. Perkenalan kita cukup dan kau pergilah!"
Beng An kecewa. "Nona mau ke mana?"
"Perlukah kau tahu?"
"Maaf," Beng An terkejut. "Aku... sudahlah. Aku menunggumu di losmen, Nona. Di sana kita bercakap-cakap lagi dan baik aku kembali dulu!"
Beng An menjura, si gadis mendengus tanpa menghiraukan, lalu memutar tubuh dan berkelebat lenyap. Karena merasa tidak sopan jika terus mengikuti, akhirnya Beng An kembali dan menunggu Malisa di losmen, meskipun sebenarnya kecewa namun tetap berharap bisa bertemu lagi dengan gadis yang memikat hatinya itu. Beng An berdebar dan ingin bertatap muka; entah kenapa perasaannya begitu gundah ketika harus kembali ke losmen sendirian. Namun, ketika sampai malam dia menunggu gadis itu, ternyata si nona tak kunjung muncul.
"Eh, mana adikmu?" tanya ayahnya.
Beng An jadi serba salah dan berjalan ke sana ke mari. Ternyata adiknya pun keluar. Ketika dia jengkel menunggu dengan perasaan tak sabar, kentongan di luar mulai dipukul orang. Ke mana Swat Lian? Ternyata gadis ini bertemu sahabat yang menyenangkan. Waktu itu dia berjalan memutar di sekitar losmen, tidak melihat kakaknya, dan berjalan sedikit jauh. Tiba-tiba seorang siucai (pelajar) muncul di tikungan, berhenti, dan dihadang tiga laki-laki kasar yang membentak, yang kebetulan didengar oleh Swat Lian.
Siucai itu tertegun saat bukunya dirampas dan tiga laki-laki kasar yang ternyata penjahat itu menggeledah sakunya. Siucai itu tidak melawan. Swat Lian marah melihat kejadian itu di depan mata. Saat siucai hendak dipukuli, Swat Lian tidak tahan; tiba-tiba gadis ini berkelebat dan menendang ketiga laki-laki kasar itu.
"Kalian manusia-manusia busuk! Di tempat begini berani merampok orang? Enyahlah!"
Des, des, dess! Swat Lian menghajar tiga penjahat itu dengan kaki dan tangannya hingga mereka terpelanting dan mengaduh-aduh. Gadis itu tidak memberi mereka kesempatan untuk melihat dirinya; tangannya kembali bergerak menampar tiga kali berturut-turut. Saat ketiga orang itu mencelat bagai disambar petir, buku dan barang-barang rampasan jatuh berhamburan sementara para penjahat itu menjerit-jerit bagai bertemu setan.
"Aduh, tobat... ampun!" Tiga penjahat itu tunggang-langgang.
Swat Lian berdiri di depan siucai itu. Saat Swat Lian tertegun melihat wajah tampan dan mata yang hidup berseri-seri, mendadak gadis ini terpaku dengan muka merah.
"Kau siapa?"
"Ah, terima kasih. Aku Kim San, Nona. Pelajar lemah yang nyaris tak berdaya dirampok orang jahat!" Siucai itu membungkukkan tubuh, memberi hormat, dan mengambili buku-bukunya yang berceceran. Gerakannya begitu cepat dan sebentar kemudian buku-buku itu sudah rapi kembali. Sekali pandang orang tahu bahwa pemuda ini lemah, gerak-geriknya lembut namun memiliki jari-jari yang terampil.
Swat Lian tersenyum memperhatikan kopiah lucu di atas kepala siucai yang miring saat mengelak tamparan penjahat tadi.
"Kau jangan jalan-jalan di tempat sepi begini. Mau ke mana dan kenapa malam-malam keluyuran seorang diri? Bukankah enak diam di rumah dan duduk membaca buku?"
"Aku tidak mempunyai rumah..."
"Eh, kau bukan penduduk kota ini?"
"Bukan, aku pengembara, siucai pengembara..."
"Lalu tadi kau mau ke mana?"
"Aku dari rumah Siok-wangwe, mau melukis..."
"Melukis? Kau pandai melukis?"
"Ya, aku bisa melukis sedikit-sedikit, Nona. Tadi ke rumah Siok-wangwe tetapi gagal. Hartawan itu pergi. Sial!" Kim-siucai menggerutu dengan senyum pahit, lalu tiba-tiba mengeluarkan pit-nya (alat tulis) dan mencorat-coret. "Nona mau ke mana? Kenapa keluyuran juga malam-malam? Bukankah kita sama?" Saat dia tertawa dan menghentikan corat-coretnya, Swat Lian terbelalak melihat wajahnya sudah digambar di situ, persis dan indah!
"Aih, hebat. Kau pandai sekali!"
Siucai itu tertawa. "Untukmu, Nona. Sekedar rasa terima kasihku atas pertolonganmu tadi."
Swat Lian menerima. Dia kagum melihat kecepatan siucai ini melukis, padahal tangan terus melukis sambil bicara. Swat Lian melihat kelincahan jari-jari Kim-siucai untuk kedua kalinya. Wajahnya terpampang di situ, cantik dengan mata bersinar-sinar. Swat Lian tertawa. Saat dia memuji lukisan itu dan lawan bicaranya tersenyum, Swat Lian tiba-tiba teringat kakaknya.
"Kau mau melukis seorang lagi?"
"Siapa?"
"Kakakku!"
Siucai itu mengerutkan kening. "Nona penduduk kota sini?"
"Bukan, aku menginap di Losmen Kwi-hoa. Aku dan kakakku ada di sana."
"Hm, Nona juga pengembara?"
Swat Lian tersenyum. "Kim-twako, apakah setiap orang yang kebetulan tidak berada di rumah sendiri kau anggap pengembara? Tidak, aku kebetulan bepergian saja dengan kakakku, juga ayahku. Kami mencari seseorang."
"Penjahat?"
"Ya, penjahat, namanya Kim-mou-eng!"
Siucai itu terkejut.