Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 82

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 82

Hek-seng-kiam yang dipunyainya itu bukan sembarang pedang. Selama ini, pedang itulah yang menemaninya dan mengangkat namanya sebagai seorang pendekar. Sam-kong-kiam itulah yang berbahaya, bukan ilmu silat lawannya. Maka, begitu putrinya berteriak dan Hu Beng Kui tertawa, pendekar pedang ini mendadak melakukan jurus yang disebut Payung Berputar Mengikuti Awan.

"Awas!" bentakan itu mengiringi gerakannya. Pedang di tangan Hu Beng Kui lenyap, yang tampak hanyalah putaran pedang yang bergulung lebar bagai payung terkembang, berputar cepat hingga menyilaukan mata. Lawan terkurung dan bingung karena tidak dapat menduga ke mana kira-kira gerakan selanjutnya. Gulungan pedang itu masih naik turun membentuk payung, indah dan hebat karena bagian tengahnya adalah tubuh Hu Beng Kui sendiri yang memutar pedangnya.

Namun, begitu jago pedang ini melengking menggetarkan jantung, sekonyong-konyong bagian atas yang bergulung-gulung itu pecah menjadi tujuh bagian, menukik ke bawah, dan menusuk bertubi-tubi ke arah tubuh lawan yang sedang terbelalak.

"Siut-siut-singgg!" Gerakan itu cepat bukan main. Bu-hiong berteriak kaget melihat tujuh titik berkeredep menyambar tubuhnya, meluncur bagai patukan tujuh rajawali haus darah. Inilah serangan ganas yang luar biasa berbahayanya. Namun, Bu-hiong yang marah memekik tinggi, tiba-tiba merendahkan tubuh dan menangkis dengan Sam-kong-kiam.

"Trang, trang, taangg!" Hu Beng Kui tertawa. Pedangnya putus menjadi tujuh, dibabat Sam-kong-kiam bagai agar-agar. Akan tetapi, begitu potongan pedang mencelat ke mana-mana, mendadak semua kutungan pedang itu menyambar Bu-hiong. Serangan itu cepat dan mengejutkan karena terjadi dalam jarak yang sangat dekat.

Bu-hiong berteriak dan lagi-lagi menangkis dengan pedangnya. Namun, ketika ia memperhatikan potongan-potongan pedang itu dan tidak waspada terhadap serangan lain, mendadak Hu Beng Kui telah mencabut Hek-seng-kiam miliknya yang lentur, lalu menjatuhkan diri sambil bergulingan untuk menyerang perut lawan.

"Crett!" Gerakan itu luar biasa cepatnya. Hu Beng Kui si jago pedang ternyata lihai dan cerdik. Dengan cara bergulingan itu, ia menyerang sekaligus menghindarkan sambaran Sam-kong-kiam. Dari bawah, ia menggerakkan pedang hitamnya; lawan tidak menyangka ia mempunyai cadangan senjata. Bu-hiong menganggap lawannya tidak bersenjata lagi setelah pedangnya tadi dikutungi menjadi tujuh bagian. Maka, begitu Hek-seng-kiam berkelebat dan menyerang ke arah perut, tiba-tiba perut Bu-hiong robek dan laki-laki itu mengaduh.

"Augh!" Darah bercucuran. Dengan cepat dan luar biasa, Hu Beng Kui telah melompat bangun. Lawannya terhuyung dan terbelalak memandang perutnya yang terkuak. Swat Lian ngeri melihat pedang ayahnya mendapat korban; usus Bu-hiong nyaris terburai. Ketika Bu-hiong sadar dan marah melihat lawan melukainya, ia melolong memanggil seseorang.

"Sian-su, tolong!" Bu-hiong menyerang lagi dengan perut yang didekap. Kini, bagai manusia kesetanan, ia menusuk Hu Beng Kui. Si jago pedang mengelak dan menangkis. Saat dua pedang bertemu, tiba-tiba Hek-seng-kiam rompal dan rusak ujungnya.

"Trang!" Hu Beng Kui terkejut. Rupanya pedangnya masih kalah kuat, meskipun jauh lebih ampuh daripada pedang anaknya yang biasa. Hek-seng-kiam di tangannya rompal meskipun tidak putus; ini bukti bahwa pedangnya adalah senjata yang baik, tetapi kalah jika diadu dengan Sam-kong-kiam. Ketika lawan berteriak menerjang dan marah menyerang membabi buta, Hu Beng Kui berlompatan menghindar sambil mendengar lawan memanggil-manggil Sian-su.

Hu Beng Kui mengerutkan kening. Ia tidak mengerti siapa yang dipanggil itu. Ia tidak tahu bahwa yang dimaksud Bu-hiong adalah Bu Beng Sian-su, manusia dewa yang amat sakti. Ia tidak tahu bahwa keberadaan Bu-hiong di bawah jurang tadi berkenaan dengan maksudnya mencari manusia dewa tersebut. Dulu ia sudah mencoba tetapi hanya bertemu Beng An dan adiknya; kini ia mencoba lagi tapi sial karena bertemu Hu Beng Kui.

Karena Hu Beng Kui terus berlompatan menghindar dan melihat luka lawannya semakin parah akibat menyerang membabi buta, pendekar ini mengejek dan menasihati lawannya.

"Kim-mou-eng, sebaiknya kau menyerah. Serahkan pedang itu dan kau boleh mengobati lukamu."

"Jahanam, aku tak akan menyerah, orang she Hu! Kau boleh mengambil pedang ini setelah melangkahi mayatku!"

"Kalau begitu kau mencari mati. Baiklah, aku penuhi permintaanmu dan robohlah!"

"Sing, plak!" Hu Beng Kui menangkis. Melihat gerakan lawan mengendur dan Sam-kong-kiam kembali membuat pedangnya rusak, Hu Beng Kui tertawa mengejek dan tidak peduli. Kehebatan pedang itu sekarang tidak ditunjang tenaga yang memadai. Luka lawan yang nyaris membuat usus terburai dibiarkan saja demi melampiaskan kemarahan. Inilah kemenangan jago pedang itu, dan Hu Beng Kui mulai sering mengadu tenaga.

Benturan-benturan di antara mereka membuat lawan pucat. Kian lama kian pucat, dan akhirnya Bu-hiong mengeluh. Ketika perut itu semakin terkuak lebar dan Bu-hiong meringis, mendadak satu tangkisan kuat dari pendekar itu membuat Sam-kong-kiam terlepas.

"Trangg!" Bu-hiong menjerit. Ia melempar tubuhnya, berguling bukan menjauhi pedang, melainkan sebaliknya: mendekati pedang dan menyambarnya. Lalu, begitu ia memaki sambil melompat bangun, laki-laki ini memutar tubuh dan melarikan diri.

"Hu Beng Kui, kau jahanam keparat! Kau manusia terkutuk!"

Si jago pedang terbelalak. Ia heran melihat lawan yang terluka masih mampu melarikan diri. Darah mengucur berceceran dari perut lawan yang robek. Seharusnya lawannya itu roboh dan menyerah. Ia pribadi tidak akan kejam membunuh lawan jika ia menyerah dan memberikan Sam-kong-kiam dengan baik-baik. Maka, ketika lawan justru bersikap sebaliknya dan bandel melarikan diri, pendekar ini mengejar sambil berseru mengejek.

"Kim-mou-eng, kau tak dapat lari jauh! Serahkan Sam-kong-kiam dan menyerahlah baik-baik!"

"Menyerah hidungmu!" Bu-hiong memaki. "Kau boleh membunuhku dan merampas pedang ini jika bisa, orang she Hu. Atau kau biarkan aku pergi dan jangan menggangguku!"

"Kalau begitu serahkan pedang, kau boleh mengobati lukamu dan pergi."

"Keparat, aku tak akan menyerahkan pedang, Hu Beng Kui. Kau boleh mengambilnya setelah melangkahi mayatku... aduh!" Bu-hiong tiba-tiba terguling. Lukanya membuat ia tidak dapat lari jauh, persis seperti kata Hu Beng Kui. Ketika Hu Beng Kui tertawa mengejek dan berkelebat menyerangnya, Bu-hiong menyeringai dan menangkis lagi.

"Trangg!" Pedang kali ini dicekal erat. Bu-hiong bertahan, namun mengeluh. Hek-seng-kiam di tangan Hu Beng Kui nyaris putus, tetapi Bu-hiong terhuyung; tangan kirinya yang mendekap perut penuh darah. Ketika lawan tertawa mengejek dan menyerang lagi, Bu-hiong menangkis sebelum terjungkal.

"Trang-trangg!" Hek-seng-kiam sekarang putus. Hu Beng Kui terkejut melihat pedangnya tinggal separuh. Benar-benar luar biasa pedang di tangan lawannya itu. Namun, melihat lawan terjungkal dan ia marah menyaksikan kekerasan lawannya ini, tiba-tiba Hu Beng Kui menimpukkan sisa pedangnya sambil membentak, "Kim-mou-eng, robohlah!"

Bu-hiong berusaha mengelak. Ia terbelalak melihat sambaran Hek-seng-kiam yang menuju dadanya. Ia ingin menangkis, tapi tangannya tiba-tiba lumpuh. Kehilangan darah dan tenaga membuat laki-laki ini kehabisan daya untuk menyelamatkan diri. Maka, begitu pedang menyambar dan ia tidak dapat mengelak lagi, puntung Hek-seng-kiam tepat menembus dadanya dan Bu-hiong pun roboh.

"Trang!" Swat Lian dan kakaknya terbelalak. Mereka melihat laki-laki yang disangka Kim-mou-eng itu mengeluh, menuding-nuding, tapi akhirnya terguling. Ketika mereka melompat mendekat, ternyata lawan telah tewas dengan Sam-kong-kiam masih di tangan.

"Hm, luar biasa pedang ini. Benar-benar hebat dan tajam!" Hu Beng Kui mengusap keringatnya, menyesal tapi terpaksa melakukan pembunuhan. Lawan tidak mau menyerahkannya baik-baik. Ketika ia melompat dan hendak mengambil pedang itu, ternyata pedang tersebut bersatu dengan jari-jari lawan dan tidak dapat ditarik.

"Ah, keparat! Setelah ajal pun tak mau dia menyerahkan pedang ini!" Hu Beng Kui terkejut. Ia menarik-nariknya, tapi tetap saja Sam-kong-kiam tidak berhasil dicabut. Rupanya pedang itu sudah bersatu dengan kulit lawan. Pendekar ini marah. Sementara itu, dua anaknya melongo memandang kejadian tersebut. Tahu-tahu, Hu Beng Kui menyambar pedang di punggung Beng An dan membabatkannya ke pergelangan mayat Bu-hiong.

"Krak!" Putuslah pergelangan itu. Memang, di antara mereka yang membawa pedang adalah Beng An seorang. Pedang Swat Lian sudah dipakai ayahnya dan hancur bertemu Sam-kong-kiam, begitu pula pedang Hu Beng Kui sendiri, Hek-seng-kiam, yang ternyata kalah ampuh dengan Sam-kong-kiam.

Ketika dua anaknya berseru tertahan melihat ayah mereka melakukan kekejaman dengan membacok putus pergelangan lawan yang sudah menjadi mayat, Swat Lian terisak menutupi mukanya.

"Ayah, kau terlalu...!"

"Hm," pendekar ini mendengus. "Aku tak akan terlalu kalau lawan juga tak terlalu, Lian-ji. Kim-mou-eng yang terlalu dan membuatku marah. Sudahlah, pedang sudah di tangan dan kita pergi!"

Hu Beng Kui berkelebat. Swat Lian dan kakaknya masih terbelalak. Namun, ketika ayah mereka membentak dan menegur mereka, dua muda-mudi ini mengikuti ayah mereka dan pulang ke Ce-bu. Hari itu Hu Beng Kui memiliki Sam-kong-kiam. Namun, tidak seperti yang dijanjikan pada Sun-taijin, ternyata pedang ini disimpan Hu Beng Kui sendiri. Ada rasa eman (sayang) setelah mendapatkan pedang itu. Swat Lian dan kakaknya dilarang pendekar ini membicarakan keberhasilan mereka. Ketika seminggu kemudian Swat Lian dan Beng An bertanya tentang ini, mereka mendapatkan jawaban yang mengejutkan.

"Pedang ini terpaksa kusimpan dulu. Untuk sementara, tak akan kuserahkan pada Sun-taijin."

"Tapi Ayah berjanji pada Sun-taijin. Bukankah ini pelanggaran janji, Yah?" putrinya menegur.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment