Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 86

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 86

"Taihiap, bisakah aku bermain-main denganmu, atau kau menyuruh maju salah satu muridmu?"

"Ha-ha, aku sedang lelah, Cu-ciangkun. Biarlah seorang muridku mewakiliku!" Dia memberi isyarat kepada muridnya nomor empat.

Cun Li, pendekar ini menyuruh Kao Sin mundur. "Cun Li, kau layanilah tamu dengan baik. Bersikaplah sopan dan hati-hati!"

Cun Li mengangguk. Dia adalah pemuda yang sedikit lebih tua dibandingkan Kao Sin, lengannya tegap namun panjang dan berkesan ramping. Ketika dia melangkah maju memberi hormat di depan Cu-ciangkun, pemuda yang tampak lemah lembut gerak-geriknya ini berkata, "Ciangkun, suhu memerintahkan aku bermain-main denganmu. Silakan mulai, tapi mohon kemurahanmu untuk tidak bersikap keras kepadaku."

"Hm, tak perlu merendah, anak muda. Aku ingin bermain senjata, cabutlah pedangmu!"

Cun Li tersenyum. "Suhu tak memerintahkanku, Ciangkun. Biarlah aku bertangan kosong dahulu, nanti kucabut senjataku."

"Kau sombong! Baiklah, kau rupanya mirip gurumu. Awas!"

Wuuut! Tombak yang bergerak menuju tenggorokan lawan tiba-tiba pecah ujungnya menjadi lima bagian yang menusuk dari atas ke bawah, cepat dan penuh tenaga hingga membuat tombak mendengung. Cun Li mengelak namun terus dikejar. Tombak memburu ke mana pun dia pergi. Karena tombak itu bagai bayangan yang tak mau melepasnya, terpaksa Cun Li menangkis dan menggerakkan lengan kirinya.

"Plak!" Senjata panjang itu terpental.

Cu-ciangkun terkejut karena lengan lawan menggetarkan lengannya, nyaris tombak berbalik dan mengemplang kepalanya sendiri. Tentu saja panglima ini terkejut, namun berseru keras dan memutar pergelangannya. Tiba-tiba panglima ini sudah menyerang lagi, bertubi-tubi dan cepat dia menusuk serta mematukkan mata tombaknya, memburu dan membuat lawan harus berlompatan karena tombak di tangan panglima itu memang berbahaya. Cun Li mengakui ini. Ketika panglima itu mendesak dan Cun Li mundur, keadaan pemuda ini seolah keteteran.

Hu Beng Kui tersenyum. Sama seperti muridnya yang pertama tadi, dia tahu bahwa Cun Li pun tak mengalami kesulitan menghadapi tombak di tangan lawannya. Tombak itu memang ganas dan cepat mematuk-matuk, tapi Cun Li belum sekali pun terpatuk. Pemuda ini mempelajari ilmu silat lawan dan jago pedang itu mengangguk-angguk. Memang dia sering memberi nasihat agar sebelum membalas sebaiknya memperhatikan dahulu ilmu silat lawan, di mana kelebihan dan kelemahannya.

Ketika Cun Li menentukan hal itu dan tahu bahwa dalam hal *sinkang* dia lebih kuat dibandingkan lawannya, pemuda ini pun mulai menangkis dan berseru, "Ciangkun, hati-hati!"

Sembari menggeser kedudukan kaki serta mengembangkan lengan seperti rajawali mengepakkan sayap, tiba-tiba Cun Li mengubah gerakan dan menangkis serta mendorong tombak lawan. Hal itu membuat lawan terkejut karena tombak terpental, dua tiga kali selalu begitu hingga Cu-ciangkun marah. Hebat pemuda itu. Dan ketika tangkisan kesekian kalinya begitu keras karena Cun Li mengerahkan tenaga lebih besar, mendadak tombak di tangan panglima itu—yang sebenarnya bukan tombak simpanan—patah saat bertemu lengan Cun Li.

"Krakk!" Cu-ciangkun terhuyung. Dia nyaris terpelanting kehilangan keseimbangan, cepat berseru keras untuk menegakkan punggung. Tentu saja panglima ini terkejut, juga malu. Ketika dia melotot memandang lawan, ternyata pemuda itu menjura kepadanya dengan senyum lebar, "Ciangkun, maaf. Aku tak sengaja mematahkan tombakmu."

"Hm!" Sesosok bayangan tiba-tiba berkelebat dan telah berdiri di samping panglima ini. "Kau hebat, Saudara Cun Li. Adikku kalah, tapi belum semua ilmu tombak keluarga Cu dikeluarkan! Beranikah kau sekarang meneruskan pertandingan?"

Cun Li terbelalak. "Ciangkun mau maju berdua?"

"Kalau kau tak takut, kami masih mempunyai *Hu-liong Chio-sut* yang belum kami perlihatkan!"

Cun Li yang tertegun menyaksikan majunya lawan kedua segera menghadapi gurunya yang saat itu tertawa bergelak. "Cun Li, terima saja tawaran itu. Cu Hak-ciangkun tentu saja penasaran melihat adiknya kalah. Tak apa, kau boleh maju dan terserah mau mencabut senjata atau tidak."

Cun Li tersenyum. "Kalau begitu baiklah, Cu Hak-ciangkun. Hanya seperti adikmu tadi, kuminta kemurahanmu untuk mengalah."

"Tak perlu berpura-pura, dan maaf kalau kami terpaksa maju berdua... siuut!"

Cu Hak-ciangkun mencabut tombaknya yang ampuh dan tiba-tiba menggetarkannya di tangan kanan. Tombak beronce biru itu dikuasai oleh Cu Hak, sang kakak, sementara adiknya, Cu Kim, yang tadi memakai tombak biasa, kini mencabut tombak pusakanya yang beronce merah.

"Siuut!" Panglima Cu yang termuda itu pun menggetarkan tombaknya. "Bagus sekali, Saudara Cun Li. Kalau kau berani menghadapi kami berdua, sebaiknya kau cabut pedangmu agar tidak roboh menghadapi kami kakak beradik!"

"Terima kasih," Cun Li tetap tenang. "Sementara ini aku bertangan kosong, *ji-wi ciang-kun*. Kalau *Hu-liong Chio-sut* (Silat Tombak Naga Terbang) kalian memang hebat, tentu aku akan mencabut pedangku. Silakan *ji-wi* maju."

"Kau bertangan kosong?" Cu Hak, panglima tertua, menggeram.

"Ya, tak apa, Cu-ciangkun. Biar aku bertangan kosong dulu dan..."

"Awas... siut-plakk!" Panglima itu menerjang, tiba-tiba memotong omongan lawan dan sudah membentak sambil menggerakkan tombaknya. Tombak beronce biru di tangan panglima tertua ini mendesing dengan begitu cepatnya hingga Cun Li tak sempat mengelak. Pemuda itu menangkis dan tombak terpental. Cun Li terkejut karena lawan yang satu ini tampaknya lebih cepat dibandingkan yang tadi, gerakan sang kakak dinilai lebih kuat dibandingkan sang adik.

Ketika dia menangkis namun tombak membalik, tiba-tiba Cu Hak sudah berteriak dan menerjang lagi, menyuruh sang adik menggerakkan tombaknya pula. Cu Kim pun mengangguk, sedetik menyusul gerakan kakaknya, panglima ini pun berkelebat ke depan. Tombak beronce merah di tangannya menusuk tubuh samping Cun Li, yang saat itu baru mengegos dan menangkis tombak beronce biru.

Ketika dua kakak beradik itu menusuk dan mengemplang, Cun Li terkejut karena dipaksa berlompatan. Tahu-tahu dua sinar biru dan merah mendengung di sekeliling dirinya, menyambar-nyambar dengan amat ganas dan cepatnya, menggulung hingga akhirnya Cun Li tak dapat melepaskan diri. Dua tombak di tangan dua panglima itu seolah naga menari-nari yang membelit dirinya. Cun Li terbelalak.

Ketika tombak berputaran semakin cepat dan ujungnya mematuk-matuk bagai ular besar yang amat buas, tiba-tiba baju Cun Li terobek dua kali terkena tusukan ujung tombak.

"Bret-brett!" Cun Li terkesiap.

Sekarang dua lawannya tertawa mengejek dan berkelebatan tiada henti. Kini ia terkurung dan Beng An serta saudara-saudara seperguruannya yang lain cemas, hanya Hu Beng Kui yang tetap tenang dengan mata awas. Jago pedang ini tertarik karena gerakan tombak di tangan dua panglima itu luar biasa cepatnya. Cun Li terkurung di tengah dan mencoba keluar namun belum berhasil. Terpaksa kedua lengannya bergerak menangkis ke sana ke mari, tombak terpental tapi sudah menerjang lagi, gerakannya seolah tombak bernyawa.

Ketika dua panglima itu berseru keras dan sang kakak menyuruh Cu Kim memainkan tombak terbang, sekonyong-konyong tombak di tangan dua panglima itu lepas dari tangan dan benar-benar "terbang" menyambar serta menyerang Cun Li seolah tombak yang hidup!

"Aih, hebat. Bagus!" Cun Li kebingungan.

Mula-mula dia heran bagaimana tombak terbang itu dapat menyerang sendiri tanpa dicekal tuannya. Tapi ketika Cun Li melihat sinar halus berkedip dari tangan dua panglima itu—sebuah sinar panjang yang mengemudikan dua tombak ini—tiba-tiba Cun Li sadar bahwa kiranya dua panglima itu mengikat bagian belakang tombaknya dengan semacam benang baja yang amat halus namun kuat. Kawat-kawat baja itulah yang mampu mengendalikan dua senjata panjang tersebut sesuai kehendak majikannya. Inilah permainan jari-jari tangan yang harus lihai, juga putaran pergelangan yang harus kuat.

Cun Li kagum. Ketika tombak terus menyerang, menusuk, serta mematuk, tiba-tiba kembali baju pundak Cun Li robek.

"Bret!" Cun Li mengerahkan *sinkang*-nya.

Mata tombak mematuk baju sekaligus kulit dagingnya, namun memantul dan hanya merobek pakaian pemuda itu karena Cun Li telah melindungi diri; *sinkang*-nya itulah yang menyelamatkannya. Panglima Cu tertegun. Tapi karena pemuda itu terkurung dan telah menghadapi serangan tombak yang berputaran dari segala penjuru, maka kembali dua bagian tubuh lawan tersambar tombak.

"Bret-brett!" Dua panglima Cu lagi-lagi tertegun. Mereka tak dapat melukai tubuh pemuda itu, tombak lagi-lagi mental bertemu kulit daging yang alot. Mereka marah; kalau begini percuma saja kurungan tombak yang hebat itu, lawan tak dapat dirobohkan. Maka, dengan membentak dan berseru keras, tiba-tiba Cu Hak menyuruh adiknya menyerang bagian lawan yang lemah, yakni mata dan lubang telinga.

Segera mereka bertubi-tubi menyerang bagian itu dan Cun Li menjadi sibuk. Pemuda ini harus menampar dan mendorong berkali-kali. Patukan tombak semakin cepat dan Cun Li semakin kewalahan; tak mungkin lagi dia bertahan dengan caranya itu, hanya menangkis dan mendorong tusukan tombak. Maka, ketika gerakan tombak semakin gencar dan Cun Li melengking tinggi, mendadak pemuda ini mencabut pedangnya dan dengan gerak menyilang menangkis tombak yang menyerang dari kiri dan kanan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment