Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 80

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 80

Ketika dia tidak mendapatkan buruannya dan pendekar ini terkejut, kedua anaknya memburu. Swat Lian tampak pucat, masih tak percaya.

"Ayah, bagaimana kau tahu dia Kim-mou-eng?"

"Kalian tidak melihat sembulan rambutnya di balik kopiah?"

"Tidak."

"Itulah kebodohan kalian. Kau tertipu. Siucai itu sastrawan gadungan dan aku yakin bahwa dia Kim-mou-eng."

"Tapi dia sastrawan lemah, dia dihadang tiga orang kasar dan tidak berdaya apa-apa!"

"Huh, kau memang hijau, Swat Lian. Untuk orang macam Kim-mou-eng, bisa saja dia berpura-pura mengelabui orang lain. Dia bukan sastrawan lemah. Kutegaskan sekali lagi pada kalian bahwa dia bukan siucai biasa!"

Jago pedang ini marah, kembali berkelebat dan mencari ke sana ke mari, namun tidak berhasil. Swat Lian juga mulai heran bagaimana Kim siucai yang dianggapnya lemah itu bisa menghilang begitu cepat, padahal ayahnya adalah seorang pendekar pedang yang berkepandaian tinggi. Ketika ayahnya uring-uringan dan mengajak mereka masuk kembali ke kamar, untuk pertama kalinya Swat Lian melihat muka ayahnya memerah.

"Swat Lian, kau lancang sekali. Bagaimana kau memasukkan orang macam begitu ke sini? Seharusnya kau sedikit jeli, buka mata dan telingamu agar mengenal siapa lawan siapa kawan. Lihat, masuk akalkah kalau siucai itu benar orang biasa dan kita bertiga tak dapat menangkapnya? Masuk akalkah bahwa aku tak dapat mencengkeram siucai itu ketika di dalam kamar? Renungkan dan lihat semuanya ini, anak-anak. Kuberi tahu kalian bahwa dia bukan sastrawan biasa!"

"Maaf," Swat Lian mengangguk. "Aku tak menyangka semuanya itu, Ayah. Aku benar-benar tak mengira kalau dia Kim-mou-eng."

"Tentu saja. Bagaimana bukan Kim-mou-eng kalau dia mampu melukis Pedang Tiga Dimensi? Bagaimana seorang sastrawan bisa mengenal bentuk pedang itu kalau tidak pernah melihat atau memegangnya? Nah, jangan sembrono berkenalan dengan seseorang, Swat Lian. Dan juga kakakmu, kuberi tahu agar tidak mendekati pula gadis Tar-tar itu!"

Beng An tersipu. Ayah mereka marah-marah, bukan karena apa-apa, melainkan karena tersinggung. Sebagai orang yang telah diakui memiliki kepandaian tinggi, ayahnya tidak dapat menangkap Kim-mou-eng. Bahkan ketika musuh berada di dalam kamar dan ayahnya menyerang, ternyata serangannya luput. Beng An tiba-tiba terkejut. Benar, mana mungkin seorang siucai biasa mampu mengundurkan serangan ayahnya yang cepat? Bukankah ini aneh?

Maka ketika malam itu ayah mereka marah-marah dan mendongkol karena anak-anaknya bersikap lamban, Beng An menunduk melihat adiknya terisak.

"Sudahlah, jangan marahi Lian-moi lagi, Yah. Lian-moi tak sengaja, biar kau marahi aku saja. Akulah yang menjadi penyebabnya. Kalau aku tak keluar, tentu Lian-moi juga tak bermaksud menyusulku di sana. Aku yang bertanggung jawab tentang semuanya ini."

Hu Beng Kui masih bersungut-sungut. Dia marah dan benar-benar terpukul. Kejadian ini seolah ejekan baginya. Musuh yang ada di depan mata lolos begitu mudah, bagaimana dia tak marah-marah? Tapi Beng An yang teringat sesuatu tiba-tiba mengangkat mukanya.

"Yah, kukira siucai itu bukan Kim-mou-eng. Kami melihat siucai itu lain dengan Kim-mou-eng yang pernah kami temukan. Wajahnya tak mirip!"

Lian terkejut, tiba-tiba menyambung, "Benar, aku sekarang teringat, Yah. Siucai ini memang tidak mirip dengan Kim-mou-eng yang melukai An-ko itu!"

Hu Beng Kui terbelalak. "Kalian yakin?"

"Tentu, Yah!" dua anak itu hampir berbarengan berseru. "Kami tahu bahwa Kim-mou-eng yang kami temukan wajahnya tidak seperti Kim-siucai ini. Kim-mou-eng itu jelek, wajahnya kaku, dan sama sekali tidak menarik."

"Hmm, kau hendak mengatakan bahwa wajah Kim-siucai ini lebih tampan dan lebih menarik?"

"Benar," Beng An menjawab. Adiknya merona merah dan tidak berani menjawab. "Kim-siucai ini jauh lebih tampan dan menarik dibanding Kim-mou-eng yang kami temui itu, Yah. Jadi sekarang, kami ragu bahwa Kim-siucai adalah Kim-mou-eng!"

"Tapi rambutnya keemasan dan hanya Kim-mou-eng yang memiliki rambut seperti itu."

"Ini yang tidak kami lihat, tapi kami berdua berani menyatakan bahwa Kim-siucai bukanlah Kim-mou-eng yang dulu kami temukan!"

"Hm, kalau begitu siapa?" Hu Beng Kui bingung. "Kalian yang salah atau aku yang tidak benar?"

"Kukira kau pun benar, Yah. Tapi kalau hendak dinyatakan Kim-siucai ini adalah Kim-mou-eng yang kami temukan, maka itu tidak mungkin. Kami berdua hafal benar wajah Kim-mou-eng yang menyerang kami itu, dan Kim-siucai yang kauanggap Kim-mou-eng itu tampaknya tidak membawa pedang kecuali pit dan alat lukisnya saja!"

Hu Beng Kui tertegun. Tiba-tiba dia sadar bahwa Kim-siucai tidak bersenjata. Siucai itu hanya membawa pit dan buku-buku. Memang benar. Dan ketika dia mengerutkan alis dan semakin bingung untuk urusan ini, pendekar itu diam berlama-lama, heran, dan mulai menduga-duga siapakah sastrawan gadungan itu. Jika yakin Kim-siucai adalah sastrawan gadungan, jelas siucai itu orang berkepandaian tinggi yang berpura-pura. Dia yakin betul. Tapi karena anaknya berhasil membantah bahwa siucai itu bukanlah Kim-mou-eng, akhirnya jago pedang ini mendengus dan jengkel terhadap semua teka-teki itu, duduk bersila, dan akhirnya menghilangkan kejengkelan dengan membuang semua pikiran.

Beng An dan adiknya disuruh tidur. Malam itu, mereka sama-sama bingung memikirkan siapa siucai yang aneh ini. Beng An tak dapat memejamkan mata karena teringat si gadis Tar-tar.

"Di sini tempatnya?" Tiga orang itu telah berdiri di atas Jurang Malaikat. Hu Beng Kui bertanya pada anaknya, dan Swat Lian serta kakaknya mengangguk. Ketika pendekar itu melihat ke kiri dan ke kanan, Beng An menunjuk ke bawah.

"Kim-mou-eng dikabarkan tewas di sini, Ayah. Namun ternyata masih hidup dan menyerang kami. Lihat, bekas-bekas pertempuran pun masih ada. Di sinilah dia melukaiku!"

"Hm, kalian tunggu di sini. Aku mau melihat ke bawah!" Hu Beng Kui berkelebat, langsung terjun dan memasuki jurang, berjungkir balik, dan tiba-tiba sudah berada di sisi jurang sebelah sana. Lalu, begitu dia melekatkan telapaknya di dinding jurang, pendekar ini sudah merayap turun dengan ringan dan cepat seperti cecak.

"Ck, ck, Ayah memang hebat!" Beng An memandang kagum, melihat ayahnya menghilang dan turun ke bawah dengan caranya yang luar biasa. Kedua telapak baik kaki maupun tangan menempel dan melekat di dinding jurang. Dengan caranya itu, pendekar ini merayap ke bawah; tentu saja Beng An kagum. Sementara ayahnya menyelidiki bawah jurang dengan cara seperti cecak merayap, Beng An dan adiknya duduk melamun menanti.

"Kau merasakan apa, Lian-moi? Kau masih melamunkan Kim-siucai itu?" Swat Lian terkejut.

"Tidak..."

"Tapi wajahmu murung, rupanya bayangan Kim-siucai itu mengganggu hatimu."

"Hmm!" Swat Lian merona merah. "Kau agaknya memperhatikan aku sejak tadi, An-ko. Ada apa berolok-olok? Aku memang teringat bayangan siucai itu, tapi bukan apa-apa melainkan keanehannya yang bisa pergi secepat itu. Kaukira apa?"

"Ah, jangan marah," Beng An tersenyum. "Aku tidak menuduhmu yang bukan-bukan, Lian-moi, melainkan sama seperti apa yang kupikir."

"Kupikir tentang apa? Mana kau tahu?"

"Hm...!" Beng An menyeringai. "Aku tahu apa yang kaupikir, Lian-moi, karena itu aku tahu pula apa yang kupikir! Aku tahu bahwa kau heran oleh cepatnya siucai itu menghilang, dan aku juga heran bagaimana dia bisa menghilang secepat itu. He-he, bukankah sama?"

Swat Lian mengerutkan kening, mendengar tawa kakaknya yang main-main. "Kau serius?"

"Eh, tentu saja. Siapa bilang tidak serius?"

"Tapi tawamu mengejek, kau seolah mengejek aku bahwa hatiku tergoda oleh wajah Kim-siucai itu!"

"Ha ha, untuk ini aku tak tahu, Lian-moi. Aku tak bilang begitu, itu urusan hatimu. Aku hanya bilang bahwa aku pun heran bagaimana siucai itu bisa menghilang begitu cepat. Dugaan Ayah benar, siucai ini pemuda misterius yang lain kali harus dicari. Aah... aku ingin menangkapnya lagi dan bertanya siapa dia itu sebenarnya!"

Swat Lian mengangguk. "Aku juga penasaran..."

"Tentang apa? Bahwa dia tak tertangkap dan kau tak dapat mengetahui siapa sebenarnya dia itu?"

"Tentu saja, kaukira apa? Kau, eeh...!" Swat Lian mencubit kakaknya ini keras-keras, melihat kakaknya tertawa lebar. "Kau jangan mengejek aku, Koko. Kita bicara serius dan ayo mengaku tobat kalau tak ingin kucubit!"

Swat Lian gemas. Kakaknya ini ternyata hanya menggodanya, dan mata serta mulut kakaknya itu tertawa. Tentu saja Swat Lian mendongkol. Ketika kakaknya mengaduh-aduh dan minta dia melepaskan cubitannya, baru Swat Lian melepaskan kakaknya itu dengan muka semakin merah.

"Koko, kau jangan menggoda aku. Kalau aku marah, jangan kau tanya-tanya..."

"Ya ampun... tobat..." Beng An bisa melucu. "Aku tak ingin main lagi, Lian-moi. Ayo kita serius dan coba kauterangkan padaku kenapa semalaman ini kau tak dapat tidur?"

"Kau tahu aku tak tidur?"

"Tentu saja, matamu masih merah."

"Ah!" Swat Lian terkejut. "Kau terlalu, An-ko. Orang tidak tidur pun kau selidiki, kurang ajar!" Swat Lian yang mau mencubit kakaknya lagi dengan gemas tiba-tiba sudah dihindari karena Beng An meloncat bangun melarikan diri.

"Hei, jangan, Lian-moi. Nanti matang biru semua kulitku!"

"Kau meledek, kau suka menggoda orang!"

"Sudahlah, sekarang aku tak menggoda lagi, mari bicara baik-baik." Beng An duduk lagi dengan muka serius dan akhirnya membuka percakapan kembali tentang Kim-siucai itu. "Pikirmu bagaimana? Apakah Kim-siucai ini orang berbahaya atau tidak? Maksudku, apakah dia orang baik-baik atau orang jahat?"

"Aku tak tahu, tapi melihat sinar matanya, kulihat dia bukan orang jahat!"

"Kau yakin hanya dengan melihat sinar matanya saja? Wah...!" Beng An tersenyum lebar. "Kalau begini kau hebat, Lian-moi. Barangkali aku pun kelak ingin minta pendapatmu tentang jahat-tidaknya seseorang dengan melihat sinar matanya!"

Swat Lian memerah mukanya. "An-ko, aku tidak main-main. Kalau sinar matanya itu bohong, maka perasaan hatiku tentunya tidak."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment