Chapter 83
"Aku memang berjanji pada pembesar itu, tapi aku tidak berjanji untuk menyerahkannya kapan."
"Apa maksud Ayah?" Sang putri terbelalak. "Bukankah pedang itu bukan milikmu?"
"Benar, tapi sementara ini aku ingin berteman dengan Sam-kong-kiam, Lian-ji. Aku ingin mengobati kecewaku kehilangan Hek-seng-kiam. Sudahlah, kau tak perlu khawatir kepada ayahmu dan jangan bicarakan ini pada orang lain."
Swat Lian termangu. Hari itu dia diam, berbisik-bisik dengan kakaknya, dan mereka merasa khawatir. Dua minggu kemudian, ketika mereka melihat ayah mereka sering mengusap-usap Sam-kong-kiam dan betapa setiap harinya pendekar ini berseri-seri memandang pedang itu, Swat Lian cemas melihat sorot tamak memancar di wajah ayahnya.
"Yah, kau sekarang mulai melupakan pekerjaan. Apakah setiap hari kau hendak menggosok-gosok pedang keramat ini?"
"Hm, aku kagum kepadanya, Lian-ji. Aku ternyata jatuh cinta kepada pedang ini. Sam-kong-kiam betul-betul hebat. Bersama pedang ini, tiba-tiba aku ingin menaklukkan dunia."
Swat Lian terkejut. "Ayah gila!"
"Eh!" sang ayah menoleh. "Kau memaki ayahmu, Lian-ji? Kau bilang ayahmu gila?"
Swat Lian terisak. "Yah, aku gelisah akhir-akhir ini. Kau melupakan segalanya pada tiga minggu terakhir ini. Semuanya gara-gara Sam-kong-kiam! Apakah Ayah hendak mengangkangi pedang itu?"
"Ha-ha!" sang ayah tertawa bergelak. "Aku tak bermaksud mengangkangi pedang ini, Swat Lian, melainkan meminjamnya sebentar untuk memuaskan nafsuku."
"Tapi berapa lama Ayah pinjam? Kapan dikembalikan?"
"Tentu tak lama, aku ingin memuaskan diri dulu."
Ketika pendekar itu tersenyum menggosok Sam-kong-kiam, tiba-tiba seorang pelayan masuk memberitahukan kedatangan Sun-taijin, walikota Ce-bu itu.
"Suruh dia masuk!" Si jago pedang tertegun. "Dan tunggu aku di ruang tengah!"
"Nah," Swat Lian khawatir. "Bagaimana jawabmu sekarang, Yah? Sun-taijin ternyata datang, dan dia mungkin tahu bahwa pedang itu sudah kaudapatkan!"
"Itu bisa diatur, kau keluarlah dan jangan ganggu aku."
Hu Beng Kui tiba-tiba tak senang. Untuk pertama kalinya dia merasa tak senang dan marah pada puterinya ini. Berkali-kali Swat Lian bertanya tentang Sam-kong-kiam, menyuruh dia mengembalikan pedang itu, padahal dia mulai tertarik pada pedang yang luar biasa ini. Ketajamannya dan sinar gaibnya yang berwarna-warni memberikan perasaan menyedot pada tubuh pedang ini; daya tarik luar biasa yang membuat orang kagum dan ingin memiliki.
Pagi ini, jago pedang ini menemui tamunya. Sun-taijin berseri memberi hormat, lalu pertanyaan langsung ditujukan pada persoalan pedang keramat itu.
"Maaf, kudengar kabar Sam-kong-kiam tak berada lagi di tangan Kim-mou-eng-taihiap. Katanya Kim-mou-eng terbunuh. Apakah Taihiap tahu tentang ini?"
Inilah pertanyaan memutar. Dengan cerdik dan halus, pembesar itu menegur Hu Beng Kui. Memang dia tak berani terang-terangan karena Hu Beng Kui bukanlah orang sembarangan. Hu Beng Kui terkejut karena tewasnya Kim-mou-eng ternyata sudah diketahui pembesar ini; berarti sepak terjangnya tak dapat disembunyikan. Dia menyesal kenapa mayat Kim-mou-eng dulu tak dilemparkan ke jurang. Kini dia tersudut dan mau tak mau harus mengaku.
Hu Beng Kui bukanlah seorang pengecut yang ingin menyembunyikan perbuatan. Karena Sun-taijin sudah mengetahui tewasnya lawan dan itu berarti tak mungkin dia mundur, maka pendekar ini mengangguk.
"Ya, aku tahu, Taijin. Dan terus terang, yang membunuh Kim-mou-eng adalah aku!"
"Ha-ha, sudah kuduga. Kau memang hebat, Taihiap, sungguh hebat! Dan bagaimana dengan Sam-kong-kiam itu? Apakah Taihiap mendapatkannya dari lawan Taihiap?"
"Aku sudah mendapatkannya, tapi sementara ini memang sengaja kusimpan!"
"Ah!" Sang pembesar terbelalak. "Kenapa begitu, Taihiap? Bukankah secepatnya harus diserahkan pada Kaisar?"
"Seharusnya memang begitu, tapi aku ingin meminjamnya dulu."
Ketika sang tamu tertegun dan tampak heran, pendekar ini segera menyambung, "Sun-taijin, apa yang kulakukan ini demi menutup kekecewaanku yang kehilangan Hek-seng-kiam. Perjuangan berat yang kulakukan demi memperoleh Sam-kong-kiam ternyata harus kubayar cukup mahal. Pedangku, Hek-seng-kiam, patah. Aku belum memperoleh pengganti pedang yang sepadan itu sendiri, dan karena itu Sam-kong-kiam kutahan. Kalau kelak pengganti Hek-seng-kiam telah kudapatkan, tentu Sam-kong-kiam kukembalikan dan aku tak akan menahan pedang itu."
"Tapi Kaisar mengharap-harap pedangnya. Sam-kong-kiam adalah pedang keramat yang menjadi simbol jatuh bangunnya kerajaan!"
"Ah, itu cerita kosong, Taijin. Aku pribadi tak percaya, tapi mengakui keampuhan Sam-kong-kiam yang memang luar biasa!"
"Dan kapan Taihiap mengembalikan pedang itu?"
"Kalau kutemukan pengganti Hek-seng-kiam!"
Sun-taijin bingung. "Taihiap, bagaimana kalau kuusulkan pada Sri Baginda agar mengganti pedangmu dengan pedang pusaka lain di istana? Atau, hmm... maaf, bagaimana kalau diganti dengan uang dan emas permata?"
"Ha-ha, aku tak butuh uang atau emas permata, Taijin. Hartaku sudah lebih dari cukup untuk hidup sampai anak cucuku. Tidak, aku tak ingin emas permata, tetapi setuju kalau ada pedang yang hebat sebagai pengganti pedangku yang kalah dengan Sam-kong-kiam itu!"
"Kalau begitu aku akan melapor pada Bu-ciangkun dan Bu-ciangkun akan menyampaikannya pada Sri Baginda!"
"Boleh, tapi..." Sun-taijin keburu girang, memotong percakapan orang.
"Dan aku akan memohon agar kau mendapat kedudukan pula, Taihiap. Barangkali kau suka akan ini dan Kaisar mengangkatmu sebagai kepala pengawal di istana!"
"Hm, kau dengar aku dulu, Taijin. Aku sebenarnya tak mengharapkan segala macam kedudukan meskipun aku juga tak menolaknya. Itu anugerah. Tapi melanjutkan kata-kataku tadi, baiklah kau dengar bahwa pedang yang bakal menggantikan Hek-seng-kiam-ku adalah sebatang pedang ampuh yang berani diadu dengan Sam-kong-kiam. Kalau tidak rusak atau patah diadu dengan pedang itu, barulah semuanya kuterima."
Sun-taijin terkejut. "Apa, Taihiap minta pedang yang seperti Sam-kong-kiam itu? Ah, mana ada, Taihiap? Bukankah ini permintaan mustahil? Di dunia ini Sam-kong-kiam tidak memiliki saudara kembarnya. Kalau Taihiap minta yang seperti itu, tentu saja Sri Baginda tak sanggup!"
"Aku tak minta Sam-kong-kiam kedua, melainkan minta pedang yang ketajamannya sama dengan pedang ini."
"Sama saja. Di dunia ini tak ada ketajaman pedang yang melebihi Sam-kong-kiam itu, Taihiap. Taihiap meminta yang di luar batas kemampuan!"
"Hm, belum tentu, Taijin. Kau jangan terburu-buru mengatakan begitu. Sebaiknya kau pikirkan dulu dan biar sementara ini Sam-kong-kiam di sini."
Sun-taijin tertegun. Apa yang dikata Hu Beng Kui ini seolah ultimatum baginya. Dengan halus dan amat pintar, si jago pedang itu memiliki Sam-kong-kiam. Memang di mulut tidak mengatakan memiliki namun meminjam, sampai suatu ketika datang pedang yang sama ampuh seperti Sam-kong-kiam pengganti Hek-seng-kiam. Karena pedang itu dinyatakan "disimpan" dan Sun-taijin diminta untuk mencari pengganti Hek-seng-kiam sebelum Pedang Tiga Dimensi dikembalikan ke Kaisar, maka pembesar ini kecewa dan marah.
Namun, Sun-taijin bukanlah pembesar yang gegabah. Pembesar ini tahu benar kesaktian Hu Beng Kui. Bahkan dengan tewasnya Kim-mou-eng, terbuktilah kehebatan pendekar pedang ini; berarti Hu Beng Kui jauh lebih lihai dibandingkan Kim-mou-eng. Begitu si jago pedang sudah menyatakan meminjam dan dia harus tahu gelagat akhirnya, dengan mulut tersenyum tapi hati mendongkol bukan main, pembesar ini pamit dan menyatakan kesanggupannya bahwa dia akan mengganti Hek-seng-kiam.
Diam-diam pembesar ini mulai tidak senang. Ketika beberapa hari kemudian dia datang di kota raja melapor pada Bu-ciangkun, maka panglima tinggi besar yang brewok ini gusar.
"Apa, orang she Hu itu tak mau mengembalikan Sam-kong-kiam? Dia minta pengganti Hek-seng-kiam yang sama ampuh dengan Sam-kong-kiam? Keparat, orang ini mencari-cari alasan, Taijin. Biar kudatangi dia dan kugempur bersama seribu pasukan!"
"Aduh, nanti dulu!" Sun-taijin terkejut. "Jangan terburu-buru, Ciangkun. Jangan tergesa-gesa. Hu Beng Kui amat hebat dan lihai, bisa geger kotaku nanti!"
"Aku tak perduli. Pokoknya pedang itu kembali dan orang itu harus diberi pelajaran!"
"Ah-ah." Cu-ciangkun tiba-tiba muncul, melihat ribut-ribut itu. "Ada apa ini, Ciangkun? Kenapa marah-marah? Eh, bukankah ini Sun-taijin dari Ce-bu?"
"Maaf, benar aku, Ciangkun. Aku baru datang mengabarkan kembalinya Sam-kong-kiam."
"Wah, mana itu? Mana Sam-kong-kiam?"
"Di tangan Hu Beng Kui, dia baru saja membunuh Kim-mou-eng."
Cu-ciangkun terkejut. Disebutnya nama Kim-mou-eng membuat alis panglima tinggi kurus itu berkerut, dan semakin berkerut ketika Sun-taijin mengatakan Kim-mou-eng terbunuh. Maka ketika dia duduk dan minta agar pembesar itu menceritakan kepadanya, maka Sun-taijin segera mengulang apa yang dia ketahui.
"Hampir sebulan lalu Kim-mou-eng tewas. Hu Beng Kui inilah yang membunuh, Sam-kong-kiam dirampasnya. Tapi ketika pedang diminta, ternyata Hu Beng Kui minta tukar. Katanya pedangnya sendiri, Hek-seng-kiam yang sudah mengikutinya bertahun-tahun, hancur bertemu Sam-kong-kiam. Karena itu dia minta pengganti dan untuk sementara ini Sam-kong-kiam dipinjam."
"Dipinjam?" Cu-ciangkun terbelalak. "Itu omong kosong belaka, Taijin. Itu alasan Hu Beng Kui untuk mengangkangi pedang."
"Itulah, aku juga menduganya begitu, Ciangkun. Tapi karena bertindak keras terhadap jago pedang ini aku tak berani, maka aku datang ke sini untuk melapor semuanya pada Bu-ciangkun."
"Hm, bagaimana pendapatmu, rekan Bu? Apa yang ingin kaulakukan?"
"Aku ingin mendatanginya, menggempur bersama seribu pasukan!"
"Dan membuat geger di kota Ce-bu?" Ternyata Cu-ciangkun juga tak setuju. "Tidak, kudengar orang she Hu ini orang baik-baik, rekan Bu."