Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 85

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 85

Karena bujukan mereka berkali-kali gagal dan pendekar itu tetap tidak mau mengalah, Bu Ciangkun dan Cu Ciangkun pun pulang ke kota raja. Begitu tamunya kembali ke istana, Beng An dan adiknya muncul karena telah mendengar ketegangan tersebut.

"Ayah, kenapa Ayah begitu ngotot? Bukankah pedang itu dapat memicu sengketa antara kita dengan istana?"

"Hmm, aku tidak mencari sengketa, Lian-ji. Aku hanya minta pengganti pedangku yang rusak. Kalau mereka tidak dapat memberi, berarti mereka kurang berusaha dan tidak menghargai keberhasilanku."

"Tapi Ayah dapat dianggap menguasai pedang itu!"

"Itu terserah mereka. Toh, aku berjanji akan mengembalikannya begitu pengganti Hek-seng-kiam kudapat!"

"Tapi pengganti yang Ayah minta terlalu berat. Bukankah tidak ada pedang lain yang seperti Sam-kong-kiam?"

"Aku tidak percaya. Di istana tentu ada, hanya saja dua panglima itu ogah mencari dan mau berkata seenaknya."

Swat Lian dan Beng An merasa bingung. "Ayah, kalau begitu bagaimana jika kaisar mendengar ini? Bukankah penolakan Ayah dapat dianggap pemberontakan?"

"Ha-ha, jangan bicara tentang pemberontakan, Beng An. Aku tidak bermaksud memberontak atau melawan kaisar. Aku hanya minta pengganti Hek-seng-kiam dan mereka harus berusaha. Jangan bilang tidak bisa kalau belum dicari. Sudahlah, kalian pergi dan tidak perlu mengganggu aku!"

Sang ayah mengusir kedua anaknya. Mereka mundur ke belakang, dan kini Beng An merasa tidak senang melihat sikap ayahnya. Betapapun dia melihat sikap tidak wajar, ayahnya berkali-kali mencium Sam-kong-kiam dan tampak tergila-gila pada pedang ampuh tersebut. Sebagai putra seorang jago pedang, Beng An tahu bahwa ayahnya telah "jatuh hati". Ayahnya menemukan barang yang cocok bagai menemukan istri baru, istri yang segala-galanya serba cocok, dan Beng An merasa khawatir. Kian lama, ayahnya akan kian terpikat dan gandrung luar biasa. Ini berbahaya.

Ketika sebulan kemudian persoalan itu masih menggantung, tiba-tiba Sun Taijin yang menjadi walikota Cebu ditemukan tewas dibunuh orang.

"Ayah, Sun Taijin tewas terbunuh. Apa kata istana kalau hal ini dihubungkan dengan Sam-kong-kiam?" tanya Hu Beng Kui dengan terkejut.

"Terbunuh?"

"Ya, dia mati terbunuh, Ayah. Semalam katanya didatangi pejabat, dan istana bisa mencurigai kita!"

"Hm, aku tidak peduli pada segala macam kecurigaan. Kalau mereka berani menuduh tanpa bukti, tentu aku akan menuntut!"

Benar saja, kejadian ini membawa buntut panjang. Bu Ciangkun dan Cu Ciangkun datang dengan sikap tidak bersahabat. Hu Beng Kui berkerut kening. Karena urusan lama dirasa belum terselesaikan dan kini ditambah urusan baru dengan tewasnya Sun Taijin, Bu Ciangkun menggebrak meja saat pembicaraan meningkat panas.

"Hu Taihiap, kukira tidak ada orang lain yang membunuh Sun Taijin selain dirimu. Catatan penyelidik tidak menunjukkan Sun Taijin memiliki permusuhan dengan orang lain. Kaulah tentu yang membunuh. Kami dan pihak istana menuntut tanggung jawabmu, menyerahlah!"

"Hm, beginikah sikap seorang panglima terhormat? Tidak percaya dan kini menuduh sembarangan? Baiklah, sekali lagi kutegaskan pada kalian bahwa aku tidak tahu-menahu mengenai pembunuhan itu, Bu Ciangkun. Tapi kalau kau mendesak dan mengancamku begitu rupa, tentu saja aku tidak takut. Ini rumahku, pergilah dan jangan membuat onar di sini!"

"Wutt!" Bu Ciangkun melompat bangun dan membentak para pengawal yang tiba-tiba muncul. Lalu, sementara Hu Beng Kui terkejut mengerutkan kening, panglima tinggi besar itu berseru, "Tangkap orang she Hu ini, borgol tangannya!"

Hu Beng Kui tertawa mengejek. Para pengawal maju tanpa tahu bahwa Hu Wangwe adalah seorang jago pedang; dia selama ini dikenal sebagai pedagang. Ketika mereka maju untuk menangkap, tiba-tiba Hu Beng Kui menepuk tangan dan lima muridnya—Kao Sin beserta saudara-saudaranya, juga Beng An dan Swat Lian—muncul.

"Anak-anak, tikus-tikus busuk ini mau menangkap aku. Enyahkanlah!"

Kao Sin membentak dan berkelebat ke depan. Kakinya bergerak cepat, empat kali mengibas dan empat kali menendang, membuat sepuluh pengawal roboh berpelantingan. Bu Ciangkun terbelalak. Murid termuda jago pedang ini mulai beraksi. Ketika Bu Ciangkun menyuruh maju kembali dan para pengawal nekat meluruk, Kao Sin berkelebat menyambar-nyambar menyerang mereka.

"Kalian robohlah dan menggelindinglah ke sana!"

"Dess-dess!"

Pengawal berjumpalitan dan memekik. Dalam waktu singkat, tiga puluh pengawal roboh tumpang-tindih. Bu Ciangkun semakin terhenyak. Saat pengawal merintih dan panglima itu mendelik, empat murid Hu Beng Kui yang lain sudah berkelebat maju menghadapi Bu Ciangkun dan Cu Ciangkun.

"Ji-wi Ciangkun, suhu kami memerintahkan kalian pergi baik-baik. Sebaiknya kalian tidak membantah dan pergilah!" ucap Siauw Gi, murid tertua Hu Beng Kui. Dia telah mendengar urusan gurunya yang ribut dengan istana mengenai masalah Sam-kong-kiam. Bagaimanapun, dia membela gurunya sendiri.

Bu Ciangkun yang mendelik diusir begitu saja, tiba-tiba menggeram, "Hu Beng Kui, kami tidak akan pulang sebelum membawa dirimu. Majulah, biar kucoba ilmu pedangmu yang katanya kesohor itu!"

"Hm, kalau begitu coba kau layani muridku termuda, Bu Ciangkun. Kalau kau dapat mengalahkannya, berarti kau berhak menantangku!" Hu Beng Kui tertawa dingin dan memberi isyarat pada Kao Sin.

Dengan kuda-kuda kokoh, Kao Sin menghadapi sang panglima. Bu Ciangkun marah. Begitu Kao Sin bersiap, panglima itu menyerang dengan kedua tangan yang menghantam sisi kepala lawan.

"Minggir! Wut-wut!" Kao Sin mengelak.

Bu Ciangkun menyerang lagi, namun kali ini Kao Sin tidak menghindar dan mengangkat lengannya. Saat dua lengan beradu dan Kao Sin mengerahkan sinkang, Bu Ciangkun tercekat menerima tangkisan yang membuat jantungnya bergetar.

"Dukk!" Panglima itu terpental.

Bu Ciangkun kaget, lalu marah dan membentak lagi. Adu tenaga tadi jelas menunjukkan kekuatan lawan yang lebih besar. Panglima bertubuh tinggi besar itu merasa penasaran karena kalah kuat dengan pemuda bertubuh sedang. Dia mengerahkan Silat Tangan Bajanya, menyerang bertubi-tubi bagai tongkat yang tiada henti, diselingi cengkeraman dan tinjuan yang hebat.

Kao Sin, yang belum mengenal silat lawan, tampak terdesak karena harus mengelak ke sana ke mari. Namun, hanya orang berilmu tinggi yang tahu bahwa Kao Sin sebenarnya tidak terdesak, melainkan sedang mengamati permainan lawan. Setelah belasan jurus lewat, Kao Sin tersenyum dan mulai membalas.

"Ciangkun, hati-hati!"

Kao Sin berputar mengikuti gerakan lawan, lalu membalik dan menangkis dengan pengerahan tenaga.

"Duk-dukk!"

Dua benturan itu menggetarkan ruangan. Bu Ciangkun meringis dan terdorong lagi. Sinkang lawan memang lebih kuat. Saat lawan ganti menyodok dan menusuk, panglima itu balik bertahan dengan pucat karena pukulan demi pukulan menekan dirinya. Panglima itu terkejut karena Tangan Bajanya masih kalah ampuh.

Dalam suatu momen, Kao Sin menampar pundak Bu Ciangkun. Panglima itu nekat mengerahkan segenap kekuatannya untuk beradu tenaga.

"Dess!"

Getaran kali ini paling kuat. Kao Sin, yang menyadari kenekatan lawan, menambah kekuatannya. Sinkang mereka bertemu dan Bu Ciangkun menjerit, terpental menghantam tembok. Saat panglima itu terguling, Kao Sin berkelebat dan dua jarinya menyentuh tenggorokan lawan dalam satu sentilan kecil.

"Tuk."

Bu Ciangkun terbelalak. Sentuhan dua jari di tenggorokannya dapat berarti maut. Dia mengira lawan membunuh, namun saat Kao Sin melompat mundur dan menjura, Bu Ciangkun tertegun mendapati dirinya tidak apa-apa kecuali sedikit terasa gatal di tenggorokan.

"Ciangkun, maaf. Kepandaianmu cukup hebat. Aku mengaku, biarlah kita sudahi main-main ini."

Bu Ciangkun melompat bangun. Dia tahu lawan telah bermurah hati dengan tidak mengisi kekuatan pada totokan tersebut. Mendengar lawan berbicara merendah, panglima jujur yang berangasan itu berseru, "Anak muda, kaulah yang hebat. Aku minta maaf dan mengaku kalah!"

Saat dia hendak meninggalkan ruangan, rekannya, Cu Ciangkun, menahan dirinya. "Tunggu, jangan keluar, rekan Hu. Kau telah bermain dengan murid Hu-taihiap, tapi aku belum. Berilah kesempatan padaku dan biar sekalian aku menjajal mereka ini."

Panglima tinggi kurus itu mengeluarkan tombaknya yang mendesing saat dicabut, lalu menghadapi Hu Beng Kui.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment