Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 81

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 81

"Aku merasa Kim-siucai ini orang baik-baik, tapi entah siapa dia itu!"

"Eh, bukankah dia Kim-siucai? Kau sudah tahu namanya, tak perlu bertanya lagi!"

"Bukan itu yang kumaksud. Siapa sebenarnya dia ini? Kenapa menyamar sebagai seorang siucai dan seberapa pula kepandaiannya? Aku jadi penasaran dan ingin bertemu lagi untuk menjajal kepandaiannya!"

"Kepandaiannya melukis, kau tak mungkin menang!"

"Ya, aku tahu, tapi bukan itu."

"Ilmu silatnya?"

"Tentu saja."

"Tapi kau bilang dia dihadang tiga laki-laki kasar!"

"Itulah, aku gemas setelah tahu terkecoh, An-ko. Rupanya Kim-siucai itu suka main-main dan kelak ingin kuhajar dia!"

"Wah, wah, menghajar setelah menolong?" kakaknya tertawa. "Mana mungkin ini, Lian-moi. Kalau ingin menghajar sebaiknya aku. Aku belum pernah menolong dan tidak janggal kalau menghajar siucai gadungan itu!"

"Sudahlah," Swat Lian mengerutkan kening. "Bagaimana sekarang tentang Kim Mou-eng, An-ko? Dan bagaimana pula dengan... gadis Tar-tar itu? Ke mana kau semalam keluyuran?"

"Aaah, jalan-jalan," Beng An tiba-tiba tersipu. "Mencari angin dan pergi ke tengah kota."

"Huh, jalan-jalan apanya? Aku tak percaya, An-ko. Aku berani bertaruh semalam tentu kau menjumpai gadis Tar-tar itu!"

"Tidak!"

"Tak perlu bohong, kau dan aku bukan orang lain," Swat Lian ganti tertawa. "Matamu telah mengakui itu, An-ko. Dan semalam aku juga tak melihat gadis itu di kamarnya. Tentu kalian bertemu!"

"Hmm," Beng An akhirnya mengaku. "Benar, Lian-moi. Dan ternyata dugaan Ayah betul..."

"Dugaan apa?"

"Ilmu silat gadis itu hebat sekali."

"Kau bertempur?"

"Tidak, hanya menguji coba... Dan aku harus mengakui bahwa dia luar biasa. Semalam kami kejar-kejaran dan nyaris aku tak menemukan jejaknya!"

Beng An lalu bercerita; matanya menjadi hidup dan tiba-tiba pemuda ini gembira. Swat Lian tersenyum. Namun, ketika cerita diakhiri dengan kepergian gadis itu yang tak mau kembali ke losmen, Beng An tampak murung.

"Aku kecewa dia tak mau bersamaku ke penginapan."

"Kau jatuh hati?" Beng An terkejut.

"Hmmm, kalau begitu kau jatuh hati, An-ko. Memang sudah kuduga sejak semula bahwa kau terpikat pada gadis Tar-tar ini. Dia memang menarik, tapi sayang sombong!"

"Hmm, kukira tidak, Lian-moi. Melainkan angkuh, karena itu rupanya pembawaannya," Beng An membela.

"Apa bedanya?" sang adik berseru. "Angkuh atau sombong sama saja, An-ko. Kedua-duanya berarti merendahkan orang lain. Dan orang yang suka merendahkan orang lain bisa disebut sombong atau angkuh!"

"Sudahlah, kita kembali pada Kim-mou-eng," sang kakak tak mau berdebat. Kemurungannya datang begitu membicarakan gadis Tar-tar itu. "Kita tak perlu membicarakan Kim-siucai atau dia lagi, Lian-moi. Sebaiknya kita pikir apakah kiranya Kim-mou-eng dapat kita temukan di sini."

"Aku pikir begitu," adiknya mengangguk, merasa pasti. "Dulu dia datang ke sini menemui kita, An-ko. Dan sekarang pun tentu akan bertemu lagi karena rupanya dia memiliki kepentingan di sini."

"Kepentingan apa?"

"Siapa tahu. Aku menduga begitu karena aku teringat ketika dia muncul, dia pun mau turun ke jurang dan keburu kepergok kita. Barangkali ada hubungannya dengan gua di bawah jurang itu. Kau ingat?"

Beng An tertegun. "Ya, benar, aku lupa. Kalau begitu, gua di bawah itu tempat tinggalnya? Jangan-jangan Ayah..."

"Sst...!" Swat Lian menggerakkan telunjuknya. Beng An tiba-tiba menghentikan kata-katanya karena dari dalam jurang mendadak terdengar bentakan dan lengkingan.

Kejadian berlangsung cepat, tahu-tahu dua sosok tubuh berjungkir balik keluar dari jurang. Hu Beng Kui muncul bersama Kim-mou-eng. Ketika Swat Lian dan kakaknya terkejut melompat bangun, Kim-mou-eng sudah menyerang ayah mereka itu sambil memaki-maki.

"Hu Beng Kui, kau manusia jahanam! Ada apa mengejar-ngejar aku dan mengintai orang di dalam gua? Memangnya kau kurang kerjaan, keparat? Kubunuh kau, kucincang tubuhmu... sing-singg!"

Pedang Tiga Sinar yang sudah dicabut Kim-mou-eng membacok dan menyambar Hu Beng Kui. Gerakannya berkelebatan membuat Swat Lian dan kakaknya terbelalak. Mereka tak tahu bahwa ayah mereka ternyata mendapat lawan di dalam jurang; tadi Hu Beng Kui memasuki gua di bawah sana dan menjumpai lawannya ini.

Kini lawan menerjang marah dan Hu Beng Kui mengelak ke sana-sini. Pendekar itu terkejut tapi girang bukan main karena lawan yang dicari-cari ternyata ketemu. Maka, begitu diserang dan dimaki dengan pedang menyambar-nyambar, tiba-tiba pendekar ini berseru keras, berlompatan sambil mengibas lengan.

"Kim-mou-eng, kau tak dapat lolos! Aku datang memang untuk meminta pertanggungjawabanmu yang telah melukai puteraku!"

"Aku tak peduli, kau akan kubunuh dan tak dapat banyak cakap lagi... sing-singg...!"

Pedang yang menyambar lagi mengejar pendekar ini, akhirnya membuat Swat Lian berteriak mencabut pedangnya. "Ayah, biar aku yang maju. Kau mundurlah!"

"Tidak!" Beng An tak kalah lantang. "Aku saja yang maju, Ayah. Biar kubalas kecurangannya dulu dan kau minggir!"

"Hm, sebentar...!" Hu Beng Kui mengelak gembira. "Aku ingin tahu ilmunya dulu, Beng An. Kalau sudah cukup, boleh kupertimbangkan nanti!"

"Tapi pedangnya itu berbahaya, Ayah sebaiknya berpedang pula agar tidak celaka!"

"Ha-ha, tak gampang orang mencelakai ayahmu, Beng An. Lihat dan tunggu saja kelihaian ayahmu... wut-sing!"

Hu Beng Kui yang hampir lambat mengelak berseru pada putranya, tiba-tiba berteriak tertahan ketika harus membanting tubuh bergulingan. Angin sambaran pedang membuat pendekar ini terkejut dan harus menjauhkan diri; nyaris dia terbabat. Ketika lawan mengejar dan berseru marah menggerakkan pedangnya, pendekar ini sudah digulung dan dikelilingi bayangan pedang yang naik-turun bagai naga menari.

"Ayah, pakai saja pedangku. Hati-hati!" Swat Lian khawatir. Betapapun dia cemas karena tahu betul keampuhan pedang pusaka itu. Angin sambarannya saja cukup membabat putus benda-benda dalam jarak setombak. Ayahnya menolak dan mencoba menghindar dengan mengikuti gerakan pedang.

Lawan menyerang kian cepat dan Hu Beng Kui berkali-kali berseru keras; dua kali nyaris dia tertusuk. Dan ketika lawan mempergencar serangannya, jago pedang ini masih bertangan kosong menghadapi lawan, tiba-tiba Sam-kong-kiam menyambar dan kali ini merobek baju pundaknya, diselingi pekik kaget puterinya.

"Bret-aih!" Hu Beng Kui terkejut. Dia sebenarnya menyampok, lengan bajunya itu telah menegang dan penuh terisi sinkang, tapi tetap saja terbabat. Tahulah dia bahwa ketajaman pedang memang luar biasa sekali; jarang ada senjata mampu membacok benda-benda yang dia pegang.

Ketika lawan tertawa bergelak dan mulai mengejek melihat mukanya yang berubah, segera pendekar ini menyambar pedang anaknya yang dilontarkan.

"Kim-mou-eng, jangan sombong. Kau masih belum menang!"

"Ha-ha, tapi mukamu pucat, Hu Beng Kui. Dan sebentar lagi kau roboh bersama pedang tumpulmu itu... trang!"

Hu Beng Kui menangkis, mengerahkan sinkangnya, tapi pedang putus juga. Berkerutlah alis pendekar ini karena Sam-kong-kiam betul-betul tajam. Dia belum mengeluarkan Hek-seng-kiam-nya yang melilit di pinggang, sengaja mencoba-coba untuk membuktikan seberapa jauh ketajaman pedang di tangan lawannya itu.

Ketika lawan berkelebat dan dia terpaksa mengerahkan ginkang untuk beradu cepat, tiba-tiba jago tua ini melengking tinggi memainkan ilmu pedangnya, Giam-lo Kiam-sut (Lima Pedang Maut). Bergerak, bergeser, serta melompat-lompat menghadapi pedang lawan sementara pedang sendiri bergerak naik-turun tak kalah cepat.

Hebat pertandingan ini. Hu Beng Kui memegang pedang buntung yang sudah terpapas, berhati-hati namun membalas dan menyerang lawan tak kalah ganas. Pedang di tangannya itu mendesing berputaran mengikuti gerak tubuhnya.

Ketika Hu Beng Kui berhasil menghindari pedang lawan dan Sam-kong-kiam selalu luput, maka Kim-mou-eng (yang sebenarnya adalah Bu-hiong) terkejut melihat bayangan lebar yang mengelilingi dirinya dari segala penjuru.

"Bagus, kau kiranya lihai. Pantas kalau sombong!"

"Ha-ha, yang sombong bukan aku, Kim-mou-eng, melainkan kau. Kaulah yang sombong dan berani melukai anakku untuk menantang keluarga Hu... Wuuut-sinnggg!"

Pedang di tangan jago tua itu berkelebat; dari arah tak terduga menusuk tenggorokan lawan. Namun Sam-kong-kiam menangkis. Pendekar ini mengelak dan angin sambaran pedang yang luput terdengar mengiris telinga. Lawan terbelalak dan memaki.

Ketika Hu Beng Kui menyerang lagi dan perlahan tetapi pasti sinar pedangnya bergulung-gulung membungkus lawan, maka Bu-hiong yang dikira Kim-mou-eng itu pucat. Nyatalah olehnya bahwa lawan yang satu ini benar-benar lihai. Hu Beng Kui memang jago pedang jempolan; dengan pedang buntung saja dia mampu mengelilingi lawan. Tusukan dan tikamannya yang berantai serta bertubi-tubi membuat Bu-hiong sibuk.

Kalau dia tak membawa pedang pusaka, tentu sinar pedang di tangan Hu Beng Kui telah memasuki putaran pedangnya, barangkali dua-tiga tusukan telah mengenai tubuhnya. Tapi karena Bu-hiong membawa Sam-kong-kiam dan desing pedang itu amat tajam sehingga mampu merobek baju Hu Beng Kui, maka pertandingan berjalan seru dan lama.

"Ayah, keluarkan saja pedangmu. Cabut Hek-seng-kiam (Pedang Bintang Hitam) dan coba diadu dengan Sam-kong-kiam!"

Hu Beng Kui mengangguk. Setelah dua puluh lima jurus dia serang-menyerang dengan lawan, tahulah dia kelebihan dan kekurangan lawannya ini. Sebagai jago pedang kelas satu, segera dia melihat kelemahan lawan, yakni lawan tak memiliki ilmu pedang yang baik kecuali Sam-kong-kiam itu.

Pedang ini hebat, berkali-kali dia nyaris teriris oleh angin sambarannya yang dingin, padahal dia sudah mengerahkan sinkangnya namun tetap saja hawa dingin itu menembus. Dari sini dapat diketahui betapa berbahayanya Pedang Tiga Sinar itu; tajam dan ampuh sehingga dapat memotong benda-benda keras seperti memotong agar-agar. Timbullah keinginannya untuk mengadu Hek-seng-kiam dengan Sam-kong-kiam.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment