Chapter 84
"Sebaiknya kita datangi saja dan bicarakan semuanya dengan baik-baik."
"Tapi dia keras kepala!"
"Sebagian besar tokoh persilatan memang begitu, tapi kita coba membujuk."
"Kalau tak berhasil?"
"Hm, kita lapor kaisar."
"Baiklah, mari."
Bu-ciangkun bangkit berdiri dan hari itu juga mengajak rekannya ke Ce-bu untuk segera menemui Hu Beng Kui yang kebetulan ada di rumah, sedang menggosok penuh kagum Pedang Tiga Dimensi yang memikat hatinya itu.
"Maaf," Bu-ciangkun langsung bicara pada pokok persoalan. Baru kali itu ia berhadapan dengan jago pedang yang lihai ini, diam-diam ia merasa kagum tapi juga mendongkol. "Apakah benar Sam-kong-kiam telah berada di tanganmu, Taihiap? Kenapa kau menyimpannya dan tidak segera memberikannya kepada istana?"
Hu Beng Kui tersenyum. "Kau Bu-ciangkun? Ah, gagah dan jujur, suka bicara blak-blakan. Benar, aku juga tak menyangkal pertanyaanmu, Ciangkun. Sam-kong-kiam telah berada di tanganku dan lihatlah buktinya..."
"Srat!" Pedang Tiga Dimensi berkeredep. Sinar menyilaukan mata tampak di ruangan itu dan mendadak semua lampu padam. Keadaan menjadi gelap gulita dan kini sinar terang cemerlang dari pedang itulah yang memancar. Tamu jago pedang ini memang datang di malam hari. Bu-ciangkun dan Cu-ciangkun terkejut; mereka baru kali itu melihat pedang keramat ini. Pengaruhnya benar-benar luar biasa dan hawa dinginnya serasa menusuk jantung. Dua panglima itu tersirap.
Tapi ketika Hu Beng Kui memasukkan pedangnya kembali dan lampu kembali menyala, Cu-ciangkun berseru memuji dengan penuh kagum, "Hebat, pedang luar biasa. Benar-benar pedang ampuh!"
Bu-ciangkun mengangguk-angguk. Ia pun kagum bukan main menyaksikan pedang keramat itu; perasaannya terasa teriris begitu pedang dicabut. Bukan main.
Ketika Hu Beng Kui tersenyum dan kembali bertanya kenapa pendekar itu tidak segera mengembalikan pedang ke istana, dengan tenang dan kalem pendekar ini menjawab, "Hal itu telah kunyatakan pada Sun Taijin. Aku akan mengembalikan pedang ini kalau pedangku, Hek-seng-kiam, yang rusak mendapat ganti setimpal, seperti Sam-kong-kiam ini."
"Tapi Sam-kong-kiam adalah pedang paling ampuh, Taihiap. Mana mungkin kau meminta pedang macam itu? Bukankah kau mencari-cari alasan agar dapat memiliki pedang ini?" Kata-kata Bu-ciangkun mulai menajam. Panglima tinggi besar ini memang dikenal sebagai seorang yang mudah marah, berangasan, dan keras. Itulah sebabnya ia cepat mendongkol mendengar Hu Beng Kui menahan Sam-kong-kiam, dan baru akan menyerahkan pedang kalau Hek-seng-kiam sudah ditukar dengan pedang seampuh Sam-kong-kiam, padahal tak ada pedang lain di dunia ini yang dapat menandinginya.
Ketika panglima itu mulai menegur dan kata-katanya setengah menuduh, Hu Beng Kui tetap dengan senyum tipisnya yang kini mulai berkesan acuh. "Cu-ciangkun, kalau itu dianggap alasan, terserah kau. Yang jelas, aku sendiri telah mengatakan bahwa aku tidak bermaksud mengangkangi pedang ini, melainkan meminjamnya sampai pedangku, Hek-seng-kiam, diganti. Anggap saja permintaanku ini sebagai balas jasa atas jerih payahku merampas Sam-kong-kiam dari Kim-mou-eng."
"Hm," Cu-ciangkun kini bicara, menekan kaki temannya yang mendelik, siap mengamuk. "Permintaanmu memang pantas diajukan, Hu Taihiap. Tapi yang kurang sesuai adalah nilai dari permintaannya yang kami rasa berlebihan. Sam-kong-kiam adalah pedang berpengaruh gaib; selain tajam, juga dapat mengangkat pemiliknya sebagai orang yang dapat hidup mulia. Pedang ini hanya sepantasnya dimiliki kaisar. Apakah Taihiap juga ingin menjadi kaisar dan hidup menikmati kemuliaan seperti itu?"
"Ha-ha, aku pribadi tak percaya pada pengaruh gaibnya, Cu-ciangkun. Aku hanya percaya pada ketajamannya yang luar biasa!"
"Benar, tapi pengaruh gaibnya mampu memadamkan lampu atau cahaya lain yang coba menandingi kecemerlangannya! Bukankah ini pengaruh gaib yang harus kau percaya? Ataukah ini kau sangkal, Hu Taihiap?"
Ketika pendekar itu tertegun dan mengerutkan kening karena ditodong begini, Cu-ciangkun berkata lagi, "Taihiap, apa pun permintaanmu, sekali lagi kami tegaskan bahwa kau benar, tidak salah. Tapi yang tidak sesuai adalah nilai permintaanmu yang berlebihan, yang kami rasa tak mungkin kami penuhi. Bagaimana kalau kau pikir lagi permintaanmu ini agar dapat diterima akal dan dalam batas-batas yang wajar?"
"Hmm, kukira permintaanku juga wajar, Ciangkun. Kalau kau menilainya berlebihan, barangkali itu kedangkalan caramu berpikir. Kau sendiri mengakui pedang ini adalah pedang yang paling ampuh, berarti pedang ini amat tinggi nilainya dan siapa yang dapat merampasnya adalah orang yang benar-benar luar biasa. Dengan taruhan nyawa kurampas pedang ini dari tangan Kim-mou-eng, bukankah wajar kalau kuminta imbalan seperti itu karena aku sendiri telah mempertaruhkan nyawaku untuk mendapatkannya? Ataukah permintaanku yang masih berwujud benda itu juga di atas nilai nyawaku yang kupertaruhkan di sini? Hmm, coba ganti kau pikir, Ciangkun. Apakah nilai permintaanku ini berlebihan atau tidak!"
Cu-ciangkun tertegun. Ditodong seperti itu, tiba-tiba ia tak bisa bicara. Sam-kong-kiam memang pedang keramat dan bahkan benda paling keramat di istana, menjadi simbol jatuh bangunnya kerajaan dan memang merupakan benda paling berharga yang amat dimuliakan kaisar. Untuk apa pun memang bisa dilakukan agar benda ini tetap mendampingi istana. Lolosnya Sam-kong-kiam justru karena keteledoran pihak istana sendiri; ini sebenarnya kelengahan mereka dan kini akibat dari semuanya itu memang risiko istana. Jadi, kalau mau diusut, sebenarnya istanalah yang salah, kurang hati-hati dan tidak pandai menjaga pedang hingga pedang lolos keluar. Tapi mendengar semua kata-kata Hu Beng Kui dan juga pedang itu menganggapnya sebagai orang yang berpikiran dangkal, tiba-tiba Cu-ciangkun tersinggung dan merah mukanya, marah!
"Hu Taihiap, barangkali berdebat denganmu tentang masalah ini tak akan habisnya. Kau memang betul, nyawamu masih lebih tinggi daripada pedang itu, karena apa gunanya mendapatkan pedang kalau sudah berkalang tanah? Baiklah, kembali kau betul, Taihiap. Tapi harap diingat bahwa kau tinggal di wilayah kekuasaan kaisar, bahwa kau adalah seorang rakyat yang sudah seharusnya tunduk di bawah kekuasaan kaisar. Sebenarnya dengan mengingat ini saja sudah selayaknya kau merampas Sam-kong-kiam untuk dikembalikan kepada kaisar, sebagai seorang rakyat yang baik kepada junjungannya, sebagai seorang hamba yang setia terhadap kaisarnya. Apakah ini kau ingkari? Jadi, mengingat ini saja seharusnya tanpa imbalan apa pun kau harus mengembalikan Sam-kong-kiam, Taihiap. Atau kau dianggap sebagai rakyat yang memberontak terhadap kekuasaan dan wibawa kaisar. Kau bisa dicap pembangkang!"
"Ha-ha!" Hu Beng Kui tiba-tiba tertawa terbahak. "Kau sekarang membawa-bawa baju kekuasaan untuk menakut-nakuti aku, Cu-ciangkun. Apa yang kau kata memang tidak salah. Tapi harap diingat pula bahwa seorang penguasa yang baik tidak akan menakut-nakuti atau mengancam rakyatnya. Aku telah berjuang untuk istana, telah berjuang untuk kaisar. Apakah untuk ini kaisar lalu memejamkan mata tidak memberi balas jasa kepada rakyatnya? Apakah aku atau rakyat lain seperti kuda-kuda piaraan yang diperas susunya saja? Hei, inikah yang kau maksud? Kalau begitu namanya sewenang-wenang, Ciangkun. Kau mau mempergunakan kekuasaan untuk menekan aku. Tidak, aku tidak takut. Justru hal itu akan kusiarkan di luar sebagai tindak kesewenangan kaisar kepada rakyatnya. Kau boleh menekan aku dengan baju kekuasaan dan aku akan melawan kalian sebagai orang-orang zalim!"
Cu-ciangkun terkejut. Sekarang Hu Beng Kui malah menantang. Jago pedang ini terang-terangan membalas kata-katanya dengan tak kalah tajam. Keras sama keras!
Ketika Cu-ciangkun tertegun dan tuan rumah membusungkan dada, Sun Taijin yang batuk-batuk melihat ketegangan itu bangkit berdiri. "Taihiap, maaf. Kami datang bukan untuk bertikai. Kalau belum ada kesepakatan di sini sebaiknya kita runding lagi beberapa hari. Hawa yang panas tak baik dituruti, sebaiknya kami pergi dan biar masing-masing berpikir lagi dengan pikiran yang lebih dingin."
Itulah kata-kata bijak. Cu-ciangkun tiba-tiba sadar, saat itu mereka di rumah si jago pedang dan betapapun mereka adalah tamu. Tak baik bertengkar di rumah orang, meskipun mereka adalah panglima. Maka sadar mendapat kedipan Sun Taijin, tiba-tiba Cu-ciangkun mengangguk dan bangkit berdiri, tersenyum. "Betul, maafkan aku, Taihiap. Rupanya aku terbawa emosi dan hampir bersitegang denganmu. Kata-kata Sun Taijin memang tidak salah, biar beberapa hari lagi kami datang kemari mencari penyelesaian denganmu."
Hu Beng Kui tertawa tak acuh. Hari itu semua tamunya kembali. Beberapa hari kemudian datang lagi, namun jago pedang ini bersikeras; ia tetap pada pendiriannya semula, Sam-kong-kiam dipinjam dan biar dia mendapatkan dulu pengganti Hek-seng-kiam.
Cu-ciangkun mengerutkan kening dan hampir panglima ini lupa diri. Bu-ciangkun juga begitu dan nyaris panglima tinggi besar ini menggebrak meja. Hu Beng Kui ternyata orang yang alot. Ketika hari itu perundingan gagal dan dua panglima itu meninggalkan Ce-bu, ketegangan terjadi di antara panglima-panglima ini dengan si jago pedang.
"Orang she Hu itu ngotot benar. Dia sombong dan keras kepala!"
"Ya, dan tak ada jalan selain kembali, rekan Bu. Aku kira kekerasan paling baik diberlakukan pada si jago pedang itu."
"Membawa pasukan?"
"Sebentar, sebaiknya kita ke Kim Taijin. Biar kita ke sana sebelum menghadap Sri Baginda."
Begitulah, dua panglima ini pulang. Mereka membawa kemarahan atas sikap Hu Beng Kui yang tidak kenal kompromi. Mereka tegas meminta, namun si jago pedang tegas menuntut: carikan dulu pengganti Hek-seng-kiam dan baru Sam-kong-kiam dikembalikan. Pendekar itu bersikeras menyatakan bahwa dia tidak bermaksud mengangkangi Pedang Tiga Dimensi; dia hanya meminjam.